Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 43 ARI SAKIT


__ADS_3

Di Kantor.


Ari dan Putra telah kembali ke kantor, rasa sakit kembali menyerang Ari seakan-akan terus menerornya. Ari memegang meja sebagai penyangga. Putra yang menyadari hal tersebut pun menawarkan bantuan.


"Ri, apa Kamu butuh bantuan?" Tanya Putra.


"Gak perlu, Aku gak kenapa-napa." Tolak Ari kesal.


"Kenapa sekarang Aku jadi lemah, Aku gak boleh lemah." Batin Ari mencoba melawan rasa sakitnya.


"Ri, Kamu yakin Kamu baik-baik aja. Kalo Kamu sakit lebih baik istirahat." Saran Putra.


"Aku udah bilang kan, lupain tentang penyakitku. Jangan sampai ada yang tahu." Protes Ari.


"Iya Ri, maaf. Aku cuma gak tega aja lihat Kamu." Jawab Putra.


"Aku bukan orang lemah, ngerti! Lebih baik sekarang Kamu keluar dari ruanganku." Titah Ari mengusir Putra. Tak mau Ari semakin tersiksa Putra pun memutuskan untuk keluar dari ruangan Ari.


"Aku gak boleh terbayang-bayang dengan sakit ini, Aku harus anggap bahwa Aku gak kenapa-napa." Ari berkata dalam hati.


Di Kamar Ari.


Rindu tengah menggendong Arkan sembari mencari sebuah buku. Rindu membuka laci nakas dan menemukan gelang kecil. Arkan pun berusaha meraihnya.


"Gelang siapa ini? Kecil banget. Udah gak kepake kali ya." Rindu bertanya pada dirinya sendiri.


"Coba kalo dipakai Arkan, keren banget." Puji Rindu memakaikan gelang tersebut kepada Arkan.


"Tapi kalo Aku kasih ini ke Arkan, Kak Ari marah gak ya? Ini kan gelangnya." Batin Rindu merasa ragu.


"Tapi masak gara-gara gelang aja Kak Ari marah si. Gak lah." Ucap Rindu menenangkan diri.


Tiba-tiba suara Bu Kesya memanggilnya dari lantai bawah. Rindu pun bergegas menghampiri suara tersebut. Di ruang tamu terlihat Bu Kesya tengah duduk bersama Raja. Rindu pun menghampiri Mereka.


"Wah kayaknya Arkan akrab banget sama Kamu ya." Ucap Bu Kesya.


"Iya Ma, Kapan-kapan ajak Arkan kesini lagi ya Kak Raja." Pinta Rindu. Raja tersenyum dan mengiyakan permintaan Rindu. 


Raja mengambil Arkan dari gendongan Rindu dan berpamitan kepada Bu Kesya dan Rindu. Mereka mengantar Raja dan memperhatikan mobil Raja hingga menghilang dari pandangan.


"Gimana menurut Kamu Anak kecil?" Tanya Bu Kesya memancing Rindu.


"Lucu Ma, dan gemesin." Jawab Rindu.

__ADS_1


"Makannya Kamu buruan dong sama Ari." Ucap Bu Kesya tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Rindu yang terkejut dengan pernyataan Bu Kesya.


Di Kamar


Rindu tengah merias diri, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata Ari baru saja pulang dari kantor, wajahnya lesu dan tampak pucat. Rindu menghampiri Ari dan menceritakan tentang gelang yang Ia berikan kepada Arkan.


"Kak Ari, gelang kecil yang ada di laci nakas itu punya Kak Ari ya?" Tanya Rindu.


"Iya." Jawab Ari singkat.


"Tadi Aku kasih gelang itu ke Arkan, udah gak muat buat Kak Ari kan? Boleh kan Kak?" Tanya Rindu.


"Apa? Kamu kasih ke Arkan?"Ari terkejut karena baginya gelang itu berharga untuknya.


"Iya, boleh kan Kak?" Tanya Rindu ragu.


"Kenapa Kamu gak izin dulu sama Aku? Gelang itu adalah gelang berharga buat Aku." Protes Ari kesal, ditambah lagi Ia pusing dengan sakitnya.


"Aku kira Kak Ari udah gak butuh gelang itu lagi." Jawab Rindu pelan karena takut.


"Asal Kamu tahu, gelang itu adalah gelang berharga buat Aku. Gelang itu adalah pemberian wanita pertama yang Aku sayangi." Protes Ari meninggalkan Rindu.


"Deg" Perasaan Rindu hancur mendengar perkataan dari Ari, Air matanya menetes membasahi pipinya. 


"Gak Rindu, kenapa Kamu harus nangis." Rindu berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutup rapat tubuhnya dengan selimut.


"Tidur dan lupain semuanya." Batin Rindu memejamkan matanya.


Di Halaman


Ari menghampiri pohon Mangga yang berada di halaman rumahnya, Ia memukul pohon itu berkali-kali karena kesal. Kesal karena mengetahui sakit yang dideritanya, Kesal karena gelangnya yang menghilang dan Kesal dengan dirinya sendiri yang telah membentak dan menyalahkan Rindu hanya karena hal sepele.


"Bodohhhhh, Kamu bodohh Arii." Ungkap Ari kesal.


"Kenapa Kamu marahi Rindu, cuma karena masalah gelang. Kenapa juga Kamu harus cerita tentang masa lalu Kamu." Protes Ari pada dirinya sendiri.


"Sekarang Rindu pasti sakit hati karena perbuatanku. Aku bener-bener bodoh." Ari masih mengumpat.


"Aku harus bicara sama Rindu dan minta maaf." Tekad Ari. Ia akhirnya kembali ke kamar, dilihatnya Rindu telah tertidur lelap. Ari tidak tega untuk membangunkan Rindu.


"Dia udah tidur, kasihan. Lebih baik Aku bicara besok sama Dia." Ucap Ari kemudian tidur di tempatnya. 

__ADS_1


"Maafin Aku Rindu, pikiranku bener-bener lagi panas sekarang." Batin Ari, Ia mematikan lampu kemudian tidur.


Waktu menunjukkan pukul setengah lima, Rindu terbangun dan membersihkan diri. Merasa masih kesal dengan Ari, Ia pun tidak membangunkan Ari. Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke dapur dan membantu memasak. Sedangkan Ari yang baru saja terbangun bergegas mandi dan melaksanakan sholat. Ia tahu bahwa Rindu berada di dapur, Ari pun menghampirinya.


"Aku minta maaf." Ucap Ari di dekat telinga Rindu.


"Minta maaf? Emang Kak Ari ngapain?" Tanya Rindu tanpa menoleh ke arah Ari.


"Aku minta maaf karena udah salahin Kamu, kemarin Aku cuma lagi emosi aja. Aku salah karena udah melampiaskan kekesalan ke Kamu." Ari meminta maaf kepada Rindu.


Rindu terdiam, Ia mengambil nafas panjang kemudian menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa Ia telah memaafkan Ari.


"Jadi Kita damai?" Tanya Ari.


"Iyaaaaa, udah ah Kak Ari jangan ganggu Aku masak deh." Protes Rindu.


"Biar Aku bantu." Tawar Ari.


"Gausah, Kak Ari siap-siap aja. Kak Ari mau ke kantor kan?" Tanya Rindu.


"Iya, tapi inikan masih pagi." Jawab Ari.


"Awwwww" Rindu terkejut karena tangannya terkena pisau.


"Kenapa?" Tanya Ari meraih tangan Rindu dan menghisap darah yang keluar dari luka goresan.


"Yang mana Kamu yang sebenarnya Kak, kenapa Kamu cepet banget berubah kadang cuek dan jutek. Kadang sangat peduli dan melindungi." Batin Rindu.


"Kalo masak jangan ngelamun dong, kena pisau kan jadinya." Protes Ari.


"Ini ada apa sih? Daritadi Mama denger kok Pengantin baru ini ribut terus, Ada masalah apa?" Tanya Bu Kesya yang datang mengambil minuman dari kulkas.


"Gak papa Ma, cuma masalah kecil." Jawab Ari singkat.


"Itu tangan Kamu kenapa Rin?" Tanya Bu Kesya.


"Iya ini tadi Ma, Dia gak hati-hati pakai pisau." Jawab Ari.


"Yaudah dibalut dulu gih lukanya, masaknya biar diselesaikan sama Bibi." Titah Bu Kesya.


"Kita ke kamar dulu Ma." Ari pamit Kemudian menggandeng Rindu hingga ke kamarnya.


Bersambung……..

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?


__ADS_2