
Di Kamar Ari
Ari duduk di sofa sembari menemani Rindu, Ia meraih ponselnya dan menghubungi Putra. Tidak butuh waktu lama, Putra pun mengangkat panggilannya.
"Halo Putra, hari ini Aku gak bisa berangkat kerja. Tolong Kamu urus pekerjaan kantor." Titah Ari.
Rindu samar-samar mendengar hal tersebut, seolah tak percaya. Pekerja keras seperti Ari bisa memutuskan untuk tidak berangkat bekerja, padahal selama ini Ari adalah orang yang paling sulit jika diminta izin.
"What? tumben banget Kak Ari izin kerja." Batin Rindu.
"Makasih Putra." Ucap Ari kemudian menutup teleponnya.
Rindu mencoba duduk dan bersandar di sandaran ranjang. Ari menghampiri Rindu dan duduk disampingnya.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ari.
"Kak Ari gak berangkat kerja?" Tanya Rindu lemah.
"Gak."Jawab Ari singkat.
"Kenapa?" Tanya Rindu menatap tajam mata Ari.
"Karena Kamu sakit, jadi Aku harus jagain Kamu." Jawab Ari.
"Tapi Aku gak papa kok kalo Kak Ari kerja, lagian biasanya Kak Ari paling gak bisa absen." Ucap Rindu.
"Tok...tok....tok" Ada orang yang mengetuk pintu kamar Mereka.
"Ari, Rindu bukain pintunya dong. Nenek mau masuk." Suara Nenek Lidya.
"Nenek Kak." Ucap Rindu. Ari berdiri dan membuka pintu kamarnya. Ia terkejut ketika melihat Neneknya masuk dengan membawa nampan berisi secangkir teh manis.
"Loh, kok Nenek yang bawa tehnya." Ari mencoba meminta nampan tersebut tapi dicegah oleh Nenek Lidya.
"Biar Nenek aja yang bawa buat cucu menantu kesayangan." Nenek Lidya membawa nampan tersebut dan meletakkannya di atas nakas.
"Yaampun Nek, jadi ngrepotin Nenek." Rindu merasa sungkan.
"Udah gak papa, Nenek seneng kok. Kamu emangnya kenapa cantik?" Tanya Nenek Lidya.
"Rindu gak papa kok Nek, cuma masuk angin aja dan sedikit pusing." Jawab Rindu.
__ADS_1
"Masuk angin atau isi?" Tanya Nenek Lidya.
"Hah? Apa Nek? Isi maksud Nenek gimana?" Rindu terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
"Iya Isi, soalnya itu kayak gejala orang hamil." Jawab Nenek Lidya. Rindu tersenyum mendengar pernyataan tersebut.
"Kayaknya belum deh Nek."Rindu menggenggam tangan Nenek Lidya.
"Nenek udah minta Bi Surti untuk beli testpack. Nanti Kita check ya, supaya Kita semua tahu Kamu beneran hamil atau cuma masuk angin." Ucap Nenek Lidya mencium kening Rindu kemudian keluar meninggalkan Kamar. Ari kembali duduk di sebelah Rindu.
"Ini diminum biar enakan." Ari membantu Rindu meminum teh manis untuk membuat tubuh Rindu hangat.
"Emang Kamu beneran hamil?" Tanya Ari.
"Kak Ari... hamil gimana? Kita kan gak pernah ngapa-ngapain." Protes Rindu mencubit pinggang Ari.
"Aduh, iya Aku cuma bercanda." Jawab Ari tertawa.
"Cie Kak Ari sekarang bisa bercanda juga." Goda Rindu. Kini mata Mereka saling menatap satu sama lain.
"Dasar Bocil." Umpat Ari mengacak-acak rambut Rindu.
"Ih Kak Ari, rambut Aku jadi berantakan tau." Protes Rindu.
"Kak Ari mau kemana?" Tanya Rindu.
"Mau ambil makan sebentar." Jawab Ari kemudian meninggalkan kamar. Baru selangkah keluar dari pintu kamar Ari merasakan sakit di bagian dadanya.
"Deg" Lagi-lagi Ari merasa nyeri pada dadanya, bahkan semakin parah. Ia menopang tubuhnya di dinding dan satu tangannya menyentuh bagian yang sakit.
"Kenapa belakangan ini rasa sakit ini terus dateng dan rasanya semakin sakit." Batin Ari. Ia mencoba melawan rasa sakitnya itu.
Setelah merasa lebih baik, Ia bergegas menuju dapur untuk mengambil sarapan untuk Rindu dan membawanya ke kamar.
"Ini, Kakak bawa makanan untuk sarapan." Ucap Ari menghampiri Rindu dengan membawa nampan berisi makanan.
"Sebenarnya Rindu bisa turun dan makan di ruang makan kok Kak." Ucap Rindu. Ari tidak mendengarkan perkataan Rindu. Ia menyendok sesuap nasi dan mencoba memberikannya kepada Rindu.
"Kamu harus makan biar cepet sembuh." Ucap Ari. Rindu pun menerima suapan tersebut. Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari luar kamar.
"Yuhuuuu Ari buka pintunya dong." Suara Nenek Lidya sambil mengetuk pintu kamar Ari.
__ADS_1
"Iya Nek, Sabar." Ucap Ari meletakkan kembali piringnya dan membukakan pintu untuk Nenek Lidya yang datang bersama Bi Surti dan Bi Ira.
"Nek ini ada apalagi sih?" Tanya Ari.
"Udah Kamu diem aja, Kita gak ada urusan sama Kamu. Kita kesini mau ketemu sama Rindu." Ucap Nenek Lidya berlalu meninggalkan Ari. Ia menghampiri Rindu di ranjangnya.
"Rindu, ini Nenek udah bawa banyak banget testpack, Kamu buruan check gih. Atau perlu Nenek temenin?" Tanya Nenek Lidya menyerahkan plastik berisi testpack kepada Rindu. Rindu menerima testpack tersebut dengan ragu.
"Tapi Nek, Rindu takut kalau hasilnya mengecewakan Nenek." Ucap Rindu yang tentu sudah tahu jika Ia tidak sedang mengandung, Karena Dia dan Ari memang belum melakukan hubungan Suami-istri.
"Udah gak papa, coba aja dulu. Kita kan gak tau kalo kebobolan. Kecuali kalo Kalian gak pernah melakukan hubungan baru bisa yakin kalo Kamu gak hamil. Kalian udah ituuu kan?" Tanya Nenek Lidya.
Rindu dan Ari saling memberikan kode.
"Udah dong Nek, tapi hal seperti itu kan seharusnya privasi Kita. Masak Nenek nanya gitu sih." Jawab Ari.
"Yaudah makannya dicoba dulu. Nenek tunggu diluar deh. Kalian balik kerja deh." Titah Nenek Lidya kepada Bi Surti dan Bi Ira. Mereka pun dengan terpaksa keluar dari kamar.
Kini hanya ada Nenek Lidya. Ia duduk di ranjang Rindu. Sedangkan Rindu dengan terpaksa menyetujui permintaan Nenek Lidya untuk mencoba testpack.
Nenek Lidya dan Ari menunggu di luar kamar mandi, merasa tidak sabar. Ia pun mengetuk pintu kamar mandi.
"Rindu, gimana? hasilnya udah keluar belum?" Tanya Nenek Lidya.
"Iya Nek sebentar." Jawab Rindu dari dalam.
"Nenek pasti kecewa banget sama hasilnya, Kasihan Nenek udah berharap lebih." Batin Rindu yang melihat hasil test yang menyatakan bahwa Ia negatif. Ia menarik nafas panjang kemudian membuka pintu kamar mandi.
"Gimana hasilnya? coba Nenek lihat." Nenek Lidya merebut testpack dari tangan Rindu. Seketika semangatnya menghilang setelah melihat hasilnya.
"Maaf ya Nek, Nenek pasti kecewa banget ya. Maaf Rindu belum bisa kasih Nenek Cicit." Rindu menggenggam tangan Nenek Lidya.
"Yaudah mau gimana lagi, emang belum rezekinya." Jawab Nek Lidya lesu.
"Yaudah Nenek ke kamar dulu deh." Ucap Nenek Lidya kemudian meninggalkan kamar Ari.
"Kenapa Kamu sedih gitu? berharap hamil?" Goda Ari.
"Apa sih Kak, Rindu capek mau istirahat." Ucap Rindu kemudian kembali berbaring dan menyelimuti tubuhnya.
"Sebenarnya Aku juga kasihan sama Nenek dan jujur pengen punya keturunan. Tapi Aku harus menunggu sampai Kamu bisa terima hubungan ini." Batin Ari duduk di sofa.
__ADS_1
bersambung.......
bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?