Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 8 PENYELAMAT RINDU


__ADS_3

Bu Kesya benar-benar senang mendengar keputusan Ari. Ia sangat bersemangat mempersiapkan apa yang akan dibawa untuk Rindu.


"Makasih ya Ari, Mama benar-benar bahagia dengan keputusan Kamu. Kamu tenang aja, Mama yang akan siapin semuanya. Nanti biar Mama juga yang bilang sama Ayah." Ucap Bu Kesya yang bersemangat.


Ari merasa keputusannya sudah benar karena melihat wajah Mamanya yang begitu sumringah. Ia hanya menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Mamanya.


"Semoga apa yang Aku lakukan ini benar yang terbaik." Batin Ari.


Bu Kesya bergegas menghampiri Kamar Natasya. Ia mengetuk pintu Putrinya itu. Tasya keluar dari kamar dan merasa heran dengan Mamanya yang nampak begitu bahagia.


"Mama kenapa?" Tanya Tasya.


"Hari ini Kamu ke kampus?" Tanya Bu Kesya kepada Tasya.


"Nggak si Ma, kosong jadwalnya." Jawab Tasya.


"Kamu sekarang juga siap-siap, temenin Mama ke toko emas." Titah Bu Kesya.


"Tumben, biasanya juga kalo beli emas sama Ayah." Ucap Tasya.


"Udah cepetan, ini tu penting banget." Bu Kesya mendorong Tasya masuk ke kamar agar segera bersiap.


Di Rumah Rindu


Hari ini Rindu tidak berangkat ke kampus karena tidak ada jadwal, Ia tengah menulis skripsinya di balkon kamarnya. Ia melihat segerombolan Ibu-ibu yang berkumpul tengah belanja sayuran. Bu Lia ikut bergabung dan menyapa tetangganya. Tetapi sekumpulan Ibu itu justru menghina Bu Lia karena putrinya batal menikah, Rindu melihat wajah Bu Lia seperti menahan amarah, Ia mengetahui bahwa segerombolan Ibu itu pasti membicarakan pernikahannya yang gagal.


"Sepertinya Mereka sedang membicarakan pernikahanku yang batal, kasihan Mama dan Papa. Mereka menanggung malu karena Aku salah memilih pasangan. Andai Aku bisa memperbaiki semua ini, tapi dengan cara apa?" Batin Rindu yang tidak tega melihat Mamanya yang dikucilkan oleh orang-orang tersebut.


"Lebih baik Aku masuk kamar, kalo Mereka melihat Aku disini. Bisa-bisa Mereka semakin bersemangat membicarakan pernikahanku yang gagal." Batin Rindu.


Rindu memilih masuk ke dalam kamarnya, Ia tidak mau Orang-orang itu melihatnya dan akan semakin mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.


Di Perusahaan Ari


Ari sedang melamun di kursi kerjanya, tiba-tiba Pintu diketuk.


"Siapa?" Tanya Ari.


"Putra" Jawab seorang Pria yang mengetuk pintu ruangan Ari. Putra adalah teman Ari sejak sekolah. Ia bekerja sebagai staff HRD di perusahaan Ari.


"Masuk." Titah Ari.


Putra masuk membawa berkas surat lamaran kerja dari beberapa pelamar yang datang.


"Mikir apa sih? kayaknya banyak pikiran gitu." Tanya Putra duduk di depan Ari.

__ADS_1


"Sok tau Kamu." Jawab Ari ketus.


"Eh Kita itu udah berteman lama, jangan jutek jutek gitu dong Ri. Nanti malah gak ada Wanita yang mau sama Kamu." Protes Putra.


"To the point aja, Kamu kesini mau ngapain? Mau ngledek Aku?" Tanya Ari yang kesal dengan temannya itu.


"Ini lho, ada beberapa surat lamaran kerja masuk. Terus sebenarnya Aku mau ajak Kamu pergi ke pameran seni. Cari barang antik gitu." Ajak Putra.


"Yaudahdeh, Aku juga lagi suntuk dan butuh hiburan." Jawab Ari berdiri dari tempat duduknya.


Ari dan Putra pun pergi untuk menghadiri pameran seni.


Di Rumah Rindu.


Rindu menuruni anak tangga dengan terburu-buru,Bu Lia yang melihatnya pun menegurnya.


"Rindu, Kamu mau pergi ke mana? Kok buru-buru." Tanya Bu Lia.


"Mama, Rindu pamit ya tadi temen-temen minta Rindu untuk ke kampus. Ada hal penting katanya." Rindu mencium tangan Bu Lia.


"Oh gitu, Yaudah hati-hati ya. Langsung pulang." Pinta Bu Lia.


"Siap Ma." Rindu bergegas menuju bagasi dan mengendarai motornya.


"Brakkkkk" Suara Motor yang terjatuh, Kaki Rindu berdarah karena benturan dengan aspal.


Sebuah mobil berhenti dan keluar dua Pria yang tak lain adalah Ari dan juga Putra.


"Kamu gak papa?" Tanya Putra menghampiri Rindu.


Rindu mendongak dan melihat Wajah yang tak asing baginya. Lagi-lagi Ia bertemu dengan Ari.


"Bocil, ngapain Kamu tidur di jalanan?" Tanya Ari.


"Kamu kenal sama Dia?" Tanya Putra kepada Ari. Ari hanya menganggukkan kepalanya.


"Udah tau jatuh, malah bilang tidur lagi."Protes Rindu berusaha berdiri tetapi terjatuh lagi.


Ari menyodorkan tangannya untuk menolong Rindu. Rindu menarik tangan Ari dengan kuat karena Ia kesulitan untuk berdiri.


"Gak bisa berdiri, Kaki Aku sakit." Ucap Rindu.


"Maaf" Ucap Ari mengangkat tubuh Rindu.


"Kak, turunin nanti kalo Aku jatuh gimana?" Protes Rindu.

__ADS_1


"Aku angkat Kamu, karena Kamu putri dari Tante Lia. Jadi Aku bantu Kamu, Kamu diem aja gak usah banyak protes." Ucap Ari.


"Sebenarnya walaupun Dia menyebalkan, tapi selama beberapa hari terakhir ini. Dia selalu jadi pahlawan buat Aku, Dia selalu ada ketika Aku membutuhkan bantuan." Batin Rindu.


Ari memasukkan Rindu ke dalam mobil dan meminta Putra untuk mengantarkan Mereka ke rumah sakit.


Di sepanjang perjalanan Rindu terus meminta untuk berhenti dan mengantarnya pulang, tetapi Ari tidak merespon perkataannya hingga Mereka tiba di rumah sakit.


"Kita ngapain ke rumah sakit?" Tanya Rindu.


Tanpa menjawab Pertanyaan dari Rindu, Ari bergegas mengangkat tubuh Rindu memasuki rumah sakit. Banyak perawat yang mengenali Rindu yang merupakan Putri dari Dokter Dimas.


"Kak, turunin Rindu disini aja. Rindu malu dilihatin banyak orang." Pinta Rindu.


"Kamu kali yang kegeeran Mereka mana mungkin lihatin Kamu." Ucap Ari.


"Kak, turunin Aku." Pinta Rindu.


"Emangnya Kamu bisa jalan sendiri? tadi bukannya Kamu bilang gak bisa berdiri? Atau jangan-jangan itu cuma akal-akalan Kamu supaya bisa Saya gendong." Ucap Ari dengan percaya diri.


Rindu menganga mendengar pernyataan Ari.


"Whatt?? sorry ya Kak. Tolong jangan terlalu pede. Gak baik." Ucap Rindu mengingatkan Ari.


Tiba-tiba Dokter Dimas datang menghampiri Mereka.


"Ari, Ini Rindu kenapa? Kok Kamu gendong?" Tanya Pak Dimas yang baru datang.


"Papa." Rindu terkejut sekaligus malu karena Pak Dimas melihatnya tengah digendong oleh Ari.


"Ini Om, Rindu habis kecelakaan dan kesulitan untuk berdiri. Jadi Ari bawa kesini supaya bisa segera diobati." Jawab Ari sopan.


"Yaampun kok bisa si, yaudah ayo Nak, langsung bawa ke ruangan Om aja. Biar Om tanganin." Ucap Pak Dimas menuntun Ari menuju ruangannya.


Ari meletakkan Rindu di atas ranjang, Pak Dimas pun berterima kasih kepada Ari.


"Terimakasih ya Nak Ari, sudah menyelamatkan dan membawa Rindu kesini." Ucap Pak Dimas.


Pak Dimas pun menasihati Rindu agar berhati-hati dalam bertindak sehingga tidak melukai diri sendiri.


Saat berbincang dengan Pak Dimas tiba-tiba Ari mendapatkan telepon dari Bu Kesya, Ari pun meminta izin untuk mengangkatnya.


Bersambung .......


Apa yang disampaikan Bu Kesya kepada Ari?

__ADS_1


__ADS_2