Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 66 MAKAN SIANG


__ADS_3

Rindu menarik kursi kemudian duduk di samping Tasya, Ia tersenyum dan menggenggam tangan Adik Iparnya itu.


"Sekarang Kamu bilang, apa yang bikin Kamu bingung?" Tanya Rindu.


"Tasya takut dan ragu, apa Tasya bisa hidup jauh dari Mama dan Ayah dalam waktu lama." Jawab Tasya.


"Tapi Kamu udah biasa ikut Nenek Lidya dan Kakek Wira kan. Kamu pasti bisa hidup mandiri disana." Rindu mencoba menenangkan Tasya. Tasya pun tersenyum mendengar penjelasan dari Rindu.


"Makasih ya Kak Rindu udah kasih saran ke Aku. Aku beruntung punya Kakak Ipar kayak Kak Rindu." Ucap Tasya Kemudian memeluk Rindu.


"Aku juga seneng punya Adik kayak Kamu, pokoknya Kamu jangan pernah ragu untuk cerita ke Aku kalau Kamu ada masalah." Pinta Rindu.


"Siap, Makasih ya Kak." Tasya memeluk Rindu erat. Tiba-tiba Bu Kesya muncul dan merasa heran mengapa Mereka berpelukan.


"Wah ada apa ini? kok berpelukan?" Tanya Bu Kesya.


"Tasya, kebetulan ada Mama. Kamu bilang sama Mama ya." Pinta Rindu.


"Bilang apa sih? Mama jadi curiga." Bu Kesya ikut duduk di hadapan Tasya.


Tasya menoleh ke Rindu, Rindu tersenyum dan mengangguk.


"Ma, Tasya mau minta izin untuk kuliah di luar negeri. Boleh?" Tanya Tasya agak ragu.


"Kuliah di luar negeri? Kamu yakin?" Tanya Bu Kesya terkejut.


"Iya Ma, Tasya mohon izinin Tasya ya Ma. Tasya pengen banget mandiri." Pinta Tasya memelas. Bu Kesya terdiam sejenak kemudian mengiyakan permintaan Putrinya itu.


"Yaudah, nanti Mama coba bilang sama Ayah Kamu ya." Jawab Bu Kesya.


"Makasih Mama, Tasya sayang banget sama Mama." Tasya berdiri dari tempat duduknya kemudian menghampiri Bu Kesya dan mencium pipi Bu Kesya.


"Yaudah, Ini udah malam. Kenapa Kalian gak tidur?" Tanya Bu Kesya.


"Iya, ini mau tidur kok Ma. Rindu permisi balik ke kamar ya Ma." Ucap Rindu kemudian meninggalkan Bu Kesya dan Tasya.


Di Halaman Rumah


Setelah sarapan bersama, Rindu mengantar Ari ke halaman rumah. Ia berusaha menyembunyikan kekesalannya yang melihat Ari belakangan sepertinya aneh.


Rindu mencium tangan Ari tetapi masih dengan ekspresi wajah datar. Ari pun menyadari hal tersebut.


"Kenapa Kamu kayak kesel gitu?" Tanya Ari tertawa melihat wajah Istrinya itu.

__ADS_1


"Nggak, biasa aja kok." Jawab Rindu berbohong.


"Biasa gimana? Aku tau Kamu bohong. Ada apa sih?" Tanya Ari menatap Rindu.


"Aku kesel aja, belakangan ini Kamu pulang terlambat terus. Emang Kamu sesibuk itu ya." Rindu akhirnya mengungkapkan kekesalannya.


"Oh gitu, yaudah sebagai permintaan maaf Aku. Gimana kalo nanti siang Kita makan siang diluar. Nanti Aku jemput Kamu." Tawar Ari.


"Beneran? Yaudahdeh. Awas aja kalo gak jadi." Ancam Rindu.


"Iya beneran, yaudah kalo gitu Aku pergi kerja dulu ya." Ucap Ari kemudian mencium kening Istrinya itu.


Rindu akhirnya tersenyum kepada Ari dan melambaikan tangannya saat Ari mulai memasuki mobil dan perlahan mobilnya keluar dari pintu gerbang.


Diluar Anak buah Pak Pram tengah duduk diatas motornya menunggu targetnya keluar dari rumah. setelah melihat mobil Ari keluar, Mereka segera mengikuti mobil Ari.


Di Kampus


Putra memarkirkan mobilnya, tiba-tiba buku milik Tasya terjatuh dan terbuka. Putra yang berniat membantu mengambil buku itu tertarik dengan tulisan Tasya yaitu keinginan sebelum Pergi.


"Keinginan sebelum pergi." Putra tertawa kemudian melanjutkan membaca buku itu.


"Ih Kak Putra, balikin buku Aku. Jangan dibaca dong." Protes Tasya berusaha meraih bukunya dari Putra.


"Udah deh Kak Putra, balikin!" Pinta Tasya.


"Pergi ke pasar malam, Piknik di kebun, Nonton." Putra belum selesai membaca Tasya berhasil merebut bukunya.


"Aku itu mau pergi jauh dan dengan waktu yang lumayan lama, makannya Aku tulis ini." Jawab Tasya kemudian memasukkan buku itu ke dalam tasnya.


"Pergi jauh? emang Kamu mau kemana sih?" Tanya Putra.


"Aku mau lanjutin studi di luar negeri dan itu butuh waktu dua tahun." Jawab Tasya.


"Wah hebat, bagus dong. Kamu nanti bisa dapet pengalaman. Semangat ya Bocil." Dukung Putra.


"Tumben banget Kak Putra puji Aku." Tasya merasa aneh dengan pujian Putra.


"Tasya, walaupun selama ini sikap Aku ke Kamu usil. Tapi sebenarnya Aku udah anggap Kamu seperti Adek Aku." Jawab Putra bijak.


"Selama ini Kak Putra emang ngeselin, tapi emang Dia sebenarnya baik." Batin Tasya.


"Gini aja, gimana kalo Aku bantu nemenin Kamu untuk penuhi wishlist Kamu itu." Tawar Putra.

__ADS_1


"Serius? Kak Putra gak bercanda kan?" Tanya Tasya tidak percaya.


"Iya serius. Mau nggak?" Tanya Putra.


Tasya kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Di sebuah Restoran


Waktu makan siang telah tiba, Ari dan Rindu keluar dari mobil dan memasuki restoran untuk makan siang bersama. Ari menarik kursi untuk Istrinya. Mereka tidak menyadari bahwa ada dua orang yang tengah mengikuti Mereka.


Salah satu Anak buah Pak Pram mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Pak Pram.


"Halo Pak, ini Kita sedang membuntuti Mereka berdua. Mereka lagi makan siang bersama di luar. Kami gak bisa melaksanakan tugas kalau Mereka terus bersama." Ucap Anak buah itu.


"Kalo gitu Kamu kirim foto Mereka ke Saya." Pinta Pak Pram.


"Baik Pak." Jawab Anak buah itu kemudian diam-diam mengambil foto Ari dan Rindu yang sedang menikmati makan siang bersama. Ia kemudian mengirimkan foto itu kepada Pak Pram.


"Sudah Saya kirimkan Pak." Ucapnya melapor kepada Pak Pram.


"Kenapa wajah Istrinya gak kelihatan, emang Kamu gak bisa foto wajahnya." Protes Pak Pram.


"Maaf Pak, meja disini penuh. Jadi bisanya ambil foto dari belakang." Jawab Anak buah itu.


"Yaudah kalo gitu, yang penting Kalian laksanakan tugas utama Kalian untuk menyingkirkan Istri Ari. Masalah Ari biar Aku yang atasi." Ucap Pak Pram kemudian mematikan teleponnya.


Di Kampus


Raja tengah terburu-buru keluar dari perpustakaan kampus, tanpa sengaja Ia menabrak Nada yang mau memasuki perpustakaan untuk mengembalikan buku yang Ia pinjam. Buku yang Ia bawa pun berserakan di lantai.


"Maaf, Saya gak sengaja." Ucap Raja membantu Nada merapikan kembali bukunya.


"Pak Raja, Iya gak papa kok." Jawab Nada.


"Maaf ya, soalnya Saya ada janji sama orang jadi Saya buru-buru dan gak ngelihat Kamu." Terang Raja.


"Oh iya Pak, gak papa kok. Aku juga jalannya gak lihat-lihat." Jawab Nada.


"Kamu beneran gak ada yang luka kan?"Tanya Raja terlihat begitu hangat.


"Iya, Saya gak papa. Saya permisi masuk ya Pak." Ucap Nada yang terpesona dengan Dosennya itu.


"Iya, hati-hati." Ucap Raja kemudian bergegas untuk pergi karena Ia memiliki janji dengan seseorang di sebuah restoran.

__ADS_1


bersambung..........


__ADS_2