
Di Kantin Rumah Sakit.
Jam Istirahat makan siang telah tiba, Rindu mendapatkan telepon dari Pak Dimas yang meminta Rindu untuk menemuinya di kantin Rumah Sakit. Rindu pun duduk di kursi sembari menunggu kedatangan Papanya.
Tak berapa lama, Pak Dimas muncul dan menghampiri Rindu. Rindu pun mencium tangan Papanya.
"Kamu udah pesan makanan?" Tanya Pak Dimas.
"Belum Pa. Aku pesenin dulu ya." Pamit Rindu kemudian pergi memesan makanan, setelah itu Ia kembali ke tempat duduknya.
"Gimana keadaan Ari?" Tanya Pak Dimas.
"Kak Ari udah sadarkan diri Pa, tapi Dokter bilang harus segera menemukan donor jantung untuk Kak Ari." Jawab Rindu.
"Papa punya kabar baik buat Kamu." Ucap Pak Dimas.
"Kabar baik apa Pa?" Tanya Rindu penasaran.
"Ada Keluarga yang bersedia mendonorkan Jantung untuk Ari." Jawab Pak Dimas.
"Papa serius? Alhamdulillah." Rindu bersyukur mendengar ucapan dari Papanya.
"Kamu bicara sama Ari ya, Nanti Kamu temui keluarganya. Kamu harus berterimakasih kepada Mereka." Titah Pak Pak Dimas.
"Iya Pa, Aku pengen ngucapin Terimakasih untuk kebaikan Mereka." Rindu terharu dengan kebaikan orang tersebut.
"Makasih ya Pa, Papa selalu bantu Rindu." Rindu berdiri dan memeluk Pak Dimas.
"Sama-sama Nak, kebahagiaan Kamu adalah kebahagiaan Papa juga." Jawab Pak Dimas.
Di Kamar Rawat Ari
Setelah bertemu dan berbincang dengan Papanya, Rindu kembali ke kamar Ari untuk menjaga Ari. Rindu membawakan makanan untuk Putra yang menggantikannya menjaga Ari.
"Selamat siang." Sapa Rindu tersenyum manis.
"Siang." Jawab Putra.
"Ini Kak Putra, makan siang buat Kakak. Makasih ya udah jagain Kak Ari." Rindu memberikan bungkusan kepada Putra.
"Wah Makasih ya Rindu." Putra mengucapkan terimakasih kepada Rindu.
"Sama-sama Kak." Rindu menghampiri Suaminya.
"Kamu kayaknya seneng banget." Tebak Ari yang melihat wajah Rindu nampak ceria.
__ADS_1
"Iya, Aku punya kabar baik." Jawab Rindu.
"Kabar baik apa?" Tanya Ari penasaran.
"Ada orang yang bersedia mendonorkan jantungnya untuk Kak Ari, itu artinya Kak Ari akan sembuh." Jawab Rindu.
"Alhamdulillah." Putra bahagia mendengar pernyataan Rindu, tetapi Ari terdiam. Rindu pun menegurnya.
"Kok Kak Ari diem aja, Kak Ari gak seneng ya?" Tanya Rindu.
"Bukan gitu Rindu, tetap operasi itu ada dua kemungkinan. Berhasil atau gagal." Jawab Ari.
"Kak Ari gak boleh mikir kayak gitu, yang penting Kita berusaha dulu. Kita harus yakin kalau Kak Ari pasti sembuh." Rindu menggenggam tangan Ari. Ari terharu kemudian mencium tangan Rindu.
"Makasih Rindu." Ucap Ari.
"Tok...tok...tok…" Pintu Kamar Ari diketuk. Putra pun membuka pintu tersebut. Melli dan Nada tengah berdiri dengan membawa buah.
"Selamat siang Kak." Sapa Nada.
"Siang, Kalian temennya Rindu ya?" Tanya Putra.
"Iya, Kita kesini mau jenguk Kak Ari." Jawab Melli.
"Nada, Melli. Yaampun makasih ya udah dateng kesini." Ucap Rindu menyambut kedatangan Mereka.
"Kan Kamu sahabat Kita." Jawab Nada memberikan buah itu kepada Rindu.
"Yaampun, sampe repot-repot bawa ini." Ucap Rindu menerima pemberian Nada dan Melli.
"Gak repot kok, oh iya keadaan Kak Ari gimana?" Tanya Melli.
"Alhamdulillah, udah membaik." Jawab Ari ramah.
"Syukur deh kalo gitu, soalnya kemarin Rindu itu sampe gak berdaya tahu keadaan Kak Ari." Goda Melli.
"Ih, Melli apaan sih. Jangan bongkar kartu dong." Protes Rindu.
Mereka akhirnya berbincang, dari peristiwa itu Putra dan Nada saling mencuri pandang.
Di Ruang Kerja Pak Dimas.
Hari telah sore, Rindu mendorong Ari yang duduk di kursi roda untuk menemui keluarga dari orang yang akan mendonorkan jantungnya untuk Ari. Pak Dimas telah menunggu Mereka di luar ruangannya.
"Bagaimana keadaan Kamu Ari?" Tanya Pak Dimas.
__ADS_1
"Alhamdulillah Pa, Ari sudah merasa membaik. Cuma kadang-kadang kambuh." Jawab Ari.
"Alhamdulillah. Gimana? Kalian udah siap untuk bertemu dengan keluarga dari orang yang akan mendonorkan jantungnya?" Tanya Dokter Dimas.
"Iya Pa, Kita udah gak sabar untuk berterimakasih sama orang-orang baik itu." Jawab Rindu.
"Kalo gitu ayo Papa antar." Rindu mendorong kursi roda dan mengikuti langkah Pak Dimas.
Pak Dimas mengajak Mereka ke kantin untuk menemui keluarga yang akan mendonorkan jantung untuk Ari.
Mereka menghampiri sepasang Suami-istri yang nampak lebih tua dari Pak Dimas.
"Rindu, Ari Mereka adalah orangtua dari orang yang akan mendonorkan jantungnya untuk Ari. Salam dulu." Pinta Pak Dimas.
Ari dan Rindu pun mencium tangan kedua orangtua itu. Kemudian Mereka duduk dan Ari memulai percakapan.
"Pak, Bu Saya ucapkan banyak terimakasih karena bersedia mendonorkan Jantung untuk Saya." Ucap Ari dengan ketulusan.
"Sama-sama Nak, Ini merupakan wasiat dari Anak Kami. Sebagai wujud terimakasih Kami kepada Pak Dimas Karena telah menyelamatkan Menantu, Anak dan juga Cucu Kami. Walaupun Kami harus kehilangan Anak Kami Kami ikhlas karena Kami tahu Pak Dimas sudah melakukan yang terbaik. Pak Dimas telah menyelamatkan Mereka dari kecelakaan." Ucap Ibu yang bernama Nawang menangis.
"Tunggu dulu, Papa menyelamatkan orang kecelakaan. Kok Papa gak cerita?" Rindu terkejut mendengar penjelasan dari Bu Nawang.
"Iya Rindu, Papa akan ceritakan kejadiannya." Jawab Pak Dimas mulai bercerita tentang kejadian saat Ia menyelamatkan Keluarga kecil yang kecelakaan.
Flashback
Hari itu hujan sangat deras, Pak Dimas pulang dari rumah sakit. Ia melihat mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Pak Dimas yang merasa curiga dengan laju mobil itu pun mengikuti mobil tersebut.
"Hujan begini, kenapa orang itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi." Ucap Pak Dimas mengikuti mobil tersebut.
Saat melewati tikungan di jembatan, Mobil itu menabrak penghalang jembatan dan jatuh ke bawah. Pak Dimas segera menepikan mobilnya dan berlari menyelematkan orang yang ada di mob tersebut.
Ia menuruni jurang dan membantu korban tersebut keluar. Ia menyelamatkan sepasang Suami-istri dan bayi yang masih kecil. Pak Dimas segera memanggil ambulan dan membawa Mereka ke rumah sakit.
Karena hal tersebut, Mereka merasa berhutang nyawa dengan Pak Dimas. Akhirnya Korban meminta agar setelah tiada Ia ingin jantungnya didonorkan kepada Menantu dari Pak Dimas.
Flashback end
"Jadi seperti itu ceritanya, dan Anak Kami meninggal tadi siang. Dia telah mendonorkan jantungnya untuk Menantu Pak Dimas." Jawab Bu Nawang.
"Terimakasih Bu Nawang, Saya sangat bersyukur karena bertemu dengan orang baik seperti Bu Nawang dan keluarga. Semoga Anak Ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan." Rindu mendoakan orang yang telah meninggal dan telah mau mendonorkan jantungnya untuk suaminya.
Bersambung…..
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?
__ADS_1