Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 40 CANGGUNG


__ADS_3

Di Rumah sakit


Setelah menghabiskan makan siang, Ari menyempatkan diri untuk memeriksakan keadaannya yang beberapa waktu belakangan sering mengalami sakit.


Ia menemui dokter dan melakukan pemeriksaan, Dokter meminta Ari agar mencoba Tes MCU.


"Jadi gimana Dok?" Tanya Ari kepada dokter tersebut.


"Hasil laboratorium akan keluar paling sebentar besok. Jadi Pak Ari harap bersabar, begitu hasilnya keluar Kita akan segera menghubungi Bapak." Ucap Dokter tersebut kepada Ari.


"Baik Dok, kalo begitu Saya permisi." Ucap Ari menjabat tangan Dokter tersebut kemudian meninggalkan ruangan Dokter.


Saat hendak pulang, Ari bertemu dengan Dokter Dimas yang tak lain adalah Papa Mertuanya.


"Ari...." Panggil Pak Dimas.


Ari menoleh dan menghampiri Pak Dimas, Ia mencium tangan Pak Dimas.


"Papa." Sapa Ari.


"Kok Kamu ada disini? siapa yang sakit?" Tanya Pak Dimas.


"Kalo Aku bilang sama Papa kalo Aku sakit, Papa pasti khawatir." Batin Ari.


"Teman Ari Pa, tapi udah membaik keadaannya." Jawab Ari berbohong.


"Alhamdulillah kalau gitu." Ucap Pak Dimas.


"Oh iya Pa, Ari langsung pamit ya. Mau balik kerja." Ari meminta izin untuk kembali ke kantor.


"Oh iya, Kamu hati-hati ya." Ucap Pak Ari menepuk-nepuk pundak Ari dan tersenyum. Ari membalasnya dengan senyuman.


"Maafin Ari Pa, Ari terpaksa berbohong." Batin Ari merasa bersalah karena telah berbohong kepada Pak Dimas.


Di Ruang Kerja Ari (Di Rumah)


Ari tengah melihat beberapa file kerja di ruang kerjanya. Rindu masuk dengan membawa secangkir kopi untuk Ari.


"Kak Ari ini Aku bawain kopi buat Kak Ari." Rindu meletakkannya di atas meja.


"Makasih." Ucap Ari masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Oh iya Kak, tadi Papa cerita. Katanya ketemu sama Kak Ari di rumah sakit."Ungkap Rindu.


"Terus?" Tanya Ari datar.


"Siapa yang sakit Kak?" Tanya Rindu.


"Temen Aku, Kamu gak kenal sama Dia." Jawab Ari tanpa menoleh.


"Kenapa sih Kak Ari cuek banget. Bikin badmood." Batin Rindu.


"Yaudah kalo gitu, Rindu balik ke kamar ya Kak." Ucap Rindu kemudian meninggalkan ruangan kerja Ari.


Rindu meraih minumannya yang masih panas, tanpa sengaja Ia menjatuhkan gelas tersebut.

__ADS_1


"Prangggg" Suara gelas yang terjatuh.


Rindu kemudian membersihkan gelas yang bercecer menjadi serpihan-serpihan kaca. Tanpa sengaja pecahan kaca melukai tangannya.


"Awwwww" Rindu terkejut, tangannya pun terluka dan berdarah.


Ari yang mendengar suara gelas terjatuh merasa panik dan segera masuk ke dalam kamar. Ia menghampiri Rindu dan meraih tangan Rindu.


"Kamu gimana sih, tangan Kamu sampai terluka." Protes Ari.


"Aku gak sengaja Kak." Rindu membela diri.


Ari menghisap darah yang mengalir dari jemari Rindu. Ia menggendong tubuh Rindu dan membawanya ke kamar mandi.


"Kak Ari, turunin Aku. Aku bisa jalan sendiri." Protes Rindu.


"Udah deh, Kamu jangan banyak protes."Ucap Ari.


Setibanya di kamar mandi, Ari membersihkan luka Rindu. Rindu memperhatikan Ari dan mulai simpati. Setelah bersih, Ari kembali menggendong Rindu dan membawa Rindu ke ranjang. Ari mengambil kotak P3k dan mengobati tangan Rindu.


"Ari benar-benar fokus mengobati luka Rindu, Ia tidak menyadari bahwa Rindu tengah memperhatikannya.


"Kenapa sih Kak Ari sebentar-sebentar cuek, sebentar-sebentar baik lagi." Batin Rindu.


"Udah selesai, kalo lukanya di obati kan gak akan infeksi." Ucap Ari.


"Kak, Tadi Aku ketemu sama Kak Raja." Ucap Rindu.


"Dimana?" Tanya Ari mengembalikan kotak obatnya.


"Kok bisa ketemu?" Tanya Ari lagi.


"Iya, soalnya Kak Raja kerja sebagai dosen di kampusku." Jawab Rindu.


"Oh jadi sekarang Kak Raja jadi Dosen." Ucap Ari.


"Iya, tapi lusa Kak Raja harus pergi ke luar kota. Dia mau nitipin Arkan boleh?" Tanya Rindu meminta izin.


"Boleh." Jawab Ari.


"Makasih Kak Ari." Ucap Rindu sumringah. Ia behagia karena Ari mengizinkannya menjaga Arkan.


Di Kamar.


Esok telah menyapa, hari ini adalah akhir pekan. Ari dan Rindu telah berencana akan pergi lari pagi bersama mengelilingi komplek. Rindu telah siap dengan pakaiannya, Ari melakukan pemanasan.


"Sebelum olahraga, Kita itu harus pemanasan." Ari mengingatkan Rindu yang hanya duduk memperhatikan Ari. Ari pun menarik Rindu dan merentangkan kedua tangan Rindu. Ia meminta Rindu agar mengikuti gerakannya.


"Harus serius dong." Protes Ari membenarkan posisi Rindu. Rindu hampir terjatuh tetapi berhasil ditangkap oleh Ari.


"Tuh kan, Aku bilang juga apa. Serius makannya." Protes Ari.


"Iya-iya." Jawab Rindu.


Setelah melakukan pemanasan, Merekapun berjalan santai mengelilingi komplek.

__ADS_1


"Eh pengantin baru jogging Sama-sama nih. Baru kelihatan." Sapa salah seorang tetangga yang bernama Susi.


"Iya Bu, Suami Saya ini emang seneng banget sama pekerjaannya." Jawab Rindu ramah.


"Ya gak papa dong, gimana Nak udah isi belum?" Tanya Bu Susi.


"Belum Bu, doain aja ya." Jawab Rindu.


"Iya, Ibu doain, yaudah Ibu duluan ya." Ucap Bu Susi kemudian meninggalkan Rindu dan juga Ari.


"Emang Kamu gak takut ya kalo banyak yang berdoa terus diijabah." Tanya Ari.


"Kenapa harus takut? lagian Aku juga udah bersuami, jadi gak akan jadi fitnah." Jawab Rindu berlari meninggalkan Ari.


"Gak takut? apa maksud Dia, Dia udah siap hamil dan jadi Ibu?" Tanya Ari pada dirinya sendiri.


"Rindu.... tunggu." Ari berusaha mengejar Rindu.


Setelah merasa lelah, Mereka berhenti di sebuah warung untuk beristirahat dan membeli minuman. Rindu memberikan minuman botol kepada Ari.


"Nih Kak, Minum dulu." Ucap Rindu duduk di samping Ari.


"Makasih." Ari menerimanya kemudian meneguk minuman tersebut.


"Maksud omongan Kamu tadi apa?" Tanya Ari.


"Omongan yang mana Kak?" Tanya Rindu.


"Yang tadi waktu ketemu sama Bu Susi." Jawab Ari.


"Gawat, Kak Ari masih bahas perkataan tadi." Batin Rindu yang merasa malu dengan Ucapannya.


"Rindu, Kok Kamu malah diem si." Ari membuyarkan lamunan Rindu.


"Emang Kak Ari pengen punya Anak ya?" Tanya Rindu menyelidik.


"Kok Kamu jadi balik nanya sih?" Protes Ari.


"Ya habis Kak Ari sampai segitunya mikir omongan Aku tadi." Protes Rindu.


"Jadi Kamu mau Aku jawab kan? jelas iya. Bukannya menikah itu tujuannya untuk memiliki keturunan?" Tanya Ari mendekatkan wajahnya.


"Aduh Aku harus gimana nih? Kak Ari malah jujur lagi kalau Dia ternyata pengen punya keturunan." Batin Rindu, Ia mendorong tubuh Ari dan berdiri.


"Kamu mau kemana?" Tanya Ari menahan tangan Rindu agar tidak pergi.


"Ini udah siang Kak, lebih baik Kita segera pulang karena Kak Raja pasti sebentar lagi datang ke rumah." Ucap Rindu mencari alasan.


"Yaudah, Kita jalan santai aja ya. Udah mau sampai juga." Pinta Ari yang hanya dibalas oleh anggukan Rindu.


Kemudian Mereka berjalan santai menuju rumah, disepanjang perjalanan Mereka saling diam. Keduanya sama-sama canggung untuk mengobrol.


bersambung......


bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?

__ADS_1


__ADS_2