Mr Jutek Milik Rindu

Mr Jutek Milik Rindu
BAB 56 OPERASI ARI


__ADS_3

Di Rumah Sakit


Hari ini adalah hari dimana Ari akan melakukan operasi untuk mendapatkan donor jantung. Sebelum memasuki ruangan operasi, Ia meminta doa dari keluarga.


Ari menghampiri Bu Kesya, Bu Kesya memeluknya erat.


"Ma, maafin Ari kalo selama ini Ari banyak salah sama Mama." Ucap Ari.


"Mama selalu memaafkan Kamu Nak, Mama berdoa semoga operasi Kamu lancar dan bisa kembali sehat. Sembuh dari sakit Kamu." Harap Bu Kesya.


"Makasih Ma." Ucap Ari melepaskan pelukannya.


Kemudian Ari berhadapan dengan Pak Raka. Pak Raka memeluk tubuh Putranya dan memberikan semangat untuk Ari.


"Ayah yakin Kamu laki-laki yang kuat, Kamu pasti bisa lalui semua ini. Kamu harus sembuh Ari." Harap Pak Raka.


"Terimakasih Ayah, Ari akan berusaha untuk kuat dan bertahan." Jawab Ari, Pak Raka pun menepuk-nepuk pundak Ari.


Ari berjalan menghampiri Tasya, Tasya pun membuang muka. Ia tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi Ia bendung.


"Maafin Kakak ya Tasya." Ucap Ari penuh kasih sayang.


Tasya tiba-tiba memeluk tubuh Kakaknya erat, sangat erat seakan tak mau melepaskan Ari.


"Kak Ari harus janji sama Tasya, Kak Ari gak akan tinggalin Tasya." Rengek Tasya.


"Kakak akan berjuang tapi Kakak gak bisa janji. Kan ada Kak Raja." Ucap Ari mengelus rambut Tasya berharap agar Tasya tidak bersedih lagi.


"Kamu berdoa buat Kakak ya!" Pinta Ari.


Tasya mengangguk pelan, kemudian melepaskannya.


Kini Ari berhadapan dengan Rindu. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Kak, Aku yakin Kak Ari orang yang kuat. Doaku selalu menyertai Kak Ari." Ucap Rindu.


"Berhasil atau gagal operasi ini, Kamu harus janji sama Aku. Kamu harus selalu bahagia." Pinta Ari mengusap air mata yang mulai membasahi pipi Rindu.


Rindu memeluk Ari dan menangis lepas di pelukan Ari.


Mereka berpelukan lama, hingga Pak Dimas memperingatkan agar Ari segera bersiap. Rindu pun melepaskan pelukannya. Sebelum Ari memasuki ruang operasi Ia mengecup kening Rindu selama beberapa saat. Semua yang berada di sana terharu menyaksikan hal tersebut.

__ADS_1


Ari pun dibawa memasuki ruang operasi. Ia tersenyum ke arah Rindu.


"Dulu Aku pernah merasa kehilangan, tapi rasa takut kehilangan ini beda. Aku bener-bener merasa sedih melihat Kamu harus berada di titik pergi atau kembali." Batin Rindu. Bu Lia yang mengetahui kesedihan Putrinya pun menghampiri dan memeluk Rindu.


"Semuanya akan baik-baik saja Rindu." Ucap Bu Lia sembari mengusap rambut Rindu untuk memberikan ketenangan.


Di Tempat Bela Diri Ari.


Supir Cinta memarkirkan mobilnya di sebuah perguruan silat yang berada di dekat rumahnya yang dulu. Ia sengaja datang kesana untuk mencari tahu informasi tentang sahabat masa kecilnya. 


"Akhirnya Aku nemu tempat ini, semoga aja dari tempat ini Aku bisa nemuin sahabat kecil Aku." Ucap Cinta kemudian turun dari mobil. Ia menemui pelatih yang ada di sana dan menanyakan tentang Ari yang merupakan sahabat lamanya.


"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?" Tanya sang pelatih silat.


"Maaf Mas, sebenarnya Saya kesini mencari seseorang. Namanya Ari." Jawab Cinta.


"Ohh Ari, memangnya ada keperluan apa kalau Saya boleh tahu." Pelatih silat itu nampaknya mengetahui informasi tentang Ari. Cinta pun menjadi antusias karena mulai menemukan jalan untuk bertemu dengan Ari.


"Maaf, Saya gak bisa kasih tau, tapi Urusan Saya sama Dia sangat penting. Tolong pertemukan Saya sama Dia. Saya mohon." Pinta Cinta.


"Maaf Kak, tapi Ari udah lama banget gak ada latihan silat karena sibuk dengan perusahaannya." Jawab pelatih itu.


"Kalau gitu, boleh Aku tahu alamatnya? Atau perusahaannya?" Tanya Cinta berharap mendapatkan informasi.


Kandas sudah harapan Cinta untuk menemukan informasi mengenai sahabat masa kecilnya. Mungkin sudah seharusnya Ia melupakan semua itu dan cukup menjadikannya kenangan.


"Yaudah Mas, makasih kalo gitu Saya permisi." Ucap Cinta kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya


"Kita ke rumah ya Pak." Pinta Cinta kepada supirnya.


Di Rumah Sakit


Dokter keluar dari ruangan operasi, Rindu berdiri dan menanyakan keadaan Ari dengan panik.


"Dokter, gimana dengan operasi Suami Saya, gimana keadaannya?" Tanya Rindu.


"Operasinya berjalan dengan lancar, Kita hanya tinggal menunggu pasien sadar. Baru setelah itu boleh ditemui." Jawab Dokter yang menangani Ari.


"Alhamdulillah, makasih Dok." Ucap Rindu merasa lega.


"Makasih ya, Kamu udah bantu Menantuku." Ucap Pak Dimas menepuk-nepuk pundak Dokter tersebut.

__ADS_1


"Sama-sama Dim, memang itu tugasku kan." Jawabnya ramah.


"Yaudah kalo gitu, Aku permisi ya." Ucap Dokter tersebut kemudian pergi.


Bu Kesya menghampiri Rindu dan memeluknya.


"Ari pasti baik-baik aja, Dia pasti bisa lewati semua ini." Ucap Bu Kesya menenangkan Rindu.


" Iya Ma, Rindu juga percaya itu." Rindu menyetujui pernyataan Bu Kesya.


Di Rumah Cinta.


Cinta telah tiba di rumahnya, Ia langsung menuju kamarnya dan mengambil gelang kecil yang selalu Ia simpan. Gelang itu sangat berarti untuknya.


"Harus kemana lagi Aku mencari Kamu Ari, rasanya sulit banget untuk kembali bertemu. Seakan gak ada jalan untuk Kita bertemu lagi." Cinta berbicara dengan gelangnya itu.


"Selama ini Aku menutup hati untuk orang lain, dengan harapan bisa kembali bersama Kamu." Ungkapnya.


"Dulu Kamu pernah berjanji akan menunggu Aku kembali, apa sampai saat ini Kamu juga masih menunggu Aku? Atau Kamu udah lupa sama Aku." Pikir Cinta menangis.


"Lebih baik Aku buang jauh-jauh gelang ini dan berhenti berharap untuk bisa kembali bersama Ari." Ucap Cinta berusaha tegar dan menerima kenyataan bahwa Ia tidak akan pernah bersatu dengan Ari.


Ia menghampiri jendela, menatap gelang itu lama.


"Selamat tinggal Ari, Kalau memang Aku gak bisa bersama Kamu. Biarlah Aku menjalani kesendirian Aku tanpa berharap lagi untuk bertemu Kamu di sisa akhir hidup Aku." Tangis Cinta semakin keras ketika mengucapkan itu.


Ia melemparkan gelang itu di halaman taman rumahnya. Setelah melempar gelang itu Ia berfikir sejenak. Ia merasa kehilangan sesuatu yang menjadi semangat hidupnya selama ini. Ia pun  berubah fikiran.


"Cinta, seharusnya Kamu gak buang kenangan Kamu sama Ari. Ini salah." Ucap Cinta yang berubah fikiran.


"Walaupun Kita gak bisa bertemu, Cuma gelang itu yang menjadi satu-satunya kenangan dari Dia. Aku harus cari gelang itu." Ucap Cinta kemudian berlari keluar rumah.


Ia berpapasan dengan Asisten Rumah Tangganya di pintu, ART yang melihat Cinta panik pun bertanya.


"Ada apa Non?" Tanya Bu Susan.


"Bi, Gelang Saya Bi. Tolong bantu cari gelang Saya." Pinta Cinta yang berlari ke arah halaman dan diikuti oleh Bu Susan.


Ia mencari gelangnya di antara rerumputan, Bu Susan pun ikut membantu mencarinya.


"Ketemu." Cinta mengangkat gelang tersebut dan terlihat begitu lega karena berhasil menemukan gelang tersebut.

__ADS_1


Bersambung……


Bagaimana kelanjutan kisah Ari dan Rindu?


__ADS_2