
Di Kamar.
Ari mengobati tangan Rindu, Ia merasa terganggu dengan mulut Rindu yang terus saja cemberut. Ia menyadari bahwa Rindu masih marah kepadanya.
"Tadi bilang udah maafin." Protes Ari. Rindu masih tidak menjawab Ari.
"Kenapa sih? Cemberut terus. Aku udah bilang maaf." Ucap Ari.
"Yaudah sih Kak, Aku juga udah bilang maafin Kakak kan." Jawab Rindu.
"Oke, biar Kamu gak marah. Gimana kalo nanti malam Kita tidur di rumah Kamu." Bujuk Ari.
"Beneran?" Tanya Rindu mulai tertarik.
"Iya." Jawab Ari.
"Oke kalau gitu." Rindu tersenyum senang dan meraih ponselnya untuk menghubungi Mamanya, tetapi Ari menahannya.
"Rindu, Aku gak pernah melarang Kamu untuk pulang kerumah Mama. Kenapa Kamu seolah harus Aku ngomong Kamu baru kesana?" Tanya Ari.
"Ya karena Aku menghargai Kak Ari." Jawab Rindu.
"Lain kali jangan, kalau Kamu pengen main ke rumah Mama main aja." Protes Ari.
"Oke, siap." Jawab Rindu yang akhirnya tersenyum kepada Ari.
Di Kantor
Putra menyapa Ari dan memberitahukan bahwa Mereka harus pergi ke luar kota dalam waktu dekat.
"Ada kabar baik apa hari ini?" Tanya Ari sembari memeriksa beberapa dokumen.
"Kabar baik, ada client dari luar kota yang ingin mengajukan kerja sama. Tapi Kita harus ke kotanya."Lapor Putra.
"Yaudah, Kamu atur kapan Kita bisa ketemu." Titah Ari.
"Dari pihak sana meminta secepatnya." Jawab Putra.
"Secepatnya itu tepatnya kapan?" Tanya Ari.
"Lusa gimana?" Tanya Putra meminta persetujuan Ari.
"Oke, Kamu atur lusa ya." Jawab Ari menyetujui saran dari Putra.
"Oke siap, kalo gitu Aku coba hubungi pihak sana dulu." Putra pamit kemudian meninggalkan ruangan Ari.
Di Rumah Ari.
__ADS_1
Rindu telah menunggu kedatangan Ari, Ia telah bersiap untuk bertemu kedua orangtuanya. Ari masuk ke kamar dan langsung disambut oleh Rindu.
"Lihat Kak, Aku udah siap. Kak Ari gak lupa kan sama omongan tadi pagi?" Tanya Rindu.
"Iya sabar, Aku mandi dan siap-siap dulu." Ari mencubit pipi Rindu kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rindu menunggu Ari hingga akhirnya Mereka siap. Ari telah pamit kepada orangtuanya Mereka pun bergegas menuju kediaman Pak Dimas.
Di Perjalanan
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, Rindu melihat pasar malam dan Ia menunjukkannya kepada Ari.
"Wah Kak, lihat deh ada pasar malam." Rindu menunjuk pasar malam.
Tiba-tiba Ari menghentikan mobilnya, seolah mengerti dengan apa yang diinginkan Rindu.
"Loh Kak, kok berhenti?" Tanya Rindu.
"Kamu mau lihat pasar malam atau nggak? Ini mumpung berhenti." Tanya Ari.
"Sebenarnya Aku pengen si Kak, tapi kalo Kak Ari bolehin." Jawab Rindu. Ari membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil. Ia membuka pintu mobil Rindu dan mengulurkan tangannya.
"Ayo Kita lihat-lihat sebentar aja." Ajak Ari. Rindu pun menggandeng tangan Ari. Mereka memulai dengan membeli Arum manis, kemudian mencoba beberapa permainan.
Di tengah kerumunan, Mereka melihat sepasang Suami-istri yang tengah meminta-minta bantuan. Sang Wanita tua terus menggandeng Suaminya yang terlihat begitu kesakitan.
"Ayo Kita coba kesana." Ari mengajak Rindu menghampiri sepasang Suami-istri itu.
"Nek, itu Kakeknya kenapa? Kok kayak kesakitan gitu?" Tanya Rindu dengan penuh perhatian. Nenek itu menitikkan air mata, Ia menceritakan keadaan Suaminya yang sejak lama hanya hidup dengan satu ginjal dan telah lama sakit. Nenek itu bercerita tentang kehidupan Mereka. Walaupun Suaminya sakit, Nenek tersebut tetap setia merawat, menjaga Suaminya yang sakit. Melihat hal itu Rindu menjadi ikut meneteskan air matanya, berbeda dengan Ari yang justru teringat akan sakitnya dan membayangkan sesuatu yang buruk.
"Bagaimana kalo suatu saat nanti sakitku semakin parah? Apa Rindu akan setia merawat dan menjaga Aku seperti Nenek ini?" Pikir Ari.
"Tapi, Aku gak mau merepotkan Rindu, Aku gak mau waktu Dia terbuang cuma gara-gara merawat Aku." Batin Ari.
"Kak Ari, Kakak kenapa? Kok malah ngelamun?" Rindu membuyarkan pikiran Ari.
"Nggak papa, cuma terharu aja." Jawab Ari.
"Emang Kak Ari bisa tersentuh hatinya?" Umpat Rindu pelan agar tidak terdengar.
"Ngomong apa Kamu?" Ari mendengar apa yang diucapkan oleh Rindu.
"Gak Papa, yaudah Kak, pulang yuk." Ajak Rindu. Ari membuka dompetnya dan memberikan uang senilai satu juta kepada Nenek tersebut.
"Ini ada uang buat Nenek, dan ini kartu nama Saya kalo mungkin suatu saat Nenek butuh bantuan. Nenek bisa bangunin Saya."
Nenek tersebut merasa terharu dengan sikap Ari. Awalnya Ia menolak bantuan tetapi akhirnya mau.
__ADS_1
Setelah puas dengan permainan yang ada di pasar malam, Rindu pun mengajak Ari agar segera pulang kerumah.
Di Rumah.
Setelah tiba di rumah Rindu, Mereka langsung memasuki kamar. Rindu mengajak Ari untuk melihat bintang yang nampak malam itu.
"Kayaknya Kamu seneng banget ya lihat bintang?" Tanya Ari.
"Bener banget." Jawab Rindu memandang langit.
"Rindu, kalau semisal terjadi hal yang sama seperti Nenek Kakek tadi, Kamu akan gimana?" Tanya Ari.
Rindu menoleh dan menatap wajah Ari.
"Kok Kak Ari tanya gitu sih? Kak Ari gak lagi sakit kan? Kak Ari baik-baik aja kan?" Rindu menyentuh dahi Suaminya, memastikan bahwa Ari tidak sedang sakit.
"Aku gak papa kok, cuma tanya aja." Ari menenangkan Rindu.
"Kalo gitu Kak Ari jangan tanya gitu, jangan berfikir buruk." Protes Rindu.
"Maaf Rindu, Aku belum bisa kasih tahu Kamu tentang penyakitku. Aku bingung harus jujur atau menyembunyikan semua ini." Batin Ari.
"Oh iya Kak, Aku nginep disini sampai lusa boleh?" Tanya Rindu.
"Boleh, oh iya sekalian Aku belum kasih tahu Kamu kalau lusa Aku harus pergi keluar kota." Ucap Ari.
"Keluar kota? Kemana? Ikut dong." Rindu menarik-narik tangan Ari.
"Gak, Kamu gak usah ikut. Aku kan pergi buat kerja. Kapan-kapan Aku ajak Kamu jalan-jalan keluar kota." Tolak Ari.
"Iya tau buat kerja, emang kenapa si kalo Aku ikut." Protes Rindu.
"Gak boleh, Kamu lupa ya? Dulu Kamu hampir celaka gara-gara ikut keluar kota." Protes Ari mengingatkan.
"Iya sih, yaudah deh kalo gitu. Tapi janji ya Kak Ari bakal bawa Aku jalan-jalan keluar kota." Rindu meminta Ari berjanji.
"Aku gak bisa janji, karena belum tentu Aku bisa penuhi janji itu." Tolak Ari.
"Kenapa Kak Ari bilang gitu? Sebenarnya Kak Ari kenapa?" Batin Rindu.
"Yaudah, Ini udah malam ayo Kita tidur." Ajak Ari menarik tangan Rindu agar segera masuk ke kamar. Ari menutup pintu balkon kemudian menyusul Rindu yang telah berbaring di atas ranjang.
"Selamat malam Kak." Ucap Rindu pelan sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Hmmm" Jawab Ari singkat.
Bersambung………
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?