
Di Dapur Raka
Setelah Tasya ditantang oleh Putra, akhirnya Putra membantu membawakan belanjaan Tasya. Putra menunggu Tasya memasak. Ia duduk di kursi ruang makan keluarga Pak Wira.
"Aduh Sya, lama banget masaknya. Udah selesai belum sih." Protes Putra yang telah lama menunggu dan mulai bosan.
"Iya sabar, ini udah jadi kok." Jawab Tasya sembari membawa makanan yang baru saja Ia masak. Putra mengamati makanan yang kini disajikan di hadapannya. Ia terkejut ketika melihat makanan yang disajikan oleh Tasya nampak begitu menarik. Putra melirik Tasya tak percaya.
"Yakin ini buatan Kamu?" Tanya Putra.
"Ya iyalah, emang Kamu gak lihat tadi?" Protes Tasya.
"Oke, Aku coba." Putra meraih sendok dan mencoba sesuap makanan buatan Tasya.
"Ini beneran Dia yang masak, enak banget." Batin Putra.
"Gimana? enak kan?" Tanya Tasya.
"Kalo Aku bilang enak, itu berarti Aku kalah di taruhan kali ini. Lebih baik Aku bilang gak enak aja." Pikir Putra.
"Gak enak, ini keasinan." Jawab Putra berbohong.
"Masak sih, bohong. Bilang aja Kamu takut kalah kan?" Tanya Tasya mengambil cendok kemudian ikut mencoba makanan buatannya.
"Enak kok, ngarang Kamu ya." Protes Tasya.
"Ini ada apa sih? Mama denger kayaknya ada ribut-ribut." Bu Kesya datang ke dapur dan menghampiri Putra dan juga Tasya.
Putra pun berdiri dan mencium tangan Bu Kesya.
"Loh Putra, sejak kapan disini?" Tanya Bu Kesya.
"Sejak tadi Tante." Jawab Putra.
"Ada apa sih, kok Kalian ribut. Jangan Ribut terus nanti malah jodoh lho." Goda Bu Kesya.
"Whattttt Ma stop, jangan ngomong kayak gitu. Amit-amit Aku berjodoh sama Kak Putra. Ogahhhh." Tolak Tasya.
"Siapa juga yang mau sama Kamu." Ucap Putra pelan.
"Tuh kan malah ribut lagi." Bu Kesya tertawa melihat tingkah keduanya.
"Ini lho Ma, masak Kak Putra bilang masakan Aku gak enak. Padahal enak." Ucap Tasya kepada Mamanya. Bu Kesya tersenyum mendengar itu.
"Jadi, Tasya yang ahli masak ini dibilang masakannya gak enak sama Putra?" Tanya Bu Kesya.
__ADS_1
"Ahli masak Tante? emang iya?" Tanya Putra terkejut.
"Ya lumayanlah Putra, sedikit bisa karena Tante dulu kan bisnis catering." Terang Bu Kesya.
"Tuh dengerin Bambang. Jadi sekarang udah fiks dong. Taruhan kali ini Aku yang menang. Itu berarti Kak Putra harus jadi Asisten Aku selama satu minggu." Tasya berteriak di hadapan Putra.
"Iya, Aku denger gak usah teriak-teriak." Protes Putra. Mereka terus berdebat dan lupa bahwa ada Bu Kesya yang tengah memperhatikan Mereka.
"Mama rasa Kalian cocok deh." Bu Kesya menengahi perdebatan Mereka. Setelah Bu Kesya mengucapkan itu, Ia kemudian tersenyum dan meninggalkan Mereka di dapur.
"Denger ya Kak Putra, sebagai Asisten besok Kak Putra harus datang dan antar Aku ke kampus. Setelah Kak Putra pulang kerja, Kak Putra harus jadi Asisten Aku. Inget gak boleh telat." Ucap Tasya tegas.
"Iya, cerewet banget jadi cewek." Umpat Putra.
Di Kamar Ari & Rindu
Setelah menghabiskan waktu untuk makan malam bersama, Ari dan Rindu pun pulang. Setibanya di rumah, Ari terlelap dalam tidurnya. Rindu memandangi wajah Ari yang nampak tenang.
"Hari ini Aku seneng banget, dapet kejutan dari Kak Ari." Batin Rindu.
Ia meraih ponselnya dan melihat pemberitahuan bahwa Cinta telah meneleponnya berkali-kali.
"Kak Cinta telepon Aku berkali-kali, ada apa ya?" Batin Rindu. Ia kemudian balik menelepon Cinta. Setalah panggilan tersambung, Rindu pun langsung bertanya alasan Cinta meneleponnya.
"Halo Kak Cinta, Kak Cinta tadi telepon ada apa ya?" Tanya Rindu.
"Kak, Kak Cinta baik-baik aja kan?" Tanya Rindu.
"Iya Rindu, Aku baik-baik aja. Aku cuma mau pamit sama Kamu. Karena mungkin besok Ayah akan bawa Aku pergi pindah dari rumah sakit ini." Ucap Cinta yang membuat Rindu terkejut.
"Pindah? emang kenapa Kak? kenapa mendadak banget?" Tanya Rindu.
"Aku juga gak tau apa alasan Ayah. Mungkin Aku setelah ini udah gak bisa ketemu sama Kamu lagi Rindu." Ucap Cinta dengan suara yang bergetar.
"Kak Cinta gak boleh ngomong gitu, besok Aku akan coba ngomong sama Pak Pram supaya Kak Cinta tetap dirawat disini ya." Ucap Rindu menenangkan Cinta.
"Makasih ya Rindu, Kamu baik banget sama Aku." Cinta berterimakasih.
"Iya Kak, sama-sama." Jawab Rindu.
"Yaudah Rindu, Kita ketemu besok ya. Aku tutup dulu teleponnya." Ucap Cinta kemudian telepon pun diakhiri.
"Ada apa sebenarnya? kenapa Pak Pram tiba-tiba mau pindahin Kak Cinta." Batin Rindu. Tiba-tiba Ari melingkarkan tangannya di perut Rindu, Rindu pun terkejut.
"Kok Kak Ari bangun sih? tadi kayak tidur deh." Tanya Rindu.
__ADS_1
"Aku kebangun, Kamu si teleponan sama siapa malam-malam?" Tanya Ari.
"Sama temen Aku Kak, besok rencananya Aku mau jenguk Dia. Kak Ari ikut ya." Pinta Rindu.
"Besok? tapi Aku baru aja masuk kantor. Masak harus absen lagi." Ari bingung menolak atau menerima permintaan Rindu.
"Yaudah deh, kapan-kapan aja." Jawab Rindu mengerti keadaan Ari.
"Yaudah tidur yuk, ini udah malam lho." Ajak Ari.
"Iya, selamat beristirahat Kak Ari." Ucap Rindu.
Di Rumah Ari
Pagi-pagi sekali Putra telah tiba di kediaman Pak Wira. Ia memarkirkan mobilnya dan segera turun dari mobil.
"Selamat Pagi Bi." Sapa Putra kepada Pembantu yang tengah membersihkan taman.
"Selamat Pagi Tuan Putra, cari Tuan Ari ya. Saya panggil dulu ya." Ucap Pembantu itu.
"Eitss enggak Kok Bi, Saya cari Tasya. Tolong panggilin Tasya aja ya Bi." Pinta Putra.
"Oh iya, sebentar ya Tuan." Ucap Pembantu itu kemudian meninggalkan Putra, Ia masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama Tasya keluar dan menyusulnya.
"Pagi banget sih datengnya." Protes Tasya.
"Emang kenapa? bagus dong. Kalo terlambat nanti Kamu malah ngomel terus gak berhenti." Ungkap Putra yang membuat Tasya kesal.
"Gimana Aku gak ngomel kalo Kamu aja mancing emosi terus." Protes Tasya.
"Ehmmm" Rindu berdehem melihat Putra yang datang untuk menjemput Tasya.
Rindu dan Ari saling bergandengan tangan. Mereka menghampiri Tasya dan Putra.
"Kamu kesini mau ngapain Putra? kayaknya Aku gak kasih Kamu tugas." Tanya Ari.
"Ini, jemput Adik Kamu. Ceritanya panjang kenapa Aku bisa jemput Adik Kamu ini." Tanpa ditanya Putra seolah mengerti dengan wajah Ari yang nampak penasaran.
"Jadi sejak kapan Kalian deket? sejak dapet buket bunga pernikahan barengan?" Tanya Rindu menggoda Putra.
"Bukan, ini gak seperti yang Kalian pikirin. Aku sama Tasya gak ada apa-apa." Putra meluruskan pemikiran Rindu.
"Awas kalo sampai Kamu berani sakitin Adik Aku." Ancam Ari.
"Aku sama Tasya gak ada apa-apa. Iya kan Tasya?" Putra meminta dukungan dari Tasya. Tasya pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
bersambung........
bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?