
Di Kamar Ari.
Ari terbangun dan melihat jam, karena kelelahan Ia dan Rindu sama-sama bangun terlambat. Ari terkejut dan segera membangunkan Rindu.
"Rindu bangun, ayo Kita sholat subuh." Ucap Ari.
"Emang ini jam berapa sih Kak, bentar lagi ya. Kak Ari mandi dulu aja." Jawab Rindu.
"Ini udah jam setengah 6 lho. Bangun Rindu." Ucap Ari.
"What? Jam setengah enam?" Rindu terkejut dan langsung bangkit dari posisi tidur.
"Aku yang mandi dulu." Ucap Rindu menarik selimut.
"Awww." Rindu merasa sakit karena telah melakukan hubungan dengan Ari semalam.
"Kenapa?" Tanya Ari.
"Gak papa." Jawab Rindu berbohong.
"Udah Kita mandi berdua aja. Kelamaan kalau satu-satu." Saran Ari.
"Berdua? Ih Kak Ari malu dong." Protes Rindu.
"Ngapain Malu, Kan tadi malam Kita udah…." Belum selesai Ari berbicara, Rindu membekap mulut Suaminya itu.
"Udah cukup, gak usah dibahas. Pokoknya Aku dulu." Ucap Rindu.
"Terserah." Jawab Ari yang mengangkat tubuh Istrinya itu dan membawanya ke kamar mandi.
Setelah melaksanakan shalat berjamaah, Mereka pun bersiap-siap. Ari bersiap untuk pergi bekerja sedangkan Rindu bersiap untuk pergi ke kampus. Rindu yang melihat Ari yang hendak memakai dasi pun menghampiri Ari dan memakaikan dasi Ari.
"Sini biar Aku yang pakein." Ucap Rindu fokus merapikan jas dan dasi Ari.
"Makasih." Ucap Ari.
"Sama-sama." Jawab Rindu.
"Kakak yakin mau berangkat kerja? Gak istirahat dulu aja?" Tanya Rindu yang masih khawatir dengan keadaan Ari.
"Aku baik-baik aja, Kamu tenang aja." Ari menenangkan Rindu.
"Yaudah, Aku percaya sama Kak Ari. Oh iya Kak Ari kapan mau bicara tentang sakit yang diderita Kak Ari sama Mama dan Papa?" Tanya Rindu.
"Aku akan cari waktu untuk bilang sama Mereka." Jawab Ari.
"Yaudah, oh iya Kak hari ini Aku ada janji sama Melli dan juga Nada untuk ketemu sama Dosen Pembimbing. Boleh Kan?" Tanya Rindu meminta izin.
"Iya boleh, yaudah yuk makan. Aku udah laper." Ajak Ari.
"Yuk." Rindu menggenggam tangan Ari. Mereka pun menuju ruang makan untuk sarapan bersama.
Di Pemakaman.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Rindu ke kampusnya, Ari menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Ara. Ia duduk di samping pemakaman Ara dan meletakkan buket bunga yang Ia beli dijalan. Ia mengirimkan doa untuk saudara kembarnya itu.
Setelah berdoa, Ia mencabut rumput dan membersihkan makam Ara. Tanaman yang pernah Ia tanam tumbuh subur menemani Ara.
"Selamat pagi Ara, Aku kesini untuk mengunjungi Kamu. Kak Ari sangat rindu sama Kamu." Ucap Ari mengelus nisan Ara.
"Jujur, saat ini Aku benar-benar bimbang. Apa mungkin sebentar lagi Kita akan bertemu kembali." Ucap Ari.
Ari mencoba mengingat-ngingat kejadian masa lalunya saat bersama Ara. Ia merasa sedih.
Ponsel Ari berbunyi, telepon masuk dari Putra. Ari pun mengangkatnya.
"Halo Putra, ada apa?" Tanya Ari pelan.
"Boss, berangkat hari ini?" Tanya Putra.
"Ya, sebentar lagi Aku sampai." Jawab Ari menutup teleponnya.
"Ara, Kakak pamit pergi ya." Ucap Ari kemudian meninggalkan pemakaman.
Di Kantor
Putra telah menunggu kedatangan Ari di ruangannya. Begitu Ari tiba, Putra pun langsung melaporkan kegiatan yang harus dilakukan.
"Boss, Kegiatan Kita kali ini mengunjungi proyek dan mengeceknya." Lapor Putra.
"Jam berapa?" Tanya Ari.
"Jam 10 pagi. Tapi kalo Boss Ari masih sakit, biar Aku aja yang ngecek sama Bayu." Putra mengkhawatirkan keadaan Ari.
"Ini udah jam segini, lebih baik Kita bersiap-siap." Titah Ari.
"Oke, Aku kumpulin orangnya." Jawab Putra kemudian meninggalkan ruangan Ari. Ari menghubungi Rindu dan meminta izin.
Di Kampus.
Rindu menutup telepon dari Ari, wajahnya terlihat cemas. Melli pun menegurnya.
"Kenapa Rindu? Suami mau lihat proyek sebentar aja, wajahnya udah cemas gitu." Goda Melli.
"Gak, Aku gak papa Kok." Jawab Rindu mencoba menutupi kecemasannya.
"Kenapa perasaan Aku gak enak ya, Aku khawatir sama keadaan Kak Ari. Padahal biasanya juga Kak Ari gak kenapa-napa." Batin Rindu.
"Udah-udah nih minum dulu, supaya tenang." Nada memberikan minuman kepada Rindu, tetapi gelas tersebut jatuh dan pecah.
"Pyarrrr" gelas itu menjadi kepingan-kepingan kaca.
"Yaampun Rindu, bisa dimarahin Ibu Kantin ini. Kamu kenapa sih? Kamu baik-baik aja?" Tanya Melli.
"Maaf temen-temen Aku gak tau kenapa perasaan Aku gak enak." Ucap Rindu membersihkan kaca yang berserakan.
"Awwwww." Rindu terkejut ketika tangannya tertusuk pecahan kaca yang tajam.
__ADS_1
"Rindu, ya ampun tangan Kamu berdarah." Nada panim melihat tangan Rindu yang terluka.
"Udah-udah Rindu, biar Aku yang beresin. Lebih baik Kamu tenangin diri dulu deh." Titah Melli.
"Maaf ya temen-temen." Rindu merasa bersalah.
"Udah gak apa-apa, lebih baik Kamu istirahat dulu aja. Kita anter Kamu ke Klinik ya." Tawar Nada.
"Makasih." Jawab Rindu.
Mereka pun mengantarkan Rindu ke klinik untuk beristirahat.
Di Proyek
Ari bersama beberapa pegawainya mengunjungi proyek untuk melihat bagaimana kelangsungan proyek Mereka.
Tiba-tiba Ari merasa kepalanya pusing. Tetapi Ia mencoba terlihat baik-baik saja. Putra yang melihat Ari memegangi kepalanya pun meminta agar Ari beristirahat.
"Boss, lebih baik Boss Istirahat aja." Saran Putra.
"Udahlah Putra, Aku gak papa." Jawab Ari berbisik.
"Mari Kita mencoba melihat Proyek di lantai 2 yang masih baru jadi setengah." Ucap sang Mandor yang menuntun Ari dan bawahannya untuk mengecek keadaan proyek.
"Kepalaku rasanya semakin berat, gimana kalo tiba-tiba Aku pingsan lagi." Batin Ari. Ia mencoba berjalan ke arah tangga agar bisa segera turun, tetapi pandangannya kabur. Ia terjatuh dan terguling di tangga.
"Bosss Ariiii." Putra terkejut melihat kejadian itu, begitu juga dengan para pegawai yang melihat kejadian itu.
Putra berlari menghampiri Ari yang telah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai bawah, dahinya berdarah karena benturan.
"Boss, bangun Boss." Putra mengguncang tubuh Ari, berharap agar Ari baik-baik saja.
"Kenapa Kalian diam aja, cepat pangg ambulan." Teriak Putra cemas.
Salah satu pegawai Ari pun mencoba memanggil ambulance.
"Ari, bangun Ari. Kamu harus bertahan." Pinta Putra. Selang beberapa saat, ambulance datang dan membawa Ari menuju rumah sakit.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Putra teringat jika Ia belum memberitahu kepada Rindu. Putra meraih ponselnya dan menghubungi Rindu. Tak butuh waktu lama, Rindu mengangkat teleponnya.
"Halo Kak Putra, ada apa?" Tanya Rindu.
"Ari Rindu, Dia jatuh dari tangga." Jawab Putra.
"Apa? Kak Ari jatuh dari tangga? Terus keadaan Kak Ari gimana?" Suara Rindu bergetar, jelas sekali Ia sangat khawatir dengan keadaan Ari.
"Sekarang Aku dalam perjalanan bawa Ari ke rumah sakit terdekat." Jawab Putra.
"Rumah sakit mana Kak?" Tanya Rindu.
"Aku matiin teleponnya, nanti Aku share alamatnya." Ucap Putra mematikan teleponnya kemudian
Bersambung……
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?