Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 47 MASALAH BARU


__ADS_3

Di hotel


Ari merasa gengsi karena Putra mengejeknya dengan Rindu, Ia memukul kepala Putra pelan dengan berkas yang ada di tangannya.


"Sembarang Kamu kalo ngomong, Aku cuma tanya aja. Baguslah kalo Dia gak menghubungi. Aku udah bosen banget denger Dia ngoceh." Ari mencari alasan.


"Bosen apa bosen. Gengsi banget ngakuin." Goda Putra.


"Udah diem Kamu, sana balik ke kamar Kamu." Titah Ari membuka kembali pintu kamarnya dan hendak masuk kembali ke dalam kamarnya. Putra pun menegurnya.


"Kok mau masuk ke kamar lagi? Tadi katanya mau pergi?" Tanya Putra seakan memojokkan Ari.


"Gak jadi, Aku mau lihat dan mempelajari berkas ini." Jawab Ari kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Eits hati-hati Boss, ini bukan kamar pribadi. Ini hotel." Protes Putra tertawa.


"Ari…. Ari….. kayaknya Dia udah mula suka sama Rindu deh." Ucap Putra kemudian pergi kembali ke kamarnya yang berada di samping kamar Ari.


Di Kamar Ari dan Rindu.


Rindu keluar dari kamar mandi dan mengelap rambutnya yang basah dengan handuk. Ia teringat bahwa ponselnya mati. Segera Ia mengambil dari tas dan mengisi daya. Ia terkejut ketika terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Ari.


"Kak Ari nelpon Aku berkali-kali, Ada apa ya?" Rindu bertanya kepada dirinya sendiri.


Tanpa berfikir panjang, Ia pun mencoba menghubungi Ari. Lama Rindu menunggu, hingga telepon tersebut akhirnya terjawab.


"Halo Kak, Kak Ari telepon Aku tadi ada apa?" Tanya Rindu.


"Kamu kenapa gak aktif? Tadi siapa yang minta dihubungi kalau Aku udah sampai?" Protes Ari.


"Iya maaf, tadi itu Aku pergi dan lupa kalo ternyata hp Aku baterainya lemah." Rindu merasa bersalah.


"Lain kali jangan gitu lagi." Titah Ari.


"Iya-iya, yaudah kalo gitu. Kak Ari cuma mau bilang itu kan?" Tanya Rindu.


"Iya." Jawab Ari.


"Kak Ari marah ya? Kok jawabnya singkat gitu." Tanya Rindu.


"Nggak Rindu, Aku gak marah. Ini udah malem, Kamu harus tidur!" Titah Ari.


"Iya sebentar lagi Aku tidur kok, Kak Ari juga istirahat ya. Selamat malam." Ucap Rindu kemudian mematikan teleponnya.


Ia tersenyum melihat ponselnya, kemudian kembali mengeringkan rambutnya.


Di Kamar Hotel.

__ADS_1


Ari tersenyum ketika Rindu mengucapkan selamat malam, Rindu menutup teleponnya. 


Tiba-tiba keluar darah dari hidung Ari. Ari meraih tisu dan mencoba membersihkan darah tersebut.


"Kenapa belakangan ini Aku sering mimisan? Apa karena penyakitku yang semakin parah?" Batin Ari yang kini tengah berhadapan dengan cermin.


"Aku harus gimana sekarang? Mencari pendonor jantung pasti sangat sulit dan rasanya Aku gak tega kalo harus merebut jantung orang lain. Tapi kalo Aku gak segera operasi, Keadaanku akan semakin memburuk." Batin Ari menatap wajahnya di cermin.


"Lebih baik sekarang Aku sholat untuk menenangkan hati." Ucap Ari kemudian mengambil air wudhu.


Di Rumah Sakit.


Rindu berjalan bersama Cinta di rumah sakit, seperti perjanjian kemarin Rindu akhirnya menemani Cinta untuk bertemu dengan Ayahnya.


"Jadi Ayah Kamu kerja disini?" Tanya Cinta.


"Iya, tapi Papa Aku Dokter Umum si." Jawab Rindu.


"Wah Keren, terus kenapa Kamu gak jadi dokter juga?" Tanya Cinta.


"Aku gak minat Kak." Jawab Rindu yang membuat Mereka tertawa.


Mereka masuk ke ruangan Dokter Dimas yang kebetulan sedang tidak ada pasien.


"Selamat pagi Papa." Sapa Rindu.


"Aduh Papa jangan panik, tenang aja. Rindu gak kenapa-napa kok. Oh iya Pa kenalin ini temen Aku namanya Kak Cinta." Rindu memperkenalkan Cinta kepada Papanya.


"Kak Cinta, ini Papa Aku. Pak Dimas." Ucap Rindu menambahi.


"Jadi Pa, Rindu kesini karena anter Kak Cinta yang emang lagi cari Dokter. Jadi Rindu ajak Kak Cinta ketemu sama Papa." Ucap Rindu menyatakan alasannya.


"Oh begitu, silahkan duduk." Pak Dimas mempersilahkan Cinta dan Rindu untuk duduk. Mereka pun duduk, saat Cinta hendak memulai berkonsultasi tiba-tiba telepon Rindu berbunyi.


"Dari Temen Aku Pa, Aku izin keluar sebentar untuk angkat ya." Rindu meminta izin kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


"Halo Da, Ada Apa?" Tanya Rindu to the poin.


"Halo Rindu, Kamu harus ke kampus sekarang juga." Jawab Nada panik.


"Kenapa sih? Ada apa? Ini Aku masih ada acara soalnya." Tanya Rindu.


"Udah acaranya nanti aja, ini penting banget. Pokoknya Kamu harus ke kampus. Sekaranggg!" Titah Nada tegas kemudian telepon dimatikan.


"Ada apa sih? Dia sampe panik gitu?" Batin Rindu. Ia masuk kembali ke dalam ruangan dan berpamitan kepada Pak Dimas dan Cinta.


"Pa, Rindu pamit mau ke kampus dulu ya. Kak Cinta maaf banget gak bisa nemenin Kakak karena ada hal penting di kampus." Rindu mengucapkan rasa bersalahnya.

__ADS_1


"Iya, Kamu hati-hati ya Nak." Jawab Pak Dimas.


"Iya, gak apa-apa Rindu, makasih udah temenin Aku." Ucap Cinta tersenyum manis.


Setelah berpamitan Rindu bergegas keluar dari ruangan dan segera ke kampus.


Di Kampus.


Melli dan Nada menunggu Rindu di tempat parkir. Rindu menghampiri Mereka dengan langkah tergesa-gesa.


"Rindu, Akhirnya Kamu dateng juga." Ucap Melli.


"Ada apa sih sebenarnya? Kalian sampai suruh Aku cepet-cepet dateng kesini." Protes Rindu mencoba mengatur nafasnya.


"Gawat Rindu, sekarang Kamu itu jadi topik pembicaraan di Kampus." Terang Melli.


"Hah? Maksud Kalian?" Tanya Rindu yang masih belum memahami apa yang dikatakan oleh Melli.


"Nih Kamu lihat Majalah Populer terbitan terbaru Kampus Kita." Nada memberikan Majalah kepada Rindu.


"Ada apa sih, bikin penasaran aja." Protes Rindu membuka halaman per halaman Majalah tersebut.


Ia terkejut ketika melihat foto Dirinya saat terjatuh dan ditolong oleh Raja.


"Foto ini? Inikan waktu Kak Raja tolongin Aku. Siapa yang ambil foto?" Tanya Rindu menoleh kepada kedua sahabatnya.


"Ya Kita juga gak tahu, lebih baik sekarang Kamu temui tim penerbit dan minta identitas orang yang udah fitnah Kamu deh." Saran Nada.


Rindu meninggalkan kedua sahabatnya dengan emosi. Melli dan Nada pun mengikuti langkah sahabatnya itu.


Rindu berjalan menuju tim penerbit dengan menahan amarahnya, sepanjang perjalanan banyak sekali yang melihat Rindu tak biasa, bahkan Mereka menggunjingkan Rindu.


Rindu masuk ke ruangan tim penerbit dan melempar majalah yang berisi fotonya dengan Raja  di meja dengan judul "MAHASISWA YANG TERLIBAT CINLOK DENGAN DOSEN".


Anya yang menjadi petugas pun menatap Rindu kesal.


"Ada apa ini?" Tanya Anya.


"Kamu kehabisan bahan untuk majalah ya? Sampai hal seperti ini Kamu buat berita? Bener-bener gak mencerminkan akhlak Mahasiswa tau nggak." Protes Rindu.


Anya tersenyum melihat wajah kesal Rindu.


"Emang Aku sengaja, karena emang berita seperti itu yang menurut Aku bisa membuat mahasiswa membaca majalah Kita." Jawab Anya yang membuat Rindu merasa geram, begitu pula dengan Nada dan Melli.


Bersambung…….


Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?

__ADS_1


__ADS_2