
Pagi telah tiba, Rindu telah bersiap untuk pergi ke kampus. Ia berpamitan kepada kedua orangtuanya.
"Ma,Pa Rindu berangkat ke kampus dulu ya." Pamit Rindu mencium tangan kedua orangtuanya.
"Rindu, jangan bawa motor sendiri ya, biar dianterin sama Pak supir aja." Ucap Pak Dimas.
"Iya Pa, lagian juga kaki Rindu masih sakit. Mana bisa Rindu pakai motor." Ucap Rindu.
"Hati-hati ya."Bu Lia mengantarkan Rindu hingga Ia masuk ke dalam mobil.
Rindu melambaikan tangannya dan tersenyum ramah kepada Mamanya.
Rindu menghembuskan nafas berat, Ia masih memikirkan tentang lamaran Ari.
"Aku harus gimana sekarang? Aku terima lamaran itu, atau Aku tolak?" Batin Rindu.
"Pak, boleh Kita menepi sebentar? Saya mau beli minuman." Pinta Rindu.
Pak supir menepikan mobilnya, Rindu turun dari mobilnya. Dengan susah payah Ia berjalan menyeberang jalan. Setelah membeli minuman, Ia pun hendak menyeberang kembali ke mobilnya tetapi dari lawan arah ada dua motor yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi, Rindu berusaha menghindar tetapi Ia masih kesulitan berjalan.
"Aaaaaaaaa"Rindu menutup wajahnya dengan tangannya, tiba-tiba Ia merasa ada seseorang yang menariknya dan kini Ia merasa tubuhnya terjatuh.
"Kak Jutek."Ucap Rindu yang terkejut karena kini Ia berada di pelukan Ari.
"Kamu itu bener-bener udah pasrah sama hidup Kamu sendiri ya? berapa kali Kamu coba bunuh diri?" Tanya Ari ketus.
"Whatt? bunuh diri? Aku gak sebodoh itu kali. Aku gak pernah coba bunuh diri." Protes Rindu.
Rindu berusaha berdiri, begitu pula dengan Ari.
Rindu melihat kemeja Ari pada bagian siku yang berlubang karena gesekan dengan aspal.
"Coba lihat, tangan Kamu luka lho ini. Kemeja Kamu sampai robek gitu." Ucap Rindu menarik tangan Ari dan menekan luka di siku Ari.
"Aww, Kamu sengaja ya." Protes Ari.
"Apaan sih? Kamu itu gak bisa ya berfikir positif. Perasaan fikiran Kamu negatif terus." Protes Rindu.
"Udahlah, Jangan ulangi lagi usaha bunuh diri." Protes Ari yang berbalik dan hendak meninggalkan Rindu, tetapi Rindu menarik tangan Ari.
"Eitss tunggu dulu, itu tangan Kamu luka. Harus diobati dulu Kak Jut." Ucap Rindu.
__ADS_1
"Gak usah, ini cuma luka kecil." Jawab Ari singkat.
"Ini pokoknya harus diobati dulu, baru Kakak boleh pergi." Ucap Rindu. Rindu dan Ari pun menepi kembali ke warung. Rindu mengobati luka Ari dengan hati-hati.
"Udah, kalo udah dibersihkan kan aman. Gak akan infeksi." Ucap Rindu.
"Pak, tolong dijaga beneran ya Anak ini. Dia berkali-kali hampir celaka." Ucap Ari meminta kepada Supir agar menjaga Rindu, setelah menyampaikan hal tersebut Ari pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya hingga semakin menjauh dari tempat Rindu berdiam.
"Kenapa Akhir-akhir ini Aku selalu di tolong oleh Dia. Seolah takdir selalu mempertemukan Kita, Apa ini adalah petunjuk bahwa Aku sebaiknya mencoba menerima Dia? Dia selalu hadir untuk menyelamatkan Aku berkali-kali." Batin Rindu merenung, Pak Supir membuyarkan lamunannya.
"Non Rindu baik-baik aja?" Tanya Pak Supir.
"Iya Pak, Saya gak baik-baik aja kok, yaudah Pak. Yuk Kita lanjut ke Kampus." Rindu berjalan dengan susah payah menghampiri mobilnya. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Di Kantor Ari.
Setibanya di kantor, Ari langsung disambut oleh Putra.
"Eh Ri, Cewek yang kemarin itu siapa?" Tanya Putra yang sepertinya tertarik dengan Rindu.
"Kenapa emangnya?" Tanya Ari yang kini telah fokus pada layar komputernya.
"Kenapa harus Aku? kenalan sendiri dong." Jawab Ari ketus.
"Dimintai tolong gitu banget, yaudah lihat aja. Kalau Aku ketemu sama Dia lagi Aku pasti ajak kenalan dan kalau Aku udah berhasil dapetin Dia, Kamu kasih mobil Kamu ke Aku. Gimana?" Tanya Putra yang membuat Ari menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jangan berani-berani Kamu mainin Dia, Dia itu Anaknya Tante Lia. Kalau sampai Kamu nyakitin Dia siap-siap aja Aku kasih pelajaran." Protes Ari mengancam Putra.
"Santai dong Ri, jangan kasar gitu. Aku kan cuma bercanda." Jawab Putra yang menenangkan Ari.
"Udah sana kerja, bukannya kerja malah ngomongin Cewek. Kamu gak lihat ini udah jam kerja?" Ari menodongkan jam tangannya memperlihatkan bahwa ini sudah saatnya bekerja.
"Iya-iya Pak Boss, Jutek banget jadi orang. Jangan marah-marah nanti cepet tua." Protes Putra meninggalkan ruangan Ari.
Di Kampus.
Rindu berjalan dengan tertatih-tatih, Melli dan Nada melihat Rindu dan menghampirinya.
"Rindu, Kok Kamu udah berangkat si. Kamu udah baikan?" Tanya Melli memperhatikan Rindu yang masih kesulitan berjalan.
"Ya Aku bosen di rumah, masak Aku gak berangkat terus." Ucap Rindu.
__ADS_1
"Aduh Rindu, Makannya Kamu kalau punya hobi yang bagus dikit dong, masak hobi jatuh." Ledek Nada.
"Enak aja, emang ada apa hobi jatuh?" Protes Rindu.
Tiba-tiba Farel datang menghampiri Mereka.
"Boleh Aku bicara sama Rindu sebentar?" Tanya Farel kepada Melli dan Nada.
"Kita duluan ya Rin." Ucap Nada menepuk bahu sahabatnya.
"Eh Kalian mau kemana?"Rindu mencoba menahan kedua temannya tapi Mereka sudah terlanjur meninggalkan Rindu dengan Farel.
"Ada apa lagi sih Kak?" Tanya Rindu.
"Sayang, Aku minta maaf." Ucap Farel yang membuat Rindu merasa jijik.
"Sayang? Jangan sebut kata itu karena Aku jijik denger itu dari Kamu." Protes Rindu.
"Tolong maafin Aku Rindu, Aku akan bertekuk lutut dihadapan Kamu sampai Kamu maafin Aku. Aku gak peduli biar orang-orang tahu kalo Aku bener-bener gak mau kehilangan Kamu Rindu." Farel bertekuk lutut dihadapan Rindu yang membuat Rindu merasa malu.
"Kak,jangan gitu deh. Malu dilihatin banyak orang. Berdiri sekarang." Pinta Rindu.
"Aku gak akan berdiri, sampai Kamu mau maafin Aku." Ucap Farel.
"Iya, Aku maafin Kakak." dengan sangat terpaksa Rindu akhirnya mengalah.
"Makasih Rindu, Aku seneng Kamu udah maafin Aku. Aku janji Kita pasti akan bersama lagi tanpa ada yang menghalangi Kita lagi." Ucap Farel penuh dengan percaya diri.
"Maaf Kak, Aku emang udah maafin Kakak. Tapi Aku gak bisa sama Kak Farel lagi." Tolak Rindu yang membuat Farel kecewa.
"Tapi kenapa Rindu? jangan menyerah dengan hubungan Kita." Ucap Farel mencoba menggenggam tangan Rindu tetapi langsung ditepis oleh Rindu.
"Kita gak akan pernah bisa bersama, Karena Aku akan segera menikah. Bukan dengan Kamu tapi dengan laki-laki pilihan Orangtua Aku." Ucap Rindu.
"Bohong, Kamu pasti bohong kan? Kamu bilang kayak gini supaya Aku gak ngejar Kamu lagi kan? Kamu salah, Aku akan tetap memperjuangkan cinta Kita." Ucap Farel tak percaya dengan ucapan Rindu.
"Aku gak bohong Kak, jadi Aku mohon mulai sekarang tolong jangan dekati Aku lagi." Jawab Rindu meyakinkan.
Bersambung......
Apakah Rindu benar-benar menerima untuk menikah dengan Ari?
__ADS_1