Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 62 RENCANA PAK PRAM


__ADS_3

Sepulang dari bekerja, Ari meminta Rindu agar bersiap karena Ari akan mengajak Rindu pergi. Rindu yang tengah merias wajahnya bertanya kepada Ari yang sibuk memainkan ponselnya.


"Emang Kak Ari mau ajak Aku kemana sih Kak?" Tanya Rindu.


"Ada deh, nanti Kamu juga tahu." Jawab Ari yang membuat Rindu semakin penasaran.


"Yaudah kalo gitu, Aku gak mau ikut." Ancam Rindu.


"Jangan gitu dong, pokoknya Kamu tenang aja. Kamu pasti seneng nanti." Jawab Ari.


"Awas kalo Aku gak seneng." Rindu tersenyum mengancam Ari.


Ari pun menunggu Rindu hingga selesai merias wajah. Rindu berdiri dan menghampiri Ari. Ia menautkan tangannya di siku Ari.


"Gimana Kamu udah siap?" Tanya Ari.


"Udah, gimana Aku cantik nggak?" Tanya Rindu.


"Gak cantik-cantik amat sih." Goda Ari.


"Ihhh Kak Ari, jahat banget si." Protes Rindu.


"Iya-iya Cantik. Yaudah Kita pergi sekarang ya." Ucap Ari kemudian Mereka meninggalkan kamar.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Ari mengeluarkan kain dari saku celananya.


"Kain buat apa Kak?" Tanya Rindu yang penasaran.


"Aku akan tutup mata Kamu, sampai tempat tujuan." Jawab Ari kemudian menutup mata Rindu dengan kain tersebut.


"Awas hati-hati, Aku tuntun Kamu." Ucap Ari menuntun Rindu memasuki mobil.


Sepanjang perjalanan, Ari terus menggenggam tangan Rindu. Setiap Rindu bertanya tujuan Mereka. Ari selalu menutupi rencananya. Mobil berhenti, Mereka telah tiba di tempat tujuan.


"Nah, sebentar lagi Kita sampai." Ucap Ari.


"Ini kainnya udah boleh dibuka?" Tanya Rindu.


"Jangan dong, sabar ya. Sebentar lagi." Ari membantu Rindu turun dari mobil. Ari terus menuntun Rindu hingga tempat tujuan.


"Kita udah sampai, Aku bantu buka penutup mata Kamu ya." Ucap Ari yang perlahan membuka penutup mata Rindu.


Rindu terkejut ketika melihat sekelilingnya, dekorasi bunga yang dihias dengan lampu kelap-kelip. Benar-benar makan malam romantis.

__ADS_1


"Wah, ini bagus banget." Rindu terkesima dengan kejutan yang diberikan oleh Ari. Ari melangkah dan mengambil buket yang tadi sore Ia beli.


"Ini mawar putih yang cantik, untuk orang yang cantik juga." Goda Ari.


"Makasih ya Kak, Ini kejutan yang indah banget." Ucap Rindu.


"Aku seneng kalau Kamu bahagia." Ucap Ari yang membuat Rindu terharu.


"Gimana kalo malam ini, Kita berdansa." Tawar Ari mengulurkan tangannya.


Rindu tersenyum kemudian menerima tawaran Ari. Mereka pun berdansa, melangkah ke kiri dan ke kanan sesuai dengan irama musik.


"Sebenarnya Aku mau ngomong penting sama Kamu." Ucap Ari di saat Mereka tengah berdansa.


"Ngomong penting apa Kak?" Tanya Rindu.


"Selama ini Aku tahu tentang semua masa lalu Kamu, tapi Kamu belum tahu masa lalu Aku. Aku mau cerita tentang masa lalu Aku." Ucap Ari. Jari telunjuk Rindu kemudian menutup mulut Ari.


"Aku gak peduli sama masa lalu Kak Ari, Kak Ari gak perlu cerita ke Aku. Aku mau sekarang Kita fokus ke masa depan." Pinta Rindu tersenyum kemudian memeluk Suaminya itu pelan, karena Ia tahu bekas operasi Ari masih sakit.


Di Jalan 


Putra tengah pergi keluar rumah untuk membeli beberapa keperluan mandi. Ia berhenti di mini market dekat rumahnya. Saat memasuki mini market itu, Ia tidak sengaja bertemu dengan Tasya.


"Ih, ini kan tempat umum Kak. Emang Kak Putra gak lihat kalo Aku lagi belanja." Protes Tasya.


Putra melirik keranjang belanjaan milik Tasya. Ia tertawa melihat barang belanjaan Tasya.


"Ngapain Kak Ari ketawa? Emang ada yang lucu." Protes Tasya.


"Eh Tasya, Kamu ngapain beli bahan masak? Emang Kamu bisa masak?" Ledek Putra terkekeh.


"Ih Kak Putra sembarangan kalo ngomong ya. Aku bisa masak kok." Tasya tidak Terima dengan hinaan Putra.


"Gak percaya tuh." Jawab Putra yang membuat Tasya semakin kesal.


"Oke, Aku akan buktiin. Tapi kalo Aku bisa masak Kamu harus jadi asisten Aku selama satu minggu." Tantang Tasya.


"Oke, tapi kalo Kamu terbukti gak bisa masak. Kamu yang harus jadi asisten Aku selama satu Minggu." Putra balik menantang Tasya.


"Oke Deall." Tasya meraih tangan Putra dengan kesal.


"Terus gimana Aku bisa tahu Kamu bisa masak atau nggak?" Tanya Putra.

__ADS_1


"Nanti Aku akan masak, dan Kita minta pendapat dari Orang-orang." Ucap Tasya dengan percaya diri.


"Oke." Jawab Putra setuju dengan pernyataan Tasya.


Di Rumah Sakit


Pak Pram masuk ke kamar rawat Cinta, Ia membawa buket bunga yang baru Ia beli untuk Putri tercintanya itu.


"Selamat malam, Putri kesayangan Ayah." Sapa Pak Pram.


"Selamat malam Ayah, itu buket untuk siapa?" Tanya Cinta.


"Ini buket Ayah sengaja beli untuk Kamu." Jawab Pak Pram memberikan buket itu kepada Cinta.


"Kamu suka?" Tanya Pak Pram.


"Iya, Terimakasih ya Ayah." Cinta menerima buket bunga dengan gembira.


"Tadi Ayah sudah bertemu dengan Dokter, Ayah mau Kamu segera dipindahkan dari rumah sakit ini." Ucap Pak Pram yang membuat Cinta terkejut.


"Kenapa Ayah? Cinta nyaman disini. Lagipula Ari masih belum kembali." Cinta merasa heran dengan keputusan Ayahnya.


"Sudahlah Cinta, lupakan Ari. Paling penting sekarang adalah kesembuhan Kamu." Pinta Pak Pram.


"Tapi Ayah, Ayah denger sendiri kan. Penyakit Aku ini gak bisa sembuh. Dokter bilang kalo umur Aku gak lama lagi. Pengobatan ini cuma untuk menunda kepergian Aku." Terang Cinta.


"Kita gak boleh pesimis. Kamu pasti sembuh. Keputusan Ayah sudah bulat, Ayah akan tetap membawa Kamu pergi jauh dari kota ini." Pak Pram memberikan semangat kepada Cinta.


"Ayah, Cinta cuma mau bersama dengan orang yang Cinta sayang. Cinta ingin disisa akhir hidup Cinta. Cinta merasakan menjadi seorang Istri dari Orang yang Aku Cintai Ayah. Cinta mohon Ayah ngerti." Cinta menitikkan air matanya, berharap agar Pak Pram mengubah keputusannya.


"Andai Kamu tahu Cinta, bahwa Laki-laki yang Kamu harapkan itu sudah menjadi Suami Orang. Ayah terpaksa harus memindahkan Kamu ke luar kota agar Kamu gak berharap lagi dengan laki-laki itu." Batin Pak Pram.


"Maaf Cinta, semuanya udah Ayah siapkan. Ini bukan pilihan buat Kamu. Mau ataupun tidak besok Kita tetap pindah dari rumah sakit ini." Jawab Pak Pram tegas.


"Sepertinya Ayah sangat bersikeras ingin Aku pindah dari rumah sakit ini. Maaf Ayah, tapi Aku gak bisa. Aku ingin memenuhi keinginan terakhirku untuk bisa bersama dengan Ari. Aku akan menghubungi Rindu dan meminta bantuannya." Batin Cinta.


"Sekarang Kamu Istirahat, besok pagi-pagi Kita harus pergi. Apapun yang Ayah lakukan bukan tanpa tujuan, semua keputusan Ayah demi kelangsungan hidup Kamu. Ayah harap Kamu bisa ngerti Cinta." Ucap Pak Pram kemudian meninggalkan Cinta sendiri di kamarnya.


"Kenapa? Kenapa disaat Aku udah bertemu dengan Ari, Ayah seolah ingin memisahkan Kita. Dulu waktu kecil Aku udah kehilangan Dia karena keinginan Ayah. Tapi kali ini Aku gak bisa. Maafin Cinta Ayah." Batin Cinta mengusap air matanya.


Bersambung…….


Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?

__ADS_1


__ADS_2