Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 21 HUKUMAN UNTUK RINDU


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Ari dan juga Rindu kembali ke kamarnya. Rindu membuka lemari pakaian dan bertanya kepada Ari.


"Kakak mau bawa baju yang mana? biar Aku packing." Tanya Rindu memilah-milah baju Ari yang tertata rapi.


"Bawa kaos aja, Lagian Kita kan mau liburan masak pake kemeja." Jawab Ari tanpa melihat Rindu.


Rindu mengeluarkan Baju Ari dan melihatnya satu persatu.


"Jangan dikeluarin semuanya, bawa secukupnya aja." Protes Ari.


"Iya Aku tau, Aku pilih baju yang kayak anak muda. Biar nanti kalo Aku jalan sama kakak gak dikira Om Aku."Rindu tersenyum mengejek.


"Terserah Kamu deh." Jawab Ari membuka majalah yang ada di mejanya.


Ponsel Rindu berbunyi, Rindu pun berlari mengambil ponselnya, saat melihat Mamanya yang menelepon Ia bersemangat sekali dan segera mengangkat teleponnya.


"Halo Mama, Rindu kangen banget sama Mama. Mama sama Papa gimana kabarnya? baik kan?" Rindu langsung mengeluarkan isi hatinya.


Ari memperhatikan Rindu yang tengah fokus dengan ponselnya.


"Iya, Mama juga kangen sama Kamu. Kamu juga disana baik kan?" Tanya Bu Lia.


"Rindu baik-baik aja Ma, Keluarga Kak Ari memperlakukan Rindu dengan baik." Ucap Rindu .


"Mama seneng dengernya." Ucap Bu Lia.


"Oh iya Ma, rencananya Rindu sama Kak Ari nanti mau bulan madu selama ya 4-5 hari. Boleh kan Ma?" Tanya Rindu, terdengar suara tawa dari Bu Lia.


"Ya boleh dong Sayang, Kamu gak perlu minta izin dari Mama. Sekarang yang berhak atas Kamu itu Ari." Jawab Bu Lia menasihati Rindu. Rindu pun melirik Suaminya yang terlihat sibuk dengan majalah.


"Iya Ma." Jawab Rindu menuruti pesan dari Mamanya, Mereka terus berbincang melepaskan rasa rindu. Walaupun sebenarnya Mereka baru berpisah selama semalam.


Di halaman rumah.


Keluarga Pak Raka berkumpul di halaman rumah karena Ari dan Rindu akan pergi berbulan madu. Ari dan Rindu mencium tangan Pak Raka, Bu Kesya, Nenek Lidya dan Kakek Wira.


"Kalian hati-hati ya, semoga perjalanan Kalian ini membuahkan hasil." Harap Bu Kesya.


"Iya, semoga setelah pulang langsung deh ada kabar gembira, Nenek segera dapat Cicit." Doa Nenek Lidya.


Rindu menelan salivanya mendengar doa dari Mereka, Ia menjadi bingung harus bagaimana.


"Ini Rindu, sebelum Kamu pergi Kamu minum jamu ini dulu." Nenek Lidya memberikan sebotol kecil minuman dengan warna cokelat.


"Itu apa Nek?" Tanya Rindu.

__ADS_1


"Udah minum aja." Ucap Nenek Lidya membuka tutup botol dan menegukkan kepada Rindu, dengan sangat terpaksa Rindu pun meminumnya. Rindu seperti hendak memuntahkan jamu itu, tetapi Nenek Lidya melarangnya.


"Jangan dimuntahin, harus ditelan." Titah Nenek Lidya.


Ari memegang kedua siku Rindu yang tengah menahan rasa mualnya.


"Kalau Kamu gak suka muntahan aja." Titah Ari dibalas gelengan oleh Rindu.


"Nek, jangan paksa Rindu dong. Kasihan." Ucap Ari yang kasihan melihat Rindu.


"Glek" Rindu menelan jamu itu.


"Gak papa Kak, Rindu gak papa." Jawab Rindu.


"Emang itu apa sih Nek?" Tanya Tasya yang penasaran.


"Itu jamu penyubur kandungan. Supaya langsung jadi baby." Ucap Nenek Lidya tertawa bahagia.


Rindu dan Ari membelalakkan matanya karena terkejut. Rindu pun dengan reflek menyentuh perutnya.


"Nenek jangan terlalu berlebihan gitu dong, kalo emang udah rezekinya pasti dikasih kok." Protes Ari.


"Iya, udah buruan sana pergi, eh sebentar Nenek ada keperluan sama Rindu sebentar." Nenek Lidya menarik tangan Rindu menjauh dari Mereka.


Nenek Lidya memberikan sebotol minuman kepada Rindu.


"Iya Nek." Jawab Rindu menerima botol itu dan menyimpannya.


Di perjalanan


Ari dan Rindu saling diam didalam mobil, tiba-tiba saja mata Rindu terasa berat. Ia menguap berulangkali. Ia tertidur dan hendak terbentur jendela. Ari dengan sigap menghalau kepala Rindu dan menyandarkan Rindu di bahunya. Ari menatap wajah Rindu yang kini telah menjadi Istrinya.


Setelah melalui perjalanan yang lama, akhirnya Rindu terbangun dan menguap.


"Udah mau sampai ya Kak?" Tanya Rindu polos.


"Sebentar lagi." Jawa Ari singkat.


Akhirnya Mereka pun tiba, hari telah mulai gelap. Mereka melaksanakan shalat kemudian bergegas menuju kamar.


"Pokoknya besok Kak Ari harus temenin Rindu ke pantai, terus ajak Rindu jalan-jalan." Pinta Rindu.


"Hmmm" Jawab Ari Singkat. Ia menarik koper milik Mereka dan membuka pintu kamar.


"Akhirnya bisa istirahat juga." Rindu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Akhirnya bisa istirahat? Kamu lupa ya? tadi di mobil Kamu istirahat atau ngapain?" Ledek Ari.


"Udahlah Kak, lebih baik sekarang Kita istirahat supaya besok bisa bangun pagi dan lihat sunrise." Harap Rindu, Ia meletakkan guling ditengah ranjang.


"Ini batasan, Kakak gak boleh lewati ini." Titah Rindu.


"Kamu kali yang lewati." Ucap Ari.


"Ih enak aja. Kakak tu." Rindu kemudian menutup tubuhnya dengan selimut dan tertidur. Ari tersenyum melihat tingkah Rindu. Ia kemudian tidur menjauh dari Rindu.


Mereka tidur lebih awal karena rasa lelah masih menyelimuti. Hingga pagi pun tiba, Ari membuka matanya, tangan Rindu melingkar di perutnya.


"Ehemmmm" Ari sengaja berdehem dengan keras agar Rindu tersadar. Rindu perlahan membuka matanya. Ia terkejut ketika Ia bangun dengan posisi memeluk Ari.


"Astaghfirullah." Rindu bergegas duduk.


"Katanya jangan lewati batas, tapi malah Kamu yang lewati. Peluk-peluk lagi." Protes Ari.


"Ya namanya juga tidur kan gak sadar." Protes Rindu, kini pipinya memerah karena malu.


"Alesan, Jangan-jangan Kamu sengaja ya? Atau Kamu pengen kabulin permintaan Nenek." Ari mendekatkan wajahnya ke wajah Rindu, sengaja menggoda Istri kecilnya itu.


"Ihhhhh Kak Ariiiiii kenapa sih Kakak itu nyebelin banget." Rindu mendorong tubuh Ari menjauh, Ia kemudian bangkit dan berlari ke kamar mandi. Ari tersenyum melihat Rindu yang malu-malu.


Rindu menutup pintu kamar mandi dengan keras, Ia bersandar pada pintu kamar mandi sembari menyentuh jantungnya yang berdetak kencang.


"Tenang Rindu tenang, kenapa Aku jadi deg-degan gini sih. Ini gak beres." Ucap Rindu berusaha menenangkan diri.


"Tok...Tok....tok....." Ari mengetuk pintu kamar mandi.


"Rindu, buruan dong nanti Kita telat subuhan lho." Ari mengingatkan Rindu agar segera keluar dari kamar mandi.


"Iya, sabar..." Jawab Rindu kemudian mengambil wudhu.


Setelah melaksanakan shalat, Ari pun meminta Rindu untuk memasak sarapan untuknya.


"Karena Kamu udah ngelanggar batas, Jadi Kamu harus dapat hukuman." Ucap Ari.


"Kak Ari kenapa masih bahas itu terus sih." Protes Rindu.


"Kamu dihukum untuk masak sarapan buat Aku. Gimana? deall?" Tanya Ari.


"Iya, tinggal ngomong minta masakin aja susah." Umpat Rindu. Ari melipat sajadahnya dan mengganti pakaiannya.


Merekapun bersiap agar bisa melihat matahari terbit.

__ADS_1


bersambung.......


bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?


__ADS_2