
POV RINDU
Rasanya Aku masih tidak percaya, hari ini adalah hari dimana Aku akan menikah dengan Pria yang tidak begitu ku kenal. Rumahku telah disulap layaknya Istana yang penuh dengan bunga-bunga. Pagi-pagi sekali, Perias telah datang dan menjalankan tugasnya.
Dengan mata yang masih sedikit mengantuk karena semalaman Aku terjaga memikirkan pernikahan ini.
Akad nikah akan dilaksanakan pukul 09.00 pagi, sehingga Aku harus dirias sebelum jam 07.00.
Melli dan juga Nada terus menemaniku, Mereka mungkin tidak mengerti apa yang sebenarnya ku tutup rapat-rapat kecemasan yang ada di hati.
"Ya ampun Rindu, Kamu cantik banget." Melli memujiku setelah perias itu menyelesaikan tugasnya.
Waktu berlalu begitu singkat, Mama masuk ke kamarku dan memanggilku agar segera turun ke altar pernikahan.
Aku berjalan dengan digandeng oleh Melli dan juga Nada. Kulihat Kak Ari telah duduk berhadapan dengan penghulu dan juga Papaku. Rasanya Aku ingin menghentikan waktu dan kabur dari sana secepat mungkin. Aku benar-benar malu ketika banyak yang memperhatikanku, ya memang Aku adalah mempelai Wanita disini. Akulah tokoh utamanya, jadi itu wajar.
Aku melihat Mama dan Papa tersenyum ke arahku, Aku membalasnya dengan senyuman hangat. Setidaknya senyuman Mereka mampu menghilangkan kegelisahan hatiku.
Aku duduk di samping Kak Ari, jujur saja Dia sebenarnya adalah laki-laki yang sempurna. Tetapi sifat dingin dan juteknya yang membuatku kesal dan hari ini Ia akan menjadi Suamiku.
POV Ari
Hari ini adalah hari yang berat untukku. Aku akan menikahi Wanita yang tidak Aku cintai. Kini Aku telah berhadapan dengan Penghulu dan juga Pak Dimas. Aku berusaha terlihat tenang walaupun sebenarnya Aku merasa tegang dan gugup.
Kulihat Mama dan Ayah begitu bahagia hari ini. Kami menunggu Bu Lia memanggil mempelai Wanita.
Tak berapa lama, Ia keluar bersama kedua temannya. Sempurna, itulah kata yang ingin kuutarakan, tetapi Aku terlalu gengsi untuk mengucapkan itu.
Ia berjalan ke arahku, semua mata memandangnya dengan tatapan takjub. Aku tau Mereka pasti juga mengagumi kecantikan Rindu. Ia tersenyum kepada Mama dan Papanya.
Aku tidak tau mengapa jantungku berdetak kencang dan sulit untuk dikendalikan ketika Ia duduk di sebelahku. Mungkin karena rasanya pernikahan ini terlalu cepat.
POV Author
Ari menjabat tangan Pak Dimas, Penghulu pun menuntun Ari. Ijab Qabul berjalan dengan lancar dan khusyuk.
Begitu Ari selesai mengucapkan Qabul, saksi pun menyatakan sah. Maka saat itu pula Ari dan Rindu resmi menjadi sepasang Suami Istri.
"Alhamdulillah, sekarang Kalian sudah sah menjadi sepasang Suami dan Istri. Semoga ikatan suci kalian akan tetap terjalin hingga maut memisahkan." Ucap Pak Penghulu setelah melafalkan doa.
"Sekarang boleh bertukar cincin." Ucap Pak Penghulu.
__ADS_1
Ari meraih cincin dan memasangkannya di jari manis Rindu.
"Boleh dicium kening Istrinya, dan tolong fotografernya diabadikan ya." Ucap MC dari wadding organizer yang membacakan rangkaian acara.
"Gimana? boleh gak?" Tanya Ari meminta izin Rindu.
"Ya mau gimana lagi, sekarang Kita jadi pusat perhatian." Jawab Rindu.
Ari mencium kening Rindu, dilanjutkan Rindu yang memasangkan cincin di jari manis Ari kemudian mencium tangan Ari.
Acara berjalan dengan lancar, tamu terus berdatangan. Ari pun sibuk menyambut tamu yang kebanyakan dari clientnya. Sedangkan Rindu hanya mengobrol dengan kedua temannya di meja tamu.
"Ariiiii"Raja menjabat tangan Ari, Ia baru saja datang bersama Bu Prisa dan juga Arkan.
"Kak Raja, Akhirnya Kakak hadir juga. Aku kira Kakak gak akan datang." Ucap Ari.
"Selamat ya Ari, akhirnya Kamu sekarang sudah menjadi seorang Suami dan sebentar lagi akan menjadi Ayah." Ucap Raka menepuk bahu Ari.
"Kak Raja terlalu berlebihan, Ari baru aja menikah udah bahas kesitu." Ucap Ari tersenyum malu.
"Oh iya Ari, Istri Kamu mana?" Tanya Bu Prisa, Arkan berada di gendongannya.
"Oh Iya, sebentar Aku panggil dulu." Ucap Ari kemudian menghampiri Rindu.
"Kak Raja." Ucap Rindu.
"Rindu, jadi Istri Ari itu Kamu." Ucap Raja.
Ari merasa heran mengapa Mereka sepertinya seolah sudah saling mengenal.
"Kak Raja kenal sama Rindu?" Tanya Ari.
"Iya Kita pernah beberapakali bertemu." Ucap Raja.
"Mengapa Wanita yang Aku suka justru menjadi Istri dari Adik sepupuku sendiri" Batin Raja.
"Wah kebetulan banget, kalo gitu ayo Kita ngobrol sambil duduk aja." Ari mengajak tamunya untuk duduk dan mengobrol.
Raja terus memperhatikan Rindu, Ia terpesona akan kecantikan Rindu.
Acara dilanjutkan dengan melempar buket bunga. Mc meminta Para Tamu yang masih belum memilliki pasangan untuk merapat.
__ADS_1
"tiga, dua, satu......." Ucap sang mc. Ari dan Rindu pun melemparkan buket bunga itu.
Bunga itu mendarat di tangan Putra dan Tasya. Mereka pun berdebat.
"Ihhhh ini Aku yang dapet. Kak Putra jangan ngaku-ngaku deh." Protes Tasya.
"Enak aja, Aku yang dapet kok." Ucap Putra tidak mau mengalah.
"Kok bisa pas gitu ya dapetnya berdua, jangan-jangan setelah ini Mereka yang nikah." Ucap Rindu asal.
"Enak aja, jangan sampai Adik Aku nikah sama Putra. Aku gak akan merestui." Ucap Ari tidak setuju dengan pernyataan Rindu.
"Emangnya kenapa?" Tanya Rindu penasaran.
"Udahlah, Kamu gak perlu tahu." Jawab Ari meninggalkan Rindu untuk menghampiri Tasya.
"Kan, jutek banget jadi orang." Protes Rindu menghampiri singgasananya dan memilih duduk karena lelah menerima tamu selama seharian.
"Putra, Kamu kan Cowok. Ngalah dong sama Tasya." Titah Ari.
"Iya ni Kak, Kak Putra gak mau ngalah sama Aku. Orang Aku yang dapat juga." Protes Tasya.
"Yaudah iya, nanti kalo gak Aku kasih bisa dipecat nanti sama Kakakmu. Ambil ni buket bunganya." Putra memberikan buket itu kepada Tasya.
"Yeaay lihat Kak, Tasya berhasil dapetin buket bunga ini." Tasya menunjukkan buket itu kepada Ari.
"Emang mau Kamu apain sih buket itu? Kamu bisa kan beli yang banyak." Protes Ari.
"Ih Kakak, beda tahu. Katanya kalau Kita berhasil dapetin buket bunga dari pesta pernikahan artinya Kita akan segera nyusul." Ucap Tasya, Ari pun mengelus kepala Adiknya.
"Tasya, itu cuma mitos dan lagian Kamu itu masih kecil. Ngapain pengen buru-buru menikah?" Protes Ari.
"Kakak lupa ya? Rindu juga masih kecil, Dia sama Aku aja masih tua Aku." Tasya meledek Ari.
"Emang pinter banget ya kalo ngeles, malah dibalikin ke Aku." Protes Ari.
"Iya-iya maaf, udah Kakak ngapain di sini, kasihan tu Kak Rindu duduk sendirian di singgasananya. Sana Kak Ari temenin Kak Rindu aja." Ucap Tasya mendorong tubuh Ari.
Ari pun menghampiri Rindu dan duduk di sampingnya.
bersambung......
__ADS_1
bagaimana kelanjutan kisah dari Ari dan Rindu?