
Ari menghampiri Pak Dimas yang tengah duduk sembari menonton TV.
"Pa, Ari pamit pulang ya." Ucap Ari meminta izin.
"Loh kok pulang? tidur disini aja. Inikan udah malam." Ucap Pak Dimas.
"Iya Ari, udah tidur sini aja." Saran Bu Lia menyetujui perkataan Pak Dimas.
Ari terdiam, Ia berfikir dan akhirnya memutuskan untuk tidur di rumah Pak Dimas.
"Yaudah, Kalo gitu Ari menginap malam ini." Ucap Ari kemudian kembali ke kamar Rindu. Ia kemudian merebahkan tubuhnya dan tertidur di samping Rindu.
Pagi telah tiba, Rindu terbangun. Ia merasakan ada tangan yang melilit memeluk tubuhnya.
"Kak Ari? ini pasti Aku mimpi." Rindu menyingkirkan tangan Ari dari atas tubuhnya dengan perlahan.
"Kok bisa ada Kak Ari? perasaan semalem Aku tidur sendirian." Rindu menggaruk kepalanya dan berusaha mengingat kejadian semalam.
Ari terbangun, Ia mengucek kedua matanya dan duduk disamping Rindu.
"Kak Ari kok bisa disini? bukannya Kakak udah pulang ya." Tanya Rindu.
"Iya, kemarin Aku emang udah pulang ke rumah. Aku hubungi Kamu berkali-kali tapi gak Kamu angkat." Protes Ari.
"Hah? emang iya?" Rindu meraih ponselnya dan mengecek panggilan masuknya.
"Ya maaf Kak, kan Aku ketiduran." Rindu mencari alasan.
"Yaudah kalo gitu Kamu siap-siap setelah itu Aku antar Kamu pulang ke rumah Ayah. Sekalian Aku mau kasih tahu kalau Aku mau pergi ke kota A mungkin dua hari." Ucap Ari.
"Aku boleh ikut nggak?" Tanya Rindu yang tertarik untuk ikut.
"Ngapain ikut? Aku mau kerja ngelihat proyek bukan jalan-jalan." Tolak Ari.
"Ih Kak Ari, Aku pengen banget lihat proyek itu. Please boleh ikut ya. Masak Aku gak boleh lihat proyek Suami sendiri sih." Rindu mencoba membujuk Ari.
"Gak, Aku gak setuju." Jawab Ari menolak permintaan Rindu.
"Kak Ari gitu, yaudah." Rindu kesal, Ia memanyunkan bibirnya kemudian meninggalkan Ari.
Setelah bersiap, Rindu dan Ari pun pamit kepada Bu Lia dan Pak Dimas. Mereka akhirnya kembali ke kediaman Pak Raka.
Di Perjalanan Pulang.
Sepanjang perjalanan Rindu terus diam, sesekali Ari melirik wajah Istrinya yang nampak kesal itu.
"Kamu marah?" Tanya Ari memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Menurut Kak Ari? Lagian kenapa sih Aku gak boleh ikut." Protes Rindu.
"Yaudah, Oke Kamu boleh ikut. Tapi inget jangan ngrepotin Aku sama Putra." Ari akhirnya mengalah dan mengizinkan Rindu untuk ikut.
"Yessss, Makasih Kak Ari. Aku janji gak akan repotin Kalian." Ucap Rindu. Entah mengapa Ia sangat tertarik dengan proyek itu.
Setelah berhasil membujuk Ari, Mereka pun pergi bersama Putra ke kota A.
Di Kota A.
Putra memarkirkan mobilnya di tanah yang setengahnya telah berdiri sebuah bangunan yang baru saja roboh.
"Lihat Ari, kerusakan di bangunan ini. Sepertinya memang ada yang dengan sengaja menghancurkan tembok ini." Putra menunjuk bangunan yang hancur seperti disengaja.
Rindu hanya mengikuti langkah Ari dan juga Putra, Ia tidak menyadari ada kayu yang hampir menimpanya.
"Awas." Ari menarik tangan Rindu hingga Rindu terjatuh di pelukan Ari. Ia melakukan itu untuk menghindari kayu tersebut.
"Kamu gak papa?" Tanya Ari melepaskan pelukannya.
"Iya, Aku gak papa Kak. Cuma sedikit syok aja." Jawab Rindu.
"Putra, suruh Mereka semua kumpul. Saya mau meeting." Titah Ari.
Putra pun memberikan perintah agar para karyawan segera berkumpul. Ari memberikan peringatan kepada karyawannya agar tidak gegabah dan teledor dalam bekerja.
"Aku gak tenang kalau Rindu ada di proyek ini." Bisik Ari kepada Putra.
"Terus gimana Boss?" Tanya Putra.
"Kamu bawa Rindu ke penginapan aja, biar Aku yang urus proyek ini." Titah Ari.
"Siap Boss." Ucap Putra kemudian menghampiri Rindu.
"Boss, Mari Saya antar ke penginapan." Tawar Putra.
"Kok ke penginapan sih? Kak Ari kan masih kerja." Protes Rindu.
"Kamu ke penginapan aja ya, kalo Kamu kenapa-napa Aku yang repot." Pinta Ari yang akhirnya membuat Rindu mengalah.
"Yaudah deh, Rindu balik ke penginapan." Ucap Rindu berjalan mendahului Putra.
"Kamu jaga Dia baik-baik, awas kalo sampai Dia kenapa-napa." Ancam Ari.
"Oke Boss, Siap." Jawab Putra kemudian mengikuti langkah Rindu.
Mereka tidak menyadari jika ada dua orang dengan pakaian serba hitam tengah mengintai Mereka. Salah satu dari orang tersebut mengeluarkan ponselnya dan sepertinya menghubungi atasannya.
__ADS_1
"Halo Boss, Ada berita baru. Dia datang bersama seorang karyawannya dan juga seorang wanita. Sepertinya Wanita itu spesial." Ucapnya melapor kepada atasannya.
"Wanita? menarik, terus ikuti Mereka. Kalo perlu bawa Wanita itu ke hadapan Aku. Aku akan tunjukkin ke Dia apa akibat dari melawan seorang Alex." Titah atasannya yang ternyata adalah Alex, lawan kerja Ari yang tidak terima dengan kekalahannya.
"Siap Boss, Kami akan bawa Wanita itu ke hadapan Boss Alex." Jawabnya penuh dengan keyakinan, Ia kemudian mengajak rekannya untuk mengikuti mobil yang dikendarai oleh Putra.
Di dalam Mobil
Sepanjang perjalanan, Rindu terus menunjukkan ekspresi kesal. Putra pun menegurnya.
"Kenapa sih Boscan? perasaan dari tadi mukanya ditekuk terus." Tanya Putra yang sebenarnya tahu jika Rindu sedang kesal kepada Ari.
"Aku itu kesel banget sama Boss Kamu itu tau nggak? Aku ikut kan pengen lihat proyek, malah disuruh ke penginapan." Protes Rindu mengungkapkan kekesalannya.
"Ya sabar Boscan, Ari lakuin itu juga ada alasannya. Dia gak mau Kamu kenapa-napa. Seharusnya Kamu bersyukur." Putra berusaha menenangkan Rindu.
"Kamu karyawannya, jelas Kamu belain Dia." Ucap Rindu.
Tiba-tiba ada mobil yang berusaha memberhentikan mobil Putra.
"Mereka ngapain mepet-mepet mobil Kita sih?" Protes Rindu.
"Gak tau Boscan, kayaknya Mereka berniat jahat." Jawab Putra berusaha menghindar. Tetapi Mobil penjahat itu berhasil menghalangi mobil Putra, sehingga Putra terpaksa berhenti.
"Boscan, Kayaknya Mereka emang penjahat. Boscan telpon Ari sekarang biar Aku yang turun dan hadapi Mereka." Ucap Putra hendak keluar dari mobil tersebut.
"Kak Putra, jangan turun dong. Nanti Aku gimana?" Rindu merasa takut karena kini para penjahat itu telah mengerumuni mobilnya.
"Jangan takut, Kamu kunci mobilnya. Telpon Boss Ari." Ucap Putra kemudian turun dari mobil.
"Aduh Aku harus gimana sekarang." Batin Rindu mencoba mencari ide.
"Buka Pintunya." Teriak seorang dari luar jendela.
Rindu pun menghubungi Ari, setelah menunggu akhirnya Ari mengangkat teleponnya.
"Halo Kak, tolong Aku Kak." Ucap Rindu ketakutan. Ia menyaksikan Putra dihajar oleh beberapa orang berbaju hitam.
"Tolong apa? Kamu kenapa?" Tanya Ari yang khawatir.
"Pyarrrrr" Suara kaca jendela mobil yang berhasil dihancurkan oleh penjahat tersebut. Mereka berhasil membuka pintu mobil dan menangkap Rindu.
"Lepasin tangan Aku, Kalian siapa?" Rindu memberontak berusaha melepaskan genggaman tangan Penjahat itu.
"Halo.... Rindu? Jawab Aku? Apa semua baik-baik aja?" Tanya Ari yang tidak mendapat respon dari Rindu.
bersambung......
__ADS_1
bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?