
Di Rumah Sakit
Ari telah sadarkan diri dan telah dipindahkan ke ruang rawat. Rindu dan juga keluarganya pun dengan setia menemani Ari.
"Aku seneng Kak Ari udah sadar." Rindu menggenggam tangan Ari sembari tersenyum kepada Ari.
"Aku juga seneng, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Jawab Ari.
Rindu hendak memeluk Ari tetapi diingatkan oleh Bu Lia.
"Rindu, jangan dipeluk dulu. Ari baru aja operasi. Lukanya masih sakit dong sayang." Ucap Bu Lia yang membuat orang yang ada di dalam ruangan tersebut tertawa.
"Oh iya, Rindu lupa. Bawaannya pengen meluk orang soalnya." Rindu mencari alasan.
"Oh iya, kapan Aku boleh pulang?" Tanya Ari.
"Sampai Kak Ari pulih dong." Jawab Rindu.
"Sekalian karena semuanya ada disini, Aku mau kasih tau. Karena dari kemarin keadaanya menyedihkan, Aku sampai lupa bilang kalau Minggu depan Aku ujian skripsi." Ucap Rindu.
"Bagus dong, Semoga Kamu berhasil." Ucap Ari.
"Makasih Kak." Jawab Rindu.
Rindu mendapatkan doa dari banyak orang, baik dari keluarga Ari maupun dari orangtuanya. Dokter masuk bersama perawat untuk memeriksa keadaan Ari.
"Selamat Pagi. Wah rame banget ya." Sapa Dokter tersebut.
"Pagi dok." Jawab Rindu.
"Saya coba periksa dulu ya." Ucap Dokter tersebut kemudian memeriksa keadaan Ari.
"Gimana Dok?" Tanya Rindu.
"Semuanya Normal." Jawab Dokter tersebut.
"Jadi Saya udah boleh pulang kan Dok?" Tanya Ari.
"Wah udah semangat banget ya, kalo semuanya udah normal. Kita tunggu besok baru boleh pulang ya." Jawab Dokter tersebut.
"Makasih Dokter." Jawab Rindu.
"Yaudah Kalo gitu, Saya periksa yang lain dulu ya." Ucap Dokter tersebut kemudian meninggalkan ruangan Ari.
"Kak Ari tu gimana sih, baru aja selesai operasi udah mau pulang aja." Protes Rindu.
"Orang udah pengen pulang." Jawab Ari singkat.
"Iya-iya tapi sabar dong." Ucap Rindu.
__ADS_1
Orang-orang yang ada di ruangan tersebut menertawakan Rindu dan juga Ari.
Di Rumah Ari
Hari berlalu begitu cepat, Pagi itu Ari sudah diperbolehkan pulang oleh dokter dengan syarat Ia harus rajin kontrol ke dokter.
Mobil yang membawa Ari dan Rindu berhenti di halaman rumah Ari. Putra membantu Ari untuk keluar dari mobil dan menempatkan Ari di kursi rodanya.
Rindu dengan sabar mendorong kursi roda Ari.
"Nanti kalo naik tangga gimana kalo pake kursi roda?" Tanya Ari.
"Oh iya ya Kak, kan gak bisa." Rindu baru menyadari bahwa kamar Mereka berada di lantai dua dan tidak mungkin dilalui dengan kursi roda.
"Aku udah bisa jalan kok." Ucap Ari.
"Jangan dong Kak, Kak Ari kan baru aja operasi." Protes Rindu.
"Terus gimana?" Tanya Ari meminta solusi dari Rindu. Rindu terdiam sejenak memikirkan cara.
"Oh gini aja Kak, Kak Ari sementara istirahat di kamar tamu aja." Saran Rindu karena kamar tamu berada di lantai bawah.
"Boleh." Jawab Ari.
"Yaudah kalo gitu Aku minta Bibi untuk bersihin kamarnya dulu deh." Ucap Rindu kemudian meninggalkan Ari.
Di Kamar Tamu
"Awas Kak, hati-hati." Ucap Rindu.
"Orang rumah pada kemana sih?" Tanya Ari.
"Ada urusan Kak." Jawab Rindu menyelimuti tubuh Ari.
"Yaudah, Kak Ari istirahat aja ya. Kalo butuh apa-apa panggil Aku." Ucap Rindu.
"Oh gitu, jadi Kamu mau ninggalin Aku?" Ari tidak terima dengan pernyataan Rindu.
"Ya terus gimana dong Kak, masak Kak Ari mau Aku nonton Kak Ari tidur?" Protes Rindu.
"Ya Kamu temenin tidur dong, sini samping Aku." Ari menepuk-nepuk ranjang sebelahnya yang masih kosong.
"Inikan masih pagi Kak, masak Aku tidur sih." Tolak Rindu.
"Yaudah kalo gitu, berarti Kamu gak nurut sama perintah Suami." Ucap Ari yang membuat Rindu Akhirnya mengalah.
"Yaudah, Iya. Aku tidur deh." Rindu mengikuti permintaan Ari, Ia berbaring di samping Ari dan keduanya saling menatap.
"Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Ari menyentuh rambut Rindu.
__ADS_1
"Aku juga bersyukur karena Kak Ari masih ada disini sekarang."Jawab Rindu.
"Setelah ini, Kita mulai semuanya dari awal ya." Ucap Ari.
"Iya Kak, Kita buka lembaran baru. Mencoba untuk saling menerima." Jawab Rindu.
Di Rumah Sakit
Hari demi hari berlalu, Ari dan Rindu datang ke rumah sakit untuk kontrol bekas operasi Ari. Mereka baru saja menemui Dokter. Rindu merasa bingung karena kontrol berikutnya bersamaan dengan tanggal ujian skripsinya. Ari yang mengetahui gelagat Rindu yang tengah berfikir itupun menegurnya.
"Kamu kenapa sih? Mikir apa?" Tanya Ari.
"Aku bingung Kak, tadi dokter bilang Kak Ari harus kontrol lagi. Tapi tanggalnya sama kayak tanggal ujian Aku." Jawab Rindu.
"Oh jadi Kamu cemas masalah itu? gak usah Kamu pikir keras. Aku bisa kok ditemenin sama Tasya." Jawab Ari.
"Beneran gak papa Kak?" Tanya Rindu memastikan kembali.
"Iya gak papa, Kamu harus fokus dong sama ujian Kamu." Saran Ari.
"Makasih Kak Ari udah ngertiin Aku." Ucap Rindu yang dibalas dengan senyuman Ari.
"Sama-sama." Jawab Ari.
Di Rumah Cinta
Cinta tengah duduk di tepi kolam, Ia tengah menulis sebuah diary tentang sakitnya yang semakin parah dan diagnosa Dokter yang menyatakan bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Cinta merasa tubuhnya telah melemah. Ia seperti tidak memiliki semangat hidup. Ponsel Cinta berbunyi, panggilan masuk dari Rindu. Satu-satunya orang yang dianggapnya masih peduli dengannya.
"Halo Kak Cinta, Kakak apa kabar? Maaf ya baru bisa nelpon Kak Cinta." Ucap Rindu memulai pembicaraan.
"Kabar Aku sedang gak baik Rindu, Aku bener-bener butuh teman curhat sekarang." Jawab Cinta yang lelah dengan semua masalah yang Ia hadapi.
"Kok Kak Cinta ngomong gitu? gini aja Kak, lebih baik sekarang Kita ketemu. Kakak boleh ungkapin semua yang menjadi beban Kak Cinta. Biar Kak Cinta lega." Tawar Rindu.
"Iya Rindu, Kita ketemu di restoran sultan ya. Ada yang mau Aku omongin sama Kamu. Ungkapan hati Aku." Jawab Cinta.
"Oke Kak, kalo gitu Aku ijin Suami Aku dulu ya. Habis itu Aku langsung kesana." Jawab Rindu.
"Iya Rindu, Aku kesana sekarang." Jawab Cinta kemudian mematikan panggilannya.
"Aku gak bisa pendam semua ini sendirian, seenggaknya kalau Aku beneran pergi. Ada seseorang yang mengetahui dan menjadi saksi Cintaku sama Ari." Batin Cinta.
Cinta berdiri dari tempatnya dan bergegas untuk bersiap bertemu dengan Rindu. Saat Ia hendak keluar dari kamar, tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Cinta kehilangan kesadaran dan tergeletak di depan pintu kamarnya.
Mendengar suara jatuh dari Kamar Cinta, Asisten Rumah Tangganya pun berlari mengecek kamar Cinta. Ia terkejut dan berteriak melihat Cinta yang telah tergeletak di lantai.
"Non Cinta, bangun Non." Teriak ART tersebut panik.
Bersambung…….
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?