
Matahari mulai menampakkan sinarnya, Ari dan Rindu kini telah berada di tepi pantai, menikmati ombak yang tenang, dengan memandang Sunrise.
"Kak." Panggil Rindu.
"Hmmm" Jawab Ari singkat.
"Kakak gak minat main air apa?" Tanya Rindu yang sebenarnya ingin bermain air.
"Gak." Jawab Ari masih memandang Matahari yang baru terbit.
"Yaudah kalo gitu, biar Rindu sendiri yang berenang, gak seru banget. Liburan tapi gak menikmati." Ucap Rindu perlahan melangkah menjauh dari Ari.
Ari duduk di tepi pantai sembari mengawasi Istri kecilnya.
"Dasar, liburan kok cuma gitu aja." Protes Rindu yang melirik Suaminya yang benar-benar dingin itu.
Ia melihat seorang Anak kecil yang berenang dan tenggelam, Ayahnya yang mengawasi bergegas berlari dan menolongnya.
"Wah, Ide bagus." Ucap Rindu.
Ia kembali melirik Ari yang masih mengawasinya, dengan ide nakalnya Ia kemudian berpura-pura menenggelamkan dirinya.
"Tolongggggg" Teriaknya seolah Ia benar-benar tenggelam.
Ari yang mengawasinya pun berlari dan menolong Rindu. Rindu menutup matanya, seolah Dia benar-benar tenggelam. Dalam hati Rindu tertawa melihat wajah Ari yang begitu cemas. Ari membopong tubuh Rindu dan membawanya ke tepi pantai.
"Rindu, bangun Rindu..!" Ari menepuk-nepuk pipi Istrinya pelan.
"Haha rasain Mr Jutek, emang enak Aku kerjain. Panik gak?" Batin Rindu.
"Rindu, buka mata Kamu Rindu!" Ari masih panik dan berusaha membangunkan Rindu. Rindu tak kuasa menahan tawa melihat Suaminya yang begitu khawatir karena tipuannya.
Ari merasa sangat kecewa melihat Rindu yang membuka matanya dan tertawa.
"Cieee Kak Ari, Panik ya?" Tanya Rindu tertawa puas.
"Jadi Kamu gak beneran tenggelam, Kamu bohongi Aku?" Tanya Ari.
"Ya maaf habis Kak Ari gak mau temenin Aku main sih." Rindu mulai merasa takut melihat wajah garang Ari.
"Kamu kira ini lucu? sama sekali gak lucu. Kamu tahu gimana paniknya Aku. Hal seperti itu seharusnya nggak Kamu buat bercanda, bahaya!!" Protes Ari.
Ia benar-benar merasa kesal atas perbuatan Rindu, Ia berdiri dan meninggalkan Rindu.
__ADS_1
"Kak, jangan marah dong! Masak gitu aja marah." Rindu mengekor di belakang Ari.
"Masalah gitu aja Kamu bilang? Tenggelam itu bukan hal sepele Rindu, jangan kayak Anak kecil. Sekarang Kamu adalah Istri Aku, keselamatan Kamu adalah tanggungjawab Aku." Protes Ari kemudian meninggalkan Rindu.
"Kak Ari, maafin Rindu dong."Rindu masih berusaha mengejar Ari.
Setibanya di kamar, Rindu bergegas mengganti pakaiannya. Ia tahu, sepertinya Ari masih marah terhadapnya. Ia tidak menemukan Ari di kamar.
"Kak Ari kemana ya? kok gak ada di kamar?" Ucap Rindu mencoba melihat jendela. Tetapi Ia tidak menemukan Ari.
"Sebel banget deh, Padahal kan pengen jalan-jalan. Tapi Kak Ari malah gak ada. Kalo Kau pergi, nanti pasti Kak Ari marah kalo Aku gak minta izin." Batin Rindu.
Ia benar-benar merasa bosan, kemudian Ia mengirim pesan kepada Ari.
"Kak, Rindu pergi jalan-jalan dulu ya. Rindu tahu Kak Ari masih marah sama Rindu. Rindu kirim pesan ini supaya Kak Ari gak khawatir." Rindu menekan tombol kirim.
"Sekarang waktunya untuk pergi." Ucap Rindu meraih tas selempang miliknya. Ia bersemangat keluar dari kamar dan berkeliling.
Tiba-tiba saat di perjalanan Ia melihat seorang Wanita yang tengah kesakitan. Rindu pun menghampirinya.
"Mbak, Mbak baik-baik aja?" Tanya Rindu.
Wanita itu memegangi kepalanya sepertinya Ia tengah sakit. Rindu menuntunnya untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Minum dulu Mbak." Ucap Rindu memberikan botol minumnya yang baru saja Ia beli.
"Makasih ya, Kamu udah tolong Saya." Ucap Wanita itu tersenyum kepada Rindu, sepertinya Wanita itu lebih tua darinya. Wajahnya nampak pucat karena sakit.
"Iya, sama-sama. Mbak kalo sakit lebih baik ke rumah sakit aja. Biar Saya antar." Tawar Rindu.
Wanita itu menggeleng, menolak tawaran dari Rindu.
"Gak usah, Saya gak papa kok." Ucap Wanita tersebut nampak lebih bugar.
"Oh iya, Nama Saya Cinta. Nama Kamu siapa?" Cinta mengulurkan tangannya.
"Nama Aku Rindu, senang bisa kenal sama Kak Cinta." Ucap Rindu menjabat tangan Cinta dan tersenyum.
"Emangnya Kak Cinta mau kemana? Sakit kok pergi sendirian?" Tanya Rindu yang mulai nyaman dengan Cinta.
"Aku gak tau mau kemana." Jawab Cinta. Pandangannya kosong.
"Kok Kak Cinta ngomong gitu." Protes Rindu.
__ADS_1
"Aku bener-bener bingung, dari kecil Aku menderita sakit parah. Sejak kecil Aku selalu berurusan dengan dokter. Aku udah benar-benar lelah. Hingga akhirnya tadi dokter bilang bahwa usia Aku divonis mungkin gak akan lama lagi." Ucap Cinta meneteskan air matanya. Rindu tersentuh mendengar cerita Cinta.
"Maaf ya, Aku malah jadi curhat sama Kamu. Padahal Kita baru aja kenal." Cinta mengusap air matanya.
"Gak papa kok Kak, Kak Cinta gak boleh kehilangan semangat ya! Kakak pasti bisa sembuh. Kebetulan Papa Aku itu dokter, Kakak bisa coba konsultasi sama Papa." Ucap Rindu mencoba mencari kartu nama Pak Dimas yang ada di dompetnya. Ia memberikan kartu itu kepada Cinta.
"Ini Kak, Kakak bisa coba konsultasi dan hubungi Papa Saya." Ucap Rindu.
"Terimakasih ya Rindu." Ucap Cinta menerima kartu itu dan membacanya.
"Alamat kota ini? Ini adalah tempat dimana Aku bertemu dengan Ari. Atau mungkin ini memang jalan Tuhan, sebelum Aku pergi mungkin Aku harus menepati janji Aku untuk kembali." Batin Cinta mengingat masa lalunya. Air matanya mengalir mengingat hal itu, selama ini Ia selalu menjaga hati untuk teman masa kecilnya itu.
"Kak Cinta, Kakak kenapa? Kok Kakak nangis?" Tanya Rindu.
"Gak, Aku gak papa. Makasih ya, Aku akan bilang sama Ayah Aku agar Aku bisa datang menemui Papa Kamu untuk berobat." Ucap Cinta menyentuh pundak Rindu dan tersenyum.
"Aku tunggu kunjungan Kakak." Jawab Rindu tersenyum ramah.
"Oh iya Rindu, boleh Aku minta nomer Kamu? sepertinya Kamu asik kalo dijadiin teman." Pinta Cinta memberikan ponselnya kepada Rindu.
"Boleh Kak, biar Rindu simpan nomer Rindu ya. Kalo Kakak pengen berbagi cerita sama Aku, Aku bersedia dengerin kok Kak." Rindu mengembalikan ponsel Cinta.
"Makasih Rindu. Aku bersyukur dipertemukan sama Kamu." Ucap Cinta.
"Kenapa sama Rindu Aku bisa seakrab ini? padahal biasanya Aku sulit menerima orang baru." Cinta bertanya kepada dirinya sendiri.
Tiba-tiba telepon Rindu berbunyi, tertulis nama Mr Jutek tengah menghubunginya. Cinta tersenyum melihat itu.
"Kak, sebentar ya Aku angkat dulu." Ucap Rindu kemudian mengangkat telepon dari Ari.
"Halo, Kamu dimana sekarang? kirim alamat sekarang." Titah Ari.
"Iya Aku kirim sekarang." Ucap Rindu.
"Oke, jangan beranjak dari sana." Titah Ari kemudian menutup teleponnya.
"Dari siapa? sepertinya khawatir banget sama Kamu. Namanya juga spesial di kontak Kamu." Tanya Cinta.
"Dia Suami Aku Kak, orangnya emang jutek banget. Kayaknya Dia mau kesini deh." Jawab Rindu.
"Wah beruntung banget Dia dapetin Kamu, Aku jadi penasaran laki-laki beruntung mana yang bisa mendapatkan wanita seperti Kamu." Puji Cinta.
"Kak Cinta bisa aja." Rindu menjadi salah tingkah mendengar ucapan Cinta.
__ADS_1
bersambung......
Bagaimana kelanjutan kisah dari Ari dan Rindu? Bagaimana jika mereka bertiga bertemu?