
"Lepasin Aku." Teriak Rindu berusaha melepaskan diri. Tetapi Ia tidak sebanding dengan lawannya.
"Mereka bener-bener kuat, Aku bahkan gak bisa melepaskan diri." Batin Rindu. Ia melihat Putra yang pingsan terkapar di tepi jalan.
"Kak Putra bangun Kak..." Teriak Rindu.
Putra membuka matanya, tetapi Ia sudah tidak berdaya. Ia hanya bisa melihat Rindu dibawa oleh sekelompok orang berpakaian hitam masuk kedalam mobil dan dibawa entah kemana.
Di Proyek
"Haloo Rindu, suara apa itu? Halo jawab Aku." Ari khawatir dengan keadaan Rindu yang tiba-tiba meneleponnya dan meminta bantuan.
"Ada apa sebenernya? kenapa Dia minta tolong." Ucap Ari berfikir. Kemudian Ia menghubungi Putra untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa dengan Rindu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Putra mengangkat telepon dari Ari.
"Halo Putra, Kamu dimana sekarang? Rindu ada sama Kamu kan?" Tanya Ari khawatir.
"Halo Ri, Maafin Aku. Aku gak bisa jaga Rindu dengan baik." Ucap Putra menyesal.
"Maksud Kamu apa Put?" Ari terkejut mendengar perkataan Putra.
"Rindu Ri, Dia dibawa sama segerombolan orang dengan pakaian serba hitam." Ucap Putra kemudian.
"Apa? Kenapa bisa? Kamu dimana sekarang?" Tanya Ari cemas dengan keadaan Rindu.
"Aku kirimi alamat Aku sekarang." Jawab Putra kemudian mengirimkan lokasinya saat ini.
"Oke, Aku kesana sekarang." Ucap Ari bergegas meninggalkan tempat proyek dan langsung mendatangi lokasi Putra.
Saat tiba di tempat Pengeroyokan, Ari melihat Putra yang berada di tepi jalan dengan menunduk, sepertinya Ia benar-benar merasa bersalah. Ari berlari menghampiri Putra dan menanyakan keberadaan Rindu.
"Putra, apa yang terjadi? Rindu sekarang dimana?" Tanya Ari kepada Putra.
"Rindu dibawa Ri, Dia diculik." Jawab Putra.
"Apa? siapa yang berani culik Rindu." Ucap Ari geram.
"Maafin Aku Ri, Aku gak bisa jaga Dia dengan baik." Sesal Putra.
Ari kemudian melihat jam Tangannya, Jam tangannya memang Ia sambungkan dengan kalung Rindu, sehingga Ari bisa mengetahui keberadaan Rindu.
"Kamu panggil polisi, Aku akan selametin Rindu. Nanti Aku kirim alamatnya." Titah Ari bergegas masuk kembali ke dalam mobil. Ia mengikuti arah yang ditunjukkan oleh jam tangannya.
"Untung aja Aku udah antisipasi dengan kasih GPS di kalung Rindu." Ucap Ari pelan.
"Semoga aja Kamu masih pake kalung itu, dan Aku bisa temuin Kamu. Aku gak akan bisa maafin diri Aku sendiri kalau sampai Kamu kenapa-napa. Kamu adalah amanat buat Aku." Batin Ari melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Di Sebuah Rumah mewah.
Mobil mewah yang membawa Rindu berhenti di sebuah rumah mewah. Rindu dibawa turun dengan paksa oleh para penjahat itu.
"Lepasin Aku, Mau Kalian apa sih? Aku gak kenal sama Kalian tapi kenapa Kalian tangkap Aku?" Protes Rindu memberontak.
"Ayo, Kita bawa langsung ke hadapan Boss." Ucap salah seorang dari penjahat itu.
"Siapa Mereka? Kenapa Mereka bawa Aku?" Batin Rindu.
Rindu dibawa masuk ke dalam rumah mewah itu. Ia didorong hingga terjatuh di hadapan Alex.
"Ini Dia Boss, Wanita spesial milik Ari." Ucap Salah seorang penjahat itu.
"Kerja bagus, Kalian boleh keluar." Ucap Pria yang dipanggil Boss itu.
Segerombolan orang itupun keluar. Alex menghampiri Rindu dan menatap wajah cantik Rindu dengan tatapan terpesona.
"Beruntung juga Ari mendapatkan Wanita seperti Kamu." Ucap Alex tersenyum licik menatap Rindu.
"Siapa Kamu? Kenapa Kamu tangkap Aku?" Tanya Rindu dengan nada tinggi.
"Sabar dong cantik, Aku cuma mau kasih pelajaran sama Ari. Karena Dia udah mengalahkan Aku jadi Aku mau kasih Dia sedikit pelajaran." Ucap Alex tertawa penuh kemenangan.
"Aku jadi berfikir, bagaimana kalo Ari harus menjalani rumah tangga dengan wanita yang pernah bermain sama musuhnya. Pasti Dia akan benci sama Kamu." Ucap Alex. Dia tertawa lepas.
"Apa maksud Kamu, jangan harap Kamu bisa lakuin itu." Protes Rindu marah.
"Tapi Kamu sekarang gak bisa minta bantuan siapapun, Kamu gak berdaya cantik." Ledek Alex.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di halaman rumah.
"Jedarrr" Ari yang memiliki kemampuan beladiri berhasil mendobrak pintu tersebut.
Ari mendorong tubuh Alex dan memukulinya berkali-kali.
"Kak Ari." Ucap Rindu pelan, Ia merasa lega karena Ari datang untuk menyelamatkannya.
Ari menarik kerah baju Alex dan memperingatkan Alex untuk tidak melukai Rindu.
"Kalo Kamu ada masalah sama Aku, jangan bawa-bawa orang lain." Bentak Ari melemparkan tubuh Alex hingga membentur ke dinding.
"Kak Ari." Rindu berdiri dan memeluk tubuh Ari erat.
Ari mencoba menenangkan Rindu dengan memberikan pelukan hangatnya.
__ADS_1
"Udah gak ada apa-apa, jangan takut." Ucap Ari.
"Kurang ajar, berani-beraninya Dia hajar Aku." Batin Alex menghampiri laci lemarinya. Ia merogoh sebuah pistol dan hendak menembakkannya ke arah Rindu.
"Biar Kamu tahu gimana rasanya kehilangan Ari." Ucap Alex pelan dan mengarahkan pistolnya ke arah Rindu.
"Dorrrrrr" Alex melepaskan pelurunya.
Ari yang melihat itupun menarik tubuh Rindu, peluru itu melesat dan mengenai tubuh Ari.
Rindu membuka matanya, Ia melihat Cairan merah yang mengalir membasahi kemeja putih Ari.
"Kak Ari, Lengan Kak Ari berdarah." Ucap Rindu panik melihat darah yang terus mengalir dari lengan Suaminya.
"Angkat tangan." Putra datang bersama beberapa polisi yang menangkap para penjahat termasuk Alex.
"Kak Ari harus bertahan ya." Ucap Rindu menangis.
"Rindu, Aku gak papa. Cuma lengan yang kena Kamu gak usah khawatir." Ari mengusap air mata yang mengalir di wajah Istrinya.
"Gak kenapa-napa gimana sih Kak, lengan Kak Ari berdarah. Kita harus segera bawa Kak Ari ke rumah sakit." Rindu memerintahkan Putra.
Mereka pun berjalan ke mobil, Ari mulai merasa pusing karena kehilangan banyak darah.
"Kak Ari, Kakak harus tetep sadar. Kakak sabar ya, sebentar lagi Kita sampai." Ucap Rindu.
Ari perlahan menutup matanya, Ia pingsan karena kehabisan banyak darah.
"Kak Ari bangun dong Kak." Rindu mengguncang tubuh Ari pelan.
"Kak Putra gimana ini? Kak Ari pingsan." Rindu kembali merasa khawatir.
"Tenang Rindu, sebentar lagi Kita sampai." Jawab Putra melajukan kendaraannya lebih cepat agar segera sampai di rumah sakit dan Ari segera ditangani.
"Lagi-lagi Kak Ari selametin Aku. Aku gak tau gimana jadinya tadi kalo Kak Ari gak Dateng selametin Aku." Batin Rindu.
Setelah tiba di rumah sakit, Para perawat bergegas membawa Ari masuk ke ruang UGD agar bisa segera ditangani.
Sebelum memasuki ruang UGD, Rindu menghampiri Ari dan menggenggam tangan Ari erat.
"Aku tahu Kak Ari orang yang kuat, Kak Ari pasti baik-baik aja." Ucap Rindu kemudian mengecup kening Suaminya untuk pertama kalinya. Air matanya menetes membasahi wajah Ari.
bersambung.....
bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?
__ADS_1