
Ari memijat kaki Rindu dengan perlahan dan dengan telaten. Rindu terpesona melihat Ari yang nampak serius.
"Ya ampun, kalau Dia serius gini damagenya bener-bener bikin meleleh." Batin Rindu memperhatikan Ari.
"Ihhh apaan si Rindu, kenapa Kamu jadi terpesona sama Dia. Gak boleh." Rindu tersadar dan menggelengkan kepalanya.
Mata Rindu menyapu sekeliling kamar Ari, Ia melihat sebuah foto Ari mengenakan seragam silat dan disampingnya terdapat Piala.
"Kak Ari atlet silat ya?" pertanyaan keluar dari mulut Rindu.
"Iya." Jawab Ari singkat masih fokus memijat kaki Rindu.
"Udah, coba Kamu berdiri." Pinta Ari, Rindu pun mencoba berdiri dan merasakan bahwa kakinya sudah sedikit membaik.
"Wah, ternyata Kak Ari bakat juga jadi tukang pijit." Ledek Rindu.
"Dasar Bocil, udah dibantu malah ngledek. Kamu lupa ya? Aku ini Suami Kamu sekarang." Ari menyilangkan tangannya di depan dada.
"Deg" Seketika jantung Rindu berhenti berdetak mendengar kata yang keluar dari mulut Ari.
"Duhhh kenapa Kak Ari ngomong gitu sih? kalau malam ini Dia minta haknya sebagai Suami gimana dong, Aku belum siap." Batin Rindu.
"Kenapa diam?" Tanya Ari yang membuyarkan lamunan Rindu.
"Nggak, gak papa." Jawab Rindu berjalan menuju sofa dan duduk di sofa itu.
Ari melanjutkan kegiatannya yaitu hendak mengganti pakaian, Rindu pun menegurnya.
"Eitttts Kak Ari, Kakak kalo ganti baju di kamar mandi dong. Emang Kakak gak malu sama Aku?" Protes Rindu.
"Kenapa harus malu? Kita sekarang kan Suami Istri. Kamu lupa ya?" Goda Ari yang senang melihat wajah Rindu yang memerah.
"No, Kak Ari. Aku gak akan lakuin itu tanpa rasa cinta." Rindu membuang muka.
"Oh gitu, tapi lebih baik Kamu jaga-jaga aja. Karena Aku bisa serang Kamu kapan aja." Ucap Ari kemudian mengambil baju gantinya dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Ini gawat, ini bahaya. Bisa-bisa Aku gak tidur kalau Dia ngomong gitu." Ucap Rindu.
Sedangkan di dalam kamar mandi Ari mengganti pakaiannya.
"Aku tau apa yang Kamu takuti Rindu, sekarang Kamu adalah Istri Aku. Tapi Aku tau Kamu belum siap."Ucap Ari sambil berkaca.
"Duh, gerah banget lagi. Gimana ini copot gaunnya. Ribet banget." Rindu berusaha meraih resleting yang terletak di belakang gaunnya.
Ari keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia membuka ponselnya dan memainkannya.
Rindu yang telah menyerah pun akhirnya mencoba meminta bantuan Ari.
"Kak Ari." Panggil Rindu pelan.
__ADS_1
"Hmmmm" Jawab Ari tanpa menoleh ke arah Rindu.
"Tuh kan juteknya minta ampun." Batin Rindu.
"Kak, Rindu minta tolong dong." Ucap Rindu terpaksa meminta bantuan.
"Tolong apa?" Tanya Ari datar.
"Tolong bukain resleting gaun Rindu, Rindu pengen ganti baju, gerahhhhh." Ucap Rindu.
Ari kemudian meletakkan ponselnya, Ia menghampiri Rindu dan duduk di sebelahnya.
"Makannya kalo pake gaun yang simpel aja." Protes Ari.
"Ihhh Kak Ari lupa ya? yang pilih gaun ini itu kan Kak Ari. Jangan-jangan Kakak sengaja ya pilih gaun ini supaya Kakak bisa modus sama Aku." Protes Rindu.
"Modus sama bocil ngapain?" Ari membuka resleting Rindu dan sengaja mengalihkan pandangannya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, karena bagaimanapun juga Ari adalah laki-laki normal dan Rindu juga Wanita dewasa. Walaupun Mereka sudah menikah tetapi Ari masih berpegang teguh kepada konsepnya.
Setelah Ari membantu Rindu, Ia pun melangkah menuju balkon, seolah memberikan kesempatan untuk Rindu berganti pakaian.
Rindu bergegas mencari pakaian di lemari Ari dan segera mengganti pakaiannya.
Ari masih belum masuk kamar setelah Rindu selesai berganti pakaian. Rindu pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Karena kelelahan Rindu pun akhirnya tertidur.
Ari masuk ke kamar dan melihat Rindu telah tertidur pulas, Ari mengangkat tubuh Rindu dan membenarkan posisi tidurnya. Ari juga menyelimuti tubuh Rindu, Rindu nampak begitu kelelahan.
Ari memilih tidur di sofa, karena Ia tahu bahwa Rindu masih belum terbiasa tidur bersama orang lain, begitu juga dengannya.
"What? Aku ketiduran? Tapi Aku gak diapa-apain kan? Kak Ari kemana?" Batin Rindu.
Ari keluar dari kamar mandi, Ia baru saja membersihkan diri.
"Baguslah Kamu udah bangun, udah jam segini. Mandi habis itu sholat subuh." Titah Ari yang hanya memakai handuk untuk menutupi tubuhnya. Perut kotak-kotaknya terekspos yang membuat Rindu membuang muka. Rindu bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Untuk pertama kalinya Mereka melaksanakan sholat berjamaah sebagai Suami dan Istri.
Setelah menyelesaikan sholat, Rindu bertanya kepada Ari letak dapur.
"Kak, dapurnya dimana?" Tanya Rindu.
"Emang Kamu bisa masak?" Kata-kata Ari membuat Rindu merasa kesal.
"Enak aja, gini-gini Aku pernah ikut kursus masak tau." Protes Rindu.
"Meragukan." Ucap Ari melipat sajadahnya.
"Oke, kalau gitu Kakak tunjukkin Aku dapurnya. Akan Aku buktiin." Ucap Rindu.
"Gak usah, kasihan nanti kalo gak bisa dimakan." Ucap Ari.
"Oke kalau Kakak gak mau tunjukkin dapurnya, biar Aku cari sendiri." Ucap Rindu kemudian keluar dari kamar dan bertanya pada salah satu ART letak dapur.
__ADS_1
Rindu pun meminta ART yang bertugas untuk memasak tidak memasak untuk sarapan, karena Rindu yang akan memasak.
Di Ruang Makan.
Jam 07.00 pagi, waktunya untuk sarapan. Keluarga Pak Raka pun berkumpul. Rindu tengah menyajikan makanan.
"Loh Ini Rindu yang masak?" Tanya Bu Kesya.
"Iya dong Tante Maksud Aku Bunda." Jawab Rindu.
"Loh, Ari mana? kok belum turun?" Tanya Pak Raka.
"Biar Rindu panggilin Kak Ari dulu ya Bun, Yah." Ucap Rindu kemudian meninggalkan ruang makan.
Tetapi Ari telah menuruni anak tangga.
"Mau kemana?" Tanya Ari yang berpapasan dengan Rindu.
"Mau panggil Kakak, tapi Kakak udah turun. Bagus deh." Ucap Rindu kemudian berbalik dan kembali ke meja makan.
Mereka pun makan bersama, Makanan Rindu benar-benar enak sampai Keluarga Ari menikmati makanannya.
"Tumben Bi Ira masak banyak, dan rasanya juga gak kayak biasanya." Ucap Ari yang membuat Rindu tersenyum penuh kemenangan.
"Loh, inikan masakan Istri Kamu. Gimana sih Ari kok gak tau." Protes Bu Kesya.
"Tau nih Kakak gimana sih?" Protes Tasya.
"Oh iya, gimana tadi malem?" Tanya Nenek Lidya keceplosan.
"Tadi malam kenapa Nek?" Tanya Ari.
Kini semua pandangan beralih memandang Nenek Lidya.
"Gak jadi tanya, lanjutin aja makannya." Ucap Nenek Lidya.
"Oh iya Ari, Ayah udah siapin tiket bulan madu untuk Kalian. Ayah tahu Kamu pasti sibuk sampai gak kepikiran untuk bulan madu."Ucap Pak Raka.
"Nah iya, inget jangan lupa oleh-olehnya." Ucap Nenek Lidya.
"Nenek minta oleh-oleh apa?" Tanya Ari.
"Cicit dong." Jawab Nenek Lidya berharap.
"Uhuk-uhuk." Rindu tersedak karena terkejut mendengar permintaan Nenek Lidya.
"Nenek, Lihat Kak Rindu sampai malu gitu lho." Protes Tasya.
Ari memberikan minuman kepada Rindu.
__ADS_1
bersambung........
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?