Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 42 DIAGNOSA DOKTER


__ADS_3

Di Rumah Ari


Ari memarkirkan mobilnya, Ia melihat Arkan yang tertidur pulas di gendongan Rindu. Rindu yang kesulitan membuka pintu untuk keluar dari mobil pun meminta bantuan Ari.


"Kak Ari, ini gimana? Tolongin dong." Bisik Rindu.


Ari kemudian turun dari mobil, Ia membuka pintu mobil untuk Rindu. Dengan hati-hati Rindu keluar dari mobil agar Arkan tidak terbangun.


"Nyenyak banget kayaknya tidurnya." Ucap Ari kemudian mengecup pipi Arkan.


"Kak Ari, nanti kalo Dia bangun gimana." Protes Rindu memarahi Ari.


"Kayaknya Dia kecapean nangis ya?" Tanya Ari.


"Iya Kak, tadi Dia ketakutan banget. Kasihan." Ucap Rindu.


"Yaudah yuk, bawa masuk! Diluar dingin." Ajak Ari. 


Mereka pun membawa Arkan masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga Mereka bertemu dengan Bu Kesya dan Pak Raka.


"Eh Kalian udah pulang, wah Arkan udah tidur ya." Bisik Bu Kesya.


"Iya Ma, Arkan ketiduran tadi." Jawab Rindu.


"Yaudah, Kalian bawa ke kamar aja. Kasihan." Titah Bu Kesya.


"Kalo gitu Kita ke kamar dulu ya Ma." Pamit Ari. Mereka pun menaiki tangga menuju kamar. Ari dengan siaga membukakan pintu untuk Rindu. Dengan perlahan Rindu meletakkan Arkan di atas ranjang. Ia memberi penghalang di kanan dan kirinya agar Arkan tidak terjatuh.


"Kamu mandi aja dulu, biar Aku yang jaga Arkan." Ucap Ari.


"Kak Ari yang mandi duluan, setelah itu Aku olesi obat. Cepetan." Titah Rindu.


"Gak usah, orang Aku gak kenapa-napa." Tolak Ari.


"Kak Ari, cepetan sebelum Arkan bangun." Rindu menarik tangan Ari menuju kamar mandi. Terpaksa Ari masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah menunggu akhirnya Ari keluar dari kamar mandi masih dengan mengenakan kemeja putih miliknya. Ia menghampiri ranjang.


"Ya Ampun Kak, kenapa kemejanya dipake lagi sih." Protes Rindu menghampiri Ari. Ia membantu Ari membuka kancing kemejanya.


Rindu terkejut ketika mengetahui bahwa ternyata banyak luka bakar di tubuh Ari.


"Badan Kakak luka kayak gini bisa-bisanya Kak Ari bilang gak kenapa-napa." Protes Rindu.


Rindu mengoleskan obat pereda nyeri di tubuh Ari dengan penuh kesabaran. Ia tidak menyadari bahwa Ari tengah memperhatikannya.


"Udah Aku olesin." Ucap Rindu selesai mengobati luka Ari.


"Makasih." Ucap Ari berterimakasih. Rindu hanya membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara tangisan Arkan yang membuat Ari dan Rindu dengan spontan menghampiri Arkan.


"Kenapa Arkan? Kok nangis?" Rindu menggendong Arkan, tetapi Arkan masih saja menangis.


"Gimana ini Kak, kok Dia nangis terus sih." Tanya Rindu panik karena Arkan menangis keras.


"Mungkin Dia haus atau lapar." Jawab Ari.


"Iya bisa jadi Kak, kalo gitu nitip tolong gendong sebentar dong. Biar Aku buatin susu buat Arkan." Rindu meminta bantuan kepada Ari.


Ari mengambil Arkan dari gendongan Rindu. Ia berusaha menenangkan Arkan.


"Sebentar ya Arkan, Tante bikinin susu dulu." Ucap Rindu mengecup kening Arkan kemudian bergegas menuju dapur untuk membuatkan susu untuk Arkan. Ari pun mengikuti Rindu.


"Sebentar ya Arkan." Rindu fokus membuat susu untuk Arkan, sedangkan Ari berusaha menenangkan Arkan.


Mereka tidak menyadari bahwa ada yang mengintip di balik dinding.


"Lihat deh Yah, Mereka udah cocok banget ya." Tanya Bu Kesya yang mengintip di balik tembok dengan Pak Raka.


"Iya Ma." Jawab Pak Raka menanggapi.


"Kapan ya Yah, Kita punya Cucu dari Ari? " Tanya Bu Kesya.


"Kita harus sabar, semua itu kan rezeki. Yaudah Ma, Ini udah malam ayo Kita istirahat." Ajak Pak Raka meninggalkan Bu Kesya.


Arkan mulai merasa tenang, Ia bahkan kembali memejamkan matanya. 


"Dia udah tidur lagi Kak." Bisik Rindu.


"Iya, Ayo Kita bawa Dia ke kamar." Mereka membawa Arkan kembali ke tempat tidurnya. Arkan dan Rindu akhirnya tertidur karena kelelahan. Ari menyelimuti tubuh Mereka. 


Tiba-tiba Ia merasa pusing di kepalanya. Darah menetes dari hidungnya. Ia menutup hidungnya dengan tangannya.


"Darah?" Ari terkejut dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan hidungnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama Aku? Kenapa belakangan ini Aku merasa aneh." Batin Ari.


Pagi harinya. 


Ari hendak berangkat kerja, Rindu mengantarkan Ari hingga ke halaman rumah. Ari mencium pipi Arkan yang berada di gendongan Rindu.


"Kamu hari ini ke kampus?" Tanya Ari.


"Nggak Kak, Aku jagain Arkan aja. Lagipula besok kan Arkan udah gak dititipin lagi." Jawab Rindu.


"Yaudah kalo gitu, Aku berangkat kerja dulu." Pamit Ari.


"Iya, Kak Ari hati-hati ya." Pesan Rindu. Ponsel Ari berbunyi, pesan masuk dari Putra yang mengatakan bahwa Ari harus ke rumah sakit untuk mengambil hasil laboratorium.

__ADS_1


"Ada apa Kak? Kok berhenti?" Tanya Rindu.


"Gak ada apa-apa, biasa pesan dari Putra." Jawab Ari berbohong.


Ia bergegas masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah.


Di Rumah Sakit


Ari menemui Dokter yang menanganinya ketika pemeriksaan. Kini Ia duduk berhadapan dengan Dokter Rey. Dokter membuka hasil MCU milik Ari. 


"Jadi Saya sebenarnya kenapa Dok?" Tanya Ari.


"Apa Pak Ari sering merasa sakit di bagian dada?" Tanya Dokter Rey.


"Iya Dok, dan juga Saya merasa pusing." Jawab Ari.


"Jujur, berat untuk Saya mengatakan ini. Tapi Saya tetap harus sampaikan." Ungkap Dokter Rey.


"Ada apa Dok?" Tanya Ari penasaran.


"Sebenarnya Anda menderita sakit jantung. Jantung Anda sekarang lemah. Makannya kenapa sekarang sering sakit di bagian Dada. Karena jantung tidak berfungsi dengan baik." Jawab Dokter Rey. Putra yang menemani Ari pun terkejut.


"Lalu Saya harus bagaimana untuk mengobati sakit Saya ini Dok?" Tanya Ari.


"Sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Satu-satunya cara adalah dengan Operasi dan itu harus menemukan pendonor yang tepat." Jawab Dokter Rey.


"Kalau Saya tidak operasi, Apa yang akan terjadi?" Tanya Ari.


"Jika tidak segera dioperasi ya Kamu akan sering merasa kesakitan, bahkan kemungkinan terburuknya bisa meninggal dunia karena jantung gak berfungsi." Jawab Dokter Rey.


"Tolong dipikirkan lagi Pak, saran Saya segera cari pendonor jantung agar Pak Ari lekas sembuh." Saran Dokter Rey.


"Terimakasih Dok, Saya akan cari cara agar bisa sembuh." Ucap Ari kemudian meninggalkan ruangan Dokter Rey. Putra pun mengekor dibelakangnya.


"Boss, tunggu Boss." Ucap Putra.


Ari menghentikan langkahnya dan berbalik, Ia menatap Putra.


"Putra, tolong Kamu jangan kasih tahu sama siapapun tentang sakitku ini. Apalagi sama Rindu dan keluargaku." Pinta Ari.


"Tapi Ri, Mete harus tahu sakit Kamu." Protes Putra.


"Aku gak mau Mereka cemas dengan keadaanku. Jadi tolong Kamu jangan kasih tahu Mereka. Aku akan tetap kasih tahu Mereka nantinya." Ari meminta tolong kepada Putra.


Dengan terpaksa Putra hanya menganggukkan kepalanya. Menuruti permintaan dari Ari.


Bersambung……


Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?

__ADS_1


__ADS_2