
Hari telah berganti, Ari dan Rindu diantar ke Kampus oleh supir pribadi, setelah Pak Supir memarkirkan mobilnya, Rindu berpamitan kepada Ari. Rindu meraih tangan Ari dan mencium tangan Suaminya itu.
"Kak, doain Aku berhasil ya." Ucap Rindu.
"Kakak pasti selalu berdoa untuk Kamu. semoga Kamu berhasil melewati ujian dan dapat nilai yang baik." Ungkap Ari menggenggam tangan Rindu.
"Nanti kalo Kakak udah selesai kontrol, jangan lupa hubungi Aku ya." Pinta Rindu.
"Iya, nanti Aku kabari." Jawab Ari tersenyum.
Rindu tersenyum kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Ari membuka jendela mobilnya dan melihat Rindu hendak masuk ke kampusnya. Ari memanggilnya
"Rindu." Panggil Ari,Rindu pun menoleh.
"Semangat ya." Ucap Ari. Rindu tersenyum mendengar itu. Ari melambaikan tangannya. Mobil mulai meninggalkan kampus Rindu.
Di Rumah Sakit.
Ari telah tiba di rumah sakit, sebelum Ia menemui Dokternya. Ia menyempatkan diri untuk bertemu Papa Mertuanya, yaitu Pak Dimas.
Ari masuk ke ruangan Pak Dimas yang kebetulan tengah kosong pasiennya.
"Selamat Pagi Pa." Ari mencium tangan Pak Dimas.
"Selamat Pagi Ari, hari ini jadwal Kamu kontrol ya?" Tanya Pak Dimas.
"Iya Pa, tapi masih nanti. Menunggu giliran." Jawab Ari.
"Rindu hari ini ujian ya?" tanya Pak Dimas.
"Iya Pa, Dia titip salam untuk Papa." Ucap Ari menyampaikan salam kepada Pak Dimas.
Pak Dimas dan Ari pun menghabiskan waktu untuk berbincang, sembari menunggu waktu Ari untuk kontrol.
Setelah menjalani kontrol, Ari pun bergegas untuk menemui Rindu di kampus. Tiba-tiba Ia tidak sengaja bertemu dengan Pak Pram saat Ia menebus obat.
"Laki-laki itu, sepertinya Aku kenal." Batin Ari.
"Tebus obat atas nama Cinta Mbak." Ucap Pak Pram yang tidak sengaja didengar oleh Ari.
"Cinta? Dia Ayah dari Cinta? Iya Cinta sahabat kecil Aku dulu." Batin Ari.
Setelah mendapatkan obat, Pak Pram hendak pergi dari tempat itu, Ari pun memanggilnya.
"Pak maaf, apa benar Bapak adalah Ayah dari Cinta yang pernah tinggal di rumah Jalan seri no 11?" Tanya Ari sopan.
__ADS_1
"Iya benar, Kamu......." Pak Pram mencoba mengingat wajah Ari.
"Apa Kamu Ari? Anak yang sering main dengan Cinta?" Tanya Pak Pram antusias.
"Iya Pak, Saya Ari. Teman masa kecilnya Cinta." Jawab Ari.
"Akhirnya, Saya bisa menemukan Kamu. Selama ini Cinta selalu menyebut nama Kamu dan ingin sekali bertemu Kamu." Ucap Pak Pram dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalo boleh tahu, sekarang Cinta ada dimana Pak?" Tanya Ari.
"Ayo, Saya antar Kamu untuk bertemu dengan Cinta." Ucap Pak Pram kemudian Ari mengikuti langkah Pak Pram.
"Aku harus bertemu dengan Cinta dan bercerita sama Dia, kalau saat ini Aku sudah menikah." Batin Ari.
Mereka berhenti di sebuah ruangan, Pak Pram menghentikan langkahnya. Ia menjelaskan bahwa Cinta ada di dalam ruangan tersebut.
"Cinta sedang sakit dan ada di dalam, ayo masuk." Ajak Pak Pram.
Ari pun mengikuti Pak Pram yang masuk ke dalam kamar perawatan. Ia berdiri terdiam di depan pintu ketika pada akhirnya, Ia kembali bertemu dengan Cinta.
"Ari, apa Kamu Ari?" Tanya Cinta dengan suara yang bergetar.
"Cinta." Ucap Ari pelan, Cinta mengubah posisi tidurnya ke posisi duduk. Ari pun mendekat ke Cinta. Spontan Cinta memeluk Ari dengan sangat Erat. Ia tak mampu lagi menahan tangis. Tangisnya pecah, Ia bisa bertemu kembali dengan Ari.
"Ari, Tolong bilang kalo semua ini bukan mimpi. Ini beneran Kamu? Kamu kembali?" Tanya Cinta menangis.
"Aku juga Ari, selama ini Aku selalu setia menunggu Kamu. Aku cari Kamu berharap bisa kembali lagi sama Kamu. Aku ingin sekali menghabiskan sisa hidup Aku bersama Kamu Ari." Ucap Cinta.
"Cinta, maaf tapi bisa tolong Kamu lepas pelukannya dulu." Pinta Ari.
"Tolong biarin Aku peluk Kamu untuk melepaskan Rindu Ari. Aku bener-bener bahagia bisa bertemu dengan Kamu lagi." Tolak Cinta.
"Selama ini Cinta selalu menunggu agar bisa bertemu kembali dengan Kamu Ari, Dia percaya kalo Kamu akan menepati janji Kamu untuk bisa kembali bersama Dia. Kamu adalah harapan untuk Cinta bertahan hidup." Ucap Pak Pram.
"Maaf Cinta, tapi tolong lepasin pelukan Kamu." Ucap Ari kemudian melepaskan pelukan Cinta.
"Ada hal yang mau Aku bicarakan sama Kamu, jadi tolong jangan memeluk seperti itu." Ungkap Ari.
Ponsel milik Ari bergetar. Telepon masuk dari Putra. Ari pun meminta izin untuk mengangkatnya. Putra memberitahukan bahwa Tasya mengalami kecelakaan. Ari pun terkejut mendengar hal itu. Ari pun menyuruh Putra untuk datang lebih dulu ke lokasi kejadian.
"Cinta maaf, Aku harus pergi sekarang. Karena ada hal yang sangat penting. Aku akan kesini lagi nanti." Ucap Ari kemudian pamit kepada Pak Pram.
Pak Pram mendekati Putrinya kemudian Cinta memeluk Pak Pram.
"Dia ada urusan, nanti Dia pasti kesini lagi." Pak Pram menenangkan Cinta.
__ADS_1
Di Jalan
Putra tiba di tempat kecelakaan Tasya. Ia keluar dari mobil dengan panik dan memecah keramaian.
"Tasya, ada apa ini?" Tanya Putra.
"Oh jadi ini keluarga Kamu, Mbak ini udah nabrak mobil Saya. Saya mau dia tanggung jawab." Seorang Pria tua marah kepada Putra.
"Biasa aja dong Pak, Saya pasti ganti kok. Daritadi Bapak marah terus." Protes Tasya.
"Saya minta maaf Pak, Saya yang akan bertanggungjawab atas semua kerusakan mobil Bapak ya. Tolong semuanya bisa bubar dan Kami akan membicarakan ini semua baik-baik." Pinta Putra.
Orang yang mengerumuni Tasya pun mulai pergi dan bubar. Putra mengajak Bapak itu ke tepi jalan.
"Ini sebenarnya ada apa?" Tanya Putra.
"Mbak Ini, Dia nabrak Saya Mas." Protes Bapak tersebut.
"Ya Bapak berhenti mendadak. Bukan salah Saya dong." Tasya membela dirinya dan merasa tidak salah.
"Ya tetap saja Kamu yang nabrak Saya." Protes Bapak tersebut.
"Udah-udah oke, Udah ya Tasya. Jangan memperpanjang masalah." Putra mencoba menenangkan Tasya.
Putra meraih dompetnya dan mengeluarkan uang Lima juta rupiah dan memberikan kepada Bapak yang ditabrak oleh Tasya.
"Saya minta maaf ya Pak, ini ada uang gantinya." Ucap Putra dan memberikan kartu namanya.
"Nah gini kan selesai, dari tadi ngajak ribut mulu." Ucap Bapak itu kemudian meninggalkan Putra dan Tasya.
Tasya menganga melihat kelakuan orang tersebut.
"Ih Kak Putra, itu kebanyakan. Lagian Aku emang gak salah. Bapak itu yang salah." Tasya masih tidak terima.
"Stttt udah cukup, lihat mobil Kamu jadi lecet. Kamu ada yang luka?" Tanya Putra memutar tubuh Tasya.
"Gak ada." Jawab Tasya.
"Yaudah, sekarang Kita pulang." Putra menarik tangan Tasya memasuki mobilnya.
"Ih Kak Putra itu mobil Aku gimana?" Protes Tasya.
"Udah tinggalin aja. Nanti biar diurus sama suruhan Aku." Jawab Putra.
bersambung.....
__ADS_1
bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?