Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 29 UNDANGAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Rindu dan Putra menunggu di depan ruang UGD. Rindu nampak cemas berjalan kesana dan kemari Ia lakukan secara berulang kali. Putra yang menyadari hal tersebut pun menghampiri Rindu.


"Boscan, sabar ya." Ucap Putra menenangkan Rindu.


"Makasih ya Kak Putra udah bantuin Kita tadi." Ucap Rindu berterimakasih kepada Putra.


"Itu emang udah tugas Aku, oh iya Boscan belum makan sama sekali kan? Boscan mau makan apa biar Aku beliin." Tawar Putra.


"Gak usah Kak Putra, Aku belum lapar." Tolak Rindu.


"Jangan gitu, Ari pasti akan marah sama Aku kalau Dia tahu Aku biarin Istrinya gak makan seharian. Kamu mau Aku dimarahi Ari?" Tanya Putra yang membuat Rindu akhirnya mengalah.


"Yaudah, Aku sama kayak Kak Putra aja deh." Jawab Rindu. Putra pun pergi meninggalkan Rindu.


Pintu ruangan terbuka, Rindu pun menghampiri dokter yang menangani Ari.


"Dok gimana keadaan Kak Ari Dok?" Tanya Rindu cemas.


"Pasien sudah membaik, Kita juga sudah mengambil pelurunya dan sudah mendonorkan darah. Setelah ini Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat." Jawab Dokter tersebut.


"Alhamdulillah, Tapi sekarang Saya boleh lihat Suami Saya Dok?"Tanya Rindu yang sudah ingin melihat kondisi Ari.


"Iya silahkan, tapi harap menjaga ketenangan." Pesan Dokter tersebut kemudian meninggalkan Rindu.


Rindu masuk ke dalam ruangan UGD, Ia melihat Ari masih terkapar lemah. Rindu pun menghampiri Suaminya.


Ari perlahan membuka matanya, Ia telah tersadar. Ia melihat Rindu tersenyum kepadanya.


"Kak Ari, akhirnya Kak Ari bangun juga." Ucap Rindu lega.


"Kenapa mata Kamu sembab gitu?" Tanya Ari lemah.


"Gimana gak sembab, Aku tu khawatir sama Kak Ari. Gimanapun juga Kak Ari kena tembak kan gara-gara selametin Aku." Rindu mencari alasan.


"Oh iya, penjahatnya gimana? udah ditangkap sama polisi kan?" Tanya Ari memastikan.


"Iya kak, Mereka udah diamankan." Jawab Rindu.


"Perut Aku laper, Aku mau makan." Tiba-tiba Ari berkata lapar kepada Rindu.


"Kak Ari laper? sebentar ya Kak. Kak Putra baru beli makanan." Jawab Rindu.


"Aku pengen makan masakan Kamu." Jawab Ari singkat.


"Masakan Aku? kelamaan dong Kak. Kakak kan udah gak makan seharian. Nanti kalo Kak Ari sembuh Aku masakin deh." Bujuk Rindu.


Ari mencoba untuk duduk, tetapi Ia kesulitan karena lengannya yang tertembak. Tiba-tiba perawat masuk dan membawa Ari ke kamar rawat. Rindu pun memberitahu Putra. Rindu selalu menemani Ari.

__ADS_1


"Badan Aku rasanya kotor banget, Apa ada baju ganti?" Tanya Ari.


"Aduh Kak, maaf Aku belum ambil dari penginapan." Jawab Rindu.


"Yaudah kalo gitu, Kamu suruh Putra untuk ambil ya." Pinta Ari.


"Iya Kak, Aku telpon Putra dan kasih tahu Dia supaya bawa baju ganti untuk Kak Ari ya." Rindu pamit untuk menelepon Putra. Putra pun mengiyakan permintaan dari Rindu.


Ari mencoba berdiri karena Ia merasa ingin buang air kecil, Rindu yang melihatnya pun bergegas menghampiri Ari.


"Kak Ari, biar Aku antar." Tawar Rindu berdiri dan mendekati Ari.


"Gak usah Rindu, Aku bisa sendiri kok." Tolak Ari.


"Tapi Kak Ari kan masih sakit, nanti Kalo Kakak kenapa-napa gimana?" Protes Rindu.


"Rindu, yang sakit itu tangan Aku. Aku gak akan kenapa-napa." Ucap Ari tidak ingin mendapatkan bantuan dari Rindu.


Ari pun masuk ke dalam kamar mandi, Putra masuk ke kamar Ari dengan membawa makanan untuk Rindu.


"Lho Boscan, Ari kemana?" Tanya Putra yang tidak melihat Ari di ranjangnya.


"Ke kamar mandi." Jawab Rindu.


"Oh yaudah ini baju buat Ari, Aku mau pamit dulu untuk urusin si Alex ya." Pamit Putra kemudian meninggalkan kamar tersebut.


Ari keluar dari kamar mandi dan kembali ke ranjangnya. Rindu meraih makanan miliknya dan memberikan suapan kepada Ari.


"Oh iya, ini tadi baju dari Putra untuk ganti Kak Ari."Rindu menunjuk tas yang berada di atas meja.


"Terus Putra sekarang dimana?" Tanya Ari yang tidak menemukan Putra di kamarnya.


"Tadi katanya mau urus penjahat tadi." Jawab Rindu.


"Gimana sih Putra, tangan Aku kan luka. Aku masih kesulitan ganti baju." Umpat Ari.


"Yaudah kalo gitu biar Aku bantu aja." Tawar Rindu.


"Yakin?" Tanya Ari.


"Iyalah Kak, susah banget si dibilangin." Ucap Rindu.


Rindu membantu Ari membuka pakaiannya dengan perlahan.


"Awas hati-hati." Ucap Ari.


"Iya, ini juga hati-hati Kak, Kak Ari cerewet banget si." Protes Rindu.

__ADS_1


"Semua ini gara-gara Kamu, Kamu harus tanggung jawab."Protes Ari.


"Tanggung jawab? Emang Aku harus ngapain?" Rindu panik mendengar permintaan Ari.


"Kamu harus rawat Aku sampe Aku pulih." Jawab Ari.


"Rawat Kak Ari? Aku kira Kakak mau suruh Aku ngapain. Oke deall. Aku akan rawat Kak Ari sampai Kakak pulih." Rindu menyanggupi permintaan Ari.


"Oh iya, setelah Kak Ari udah boleh keluar dari rumah sakit. Kita langsung pulang aja ya." Saran Rindu.


"Kok gitu? terus urusan Aku disini gimana?" Protes Ari.


"Kak Ari itu bener-bener ya, udah tau sakit masih aja mikirin pekerjaan. Semua keluarga Kak Ari itu pasti cemas sama keadaan Kakak. Lagian Kak Ari itu atasan jadi bisa dong suruh anak buah yang nanganin." Protes Rindu kepada Suaminya yang benar-benar tidak ingin meninggalkan pekerjaannya.


"Yaudah iya, cerewet banget." Umpat Ari.


Tiba-tiba telepon Rindu berbunyi, Mamanya menelepon.


"Siapa?" Tanya Ari penasaran.


"Mama Kak." Jawab Rindu sambil menunjukkan ponselnya.


"Yaudah angkat." Titah Ari.


"Iya." Jawab Rindu Kemudian mengangkat telepon dari Bu Lia.


"Halo Ma." Sapa Rindu yang dibalas oleh Bu Lia.


"Halo Nak, Disini ada Farel katanya mau ketemu sama Kamu. Tapi Kamu gak ada. Dia mau ngomong sama Kamu tapi katanya Kamu gak bisa dihubungi." Ucap Bu Lia.


"Suruh aja Dia pulang Ma, Aku udah gak mau ngomong sama Dia lagi." Jawab Rindu.


"Rindu, Aku tahu Kamu marah sama Aku. Tapi Aku cuma mau kasih tahu Kamu bahwa satu Minggu lagi Aku akan menikah, Aku harap Kamu bersedia datang." Ucap Farel dari balik telepon.


"Selamat kalau gitu, tapi Aku gak janji Aku akan datang ke pernikahan Kamu." Ucap Rindu dengan suara bergetar.


Ari merebut ponsel dari genggaman tangan Rindu.


"Selamat atas pernikahan Kamu, Kamu tenang aja. Rindu akan datang sama Aku." Ucap Ari kemudian mematikan teleponnya.


Rindu menundukkan wajahnya, bagaimanapun perasaan tidak dapat menghilang begitu saja. Apalagi waktu Mereka bersama cukup lama bahkan sudah hampir menikah.


Ari mengetahui bahwa Rindu tengah bersedih saat ini. Ia memeluk Rindu dengan satu tangannya.


"Aku tahu ini pasti sulit buat Kamu." Bisik Ari.


"Pelukan Kak Ari benar-benar hangat dan menenangkan, rasanya sangat berbeda dengan sifat Dia yang jutek dan cuek." Batin Rindu.

__ADS_1


bersambung......


bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?


__ADS_2