
Bab 52 MVILY
"Dia penyusup. Aku yakin Lord Gevil mengirimnya untuk mencari Alice," tukas Arthur.
"Hmmm, tak ku sangka kalian para lycan masih bertahan. Aku yakin telah menghabisi Wild, putranya Lord Gevil. Kita hanya harus menghadapi si pemimpin sialan itu!" kata Goldice seraya menggerutu.
"Kau pikir memangnya siapa kau sampai berani membunuh Tuan Wild?" seru Don.
"Aku Putri Kerajaan Ice. Kalian telah membantai wargaku dan juga ayah ibuku! Nyawa dibalas nyawa!" Goldice mencekik leher lycan Don.
"Hentikan! Kami bukan kaum pembunuh! Kalian lah yang sudah membantai kaum kami!" seru Alice yang seketika itu juga melepaskan diri dan menyelamatkan Don.
Lycan Don menyeringai. Rasanya puas mendapat pembelaan dari Alice yang terkena sihir.
"Alice, menjauh darinya! Kau terkena sihir Lord Gevil dan entah siapa yang membantunya," pinta Arthur.
"Kau yang mundur! Kau yang jahat, bukan kaum kami!" seru Alice.
"Cih, apa-apaan wanita ini? Menyebalkan sekali dia, sudah ditolong tak tahu diri pula," cibir Icy.
"Dia terkena sihir untuk menentang kita, Icy." Goldie berbisik pada adiknya.
"Kami punya tabib terhebat di dunia! Kau tak akan mampu mengalahkannya!" seru Don.
Tabib Ly mendekat lalu bertanya, "siapa tabib itu?"
"Kami punya Tabib May," aku Don.
__ADS_1
"May? Bukankah dia sudah mati?" Tabib Ly menatap tak percaya.
"Haha, dia membelot dan memilih mengabdi pada Lord Gevil ketimbang kaum penyihirnya. Bukankah itu luar biasa?" Rupanya Don termasuk lycan yang mudah angkat bicara sekenanya dan sebenarnya.
"Tabib Ly, tenanglah." Tuan Luke tahu mengenai Tabib May yang merupakan kakak dari Tabib Ly.
Wanita itu geram dengan mengepal kedua tangannya. Namun, Tuan Luke berusaha menenangkan dengan mencengkeram bahu Tabib Ly.
"Mumpung aku sedang berhadapan dengan Pangeran Arthur. Apa kau tahu kalau kerajaanmu dikuasai oleh Tuan Mark dan Tuan Beast?" tanya Don.
"Apa yang ingin kau katakan? Katakanlah!" Arthur mulai geram, tetapi Nenek Samantha menahannya.
"Kedua orang itu sebentar lagi akan kami musnahkan, tenang saja. Karena Lord Gevil tentu saja akan menguasai kerajaanmu dan membasmi rakyatmu. Oh iya, yang membunuh Raja dan Ratu New Silk, bukanlah Tuan Morgan hahaha. Mark memanfaatkan dia untuk dijadikan pengkhianat. Dia juga mengadu domba ayahnya dan Tuan Morgan. Tidakkah itu seru? Kau pasti tahu kelanjutan siapa yang menghabisi keluargamu dan juga keluarganya Tuan Morgan, bukan?" Lycan Don semakin puas membeberkan semua yang ia tahu pada Arthur.
"Paman Don, kenapa kau bicara seperti itu?" Alice menatap tak percaya.
"Kau tahu siapa keluarga Morgan Jhonson yang kalian habisi itu? Salah satu putrinya selamat. Dia adalah Alice Morgan Jhonson," ucap Arthur menunjuk ke arah Alice.
Don mengernyit dan menoleh ke arah Alice tak percaya.
"Apa maksudmu, Arthur?" tanya Alice.
"Dia berbohong! Jangan percaya dia!" seru Lycan Don.
"Aku menuduh ayahmu sebagai pengkhianat kerajaan. Tujuan mu ke istanaku karena untuk membersihkan dan mengembalikan nama baik ayahmu. Apa kau tak ingat itu? Kau baru saja mendengar betapa liciknya Lord Gevil, bukan? Terserah mau kau dalam pengaruh sihir atau tidak, tapi pikir saja dengan logika. Kau pikir kau itu lycan seperti mereka makanya kau bela, padahal kau manusia sejati, Alice Marie Jhonson!" Arthur mencengkeram kedua bahu Alice.
"Ta-tapi, tapi aku bukan manusia sejati. Waktu itu hanya yang memiliki darah lycan yang mampu meminum lava Gunung Sparkle!" tukas Alice.
__ADS_1
"Itu benar! Dia kaum kami!" sahut Lycan Don.
Arthur menoleh pada Tuan Luke dan juga Tabib Ly terkait pernyataan Alice.
"Memang hanya kaum lycan dan manusia serigala sepertiku yang bisa meminu lava Gunung Sparkle," ucap Tuan Albert menyela.
"Tapi, Alice anaknya Tuan Morgan dan istrinya. Bagaimana bisa dia memiliki darah makhluk lycan?" tanya Arthur tak percaya.
"Hah, seandainya Lord Gevil ada di sini, dia pasti sangat senang. Hahaha, betapa menyenangkannya melihat drama ini. Kalian memang para makhluk bodoh yang mudah dirusak seperti ini. Apalagi kau Pangeran Arthur yang bodoh!" ucap Lycan Don dengan senyum yang menyeringai dengan tubuh masih terikat di sebuah tiang besar.
Arthur tak tahan juga dengan mulut menyebalkan Lycan Don, pria itumaju untuk mencekiknya. Rasanya sangat marah kala mengingat kematian keluarganya, hal itu membuat darahnya semakin panas.
"Arthur, hentikan! Aku butuh dia untuk tahu seberapa besar kawanan yang tersisa bersama Lord Gevil," cegah Tuan Luke menghentikan aksi Arthur kala itu.
Ratu Samantha juga berusaha menenangkannya.
"Arthur, dengarkan Tuan Luke," lirih sang nenek.
"Wah, ini semakin seru untuk didengarkan," cibir Delilah.
Joshua menatapnya dengan tajam.
"Pakai perasaan mu sedikit, Nona. Atau sebaiknya kau pergi saja dari sini," bisik Joshua.
"Hissh, kau ini!" Delilah balik melotot.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...