Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 33 PERNIKAHAN FAREL


__ADS_3

Ari dan Rindu baru saja pulang dari menjenguk Bu Prisa di rumah sakit, tetapi Rindu berhenti di halaman rumah ketika melihat bintang nampak jelas.


"Kenapa berhenti?" Tanya Ari yang ikut menatap langit.


"Lihat deh Kak, tumben ya bintang kelihatan jelas banget. Bagus Aku suka." Ucap Rindu terpesona dengan keindahan langit.


"Kayak Anak kecil." Ledek Ari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Yaudah, Kak Ari ngapain disini? masuk duluan aja. Aku mau lihat bintang dulu." Ucap Rindu kesal.


Tanpa meminta persetujuan Rindu, Ari menggendong Rindu dan membawanya untuk masuk ke dalam rumah.


"Kak Ari, Turunin Aku sekarang! Tangan Kak Ari kan masih sakit." Ucap Rindu merasa takut sekaligus cemas.


"Ini itu udah malam, gak baik di luar rumah sendirian." Ucap Ari.


"Ya ampun Kak Ari, Rumah ini kan ada gerbangnya jadi aman." Protes Rindu.


Mereka berpas-pasan dengan Nenek Lidya dan Kakek Wira.


"Waduh, ada apa nih? kok sampai digendong gitu." Goda Kakek Wira.


"Aduh Pi, Papi masak gak tahu si. Namanya juga pengantin baru mau ngapain lagi kalau bukan launching baby." Jawab Nenek Lidya.


Wajah Rindu memerah mendengar hal itu, Ia merasa malu dan meminta Ari untuk menurunkannya.


"Kak, turunin Aku." Bisik Rindu.


"Kek, Nek Kita ke kamar dulu ya." Ucap Ari kemudian meninggalkan Nenek Lidya dan Kakek Wira.


"Pi, kayaknya sebentar lagi Kita punya cicit deh." Nenek Lidya menepuk pundak Suaminya karena girang.


Ari membawa Rindu ke kamarnya, kemudian meletakkan Rindu di atas ranjang dengan perlahan.


"Kak Ari gimana sih, Suka banget bikin Kakek sama Nenek salah paham." Protes Rindu.


"Udahlah, biarin aja. Biar Mereka seneng." Jawab Ari membaringkan tubuhnya di samping Rindu dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Tapi kan kasihan Mereka jadi berharap." Protes Rindu.


"Ya kalo gitu kenapa Kita gak wujudkan permintaan Mereka aja?" Goda Ari yang membuat Rindu terkejut dan merasa malu.


"Kak, Kalo menurut Kak Ari, pernikahan Kita ini gimana sih Kak? Apa emang selamanya Kita harus menjalani pernikahan yang tanpa didasari cinta? menurut Kak Ari gimana kalo Kita coba untuk saling menerima, supaya Kita bisa jalanin pernikahan yang kayak orang -orang lain gitu." Tanya Rindu yang menoleh kearah Ari yang ternyata telah tertidur pulas karena kelelahan.


"Ya ampun Kak Ari, Aku udah ngomong panjang lebar malah ditinggal tidur." Umpat Rindu kesal.


Di Kamar

__ADS_1


Hari demi hari berlalu, Rindu tengah bersiap untuk menghadiri acara pernikahan Farel.


"Gimana? Kamu udah siap?" Tanya Ari yang telah rapi mengenakan setelan jas berwarna Navy yang serasi dengan dress Rindu.


"Iya, Aku udah siap." Jawab Rindu meraih tas selempang miliknya dan berjalan menghampiri Ari.


Ari menatap Wajah Rindu, dan memastikan bahwa Rindu tidak terluka dengan pernikahan Farel.


"Coba lihat mata Aku, apa Kamu yakin Kamu siap untuk melihat pernikahan Farel?" Ari meminta Rindu agar menatap matanya. Rind


"Ya ampun Kak Ari, kenapa Aku jadi deg-degan gini sih." Batin Rindu.


"Kok diem sih? Kalau Kamu gak siap lihat pernikahan Mereka lebih baik Kita gak dateng."


Ucap Ari membuat Rindu tersadar.


"Aku gak papa kok Kak." Ucap Rindu penuh percaya diri.


"Yaudah kalo gitu." Ari mengaitkan tangan rindu di sikunya.


Mereka akhirnya pergi ke acara pernikahan Farel.


Di Pesta Pernikahan


Ari menggenggam tangan Rindu, Mereka memasuki pesta pernikahan dan menjadi pusat perhatian karena Mereka terlihat sangat serasi. Banyak mata tertuju kepada Mereka.


"Kak, kok Mereka lihatin Kita sampai kayak gitu sih?" Tanya Rindu yang menyadari hal tersebut.


"Ih Kak Ari percaya diri banget." Protes Rindu.


"Harus dong, oh iya temen Kamu gak jadi ikut?" Tanya Ari kepada Rindu.


"Mereka bilang mau berangkat berdua, katanya gak enak sama Kak Ari." Jawab Rindu.


Mereka menghampiri Farel dan juga Nia yang tengah menyambut kedatangan tamu.


"Rindu..." Ucap Farel senang melihat kedatangan Rindu.


"Selamat ya Kak, Aku datang kesini untuk buktiin ke Kak Farel kalau Aku udah lupain Kak Farel." Rindu mencoba menahan air mata yang hampir terjatuh karena bagaimana pun Mereka pernah menjalin asmara. Berat tentu menerima takdir yang kini Mereka jalani.


Ari melihat Wajah Rindu, Ia seolah tahu apa yang Rindu tengah rasakan.


"Selamat ya, tapi maaf karena Aku dan Rindu harus segera pulang karena Kita sibuk." Ucap Ari.


"Kenapa buru-buru banget." Ucap Nia, pengantin wanita.


"Iya, Kita permisi." Ucap Ari memberikan amplop kepada Farel kemudian bergegas meninggalkan acara pernikahan tersebut, Ari membawa Rindu masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Emang Kita ada acara lagi Kak?" Tanya Rindu.


"Coba lihat mata Kamu, bahkan Kamu udah hampir menangis. Aku gak akan biarin Kamu menangisi Pria itu di hadapannya." Ucap Ari memeluk Rindu.


"Sekarang Kamu boleh menangis." Titah Ari.


"Tadi Kak Ari bilang gak boleh nangis, sekarang malah nyuruh nangis. Gimana sih Kak." Protes Rindu.


"Sekarang gak akan ada yang lihat Kamu menangis, jadi Kamu bisa nangis sepuasnya." Jawab Ari.


Seketika suasana menjadi hening, Ari tahu Rindu tengah menangis di pelukannya. Setelah merasa tenang Rindu melepaskan pelukan Ari.


"Makasih ya, Kak Ari udah bikin Aku jadi tenang." Ucap Rindu.


"Jadi Kita pulang sekarang? atau Kamu ada keinginan ke suatu tempat?" Tanya Ari mencoba menghibur Rindu.


"Kita pulang aja deh Kak." Jawab Rindu singkat.


"Yaudah oke kalau gitu." Ucap Ari mengemudikan mobilnya.


Di tengah perjalanan, hujan turun dengan lebat. Jalanan sepi dan sangat sedikit yang melintas. Rindu melihat keluar dan melihat seekor Anak kucing yang kehujanan di pinggir jalan.


"Kak Ari, Stopp." Ucap Rindu.


Ari pun menuruti permintaan Rindu, Ia menepikan mobilnya. Rindu membuka pintu mobil dan berlari keluar.


"Rindu, Kamu mau kemana?" Ari mengikuti langkah Rindu.


Rindu berhenti dan mengambil anak kucing tersebut dan membawanya ke tempat teduh.


Ari menghampiri Rindu.


"Kamu kalo mau nolongin Anak kucing itu bisa kan pake payung? kenapa tiba-tiba lari sih? Kamu tau nggak Kalo itu bikin khawatir dan lihat sekarang, Kamu jadi basah kuyub." Protes Ari.


"Iya maaf Kak, namanya juga Aku reflek. Kasihan Dia kehujanan. Kalo sekarang disini kan Dia udah aman." Ucap Rindu.


"Yaudah kalo gitu, Ayo Kita balik." Ajak Ari.


"Kak, Aku pengen deh hujan-hujanan. Boleh ya." Pinta Rindu.


"Gak." Jawab Ari ketus.


"Yah Kak Ari gitu, Plissss sekali aja. Tadi katanya pengen nurutin keinginan Aku. Giliran Aku minta sesuatu gak boleh." Protes Rindu.


"Gak Rindu, Kalo keinginan Kamu bisa buat diri Kamu sendiri sakit Aku gak mau. Nanti yang repot siapa?" Tolak Ari.


Tiba-tiba muncul ide nakal di kepala Rindu, Ia tersenyum licik.

__ADS_1


bersambung......


bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?


__ADS_2