Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 61 KESALAHAN ARI


__ADS_3

Rindu dan Ari berjalan menghampiri mobil yang telah menunggu di luar rumah. Rindu mengantarkan Ari sampai ke mobilnya. Ia merapikan dasi Ari dengan penuh kelembutan.


"Nah, gini kan dasi Kakak jadi rapi." Ucap Rindu.


"Makasih ya." Ari berterimakasih kepada Rindu.


"Iya sama-sama, kayaknya Kak Ari semangat banget ya pengen berangkat kerja." Goda Rindu.


"Iya dong, karena Aku udah lama gak handle pekerjaan Aku." Jawab Ari.


"Oh iya Kak, Kapan-kapan Aku mau kenalin Kak Ari sama temen Aku. Kak Ari mau kan?" Tanya Rindu.


"Temen cowok atau cewek?" Tanya Ari.


"Cewek lah Kak. Emang Aku punya temen Cowok." Protes Rindu.


"Boleh, nanti kalo weekend ya." Jawab Ari mengacak-acak rambut Istrinya itu.


"Ih Kak Ari, berantakan tau rambutku." Protes Rindu. Ari hanya tersenyum melihat wajah kesal Rindu.


"Oh iya Kak, nanti Aku mau ketemu sama temen Aku itu boleh ya? Soalnya Aku udah janji akan temui Dia setelah Aku selesai sidang skripsi." Rindu meminta izin.


"Boleh, tapi diantar supir ya. Hati-hati dan selalu kabari Aku." Titah Ari.


"Siap Pak Boss." Jawab Rindu, tangannya diangkat dan seperti sedang hormat saat upacara.


"Yaudah kalo gitu Aku berangkat kerja dulu ya." Ucap Ari kemudian mengecup kening Rindu.


"Hati-hati Kak Ari." Ucap Rindu. Ari kemudian tersenyum dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil mulai meninggalkan halaman rumah. Rindu masih setia menunggu hingga mobil tersebut menghilang dari pandangannya.


Saat hendak masuk ke rumah, Rindu berpapasan dengan Tasya. Rindu pun menyapanya.


"Eh Tasya, Kamu mau kemana?" Tanya Rindu.


"Ini lho Kak, temen Aku ngajak ketemu. Aku pergi dulu ya Kak." Ucap Tasya kemudian meninggalkan Rindu. Rindu pun masuk ke dalam Rumah.


Di Rumah Sakit


Cinta duduk di ranjang tempat Ia dirawat, Wajahnya terlihat lesu. Pak Pram pun menghampirinya dan mengelus rambut Putrinya itu.


"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Pak Pram.


"Ayah, Kenapa Ari belum juga kembali? Apa Dia jijik sama Aku yang penyakitan ini?" Tanya Cinta.

__ADS_1


"Bukan seperti itu Nak, Kamu denger sendiri kan kalo kemarin Ari bilang Dia akan balik lagi kesini. Dia pasti lagi sibuk sama pekerjaannya." Pak Pram mencoba menenangkan Cinta.


Cinta tersenyum mendengar penjelasan dari Ayahnya itu. 


"Makasih ya, Ayah udah selalu nenangin Cinta. Cinta sayang banget sama Ayah." Cinta memeluk Ayahnya erat.


"Ayah pasti akan lakukan apapun untuk kebahagiaan Kamu Cinta. Karena Kamu satu-satunya semangat hidup Ayah sekarang." Jawab Pak Pram.


Pintu kamar terbuka, Rindu masuk dengan membawa bingkisan buah untuk Cinta. Ia mencium tangan Pak Pram dan menyapa Cinta.


"Selamat pagi Kak Cinta." Sapa Rindu tersenyum kepada Cinta.


"Pagi Rindu. Gimana Skripsi Kamu? Lancar?" Tanya Cinta.


"Iya Kak, semuanya berjalan lancar. Aku lulus." Jawab Rindu.


"Katanya Kamu mau ngenalin Aku sama Suami Kamu, mana?" Tanya Cinta.


"Maaf ya Kak, Dia lagi sibuk jadi gak bisa datang temani Aku. Lain kali aja ya." Rindu meminta maaf karena Ari tidak bisa ikut bersamanya.


"Yaudah gak papa, oh iya Aku ada kabar baik." Ucap Cinta dengan wajah yang berseri.


"Kabar apa Kak? Kayaknya Kak Cinta happy banget." Rindu antusias mendengarkan cerita Cinta.


"Kemarin Aku ketemu sama Orang dari masa lalu Aku yang selama ini Aku cari." Terang Cinta.


"Makasih ya Rindu, pokoknya setelah Aku sembuh nanti. Kita makan malam berempat ya." Ajak Cinta.


"Wah ide bagus itu Kak, makannya Kak Cinta harus cepet sembuh ya." Pinta Rindu.


Di Toko Bunga


Hari telah sore, Ari baru saja akan pulang ke rumah. Namun saat melewati toko bunga, Ia memiliki rencana untuk membelikan Rindu buket bunga sebagai hadiah.


Ia memarkirkan mobilnya kemudian turun dan memilih bunga yang cantik. Seorang Pelayan menghampiri Ari dan bertanya.


"Selamat Sore dan selamat datang. Ada yang bisa Saya bantu Kak?" Tanya pelayan tersebut ramah.


"Selamat sore Mbak, Saya pengen beli buket bunga untuk Istri Saya. Tapi Saya bingung mau memberi bunga yang mana." Ucap Ari mengatakan masalahnya.


"Bagaimana dengan mawar putih Kak, Istri Anda pasti sangat menyukainya." Ucap sang pelayan itu.


"Boleh Mbak, tolong dibuatkan buketnya ya." Pinta Ari.

__ADS_1


"Baik, mohon tunggu sebentar." Pelayan itu pergi membawa beberapa tangkai bunga mawar putih.


Sembari menunggu, Ari pun melihat-lihat beberapa bunga yang lain. Tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.


"Ari, Kamu disini juga." Sapa Pak Pram yang juga tengah memilih bunga untuk Cinta.


"Pak Pram, Iya Saya kesini beli buket bunga. Bapak sendiri? Kok ada disini? Beli buket juga?" Tanya Ari.


"Iya, Bapak kesini beli bunga untuk Cinta." Ucap Pak Pram.


"Oh untuk Cinta, Gimana kabar Cinta Pak?" Tanya Ari.


"Dia membaik setelah bertemu dengan Kamu, Tapi Dia jadi berharap Kamu datang temui Dia." Ucap Pak Pram.


Ari terdiam mendengar perkataan Pak Pram. Pelayan datang menghampiri Mereka dengan membawa buket bunga pesanan Ari.


"Buketnya sudah jadi Kak, Mau menulis pesan untuk Istrinya Kak?" Tanya Pelayan tersebut.


Pak Pram terkejut mendengar ucapan dari pelayan itu. Ia akhirnya tahu bahwa Ari telah memiliki Istri.


"Gak usah Mbak, ini Saya bayar pakai ATM ya." Ari meraih buketnya dan memberikan kartu ATM kepada pelayan itu.


Pelayan itu kemudian membawa ATM Ari untuk melakukan transaksi.


"Jadi Kamu sudah menikah?" Tanya Pak Pram.


"Iya Pak, Saya sudah menikah." Jawab Ari merasa bersalah.


"Terus kenapa kemarin Kamu gak terus terang sama Cinta? Kenapa?" Protes Pak Pram kecewa.


"Saya Minta maaf, Saya tahu Saya salah. Kemarin Saya mau bilang semuanya. Tapi tiba-tiba Adik Saya kecelakaan. Jadi Saya harus pergi. Tapi Saya akan bicara tentang ini sama Cinta." Ungkap Ari.


"Saya benar-benar kecewa sama Kamu. Kamu gak perlu bicara apapun sama Cinta. Jangan pernah temui Cinta." Pinta Pak Pram.


"Tapi Saya harus menjelaskan semuanya, agar Cinta gak berharap lagi Pak." Tolak Ari.


"Itu Kamu tau, Cinta sangat berharap sama Kamu. Kamu adalah salah satu alasan Dia bertahan melawan penyakitnya. Kalau Kamu bicara begitu sama Cinta. Itu artinya Kamu mau membuat Dia drop." Protes Pak Pram.


Ari terdiam mendengar ucapan Pak Pram. Ia merasa bersalah tetapi juga bingung harus bagaimana. 


"Dengar Ari, lebih baik Dia gak tahu tentang Kamu. Jika pernikahan Kamu mungkin yang akan membuat Dia sedih. Saya sebagai Ayah dari Cinta melarang Kamu untuk bertemu dengan Anak Saya. Apalagi sampai menjelaskan semuanya." Protes Pak Pram memberikan peringatan kepada Ari.


Pak Pram pun meninggalkan Ari yang terdiam membeku. Pasrah dengan Cacian Pak Pram.

__ADS_1


Bersambung……


Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?


__ADS_2