Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
35. Ratu dan Ella Diculik


__ADS_3

Bab 35 MVILY


Arthur terlihat gusar. Dia datang bersama Paman Luke di tempat persembunyiannya. Alice yang mulai merasa lebih baik, membuatkan secangkir cokelat hangat untuk Arthur dan Luke.


"Ada apa?" tanya Alice memberanikan diri untuk bertanya.


"Nenek dan Ella diculik oleh para lycan," tukas Arthur.


"APA?! KENAPA INI BISA TERJADI?!"


Alice terlihat gusar sampai ia harus mondar-mandir.


"Saat aku ingin bertemu dengan nenek dan menjelaskan semuanya, Tuan Lou si pengawal yang masih percaya padaku bilang kalau nenek sedang pergi untuk berobat. Lalu, aku mengikutinya dan ternyata terlambat. Bu Rose yang ikut serta bersama Ella untuk menemani nenekku yang rupanya sedang sakit telah tewas," ucap Arthur tak kuasa menahan sedihnya.


"Pasti Tuan Bernard dan Mark yang menculik mereka dan menjebak mereka lalu diberikan pada lycan, iya kan?" tebak Alice.


"Paman Bernard tewas, Al. Namun, sebelum dia mati dia menceritakan padaku kalau para lycan yang membawa nenek dan Ella," ucap Arthur.


"Lalu, bagaimana dengan Mark?"


"Dia tak pernah kembali ke kerajaan karena ayahnya mengusirnya. Paman Bernard bukan pembelot, Al. Dia setia pada nenekku. Kita mencurigai orang yang salah," ucap Arthur.


"Ya Tuhan… kenapa bisa serumit ini," ucap Alice.


"Jika saja tadi kita tidak terlambat karena ban mobil yang pecah, mungkin kita bisa melawan mereka," ucap Paman Luke.


"Tapi kita kalah jumlah, Paman. Kita belum tau ada berapa jumlah lycan pastinya. Tapi, aku curiga kalau Mark kini bersekutu dengan para lycan," tukas Arthur.

__ADS_1


"Begitu juga dengan pemburu makhluk," sahut Tuan Luke.


"Paman Luke, apa kau tidak bisa memikirkan siapa pun atau makhluk apa pun yang bisa membantu kita dan menjadi sekutu kita?" tanya Alice.


"Hmmm, biar aku coba pikir dulu. Kita tak boleh gegabah dan asal saja mengunjungi para lycan ini. Alih-alih kita malah mengantar nyawa pada mereka bukannya menyelamatkan Ella dan smag ratu," ucap Tuan Luke yang mencoba menenangkan Alice dan Arthur.


...***...


Tuan Luke membawa Arthur dan Alice ke sebuah desa yang tersembunyi dalam sebuah hutan di perbatasan Kerajaan West Bloom. Tuan Luke mulai mengingat nama-nama sekutunya dan meminta mereka untuk bertemu dengan para sahabat lamanya yang lain.


"Kita mau menemui siapa, Paman?" tanya Arthur.


"Teman lamaku yang menjadi seorang tabib di desa tersebut. Namanya Tabib Lily," jawabnya.


"Tabib Lily? Sepertinya aku pernah mendengar namanya. Bukankah dia terduga penyihir yang sempat viral di media dan dibakar dekat sungai?" tanya Arthur.


"Itu bukan dia. Aku yang menolongnya saat dia. Mereka menyangka tubuh Lily terbakar padahal tidak."


Mobil yang mereka naiki sampai di dia pohon besar yang saling berhimpit. Tuan Luke turun dari mobil dan menuju ke salah satu batang pohon. Ia naik ke sana seperti menghubungi seseorang dari tempat tersembunyi di atas pohon.


Tak lama kemudian, Tuan Luke kembali. Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Dua pohon besar yang berhimpit tadi mendadak terbuka. Seperti sebuah gerbang besar yang terbuka lebar. Tuan Luke lantas masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan itu melintasi dua pohon besar yang kemudian menutup seperti semula.


"Pantas dibilang desa tersembunyi dan juga rahasia. Aku masih heran rupanya di zaman modern sekarang ini masih ada juga pelosok wilayah yang masih kental dengan mitos yang ternyata nyata," gumam Arthur.


Arthur lantas menoleh ke arah Alice yang terlihat pucat. Wanita itu merasakan nyeri yang hebat pada perutnya. Alice meringis kesakitan memegangi perutnya sambil menangis.


"Alice, kau kenapa?" pekik Arthur mulai panik.

__ADS_1


"Perutku sangat sakit, aaarrgghh!" Alice bahkan sampai merebahkan diri di kursi kedua.


Arthur yang tadi duduk di kursi depan bersanding dengan Tuan Luke, langsung menuju ke kursi Alice, merebahkan kepala wanita itu di atas paha kekarnya.


"Paman, bagaimana ini?" tanya Arthur mulai panik.


"Kita akan segera bertemu seorang tabib. Kalian tenang saja. Mungkin Alice terlalu lelah sampai kandungannya mengalami kontraksi semu," ujarnya.


Beberapa orang menyambut kedatangan Tuan Luke dan yang lainnya.


"Luke, kau masih ingat aku rupanya. Ada apa gerangan kau sampai ke sini juga?" sambut seorang wanita berambut perak dan panjang sepunggung.


Tubuh kurusnya mulai terlihat renta tetapi meskipun gurat keriput di wajahnya terlihat, wanita yang dipanggil Tabib Lily itu masih memperlihatkan paras yang cantik.


Alice yang tengah meringis dan melingkarkan lengannya pada lengan kekar Arthur, lantas menatap lekat seorang wanita seusia ibunya itu. Dia mengenalnya. Dan itu langsung membuatnya senang saat melihat sahabat ibunya itu masih hidup dan masih mengenalnya.


"Tante Li?" tanya Alice.


"Alice? Alice Morgan Smith?" pekiknya.


"Tante Li, jadi kau Tabib Lily?" Alice mencoba tersenyum dan menyambut pelukan Tante Li, tetapi ia lantas tak sadarkan diri kemudian.


"Alice! Apa yang terjadi dengannya?" tanya Arthur yang langsung memegangi Alice dan membopong tubuh wanitanya itu.


"Bawa dia ke ruang pengobatanku!" titah Tabib Lily.


Tuan Luke lantas meminta Arthur untuk menurut dan mengikuti Tabib Lily.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2