
Bab 34 MVILY
Alice mencoba untuk turun dari ranjang kayu itu. Ia menyingkap mantel bulu yang menutupi kakinya. Akan tetapi, tubuhnya masih sangat lemah.
"Awww! Ini sakit!" pekik Alice.
"Jangan banyak bergerak dulu, kau masih belum pulih. Maaf aku belum bisa membawamu ke rumah sakit. Aku yakin Mark dan yang lainnya sedang mencarimu," sahut Arthur.
"Iya, kupikir juga begitu. Tapi, tubuhku ini sakit semua tau," jawab Alice.
"Apa kau mau makan lagi?" tanya Arthur.
"Boleh. Tapi aku ingin makan yang asam atau manis. Ummm, apa kau punya buah-buahan?" tanya Alice.
"Hmmm, kau mau buah rupanya. Oke, baiklah akan aku carikan. Nanti aku akan panggil Ella ke sini. Sementara waktu tempat ini jadi tempat persembunyian mu dulu," tukas Arthur.
"Kau sendiri bagaimana? Lalu, bagaimana dengan Ratu Samantha nenekmu?" tanya Alice lagi mulai cemas.
"Dia masih dalam perlindungan Paman Bernard. Tapi, aku rasa dia bukan pengkhianat. Ini semua ulah Mark. Aku akan mencari bukti lebih banyak lagi tentang Mark," jelas Arthur.
"Bagaimana dengan tim pemburu makhluk itu?" tanya Alice seraya mengusap rambut panjang miliknya yang terurai.
"Ada yang ingin aku katakan tentang ayahnya Ella." Arthur lantas menceritakan tentang Tuan Doug, ayahnya Ella.
"Wah, aku tak menyangka takdir bisa serumit ini. Apa kau akan mengatakannya pada Ella dan Bu Rose?" tanya Alice penuh keingintahuan.
"Aku belum tahu. Nanti kita lihat kondisi Ella dulu."
__ADS_1
"Wow, jadi ternyata benar-benar ada vampir lain ya di Kerajaan New Silk," ucap Alice seraya berdecak.
"Kemungkinan itu pasti ada. Tapi, aku rasa di wilayah kerajaan ini tinggal aku berdua dengan Paman Luke." Arthur lantas mendekat pada Alice dan hendak mengusap perutnya.
"Apa aku boleh menyentuhnya?" tanya Arthur memohon izin.
"Tentu, kau kan ayahnya." Alice tersenyum dengan hangat.
"Aku janji sebelum bayi ini lahir, kita akan menikah secepatnya," ucap Arthur meyakinkan seraya mengusap perutnya Alice yang masih rata itu.
"Aku akan menunggunya. Tapi, nanti kita ke makam keluargaku dulu, ya? Aku akan mengenalkanmu pada mereka dan meminta izin menikah di makam mereka," ucap Alice.
"Tinggalah dulu di sini sampai kau pulih, jangan banyak bergerak! Kau jangan keluar dan cari apa pun di luar sana. Tunggu aku datang karena nanti aku yang akan membantumu untuk cepat pulih," ucap Arthur memperingatkan.
"Terima kasih, Pangeranku Tersayang. Suatu saat aku akan membalas kebaikanmu dengan mengabdi menjadi istri yang baik," ucap Alice dengan manja.
"Kau bilang apa tadi?" Alice sampai mendelik mengamati Arthur.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Arthur balik bertanya dan mulai salah tingkah.
"Kau tadi bilang soal malam pertama, kan? Apa malam saat aku mabuk dan tercipta si Junior ini?" goda Alice.
Arthur sampai tersipu malu karena penuturan wanitanya yang semakin cantik di matanya itu.
"Aaarrggh, sudahlah! Jangan bahas tentang itu lagi!" Arthur lantas bangkit dan mencoba menghindari tatapan Alice.
...***...
__ADS_1
Keesokan harinya, Ella datang dan memeluk Alice. Dia menceritakan situasi di istana yang sangat menegangkan. Akan tetapi, Mark belum kembali ke istana. Namun, Ratu Samantha mulai mencari Alice karena diduga menculik Arthur.
"Bukankah itu cerita yang gila? Bagaimana mungkin seorang wanita mungil sepertimu bisa menculik Pangeran Arthur yang tubuhnya lebih besar darimu," ucap Ella seraya menyiapkan sup ayam untuk Alice.
"Iya, kau benar juga." Alice mengangguk.
"Thomas juga yakin kalau kau gadis baik. Dia bilang dia bertemu Pangeran Arthur malam tadi. Pangeran hanya meminta Thomas menjaga wilayah kerajaan dengan baik dan memberi kabar tentang Mark. Sepertinya Pangeran Arthur sedang mencurigai Mark. Apalagi Mark sampai tega menyekap mu di villa, kan?" tanya Ella.
"Kau benar. Lalu, apa Thomas tau kalau Arthur seorang vampir?" selidik Alice.
"Aku rasa tidak. Kalau Thomas tau Pangeran Arthur adalah vampir, dia pasti sudah bilang padaku," ucap Ella.
"Nanti kau kabari aku jika Thomas menghubungimu dan memberi kabar terbaru," pinta Alice lalu melanjutkan pembicaraannya lagi, "El, apa kau tahu kalau ayahmu itu sebenarnya masih–"
"Ayahku kenapa? Dia kan sudah mati. Jangan bilang ayahku hidup lagi," sahut Ella seraya terkekeh.
"Iya, sih. Ayahmu sudah mati. Aku hanya sedang berandai kalau ayahmu masih hidup, sia pasti membantu kita dalam mengatasi masalah di kerajaan," ucap Alice yang akhirnya memutuskan menyembunyikan kebenarannya dari Ella.
"Ayo, makan dulu! Nanti sup nya keburu dingin," ucap Ella.
Alice mengangguk seraya tersenyum hangat.
"El, apa pun yang terjadi, kita akan tetap selalu menjadi sahabat yang baik," ucap Alice yang tiba-tiba memeluk Ella.
"Pasti, Al. Aku juga akan menjadi tante yang baik untuk Junior mu itu," ucap Ella.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...