Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 60 LULUS SIDANG


__ADS_3

Putra mengajak Tasya masuk ke dalam mobilnya. Tasya nampak masih kesal, wajahnya ditekuk. 


"Masih cemberut aja, udah dong Sya." Protes Putra yang berusaha menenangkan Tasya.


"Ya habis, Aku masih kesel sama Bapak-bapak itu." Protes Tasya menyilangkan tangannya di depan dada.


"Udah, mending sekarang Kita pulang. Ari itu tadi sampai panik tau waktu dengar Kamu kecelakaan. Aku telpon dan kasih tau Dia dulu kalau Kamu gak kenapa-napa." Ucap Putra kemudian meraih ponselnya dan menghubungi Ari.


"Halo Boss." Sapa Putra.


"Halo Putra, gimana keadaan Tasya? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Ari.


"Iya Boss, Dia gak papa kok. Dia aman sekarang sama Saya. Boss gak usah susul kesini." Ucap Putra memperhatikan Tasya yang kesal. Putra pun gemas dibuatnya.


"Yaudah, Kamu bawa pulang Dia ya. Aku mau nyusul Rindu dulu." Ucap Ari.


"Oke, serahin semua sama Aku." Jawab Putra. Panggilan pun diakhiri. Ia pun mengendarai mobilnya dan bergegas mengajak Tasya untuk pulang ke rumah.


Di Kampus


Rindu keluar dari ruangan Sidang, wajahnya nampak lesu. Nada dan Melli telah menunggunya di depan ruangan tersebut. Mereka merasa heran dengan Rindu yang terlihat lesu. Mereka menghampiri Rindu dan menanyakan hasilnya.


"Gimana? Lulus?" Tanya Nada menyerang Rindu dengan pertanyaannya.


"Kok Kamu lesu gitu sih, jangan bikin Kita deg-degan dong." Melli penasaran dengan hasil dari sidang Rindu.


"Temen-temen maaf ya." Ucap Rindu.


"Maaf buat apa?" Tanya Nada terkejut.


"Maaf Karena akhirnya Aku Lulussss." Teriak Rindu sumringah.


"Wahhhhh selamat ya." Nada dan Melli spontan memeluk Rindu.


"Makasih ya, Kalian udah selalu nemenin Aku." Ucap Rindu memeluk erat kedua sahabatnya itu.


"Sama-sama, Kita seneng banget denger kabar ini tau nggak." Jawab Melli.


"Ehmm" Suara seorang Pria berdehem di belakang Rindu. Rindu melepaskan pelukannya dan menoleh ke belakang.


"Kak Ari, Kok Kak Ari udah sampai sini." Ucap Rindu menghampiri Suaminya itu.


"Iya dong. Jadi gimana hasilnya?" Tanya Ari.

__ADS_1


"Aku lulus Kak, Aku berhasil." Ucap Rindu spontan memeluk Ari.


"Sebenarnya Dada Aku masih sakit, tapi kalo Kamu yang peluk jadi gak kerasa apa-apa." Ucap Ari.


"Eh, maaf Kak Aku lupa." Rindu lupa jika Ari masih pemulihan pasca operasi.


"Aku bangga banget sama Kamu. Gimana kalo sekarang Kita makan siang sama-sama. Sama Melli dan Nada juga. Sebagai rasa syukur Kita." Ucap Ari.


"Wah, cocok tu Kak Ari." Nada dan Melli antusias mendapatkan ajakan traktiran dari Ari.


Mereka pun pergi bersama untuk makan siang di restoran terdekat dengan kampus.


Di Rumah Ari


Putra memarkirkan mobilnya di halaman rumah, Tasya keluar dari mobil dengan kesal. Bu Kesya yang melihat Tasya diantar oleh Putra pun menghampiri mobil Putra.


"Loh, Tasya kok Kamu sama Putra?" Tanya Bu Kesya.


Tasya dan Putra mencium tangan Bu Kesya. 


"Iya Ma, tadi mobil Aku lecet." Jawab Tasya pelan. Ia takut dimarahi oleh Mamanya.


"Lecet? Kok bisa? Kamu nabrak? Tapi Kamu gak papa kan?" Bu Kesya terlihat panik.


"Putra, Tasya kenapa sih?" Tanya Bu Kesya.


"Mungkin Dia masih kesal dengan orang yang Dia tabrak tadi, Tante." Jawab Putra.


"Yaudah Kalo gitu Tante masuk dan bicara sama Tasya dulu ya. Makasih ya Putra Kamu udah mau anterin Tasya pulang." Ucap Bu Kesya berterimakasih.


"Sama-sama Tante, Saya juga mau kembali ke kantor. Saya permisi." Putra mencium tangan Bu Kesya kemudian kembali masuk ke mobil dan meninggalkan kediaman Ari.


Di Restoran


Ari dan Rindu telah tiba di sebuah restoran yang dekat dari Kampus, Mereka duduk berhadapan dengan Nada dan juga Melli.


"Kalian pesen makanan apa aja. Biar Aku yang bayar." Ucap Ari.


"Wah makasih ya Kak Ari." Ucap Nada girang.


"Oh iya Kak, tadi gimana? Luka Operasi Kak Ari gimana?" Tanya Rindu.


"Udah membaik, besok Aku udah boleh masuk kerja." Jawab Ari.

__ADS_1


"Aku seneng dengernya Kak." Jawab Rindu.


"Seneng banget deh lihat pasangan Suami Istri, jadi pengen nikah." Ucap Nada.


"Makannya buruan nikah dong." Ledek Melli.


"Ih gak sadar diri, Kamu juga belum nikah." Nada tidak terima dengan ucapan Melli.


"Eh iya, Rindu beruntung banget ya dapet Kak Ari. Coba kalo dulu Rindu jadi sama Farel. Bisa makan hati kali ya. Farel kan buaya." Ucap Melli keceplosan.


"Melli apa sih? Masih aja bahas masa lalu." Protes Nada.


"Udah-udah jadi bahas kemana-mana. Lebih baik sekarang Kita makan. Aku udah laper banget." Ucap Rindu mengalihkan pembicaraan.


Di Kamar Ari


Malam telah tiba, Rindu memilah-milah baju untuk Ari pergi ke kantor besok. Ia menyiapkannya. Setelah selesai Ia masuk ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri sebelum tidur. Ia keluar dari kamar mandi dan duduk di ranjangnya di samping Ari yang tengah memainkan ponselnya.


"Kak Ari masih mau istirahat nanti?" Tanya Rindu yang sebenarnya sudah mulai mengantuk.


"Iya, Aku masih belum ngantuk." Jawab Ari masih sibuk dengan ponselnya.


"Yaudah kalo gitu, padahal Aku udah ngantuk banget." Ucap Rindu merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi Ari.


Tiba-tiba Ari teringat akan kejadian di rumah sakit. Ia tahu jika selama ini Ia tidak pernah bercerita tentang Cinta kepada Rindu. Ari pun berniat untuk memberitahukan kepada Rindu.


"Oh iya Rindu, tadi Aku pergi ke rumah sakit, ada sesuatu yang pengen Aku bicarain sama Kamu." Ucap Ari.


"Hmmm" Jawab Rindu.


"Tadi waktu di rumah sakit, Aku bertemu dengan seseorang. Namanya adalah Cinta. Dia adalah seseorang dari masa lalu Aku." Ucap Ari, tidak ada tanggapan dari Rindu.


"Aku rasa Aku harus cerita ini sama Kamu, karena agar tidak ada sesuatu apapun yang ditutup-tutupi dalam rumah tangga Kita. Gelang yang dulu hilang karena Kamu kasih ke Arkan. Adalah gelang pemberian Dia. Dulu Aku pernah berjanji kalo Aku akan menunggu Dia, tapi sekarang Aku udah bersyukur memiliki Kamu. Aku akan bicara sama Dia dan kasih tau Dia kalo Aku udah punya Istri. Kamu mau kan? Ketemu sama Dia dan jelasin semuanya?" Tanya Ari, tetapi Rindu tidak menjawabnya.


"Rindu, Kamu denger Aku?" Ari mendekat dan membalikkan tubuh Rindu hingga menghadap ke arahnya.


"Ternyata Dia udah tidur, Aku harus bicara lagi sama Dia besok. Aku akan ajak Dia makan malam untuk membicarakan ini." Batin Ari. Ia menyelimuti tubuh Rindu kemudian mencium kening Rindu.


"Aku juga harus segera bicara sama Cinta. Kasihan kalo Dia masih berharap sama Aku.  Aku harus menjelaskan semuanya agar nantinya gak ada kesalahpahaman." Batin Ari.


Bersambung…...


Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?

__ADS_1


__ADS_2