
"Berita fitnah seperti ini, gak pantas untuk Mahasiswa. Berita ini bener-bener gak mutu." Raja tiba-tiba muncul dan protes kepada Anya.
"Pak Raja." Anya terkejut dengan kehadiran Raja.
"Saya minta Kamu tarik majalah yang berisi berita gak mutu ini, kalo nggak Saya bisa tuntut Kamu." Ancam Raja yang membuat Anya kelabakan.
"Iya Pak maaf, Saya akan hapus berita ini." Anya ketakutan. Raja yang mendengar itupun keluar dari ruangan.
"Rasain Kamu, makannya jangan gegabah." Umpat Melli menggandeng Rindu keluar dari ruangan tersebut.
"Nyebelin banget tau nggak orang itu." Umpat Rindu kesal.
"Udah-udah sabar, tenang. Sekarang semuanya udah beres." Nada menenangkan Rindu.
"Gak bisa Da, orang-orang pasti tetep berfikiran buruk tentang Aku sama Kak Raja." Ungkap Rindu mengungkapkan kekesalannya.
"Gimana kalo Tasya sampe tahu dan bilang sama Kak Ari, bisa habis Aku." Ucap Rindu.
"Udah tenang aja, Kita yakin kok Kak Ari pasti ngerti ketika dengerin penjelasan Kamu." Melli mengelus pundak Rindu untuk menenangkannya.
Di Sebuah Hotel.
Ari baru saja menyelesaikan metting dengan client penting. Selama meeting Ia merasa tidak enak badan, tetapi Ia tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan meeting.
"Akhirnya Meeting hari ini selesai juga." Ucap Putra.
Ari merasa kepalanya kembali pening, lagi-lagi darah keluar dari hidungnya. Ia mencoba berpegangan pada tiang dinding agar tidak terjatuh.
"Boss, Kenapa Boss? Kita ke rumah sakit aja ya. Kalo Boss gak mau, Aku hubungi Rindu aja." Ancam Putra.
"Jangan, jangan ngomong apapun sama Rindu tentang sakitku ini." Pinta Ari, Ia kemudian tidak sudah tidak mampu mempertahankan kesadarannya. Ia pingsan dan terjatuh.
"Boss, Bangun Boss." Putra mencoba membantu Ari, Ia berteriak meminta bantuan. Ari pun dilarikan ke Rumah Sakit.
Di Kampus.
Tasya keluar dari kelasnya dan mendengarkan sekelompok mahasiswa yang tengah bergunjing menyebut-nyebut nama Rindu.
"Iya ya gak nyangka Rindu ternyata gitu." Begitulah yang didengar oleh Tasya.
"Mereka ngomongin Rindu siapa ya?" Batin Tasya kemudian menghampiri Mereka dan bertanya.
"Maaf tadi Aku denger Kalian sebut nama Rindu, kalau boleh tau Kalian lagi ngomongin apa ya?" Tanya Tasya sopan.
"Ini lho Mbak, Rindu masak Deket sama dosen baru." Jawabnya menunjukkan majalah yang berisi berita tentang Rindu dan juga Raja.
__ADS_1
Tasya terkejut ketika menemukan berita tersebut.
"Aku harus minta penjelasan tentang foto ini ke Kak Raja." Pikir Tasya.
"Boleh Aku ambil majalahnya?" Tasya meminta izin.
"Boleh, Kamu bawa aja." Jawabnya.
"Makasih." Tasya tersenyum ramah kemudian meninggalkan sekelompok mahasiswa itu.
Ia mencoba mencari keberadaan Raja di kampus, tiba-tiba Ia melihat Raja tengah keluar dari kelas. Tasya pun menghampirinya.
"Kak Raja." Panggil Tasya yang membuat Raja menoleh ke arahnya.
"Loh Tasya, ada apa?" Tanya Raja.
"Kak Raja berhutang penjelasan sama Aku, berita ini maksudnya apa Kak?" Tasya memberikan majalah kepada Raja.
"Oh jadi Kamu marah karena berita tentang Aku sama Rindu?"Tanya Raja mencoba menerka.
"Tasya, dengerin Aku ya. Aku ini sadar bahwa Rindu itu adik ipar Aku. Foto ini itu cuma kesalahpahaman. Waktu itu Aku tolongin Rindu yang hampir tertabrak sampai Kita berdua terjatuh." Jelas Raja.
"Jadi gitu?" Tanya Tasya.
"Iya, masak Kamu gak percaya sama Aku sama Rindu?" Tanya Raja.
"Oke kalau gitu, mumpung Kita ketemu. Gimana kalo Aku traktir kamu makan?" Tawar Raja.
"Boleh, gassss." Tasya menarik tangan Raja tanpa mempedulikan mata yang terus mengawasi Mereka.
Di Rumah Sakit
Ari perlahan membuka matanya, Ia baru saja tersadar dari pingsannya. Putra yang melihat Ari mulai tersadar pun menghampiri Boss-nya yang terbaring lemah.
"Alhamdulillah Bisa udah sadar." Ucap Putra.
"Kamu yang bawa Aku ke rumah sakit?" Tanya Ari.
"Iya, tadi Boss pingsan jadi Aku bawa kesini." Jawab Putra.
"Tapi Kamu gak bilang sama Rindu kan?" Tanya Ari panik.
"Aku gak bilang, tapi mau sampai kapan Boss menutupi semua ini? Kalo tiba-tiba Boss pingsan di depan Rindu pasti akan tetap ketahuan." Ucap Putra yang membuat Ari berfikir.
"Kamu bener, semakin lama Rindu bisa tahu kalau Aku sakit." Jawab Ari.
__ADS_1
"Iya, lebih baik ngomong sekarang ke Rindu supaya Dia gak kecewa karena merasa dibohongi." Saran Putra.
Ari terdiam, mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang kini sedang Ia hadapi.
"Keadaan Aku semakin memburuk, Kemungkinan sembuh sangat kecil. Aku gak mau Rindu sampai sedih dan Aku juga gak mau Dia membuang-buang waktunya untuk merawat Aku. Dia masih terlalu muda untuk semua ini." Ucap Ari.
"Terus rencana Boss apa? Kita harus segera cari pendonor." Ucap Putra.
Aku akan ceraikan Rindu demi kebaikan Dia." Jawab Ari yang membuat Putra tercengang.
"Boss, Jangan ngomong gitu Boss. Jangan sembarangan ngomong." Protes Putra.
"Aku udah memikirkan ini matang-matang. Selagi Dia masih belum memiliki perasaan ke Aku. Itu akan membuat Dia gak merasa kehilangan." Jawab Ari.
"Boss Jangan Boss, pasti ada cara lain. Jangan menyerah." Putra mencoba memberikan semangat kepada Ari.
"Boss pikirin lagi keputusan itu, jangan sampai Bisa Ari menyesal nantinya." Saran Putra kemudian kembali duduk di sofanya.
"Kamu lihat keadaan Aku sekarang kan? Sekarang Aku cuma orang lemah yang penyakitan. Aku gak bisa menjamin kebahagiaan Rindu dan juga gak bisa melindungi Dia dengan keadaanku yang seperti ini." Ucap Ari.
"Berpisah adalah jalan terbaik untuk Aku dan juga Rindu, selagi Dia masih belum memiliki perasaan ke Aku. Dia gak akan sakit hati." Tambah Ari.
"Oke, emang Kamu berfikir seperti itu, tapi Kamu gak fikirin gimana nanti Rindu dipandang sama orang-orang yang ada disekelilingnya?" Tanya Putra yang membuat Ari berfikir kembali, sehingga Ia terdiam.
Ponsel Ari berdering, telepon masuk dari Rindu. Putra yang membawa ponsel Ari pun memberikan ponsel itu.
"Nih panjang umur, ada telepon dari Rindu." Ucap Putra. Ari pun menerima ponsel itu dan mengangkat telepon dari Rindu.
"Halo Kak Ari, Aku telepon Kakak daritadi Kenapa gak diangkat?" Protes Rindu yang memang sudah berkali-kali menghubungi Ari, tetapi tidak ada jawaban.
"Maaf, tadi Aku meeting." Jawab Ari.
"Kak, Kakak baik-baik aja kan? Kok suara Kak Ari kayak lemes gitu?" Tanya Rindu yang merasa aneh dengan tanggapan dari Ari.
"Aku gak apa-apa, Aku cuma capek. Kamu telpon Aku besok lagi aja ya. Aku mau istirahat." Ucap Ari.
"Oh gitu ya, yaudah deh Kak Ari istirahat aja. Selamat malam Kak." Jawab Rindu.
Tanpa membalas, Ari mematikan panggilan dari Rindu.
Putra yang melihat kegelisahan Ari pun menghampiri Ari dan mencoba memberikan pilihan.
"Sekarang pilihan ada di tangan Kamu sendiri. Bilang ke Rindu dan optimis bisa sembuh walaupun mungkin Rindu akan kesulitan menjaga Kamu,? Atau terus pesimis menutupi sakit Kamu sendiri tanpa bilang ke Rindu, yang sebenarnya Kamu menyakiti hatinya." Ucap Putra kemudian meninggalkan Ari sendiri dalam ruangan tersebut.
"Sekarang Aku harus gimana?" Batin Ari mengacak-acak rambutnya bingung.
__ADS_1
Bersambung……..
Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?