
"Atas dasar apa Kamu mau menceraikan Rindu?" Tanya Raja.
"Aku menderita penyakit jantung Kak, Dokter bilang umur Aku gak lama lagi. Aku gak mau setelah Aku pergi Rindu menderita. Jadi Aku mau ketika Aku pergi nanti, Ada seseorang yang menjaga Dia." Ucap Ari.
"Jadi semua permintaan Kamu itu demi Rindu? Kamu udah cerita sama Dia?" Tanya Raja.
"Belum Kak, Aku sengaja tutupin penyakitmu dari Dia." Jawab Ari.
"Ari, pernikahan itu harus didasari dengan kejujuran. Ketika ada masalah, Kalian harus saling berbagi." Raja menasehati Ari.
"Terus sekarang Aku harus gimana Kak?" Ari meminta saran dari Raja.
"Kamu cerita semuanya ke Rindu, supaya Dia tahu." Raja menepuk-nepuk pundak Ari memberikan kekuatan.
"Kamu harus yakin, pasti ada jalan keluar untuk Kalian berdua." Ungkap Raja.
"Makasih Kak, karena udah kasih saran untuk Aku. Aku akan bicara sama Rindu setelah Kita pulang." Ucap Ari berdiri dari tempat duduknya.
"Aku permisi balik ke kamar Kak." Ucap Ari meninggalkan kamar Raja.
Di Kapal.
Malam telah tiba, Keluarga Prawira mengadakan pesta di tengah lautan. Mereka menikmati makanan disertai alunan musik.
"Hacihhhh" Rindu merasa kedinginan. Ari menghampirinya dan menyelimuti Rindu dengan sweater rajut Miliknya.
"Kalau Kamu kedinginan, lebih baik masuk ke kamar aja." Ucap Ari.
"Nggak lah Kak, gak enak sama Mama dan Ayah." Ucap Rindu.
"Udah gak apa-apa Mama sama Ayah pasti ngerti keadaan Kamu." Ucap Ari.
Ia menarik tangan Rindu dan meminta izin kepada kedua orang tuanya agar diizinkan untuk istirahat lebih dulu.
Di Kamar Ari.
Keluarga Prawira telah tiba di kediamannya, Ari dan Rindu kini berada di kamar. Ari berencana untuk memberitahu keadaannya kepada Rindu.
"Rindu, Aku mau ngomong serius sama Kamu." Ucap Ari.
"Emang Kak Ari mau ngomong apa?" Tanya Rindu.
Ari menggenggam kedua tangan Rindu dan menatap matanya.
"Aku mau jujur sama Kamu, kalau sebenarnya Aku saat ini sedang sakit." Ucap Ari.
"Sakit? Sakit apa Kak?" Tanya Rindu terkejut.
"Aku serahkan semua keputusan di tangan Kamu, Kamu boleh meminta pisah setelah tahu kabar ini." Ucap Ari.
__ADS_1
"Kak Ari Kok ngomong gitu sih." Protes Rindu.
"Umur Aku udah gak lama lagi Rindu, saat ini Aku sering sakit-sakitan. Kamu cuma akan buang-buang waktu Kamu untuk merawat dan menjaga Aku kalau Kamu terus sama Aku." Ucap Ari menundukkan wajahnya.
"Kak Ari pasti bercanda kan? Kak Ari mau bohongi Aku kan? Kak Ari ngerjain Aku." Rindu tak percaya dengan ucapan Ari.
"Aku serius Rindu, Dokter bilang kalau jantungku udah gak berfungsi dengan baik, Aku harus segera dapat donor jantung. Tapi hal itu bukan hal yang mudah." Ucap Ari dengan nada tinggi.
Rindu memeluk tubuh Ari erat, sangat erat.
"Kalau emang seperti itu, Aku gak mau pisah sama Kak Ari. Aku akan selalu temani Kak Ari. Kak Ari gak boleh merasa sendiri." Ucap Rindu menguatkan Ari.
"Kita temui Papa dan minta tolong sama Papa ya Kak, siapa tahu Papa bisa bantu Kita untuk mencarikan donor jantung buat Kak Ari." Rindu melepaskan pelukannya.
"Makasih ya Rindu." Ari memeluk Rindu karena terharu dengan keputusan Rindu yang ingin bertahan dan berjuang bersamanya.
Di Rumah Sakit
Ari dan Rindu telah tiba di rumah sakit, Mereka ingin bertemu dengan Pak Dimas. Mereka telah membuat janji dengan Dokter Dimas. Rindu membuka pintu ruangan Papanya.
Ia menggenggam tangan Ari dan Mereka mencium tangan Pak Dimas.
"Silahkan Duduk." Ucap Pak Dimas.
"Makasih ya Pa." Ucap Rindu.
"Ada apa ini? Sepasang Suami Istri berkonsultasi. Jangan-jangan Kamu udah isi kah Nak?" Tanya Pak Dimas.
"Begini Pa, Kita mau minta bantuan Papa untuk mencarikan pendonor Jantung." Ucap Ari yang membuat Pak Dimas terkejut.
"Memangnya siapa yang sakit?" Tanya Pak Dimas.
"Saya Pa." Jawab Ari.
"Kamu harus tetap optimis ya Ari, Papa akan bantu Kalian. Kalau ada pendonor Jantung yang tepat. Papa akan segera menghubungi Kalian." Jawab Pak Dimas.
"Terima Kasih Pa." Rindu berdiri kemudian memeluk Papanya itu.
"Iya-iya. Kamu itu kan Anak satu-satunya Papa, Kebahagiaan Kamu itu kebahagiaan Papa juga." Ucap Pak Dimas.
"Udah ah lepasin, malu tuh sama Suami Kamu." Goda Pak Dimas. Rindu pun melepaskan pelukannya.
"Yaudah Pa, kalau gitu Aku sama Kak Ari pamit pergi ya." Ucap Rindu.
"Iya, Kita pamit Pa." Ucap Ari.
Mereka mencium tangan Pak Dimas kemudian meninggalkan ruangan praktek Pak Dimas.
Di perjalanan pulang.
__ADS_1
Rindu melihat ke arah seberang jalan, Ia melihat Anak kecil yang meminta-minta di lampu merah tengah dimarahi oleh pengemudi motor. Rindu yang merasa Iba pun meminta Ari untuk menepi.
"Kak, boleh tepiin mobilnya sebentar?" Pinta Rindu.
Ari mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya, Akhirnya Ia memarkirkan mobilnya di halaman minimarket.
"Ada apa Rindu?" Tanya Ari.
"Tadi Aku lihat Anak kecil yang minta-minta dimarahi.kasihan banget Kak."Jawab Rindu kemudian membuka pintu mobilnya. Ia keluar dari mobilnya dan Ari pun mengikuti.
Rindu menemukan Anak itu tengah dimarahi. Rindu pun menghampirinya.
"Ada apa ini Pak? Kenapa marah-marah?" Tanya Rindu. Anak kecil itu bersembunyi di belakang tubuh Rindu.
"Anak ini lampu hijau tiba-tiba lari. Itukan membahayakan pengemudi. Lihat, Motor Saya sampai nabrak karena menghindar." Protes Bapak Itu.
"Tapi Dia kan masih kecil Pak, Dia gak tau apa-apa." Ucap Rindu.
"Kalau seperti ini, Aku harus minta tanggung jawab sama siapa? Siapa yang mau ganti rugi?" Ucap Bapak tersebut.
"Ini uang untuk ganti rugi, apa cukup?" Ari memberikan uang senilai 2 juta rupiah.
"Wah cukup-cukup terimakasih Nak." Ucap Bapak itu kemudian meninggalkan Ari dan juga Rindu.
"Terimakasih." Ucap Anak kecil itu.
"Rumah Kamu dimana Dek? Orang tua Kamu kemana? Kok Kamu minta-minta di jalan raya?" Tanya Rindu menyentuh kedua pundak Anak itu.
"Aku gak punya Ayah sama Ibu Kak, Aku terpaksa minta-minta untuk bantu Ibu panti supaya bisa membeli makanan untuk Anak-anak lain." Jawab Anak itu. Rindu menoleh kepada Ari.
"Nama Kamu siapa?" Tanya Rindu.
"Nama Aku Thalita." Jawab Anak itu.
"Thalita, boleh Kamu tunjukkin dimana tempat tinggal Kamu?" Tanya Ari.
Thalita terdiam, Rindu yang mengetahui ketakutan Thalita pun menenangkannya.
"Tenang aja, Kita gak akan culik Kamu kok. Kita gak ada niat jahat." Ucap Rindu dengan lembut.
Thalita pun menganggukkan kepalanya. Rindu kemudian menggandeng tangan Thalita menghampiri mobilnya.
"Thalita, Kamu boleh ambil barang-barang yang Kamu perlu di minimarket ini. Om yang akan bayar." Ucap Ari.
"Beneran Om?" Tanya Thalita, matanya berbinar-binar.
"Iya, ayo Kita masuk." Ari dan Rindu menggandeng tangan Thalita memasuki minimarket tempat Mereka memarkirkan mobilnya.
Bersambung…..
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?