
Rindu meraih kunci mobil Ari dan berlari di tengah hujan.
"Ambil kunci ini kalo gitu." Ucap Rindu tertawa di tengah hujan.
"Rindu, jangan nekad Kamu." Ari mencoba mengejar Rindu. Ari berhasil menangkap Rindu. Ia melingkarkan tangannya di tubuh Rindu agar Rindu tidak bisa kabur. Kini Baju Mereka telah basah kuyup.
"Mau kemana lagi sekarang Kamu." Ucap Ari tersenyum penuh kemenangan.
"Iya ampun, Kak Ari lepasin dong." Rengek Rindu yang tidak dapat berlari.
"Sini dulu kuncinya, baru Aku lepasin." Pinta Ari.
"Iya, lepasin dulu baru bisa kasih kuncinya." Ucap Rindu.
Ari pun mengalah dan melepaskan Pelukannya, Rindu memberikan kunci mobil kepada Ari, dengan sigap Ari mengangkat dan menggendong tubuh Rindu.
"Kak Ari turunin, kebiasaan deh." Protes Rindu.
"Gak, kalo Aku turunin Kamu. Bisa sampai besok Kamu main hujan-hujanan." Tolak Ari membawa Rindu menuju mobil.
Ari menurunkan Rindu dan membukakan pintu untuk Rindu, Rindu pun masuk ke dalam mobil.
Setelah keduanya berada di dalam mobil, Ari meraih sebuah handuk kecil.
"Lihat, baju Kamu basah semua. Wajah Kamu juga." Ari mendekat dan mengelap wajah Rindu yang basah. Wajah Mereka sangat dekat hingga Tanpa Mereka sadari, Rindu menatap wajah Ari dan kembali merasakan getaran di hatinya.
Rindu tersadar dan meraih handuk tersebut, kini Ia yang mengelap wajah Ari dengan penuh perhatian.
"Wajah Kak Ari juga basah." Ucap Rindu.
"Udah Rindu, biar Aku sendiri aja." Ari merebut handuk dari tangan Rindu dan mengelap wajahnya sendiri.
"Deg" Seketika rasa nyeri itu datang lagi, dengan spontan Ari menyentuh Dadanya dan seperti tengah menahan rasa sakit.
"Kenapa akhir-akhir ini rasa sakit ini terus menyerang." Batin Ari.
"Kak Ari kenapa?" Tanya Rindu yang sedari tadi memperhatikan Ari. Ari mencoba bersikap tenang dan menutupi rasa sakitnya.
"Gak papa, Aku cuma lelah aja." Jawab Ari berbohong.
"Yaudah kalo gitu, Kita pulang sekarang aja deh." Rindu akhirnya bersedia untuk pulang.
Di Rumah Ari
Ari memarkirkan mobilnya di bagasi, Ia melihat Rindu yang terlelap sejak perjalanan pulang.
__ADS_1
"Bisa-bisanya Dia tidur dengan keadaan basah kuyup gini." Ucap Ari.
Ia turun dari mobil kemudian meminta satpam untuk membuka pintu Rumah. Dengan hati-hati Ari menggendong tubuh Rindu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan tubuh Rindu dengan hati-hati.
"Kalo Aku bangunin Dia kasihan, kalo Aku gak bangunin Dia, masak Aku biarin Dia tidur dengan keadaan basah kuyup gini." Batin Ari.
"Rindu, bangun...." Akhirnya Ari membangunkan Rindu, Ia memberikan baju untuk Rindu.
Rindu perlahan membuka matanya, Ia terkejut mengapa tiba-tiba Ia berada di kamar.
"Kok Aku bisa tiba-tiba di kamar?" Tanya Rindu.
"Iyalah, tadi Kamu ketiduran di mobil, jadi Aku angkat Kamu." Ucap Ari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Lagian Kak Ari ngapain gak bangunin Aku." Protes Rindu yang telah mengubah posisinya, kini Ia duduk di tepi ranjang.
"Udah buruan ganti baju baru lanjut istirahat." Ucap Ari yang mengambil baju ganti miliknya kemudian keluar dari kamar dan meninggalkan Rindu.
Keesokan Harinya
Karena Rindu tidak makan seharian dan langsung tidur karena kelelahan, Ia merasakan mual. Sepertinya asam lambungnya naik. Ia terbangun lebih awal dan berlari ke kamar mandi.
"Huekkkk huekkk" Suara Orang muntah dari dalam kamar mandi membuat Ari terbangun.
Ia meraih ponsel dan melihat jam masih menunjukkan pukul setengah empat pagi. Dengan malas Ari mengetuk pintu kamar mandi.
Rindu keluar dengan menutup mulutnya karena takut jika tiba-tiba Ia merasa mual.
"Kamu kenapa?" Tanya Ari menyentuh dahi Rindu. Ia terkejut ketika mengetahui suhu tubuh Rindu hangat.
"Aku gak papa Kak, cuma sedikit pusing dan mual." Jawab Rindu memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Kamu kalau dibilangin gak percaya sih, dibilangin jangan hujan-hujanan. Sekarang Kamu jadi demam kan." Ari memarahi Rindu.
"Iya, Rindu salah." Rindu sedang tidak ingin berdebat dengan Ari.
"Yaudah, hari ini Kamu gak usah siapin sarapan. Biar Bibi aja yang siapin." Titah Ari menyelimuti tubuh Rindu. Rindu hanya mengangguk dan kembali memejamkan matanya.
Ari keluar dari kamar dan bertemu Bi Ira yang tengah membersihkan meja, salah satu ART yang bekerja di rumahnya.
"Bi Ira." Panggil Ari, Bi Ira pun menoleh dan menghampiri Ari.
"Iya Tuan Ari, Ada yang bisa Bibi bantu?" Tanya Bi Ira.
"Iya, Ari minta tolong buatin teh manis anget dan anter ke kamar ya." Pinta Ari.
__ADS_1
"Iya Tuan, Saya buat dulu ya." Ucap Bi Ira.
"Oh iya Bi satu lagi, tolong Bibi siapin sarapan hari ini ya. Karena Rindu lagi gak enak badan." Titah Ari.
"Non Rindu kenapa Tuan?" Bu Ira merasa khawatir terhadap Rindu.
"Jangan terlalu khawatir Bi, Dia cuma sakit kepala dan mual aja. Nanti juga sembuh." Jawab Ari.
"Kalo gitu Saya permisi ke dapur Tuan." Bu Ira kemudian meninggalkan Ari.
Di Dapur.
Bi Surti tengah membersihkan meja makan, Ia menyapa Bi Ira yang pagi-pagi sekali sudah membuat teh manis.
"Bi Ira, masih pagi gini buat teh manis untuk siapa?" Tanya Bi Surti.
"Buat Non Rindu, katanya lagi gak enak badan." Jawab Bi Ira sembari membuat teh manis.
"Emang Non Rindu sakit apa?" Tanya Bi Surti ingin tahu.
"Kata Tuan Ari tadi si cuma pusing dan mual aja." Jawab Bi Ira yang membuat Bi Surti terkejut.
"Apa? pusing sama mual?" Tanya Bi Surti mengulangi pernyataan Bi Ira.
"Iya, Kamu tanya terus ya." Protes Bu Ira.
"Aaaaaa jangan-jangan Non Rindu bukan sakit tapi hamilllll." Bi Surti berteriak girang.
"Siapa yang hamil Bi?" Tanya Nenek Lidya yang baru masuk ke dapur untuk mengambil minuman.
"Itu lho Nyonya, Non Rindu katanya pusing dan mual. Bisa jadi itu pertanda kalo Non Rindu sedang mengandung Anak dari Tuan Ari kan?" Ucap Bi Surti.
"Apa? jangan-jangan Kamu bener Bi, Bi Surti Kamu sekarang juga beli testpack yang banyak." Titah Nenek Lidya bersemangat.
"Siap Nyonya, Nanti Saya beli yang banyak." Jawab Bi Surti.
"Yaudah kalo gitu Saya mau anter teh ini ke kamar Non Rindu dulu ya." Pamit Bi Ira.
"Oh ini buat Rindu? yaudah sini biar Aku aja yang bawa. Sekalian Aku mau ngomong sama Rindu dan Ari." Nenek Lidya merebut nampan yang dibawa Bi Ira.
"Tapi Nyonya, biar Bibi aja." Bi Ira merasa tidak enak.
"Udah, mending Bi Ira sekarang masak makanan yang sehat-sehat. Lagian Aku juga ada keperluan sama Mereka." Nenek Lidya dengan semangat meninggalkan dapur dengan membawa nampan berisi secangkir teh manis untuk Rindu.
bersambung......
__ADS_1
bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?