Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 58 BERSYUKUR MILIKIMU


__ADS_3

Di Restoran Sultan


Rindu baru saja tiba di restoran sultan, Ia memilih tempat untuk menemui Cinta.


Ia duduk di dekat jendela agar bisa melihat kedatangan Cinta. 


Seorang pelayan restoran menghampiri Rindu dan menawarkan menu kepada Rindu, sembari menunggu Rindu pun memesan minuman terlebih dahulu.


Setelah memesan makanan, Rindu kembali menunggu kedatangan Cinta, tetapi Cinta tidak juga datang hingga minuman pesanannya telah dihidangkan.


"Kak Cinta kenapa belum datang juga ya? Udah hampir setengah jam Aku nungguin." Batin Rindu memperhatikan jam tangannya.


"Atau Aku coba hubungi aja kali ya." Ucap Rindu kemudian mencoba menghubungi Cinta. Panggilan diterima, tetapi saat itu suara laki-laki yang terdengar.


"Halo Kak Cinta." Rindu baru saja menyapa Cinta dan ditanggapi oleh suara Pria.


"Halo ini siapa?" Tanya Pria itu.


"Saya Rindu, temennya Kak Cinta. Tadi Kita janjian untuk ketemu tapi Kak Cinta belum juga dateng. Apa Saya bisa bicara sama Kak Cinta?" Tanya Rindu.


"Saya Ayahnya Cinta, saat ini Cinta sedang ada di rumah sakit. Tadi Dia jatuh pingsan." Jawaban dari seberang yang membuat Rindu terkejut.


"Kak Cinta di rumah sakit? Kalau boleh Saya tahu Rumah Sakitnya dimana? Saya ingin menjenguk Kak Rindu. Kalo Om mengizinkan." Tanya Rindu Sopan.


"Baiklah, Saya kirim tempatnya ya." Jawab Pria tersebut kemudian Mengakhiri panggilannya. Rindu membaca pesan masuk dan bergegas ke meja kasir untuk membayar minumannya. Ia keluar dari restoran dan pergi ke rumah sakit untuk menemui Cinta.


Di Rumah Sakit


Rindu berjalan di koridor rumah sakit untuk menuju ruang rawat Cinta yang terletak di kamar melati. Rindu sudah sangat hafal dengan rumah sakit tersebut karena Papanya bekerja disana.


Setelah menemukan kamar yang Ia cari, Ia pun mengetuk pintu. Terdengar jawaban dari dalam yang mempersilahkan Rindu untuk masuk. Rindu pun memasuki ruangan tersebut.


"Assalamualaikum." Rindu membuka pintu pelan, Ia melihat Cinta terbaring lemah dan disampingnya ada seorang Pria yang sepertinya adalah Ayah dari Cinta. Rindu pun mencium tangan Pria tersebut. Cinta tersenyum melihat kedatangan Rindu. Meskipun dalam keadaan lemah, Ia masih ramah dengan Rindu.


"Rindu, maaf ya Aku gak jadi ketemu sama Kamu." Ucapnya pelan.


Rindu tersenyum dan menggenggam tangan Cinta.


"Gak apa-apa Kak Cinta. Kalo Kak Cinta lagi gak enak badan, Kita ketemu kapan-kapan aja."Jawab Rindu.


"Ayah, boleh Aku bicara sama Rindu sebentar." Cinta menatap Ayahnya, meminta Ayahnya untuk meninggalkan Ia bersama Rindu.

__ADS_1


Pak Pram pun menganggukkan kepalanya kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Kini hanya tinggal Cinta dan Rindu yang ada didalam ruangan tersebut.


"Rindu, makasih ya Kamu udah mau temuin Aku. Aku beruntung banget bisa punya teman seperti Kamu. Kamu udah Aku anggap seperti Adik Aku sendiri." Ucap Cinta.


"Aku juga udah anggap Kak Cinta, seperti Kakak Aku sendiri." Jawab Rindu tersenyum.


"Rindu, sebenarnya Aku mengajak Kamu bertemu itu untuk menceritakan penyakitku yang semakin parah, dan harapan Aku untuk bisa bersatu dengan Cinta pertama Aku." Ucap Cinta.


"Memang Cinta Pertama Kak Cinta sekarang dimana?" tanya Rindu.


"Aku gak tau sekarang Dia ada dimana. Dia Cinta Pertama Aku sejak Kecil, Aku dulu ninggalin Dia dan Dia berjanji untuk nungguin Aku. Mungkin Aku bisa pergi dengan tenang kalau Aku bisa bersatu dengan Dia." Cinta menceritakan masa lalunya dengan menangis.


"Kalau boleh tau, apa ada sesuatu yang bisa dijadikan identitas untuk cari orang itu?" tanya Rindu.


"Dia ahli beladiri, Namanya adalah." Belum selesai Cinta berbicara tiba-tiba telepon Rindu berbunyi. Rindu melihat Ponselnya, telepon masuk dari Suaminya. Wajahnya pun nampak gelisah. Cinta yang melihat kegelisahan di wajah Rindu pun bertanya.


"Dari siapa Rindu?" tanya Cinta.


"Dari Suami Aku Kak." Jawab Rindu merasa tidak enak karena saat mendengarkan cerita dari Cinta, Ia malah mendapatkan panggilan.


"Yaudah, Kamu angkat aja." Ucap Cinta.


"Sebentar ya Kak. Maaf Aku angkat dulu." Rindu kemudian menerima telepon dari Ari.


"Tadi Kamu bilang cuma pergi sebentar, kenapa sampai sekarang belum juga kembali. Kamu udah pergi lama lho. Aku kan masih sakit." Protes Ari.


"Iya Kak, ini bentar lagi Aku pulang." Jawab Rindu.


"Yaudah, Aku tunggu di rumah." Ucap Ari kemudian mengakhiri panggilannya.


"Kenapa? Suami Kamu cariin Kamu ya?" Tebak Cinta yang sedikit mendengar jawaban dari Rindu.


"Iya Kak, tapi gak papa. Sebentar lagi Aku pulang." Jawab Rindu.


"Udah, Kamu pulang aja Rindu. Kasihan Suami Kamu." Ucap Cinta.


"Yaudah, kalo gitu Aku pulang. Nanti setelah Aku selesai ujian skripsi Aku akan temui Kak Cinta ya." Ucap Rindu tersenyum. Cinta membalas senyuman Rindu. Rindu pun meninggalkan kamar Cinta dan berpamitan dengan Pak Pram.


Di Kamar Ari.


Hari demi hari berlalu, Rindu sibuk mengurus Suaminya dan mempelajari skripsinya. Keadaan Ari pun semakin membaik. Besok adalah hari dimana Rindu ujian skripsi yang bersamaan dengan jadwal Ari untuk kontrol bekas operasinya.

__ADS_1


Ari menghampiri Rindu yang tengah belajar, Ia membelai rambut Rindu. Rindu pun menatapnya.


"Udah malem, Kamu harus istirahat. Supaya besok waktu ujian badan Kamu enak." Saran Ari.


"Iya Kak, sebentar lagi Aku istirahat. Aku deg-degan banget deh Kak." Rindu mengungkapkan perasaannya.


"Bismillah, Semua akan berjalan dengan baik. Maaf Aku gak bisa temani Kamu besok." Ucap Ari.


"Aku juga minta maaf, karena gak bisa temani Kak Ari ke Dokter besok." Ucap Rindu merasa bersalah.


"Kenapa harus ditemani? Kan Mertua Aku udah standby di sana." Jawab Ari tersenyum.


"Iya juga si, Papa kan selalu disana. Tapi Kak Ari yakin besok mau berangkat sendiri?" Rindu kembali memastikan.


"Iya, Aku udah gak apa-apa kok. Paling Aku dianter sama Pak Supir." Jawab Ari.


Terlihat kekhawatiran di wajah Rindu. Ari yang menyadari itupun tertawa.


"Kak Ari kok ketawa." Protes Rindu.


"Ya habis Kamu kayak gak percaya gitu. Kamu tenang aja." Ari merangkul Rindu.


"Yaudah, sekarang Kita istirahat ya. Udah malem ini." Ari melihat jam tangannya.


"Iya, selamat malam Kak Ari." Ucap Rindu yang merebahkan tubuhnya di ranjang. Ari pun menyusulnya.


"Kak Ari malem ini gak mau itu..." Goda Rindu dengan menaikkan salah satu alisnya Ia tersenyum licik.


"Dari kemarin Kamu selalu gitu, awas aja ya kalo Aku udah sembuh." Ucap Ari sedikit kesal.


"Ih takut Om." Rindu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Udah-udah, gak tidur-tidur. Bercanda terus nanti." Ari mengingatkan Rindu.


"Selamat tidur Suami Aku." Ucap Rindu tersenyum kemudian memejamkan matanya.


Ari terus memperhatikan Rindu, Ia menghela nafas panjang.


"Aku bersyukur banget bisa bertemu dan menjadi Imam Kamu Rindu. Bocah tengil." Batin Ari tersenyum mengingat awal mula Mereka bertemu yang dipenuhi dengan drama pertikaian.


bersambung.......

__ADS_1


bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?


__ADS_2