Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 49 JANGAN PERGI


__ADS_3

Di Kamar Ari dan Rindu.


Setelah Rindu mengucapkan selamat malam kepada Ari, panggilan tiba-tiba diakhiri. Rindu merasa ada yang aneh dengan Suaminya.


"Teleponnya dimatiin? Kenapa Aku ngerasa Kak Ari seperti cuek gitu." Batin Rindu melemparkan ponselnya ke atas ranjang.


"Aduh Rindu, sadar dong sadar. Bukannya sejak awal emang Kak Ari itu Mr Jutek ya." Rindu mencoba menyadari kenyataan.


Ponsel Rindu kembali berbunyi, dengan semangat Rindu meraih ponselnya. Ia mengira Ari yang menghubunginya. Tetapi perkiraannya salah, panggilan masuk dari Cinta. Rindu pun mengangkat teleponnya.


"Halo Kak Cinta." Sapa Rindu.


"Halo Rindu." Jawab Cinta.


"Ada apa nih Kak?" Tanya Rindu.


"Gini Rindu, Aku mau kasih tau Kamu kalo besok sampai satu Minggu ke depan mungkin Aku akan kembali ke rumahku di luar kota." Terang Cinta.


"Loh emang kenapa Kak? Kata Kak Cinta udah mau pindah kesini?" Tanya Rindu.


"Iya, tapi masih ada yang harus diurus disana." Jawab Cinta.


"Oh gitu ya, yaudah Kak hati-hati dan cepet balik kesini ya." Pinta Rindu.


"Iya, nanti kalo Aku udah balik. Kenalin Aku sama Suami Kamu ya." Pinta Cinta.


"Iya, nanti Aku kenalin." Rindu menyanggupi permintaan Cinta.


"Eh, yaudah ya Rindu. Aku tutup teleponnya. Selamat malam." Cinta mengakhiri panggilannya.


"Malam Kak." Jawab Rindu.


"Udah ah, ngantuk. Lebih baik Aku tidur." Ucap Rindu kemudian menempatkan diri hingga tertidur dengan nyenyak.


Di Sebuah Taman yang indah.


Rindu berjalan di taman yang indah sembari mencari keberadaan Ari. 


"Kak Ari, Kak Ari dimana?" Panggil Rindu.


"Aku disini." Jawab Seorang dari belakang tubuh Rindu. Rindu pun menoleh dan menghampiri Ari.


"Kak Ari, Kenapa Kak Ari tinggalin Rindu sih." Protes Rindu.


Ari meraih tangan Rindu dan menggenggamnya erat, Ia tersenyum manis kepada Rindu.


"Aku harus pergi Rindu, Kamu harus terbiasa tanpa Aku. Kamu pasti bisa." Ucap Ari.


"Kok Kak Ari ngomong gitu, kalau Kak Ari pergi Aku juga ikut." Protes Rindu. 


"Selamat tinggal Rindu, jaga diri Kamu baik-baik." Pinta Ari melepaskan genggamannya dan melangkah menjauh dari Rindu.


"Kak Ari tunggu." Rindu mencoba mengejar Ari, tetapi tiba-tiba dua orang datang dan memegangi kedua tangan Rindu.


"Lepasin, Kak Ari jangan pergi." Teriak Rindu.

__ADS_1


Rindu terbangun, ternyata semua itu hanyalah mimpi buruk. Rindu merasa khawatir dengan kondisi Ari, tetapi Ia tidak bisa menghubungi Ari.


Di Rumah Sakit.


Pagi telah tiba, Ari merasa tubuhnya telah membaik, Ia meminta Putra untuk mengurus Administrasi dan kemudian Mereka kembali ke hotel.


Sembari mengemudikan mobil, Putra membuka pesan dari clientnya bahwa Keputusan telah deal, hanya tinggal menunggu tanda tangan.


"Wah, ada kabar baik Boss." Ungkap Putra antusias.


"Kabar apa?" Tanya Ari yang terlihat cuek.


"Client udah setuju untuk bekerja sama dengan Kita, Kita tinggal bertemu dan tanda tangan." Jawab Putra.


"Jadi pekerjaan Kita disini udah selesai?" Tanya Ari.


"Yap, betul Boss Dan Kita udah bisa pulang." Jawab Putra.


"Kemarin Aku udah ketus sama Rindu, Aku mau kasih Dia kejutan dengan gak memberi tahu bahwa Kita mau pulang." Ucap Ari memberitahu Putra.


"Wah ide bagus itu Boss, kasih surprise. Aku gak bilang sama Rindu deh." Jawab Putra menyetujui rencana Ari.


Di Perpustakaan Kampus


Rindu masih merenung memikirkan mimpinya semalam tentang Ari, Melli yang melihat Rindu yang terlihat tidak fokus pun menegurnya.


"Rindu, Kamu Kenapa?" Tanya Melli. Tetapi Rindu tidak meresponnya.


"Rinduuuu" Panggil Melli kesal.


"Kamu kenapa sih? Kok kayak gak fokus gitu sih." Protes Nada.


"Aduh Maaf ya temen-temen, kayaknya Aku lagi gak enak badan deh." Jawab Rindu.


Nada menyentuh dahi Rindu yang memang sedikit demam.


"Iya lho, Kamu lebih baik pulang deh. Badan Kamu demam." Saran Nada.


"Maaf ya, Aku pulang duluan." Ucap Rindu kemudian berpamitan dengan kedua temannya.


Rindu keluar dari perpustakaan dan berjalan di koridor kampus, Ia tidak sengaja bertemu dengan Raja. Raja pun menyapanya.


"Loh Rindu, Kamu mau kemana?" Tanya Raja.


"Kak Raja, ini mau pulang." Jawab Rindu.


"Kamu kelihatan pucat, gimana kalo Aku anter?" Tawar Raja.


"Gak usah Kak, Lagian Kak Raja kan juga harus mengajar. Aku bisa kok pulang sendiri." Tolak Rindu.


"Yaudah Kamu hati-hati ya." Pesan Raja.


"Iya Kak, Aku permisi." Rindu kemudian meninggalkan Raja.


Di Kamar Ari dan Rindu.

__ADS_1


Saat tiba di rumah, Rindu pun beristirahat karena Ia tidak enak badan, Ari masuk ke dalam kamar dengan membawa buket bunga yang Ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Ia menghampiri Rindu dan mengguncang tubuh Rindu pelan.


"Rindu, bangun." Ucapnya.


Rindu perlahan membuka matanya, Ia terkejut ketika melihat Ari telah berada di sampingnya.


"Kak Ari? Gak, gak ini pasti cuma mimpi." Rindu menutup wajahnya dengan tangannya.


"Kamu gimana sih? Suaminya pulang bukannya disambut malah wajahnya ditutup." Protes Ari.


"Ini beneran Kak Ari? Kok Kak Ari udah pulang? Kenapa gak kasih tahu Rindu?" Tanya Rindu mencubit pinggang Ari, yang membuat Ari tertawa.


Ari mengeluarkan buket bunga yang Ia sembunyikan, dan meminta maaf.


"Aku minta maaf karena kemarin udah jutek sama Kamu." Ungkap Ari.


"Ini buat Aku?" Tanya Rindu.


"Nggak, buat Putra. Ya iyalah buat Kamu." Jawab Ari kesal.


"Makasih ya Kak, bagus banget bunganya." Ucap Rindu memperhatikan buket yang kini Ia pegang.


"Tunggu dulu, Kamu sakit? Wajah Kamu pucat." Tanya Ari panik, Ia menyentuh dahi Rindu.


Rindu memeluk tubuh Ari erat, Dia tidak tahu mengapa Ia sangat ingin merasakan kehangatan pelukan Ari. Mungkin Rindu tengah merasa kerinduan kepada Suaminya.


"Biarin kayak gini dulu ya Kak." Ucap Rindu.


"Kenapa? Kamu baik-baik aja?" Tanya Ari yang merasa heran dengan tingkah Rindu.


"Kak Ari gak akan tinggalin Aku kan?" Tanya Rindu menitikkan air matanya.


"Kok Kamu ngomong gitu?" Tanya Ari melepaskan pelukannya 


"Semalem Aku mimpi, Kak Ari ninggalin Aku." Rindu menceritakan mimpinya.


"Rindu, jangan nangis dong. Itukan cuma mimpi." Ari menghapus air mata Rindu, mencoba menenangkan Rindu.


Ia kembali memeluk Rindu agar Rindu merasa tenang.


"Bagaimana kalau Kamu tahu dengan keadaan Aku yang sebenarnya, Bagaimana kalau itu pertanda kalau suatu saat mungkin Aku bener-bener meninggalkan Kamu." Batin Ari.


"Udah jangan nangis, cengeng banget si. Malu sama Arkan." Ucap Ari mengelus rambut Rindu.


"Ihh Kak Ari." Protes Rindu mencubit pinggang Ari lagi.


"Lagian Kamu pasti udah sayang banget sama Aku ya? Sampai nggak mau kehilangan gitu." Goda Ari.


"Geer banget si Kak Ari, orang Aku cuma gak mau aja jadi janda." Jawab Rindu mencari alasan.


"Aku ke kamar Tasya dulu ya." Pamit Ari. 


Rindu pun melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya. Ari keluar dari kamar dan membawa bingkisan untuk adik kesayangannya.


Bersambung…..

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?


__ADS_2