Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 32 MENCOBA MENERIMA


__ADS_3

Di dapur


Rindu baru saja selama membuat makanan untuk Ari, Ia menyajikan masakan buatannya di meja makan. Tiba-tiba Ari datang dengan mengenakan kemeja dan jas kerja.


"Loh Kak, Kak Ari rapi banget mau kemana?" Tanya Rindu.


"Kerja, Aku gak bisa ninggalin kantor lama-lama."Jawab Ari yang duduk di kursinya.


Tanpa diperintah, Rindu mengambilkan makanan untuk Suaminya itu.


"Tapi tangan Kak Ari masih diperban, kenapa sih Kak Ari susah banget dibilangin." Protes Rindu.


"Stttttttt" Ari meletakkan jari telunjuknya di mulut Rindu yang membuat Rindu bungkam.


"Udah jangan banyak protes, lebih baik sekarang Kita makan." Ucap Ari menarik kursi di sampingnya agar Rindu menemaninya makan.


Dengan wajah yang ditekuk Rindu akhirnya terpaksa duduk.


"Selamat Pagi pengantin Baru." Suara yang tidak asing terdengar membuat Ari dan juga Rindu menoleh ke arah sumber suara.


"Nenek, Kakek." Ucap Ari berdiri kemudian mencium tangan Nenek Lidya dan Kakek Wira, begitupula dengan Rindu.


"Nenek sama Kakek kesini kenapa gak bilang-bilang? kan Ari bisa jemput." Protes Ari.


"Ya gimana, Kita ini juga mendadak kesini karena denger kabar kalo Prisa sakit." Jawab Kakek Wira.


"Yaudah Kakek, Nenek silahkan duduk. Ayo Kita sarapan sama-sama." Ucap Ari mengajak Nenek Lidya dan Kakek Wira makan bersama.


Kini Mereka pun duduk bersama dan menikmati sarapan bersama. Nenek Lidya yang tidak melihat keberadaan Tasya pun bertanya.


"Lho Tasya kemana? kok gak kelihatan?" Tanya Nenek Lidya.


"Tasya tadi pagi-pagi sekali pamit ke rumah Kak Raja Nek, anterin Baby Arkan." Jawab Rindu.


"Oh gitu, oh iya ngomong-ngomong soal Baby. Gimana? udah ada tanda-tanda belum?" Tanya Nenek Lidya yang membuat Rindu dan Ari saling memandang dan menelan salivanya.


Nenek Lidya yang melihat itupun menanggapi.


"Lah kok malah pada diem sih? punya Anak itu jangan ditunda-tunda, iyakan Pi?" Nenek Lidya meminta saran dari Kakek Wira, Kakek Wira pun mengangguk menyetujui pernyataan Istrinya itu.


"Tapi Nek, Anak itukan rezeki dan Kita gak bisa memaksakan. Nenek doain aja." Ucap Ari beralasan.


"Ya makannya, Kalian ikut program hamil dong. Itukan bagian dari usaha." Saran Nenek Lidya.


"Kita kan masih belum genap satu bulan menikah Nek, lagipula sekarang Rindu masih fokus sama skripsinya." Ucap Ari kembali mencari alasan.

__ADS_1


"Udahlah Mi, biarin Mereka menikmati kebersamaan dulu. Mereka ini masih pengantin baru lho." Kakek Wira akhirnya membela Ari.


Ari telah menyelesaikan makannya. Ia berdiri dan pamit kepada Kakek dan Neneknya.


"Kek, Nek Ari udah selesai. Ari pamit mau kerja." Ucap Ari yang diikuti oleh Rindu yang berdiri dan membereskan piring bekas Ari.


"Iya, hati-hati ya." Jawab Kakek Wira dan Nenek Lidya.


"Nek, Kek Rindu anter Kak Ari kedepan dulu ya." Pamit Rindu kemudian menemani Ari menuju mobilnya.


"Nanti setelah Aku pulang, Kita langsung nengok Budhe. Kamu siap-siap ya." Ucap Ari.


"Iya, oh iya Kak hari ini Aku mau minta izin untuk pergi ke kafe sama temen-temen Aku. Kita mau ngerjain skripsi barengan." Rindu meminta izin.


"Boleh, tapi Kamu minta Pak supir anter aja. Jangan bawa motor sendiri." Ucap Ari melarang Rindu pergi sendiri karena masih khawatir.


"Iya, nanti Aku minta Pak Supir anter deh." Jawab Rindu kemudian Meraih tangan Ari dan mencium tangan Ari.


"Semakin lama, Aku semakin terbiasa dengan ini semua." Batin Ari.


"Kak Ari hati-hati ya." Ucap Rindu yang mulai perhatian kepada Suaminya.


Ari hanya membalas perkataan Rindu dengan senyuman manis. Rindu terkejut dengan respon Ari yang benar-benar jarang atau bahkan mungkin belum pernah Ia dapatkan. Kemudian Ari memasuki mobilnya dan mulai meninggalkan halaman rumah.


Di Cafe Bintang


Melli dan Nada tengah bercanda di sebuah cafe lesehan. Rindu yang baru saja tiba pun menghampiri Mereka dan menyapa.


"Guys, Aku kangen banget sama Kalian." Rindu memeluk kedua sahabatnya itu.


"Akhirnya datang juga, lama banget Kita nungguin." Protes Melli.


"Maaf ya." Rindu tersenyum malu.


"Eh iya Rindu, Kamu dapat undangan dari Farel gak?" Tanya Nada sembari mencomot kentang goreng yang telah tersaji.


"Dapet, Kita berangkat sama-sama aja gimana?" Tawar Rindu.


"Yakin Kamu mau berangkat?" Melli memastikan sekali lagi.


"Iya, Aku berangkat sama Kak Ari juga." Jawab Rindu.


"Ya itu bagus si menurutku, supaya si Farel itu sadar kalo Kalian berdua udah punya kehidupan masing-masing." Ungkap Nada.


"Iya dan Aku rasa kayaknya Aku harus mulai mencoba untuk menerima kehadiran Kak Ari, belajar mencintai Dia." Jawab Rindu.

__ADS_1


"Aku setuju sih sama Nada." Ucap Melli.


"Selama ini Kak Ari mungkin terkesan jutek, tapi sebenarnya udah berulang kali Dia selametin Aku. Bahkan Dia gak peduli sama dirinya sendiri, Dia rela terluka untuk melindungi Aku." batin Rindu merenung.


Nada dan Melli saling memberi sinyal, mendali sahabatnya itu tengah melamun.


"Hello Rindu, Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Nada membuyarkan lamunan Rindu.


"Ha? iya Aku baik-baik aja kok." Jawab Rindu.


"Udah-udah, yuk Kita fokus sama skripsi Kita masing-masing. Semangat Guys." Mereka kembali fokus ke tugasnya masing-masing.


Di Kantor


Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, saatnya Istirahat. Ari bangkit dari tempat duduknya, tiba-tiba Ia merasa pusing dan matanya berkunang-kunang. Ia memegangi kepalanya dan satu tangannya menopang di meja.


"Kenapa kepalaku rasanya pusing banget." Batin Ari.


Putra masuk ke ruangan Ari untuk mengajak atasannya itu makan siang, Ia melihat Ari sepertinya tidak sedang baik-baik saja. Putra bergegas menghampiri Ari.


"Boss, Kenapa Boss?" Tanya Putra.


Ari merasa kesulitan bernafas dan seperti nyeri di bagian jantungnya.


"Aku gak papa, cuma sedikit pusing." Jawab Ari berbohong.


"Aku telepon Rindu ya." Ucap Putra tetapi Ari melarangnya.


"Jangan, Dia pasti larang Aku kerja kalo sampai tahu Aku sakit." Larang Ari yang kembali duduk di kursinya dan memejamkan matanya.


"Kenapa Jantung Aku rasanya nyeri, ada apa ini?" Batin Ari mencoba menetralkan rasa sakitnya.


"Kamu makan duluan aja Put, Aku mau istirahat dulu sebentar." Titah Ari.


"Yaudah, Aku suruh OB antar makan siang buat Kamu deh, Kamu istirahat aja." Ucap Putra.


"Makasih Put, inget jangan kasih tahu Rindu ya." Pinta Ari mengingatkan.


"Iya, tenang aja aman pokoknya. Kalo gitu Aku pergi dulu ya." Putra meninggalkan ruangan Ari.


Ari pun mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa sakitnya.


bersambung....


bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu

__ADS_1


__ADS_2