
Di Klinik Kampus.
Rindu merasa panik ketika mendengar bahwa Ari mengalami kecelakaan. Melli dan Nada berusaha menenangkan Rindu.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang." Ucap Rindu.
"Rindu, Kita temenin Kamu ya. Kamu kan lagi gak enak badan." Tawar Nada mengkhawatirkan keadaan Rindu.
"Makasih ya." Jawab Rindu.
"Yaudah Ayo, Kita antar Kamu." Ucap Melli. Mereka bertiga pun meninggalkan ruangan klinik.
Di Rumah Sakit.
Ari dibawa masuk ke ruangan UGD, Putra menungguinya di luar dengan cemas. Ia juga menghubungi Tasya dan memberi tahu keadaan Ari.
Rindu datang bersama kedua sahabatnya dan langsung menanyakan keadaan Ari kepada Putra.
"Kak Putra, gimana keadaan Kak Ari?" Tanya Rindu.
"Dia masih di dalam, masih ditangani sama Dokter." Jawab Putra.
"Sabar ya Rin, Kak Ari pasti baik-baik aja." Nada menenangkan Rindu.
Rindu memeluk tubuh Nada dan menumpahkan air matanya. Sedangkan Rindu dan Melli berusaha menenangkan Rindu.
Dokter keluar dari ruangan UGD, Rindu menghampirinya dan menanyakan keadaan Ari.
"Dok, gimana keadaan Suami Saya?" Tanya Rindu.
"Sampai saat ini, Pak Ari masih belum sadarkan diri. Sebenarnya luka karena jatuh tidak begitu besar, tetapi yang menjadi masalah adalah penyakit dalam Pak Ari yang semakin parah." Terang Dokter tersebut.
"Terus Kita harus gimana Dok?" Tanya Rindu.
"Kita harus segera menemukan donor jantung untuk Pak Ari." Jawab Dokter tersebut.
"Ibu boleh menengok nanti setelah Pak Ari dipindah ke ruang rawat ya." Ucap Dokter tersebut kemudian meninggalkan Rindu.
"Sabar ya Rindu." Melli mengelus pundak Rindu.
Di Kamar Rawat
Ari telah dipindahkan ke ruang rawat inap, Keluarganya juga telah hadir untuk melihat keadaan Ari, hari mulai malam. Bu Kesya meminta Rindu pulang dan beristirahat tetapi Rindu menolak.
"Rindu, Kamu pulang aja. Biar Mama yang jaga Ari." Ucap Bu Kesya.
"Nggak Ma, Rindu mau disini. Rindu mau nungguin Kak Ari sampai Kak Ari sadar." Jawab Rindu.
"Tapi Kamu pasti kecapean." Pak Raka menimpali.
"Rindu gak Apa-apa kok Ayah." Jawab Rindu.
"Kalo gitu Kita pulang, Kamu gak papa disini sendirian? Tanya Bu Kesya.
"Iya Ma." Jawab Rindu.
"Kalau ada apa-apa, kabari Kita ya Nak." Pinta Bu Kesya.
__ADS_1
"Iya Ma, Rindu pasti kabari." Jawab Rindu.
Keluarga Pak Raka pun pulang dan meninggalkan Rindu yang menjaga Ari. Rindu duduk di samping Suaminya dan menggenggam tangan Ari.
"Kak Ari, bangun dong Kak." Bisik Rindu.
"Sampai sekarang Kak Ari masih belum sadarkan diri." Ucap Rindu, perlahan-lahan Ia mulai merasa lelah dan tertidur.
Pukul tiga pagi, Ari menggerakkan jarinya. Ia membuka matanya dan melihat Rindu yang tertidur sambil menjaganya. Ari mengelus pelan rambut Rindu. Rindu yang merasakan ada yang menyentuhnya pun terbangun. Ia begitu senang ketika melihat Ari telah sadar.
"Kak Ari, Kak Ari udah sadar?" Ucap Rindu begitu bersemangat.
"Iya Rindu, Kamu habis nangis ya? Cengeng banget si." Protes Ari yang melihat mata Rindu sembab.
"Biarin, emang Aku cengeng." Jawab Rindu kembali menitikkan air matanya.
"Kan malah nangis lagi." Ari menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi Rindu. Rindu pun menyentuh tangan Ari.
"Tolong jangan tinggalin Aku Kak, Kak Ari harus bertahan." Pinta Rindu.
"Udah dong jangan cengeng, malu sama Anak kecil." Canda Ari.
"Kak Ariiii" Rindu kesal dengan Ari yang masih terus menanggapinya dengan candaan.
"Iya, Aku akan berjuang untuk sembuh." Jawab Ari.
"Makasih Kak." Ucap Rindu.
"Yaudah, Kamu tidur lagi aja. Ini masih jam tiga." Pinta Ari.
"Sini, tidur samping Aku." Titah Ari.
"Nggak ah, nanti ganggu Kak Ari." Tolak Rindu.
"Nggak papa." Ari menarik tangan Rindu dan meminta agar Rindu tidur di sampingnya.
"Kak Ari, ini sempit lho." Protes Rindu.
"Tapi cukup kok untuk berdua." Jawab Ari.
Mendengar hal itupun Rindu akhirnya tertawa. Mereka terus berbincang hingga Rindu lelah dan tertidur.
Pagi-pagi sekali, Putra telah tiba di rumah sakit, rencananya Ia akan menjenguk Ari. Tanpa permisi Ia membuka pintu kamar.
"Astaghfirullah, bisa-bisanya ranjang sempit kayak gini dipake berdua. Dikira ini hotel apa?" Protes Putra.
"Kenapa Aku sendiri yang jadi malu. Lebih baik Aku ke kantin dulu deh." Ucap Putra kemudian keluar dari ruangan. Ia menutup pintu dari luar dengan pelan agar tidak menimbulkan suara.
"Hayoo Kak Putra ngapain ngendap-ngendap." Tasya mengejutkan Putra dari belakang.
"Tasya, Kamu itu bisa gak sih jangan ngagetin." Protes Putra yang terkejut dengan kedatangan Tasya.
"Ya habis Kak Putra mencurigakan sih." Jawab Tasya.
"Alesan Kamu." Ucap Putra.
"Udah ah, Kak Putra minggir. Aku mau jenguk Kak Ari." Tasya mendorong tubuh Putra yang menghalangi pintu masuk.
__ADS_1
"Eh, mau ngapain?" Putra merentangkan kedua tangannya, berusaha menghalangi Tasya.
"Mau lihat keadaan Kak Ari dong, Kak Putra ngapain sih halangin segala. Minggir dong Kak." Protes Tasya.
"Kita lihat Ari nanti aja, mending sekarang Kamu temenin Aku ke kantin buat sarapan." Ucap Putra merangkul Tasya dan mengajaknya menjauh dari ruangan Ari.
"Ihhh Kak Putra, Lepasin mentang-mentang Kak Ari lagi sakit. Kak Putra gak usah ya cari-cari kesempatan." Tasya menggigit tangan Putra yang mendarat di pundaknya.
"Aduhhhh, sakit tau Sya." Putra melepaskan rangkulannya.
"Ada apa ini? di Rumah Sakit kok ribut." Raja datang dan menegur Tasya dan Putra.
Tasya pun berlari ke samping Raja untuk menghindari Putra.
"Ini nih Kak Raja, Kak Putra main rangkul-rangkul aja." Protes Tasya.
"Putra, jangan macem-macem Kamu."Protes Raja.
"Aduh Kak Putra, bukan kayak gitu. Niat Aku baik, cuma mau ajak Tasya makan doang." Putra membela diri.
"Aku kan gak mau, tapi Kak Putra maksa. Orang Aku mau nengok Kak Ari, Dia malah halang-halangi Aku." Tasya melapor kepada Raja.
"Kamu denger kan Putra? Tasya gak mau makan, kalau Kamu mau makan Kamu ke kantin aja. Aku sama Tasya mau jenguk Ari." Titah Raja membuka pintu kamar rawat inap Ari.
"Tapi Kak Raja." Putra tidak bisa melarang Raja dan Tasya.
Mereka membuka pintu kamar dan melihat Rindu dan Ari tengah melaksanakan shalat subuh.
"Untung aja, Mereka udah bangun." Putra merasa lega, Ia kemudian meninggalkan kamar tersebut.
"Oh, ternyata Mereka lagi sholat. Kita tunggu dulu sampai Mereka selesai sholat." Ucap Raja.
"Alhamdulillah, Akhirnya Kak Ari udah sadar. Aku seneng banget." Ucap Tasya yang melihat Ari telah sadarkan diri, meskipun Ari melaksanakan shalat dengan berbaring.
Setelah melaksanakan shalat, Rindu dan Ari pun menyambut kedatangan Raja dan juga Tasya.
"Eh ada Kak Raja sama Tasya." Ucap Rindu melipat sajadahnya.
"Kak Ari, Aku seneng banget akhirnya Kak Ari sadar juga." Tasya memeluk tubuh Ari erat.
"Iya, Alhamdulillah." Jawab Ari.
"Kalo Kak Rindu capek, Kak Rindu istirahat aja. Biar Aku yang gantian jaga Kak Ari." Tawar Tasya.
"Gak papa Tasya, Aku mau disini aja. Temenin Kak Ari." Jawab Rindu.
"Baik banget si Kakak ipar Aku ini. Udah semaleman jagain Kak Ari dan masih setia jagain." Puji Tasya.
"Nanti kalo Kamu jadi seorang Istri, Kamu juga pasti melakukan hal yang sama kalau terjadi sesuatu sama Suami Kamu." Ucap Rindu.
"Iya, makannya Kamu cepet nikah. Supaya Kak Ari bisa melihat Kamu menikah." Ucap Ari menasehati Tasya.
"Ih Kak Ari, mentang-mentang udah nikah. Jadi ngomong gitu." Protes Tasya yang membuat Ari, Rindu dan juga Raja tertawa dengan tingkah Tasya.
Bersambung……
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?
__ADS_1