
Di Panti Asuhan Cinta Bunda.
Setelah membeli beberapa kebutuhan untuk panti asuhan, Ari dan Rindu mengantarkan Thalita hingga ke panti asuhan. Ari memarkirkan mobilnya di halaman panti.
"Jadi Kamu tinggal disini?" Tanya Rindu pada Thalita.
"Iya Kak." Jawab Thalita.
"Yaudah, Kita turun yuk." Rindu menggandeng tangan Talita dan mengajaknya turun dari mobil. Mereka memasuki rumah yang bertuliskan Panti Asuhan Cinta Bunda.
Thalita mengajak Ari dan juga Rindu untuk menemui pengurusnya.
"Thalita, Kamu panggil pengurus Kamu ya." Titah Rindu.
Thalita memasuki ruangan dan keluar dengan seorang wanita yang tak lain adalah pengurus di panti tersebut.
"Selamat datang, maaf ini ada apa ya? Kata Thalita ada yang mau ketemu." Tanya Pengurus panti tersebut.
"Selamat siang, Saya Ari. Tadi Saya bertemu dengan Thalita yang mengemis di pinggir jalan. Jadi Kami antarkan Dia pulang." Ucap Ari memperkenalkan diri.
"Thalita, jadi Kamu ngemis lagi Nak? Berapa kali Ibu bilang. Jangan kerja Thalita." Ibu itu memarahi Thalita.
"Iya Ibu, Lita minta maaf." Thalita menundukkan kepalanya.
"Jangan dimarahi Bu, Dia melakukan itu juga kan untuk membantu teman-temannya." Rindu mencoba menenangkan Ibu pengurus itu.
"Nama Saya Bu Anis, Saya pengurus panti asuhan disini. Memang salah Saya. Saya yang bertanggung jawab atas semua ini. Lain kali Saya akan larang Dia lakukan itu." Bu Anis Merasa bersalah.
"Ibu Anis, boleh Kita melihat-lihat Anak-anak disini?" Tanya Ari.
"Oh boleh, sejarah Mereka lagi belajar di kamar." Jawab Bu Anis.
Terdapat sekitar lima belas Anak di tempat yang kecil itu, sarana dan prasarana pun tidak mendukung. Rindu terhenti ketika melihat bayi yang tengah tertidur di alas tanpa kasur. Benar-benar menyedihkan.
"Banyak orang yang memang tidak mau peduli dengan keadaan anak-anak disini. Saya sendiri kadang bingung harus bagaimana mengatur keuangan untuk memenuhi kebutuhan Mereka." Ucap Bu Anis.
"Bahkan Mereka tidur pun hanya dengan kasur seandanya." Ucap Bu Anis.
"Maaf Bu, bayi itu?" Tanya Rindu.
"Iya, Bayi itu merupakan Anak yang terlahir tanpa seorang Ayah, jadi Dia dititipkan disini sama Ibunya." Jawab Bu Anis.
"Kasihan banget ya Kak, Mereka semua pasti kedinginan kalo tidur." Bisik Rindu.
"Rindu, Aku mau pergi sebentar keluar." Pamit Ari.
Rindu pun berbincang dengan pengurus panti. Sedangkan Ari keluar dari panti dan menghubungi Putra.
__ADS_1
"Halo Putra." Sapa Ari.
"Halo Boss, Ada Apa Boss?" Tanya Putra yang sudah hafal jika Ari menelepon pasti ada perintah untuknya.
"Kamu tolong carikan tukang bangunan, jangan lupa juga cari bahan bangunan." Titah Ari.
"Siap Bos, kecil itu mah." Jawab Putra.
"Ada lagi, Kamu pesankan 15 Ranjang bertingkat sekarang juga. Jangan lupa beli mainan anak yang banyak. Aku kirim alamatnya sekarang." Titah Ari. Putra pun menyanggupinya. Ari menutup telepon kemudian kembali masuk ke dalam panti.
"Kamu dari mana sih Mas?" Tanya Rindu.
"Dari luar kan?" Jawab Ari.
"Iya, Aku tahu. Maksud Aku habis ngapain?" Tanya Rindu.
"Nanti juga Kamu tahu." Jawab Ari.
"Oh iya Bu, tadi Kita bawa sembako untuk Anak-anak. Semoga membantu." Ucap Rindu.
"Sebentar Aku ambil dulu ya." Ucap Ari kemudian mengambil beberapa kebutuhan pokok untuk panti asuhan tersebut.
"Terimakasih, Kalian baik sekali." Bu Anis berterimakasih kepada Ari dan Rindu.
Ari menyerahkan Uang yang telah Ia masukkan kepada amplop.
"Makasih ya Mbak Rindu dan Mas Ari."Ucap Bu Anis berterima kasih, Bu Anis terharu dengan kebaikan Ari dan Rindu.
"Yaudah, Kamu mau pulang sekarang?" Tanya Ari.
"Iya, Kita pamit pulang ya Bu. Thalita Kita pulang dulu ya." Rindu berpamitan pada Thalita.
"Iya, terimakasih Kak. Jangan lupa main lagi ya Kak." Ucap Thalita.
"Iya, Kita pasti datang kesini lagi untuk mengunjungi Kamu." Rindu mencubit pelan pipi Thalita gemas.
Di Kamar Ari.
Malam harinya, Ari tengah beristirahat di atas ranjangnya dengan memainkan ponselnya. Tiba-tiba telepon masuk dari Putra. Ari pun keluar ke balkon.
"Halo Putra, gimana tugas yang Saya kasih?" Tanya Ari.
"Udah sukses Boss, Mereka berterimakasih. Kita juga udah sembunyiin identitas Boss Ari sesuai dengan permintaan Boss." Jawab Putra.
"Bagus, kalo gitu Aku tutup teleponnya." Ucap Ari kemudian menutup teleponnya dan masuk kedalam kamar. Ia melihat Rindu tengah bercermin sembari mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas.
"Dari Mana Kak?" Tanya Rindu.
__ADS_1
"Dari luar, cari angin." Jawab Ari.
Tiba-tiba dada Ari kembali terasa sakit. Kepalanya terasa pusing. Dari cermin Rindu melihat Ari seperti kesakitan berdiri dan menghampiri Ari.
"Kak, Kak Ari kenapa? Yang mana yang sakit Kak?" Tanya Rindu panik.
"Aku gak papa Rindu, Aku udah biasa. Nanti juga sakitnya hilang." Jawab Ari.
Rindu melihat darah keluar dari hidung Suaminya, Ia benar-benar panik melihat keadaan Ari.
"Kak Ari mimisan, Ayo Aku bantu ke ranjang." Rindu memapah Ari dan menyadarkan Ari di Sandaran Dipan. Ia mengambil tisu dan memberikannya kepada Ari.
"Ini Kak, Kalau Kak Ari sakit Kita kerumah sakit aja ya. Aku gak mau Kak Ari kenapa-napa." Saran Rindu.
"Gak Papa Rindu, Aku udah terbiasa seperti ini. Percuma, jalan satu-satunya adalah donor jantung." Jawab Ari.
Rindu menitikkan air matanya melihat keadaan Ari, Ia takut mimpinya akan menjadi kenyataan.
"Kok malah Kamu yang nangis." Protes Ari masih tertawa di kala berusaha menahan rasa sakitnya.
"Aku takut Kak, Aku takut kalo apa yang ada di mimpiku jadi kenyataan."Ucap Rindu mengungkapkan kekhawatirannya.
"Jangan Nangis, Kamu kan yang bilang kalau Aku pasti sembuh. Masak sekarang Kamu malah pasrah gini sih." Ari mengusap air mata Rindu.
Rindu kemudian memeluk tubuh Ari erat, seakan tidak ingin melepaskannya.
"Aku gak tau kenapa Aku gak mau kehilangan Kak Ari, Aku gak tau sejak kapan Aku merasa nyaman ketika di samping Kak Ari."Ucap Rindu mengungkapkan isi hatinya.
"Kamu udah Cinta kali sama Aku." Goda Ari.
Ari melepaskan pelukan Rindu, Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik.
"Aku juga gak tau sejak kapan Aku nyaman dan gak mau jauh dari Kamu." Ucap Ari.
"Menurut Kamu gimana kalo Kita coba untuk wujudkan permintaan Nenek Lidya?" Tanya Ari yang mencoba menggoda Rindu.
"Tapi kan Kak Ari bukannya lagi sakit?" Tanya Rindu.
"Kalau Kamu gak mau gak papa, Aku akan tunggu Kamu sampai siap." Jawab Ari melepaskan pelukannya.
"Tapi Aku pikir, kayaknya seru juga ya kalo punya Bayi sendiri." Ucap Rindu seolah memberi kode kepada Ari bahwa Ia telah siap untuk menjadi Istri dari Ari seutuhnya. Mengandung dan Melahirkan Anak untuk Ari.
Ari tersenyum mendengar jawaban Rindu.
Ari dan Rindu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Mereka. Malam itu menjadi malam yang bersejarah untuk Mereka. Setelah hampir dua bulan menikah, Akhirnya Ari dan Rindu melakukan hubungan sebagai suami dan Istri.
Bersambung…...
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?