My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Panti Asuhan


__ADS_3

"Ngapain anak berisik ini pagi-pagi disini mih?" Andrian yang baru datang langsung mengambil cake dan duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Indah yang diapit kedua orang tuanya.


"Mau main sama mami katanya. Emang kamu, gak pernah ada waktu buat mami sama papi! Sekalinya libur dikamaaaar terus." jawab Mami Riana sebelum memanggil pelayan untuk membuatkan kopi untuk Andrian.


"Tidak bosan bertemu saya dikantor, sampai harus main ke rumah juga?" tatapan Andrian lurus ke Indah yang juga sedang menatapnya dengan tatapan sebal.


"Bosen banget! Tapi mau gimana, orang aku kangen sama mami sama papi weee!" Andrian berdecih melihat Indah memeletkan lidahnya.


"Kalau setiap ketemu berantem terus.. Kapan mau nikahnya?" tanya Mami Riana sembari menggelengkan kepalanya.


"Nanti mih nunggu kakak bisa move on terus cinta sama aku!" jawab Indah dengan mulut penuh dengan cake.


"Mau jalan-jalan tidak?" Indah menengok kiri dan kanannya bingung Andrian mengajak siapa.


"Ngajakin siapa sih kakak mih?" tanya Indah kepada calon ibu mertuanya dengan wajah dibuat sepolos mungkin. Bukannya tidak tahu dirinya yang di ajak jalan. Hanya tumben saja Andrian mau mengajaknya jalan. Padahal biasanya dia yang merengek dan meminta bantuan mertuanya untuk membujuk Andrian agar mau jalan-jalan. Dan lagi Andrian tidak menyebut namanya tadi.


"Mami juga tidak tau. Ngajak pelayan mungkin." Mami Riana menjawab dengan santai seolah-olah dia juga tidak tau.


Andrian berdecak kesal melihat tingkah calon istri dan ibunya. "Ck. Mau jalan-jalan dengan saya tidak Indah Sofia Renjana?"


"Ooh kak Rian ngajakin aku? Kirain ngajak siapa. Abisnya aku punya nama tapi gak denger kakak nyebut tadi!" jawaban Indah membuat Alex Dawson tertawa.


"Sudah sana jalan Ndah. Sebelum anak papi berubah pikiran." Alex mendorong calon menantunya untuk berdiri.


"Papi gak mau berubah pikiran nih, kakak yang jadi anak papi? Gak Indah aja?" pertanyaan nyeleneh Indah membuat Andrian menatapnya tajam.


"Papi tidak akan berubah pikiran, soalnya papi butuh Andrian buat jalanin perusahaan. Tapi dengan Andrian juga papi bisa dapetin kamu hahaha.." Alex tertawa kecil.


Dua anak muda itu meninggalkan rumah besar keluarag Dawson setelah berpamitan kepada kedua orang tau mereka.


***


"Mau kemana sih kak? Tumben banget?" entah harus senang atau curiga kepada Andrian yang tiba-tiba mengajaknya jalan.

__ADS_1


Pria tampan yang memakai celana jeans sebatas lutut dan kaos yang dibalut dengan jaket yang menambah kadar ketampanannya itu menatap lurus ke depan. Hal yang semakin membuat Indah heran. Andrian membawa mobil sendiri tanpa supir.


Indah mendengus saat tak mendapatkan jawaban dari Andrian. Lebih baik memandang keluar jendela dari pada menunggu pria dingin yang tidak mungkin mengajaknya mengobrol itu.


"Ayo turun!" Andrian sudah melepas seatbeltnya.


"Eh? Udah sampe?" Indah yang melamun tidak menyadari jika mereka sudah sampai ditempat tujuan. Indah mengikuti Andrian turun dan mengamati sekitar.


"Panti asuhan? Ngapain kesini?" Gumam Indah pada dirinya sendiri.


Andrian sedang mengeluarkan kardus-kardus dari bagasi mobilnya. Entah kapan pria itu membelinya. Sepertinya barang-barang itu sudah tersedia disana.


"Ayo bantuin. Kenapa hanya bengong?!" seru Andrian dari arah belakan mobil.


Indah berdecak dan membantu Andrian mengeluarkan kardus-kardus yang berisi peralatan tulis, tas, sepatu, baju serta berbagai biskuit dan susu.


"Om Andri..." Anak-anak kecil usia empat sampai sepuluh tahun berlarian keluar saat melihat Andrian.


Andrian tersenyum dan melambaikan tangannya. Seorang anak kecil laki-laki yang jika dilihat dari postur tubuh sepertinya seusia dengan Tiara langsung memeluk kaki Andrian.


"Maaf ya Riko.. Om sibuk jadi baru sempat kesini." mengangkat anak yang bernama Riko untuk di gendong dan menyuruh anak-anak yang lebih besar unuk membawa kardus yang dia bawa.


Anak-anak panti dengan antusias membawa kardus-kardus hadiah dari Andrian untuk mereka.


Mereka masuk kedalam panti termasuk Andrian. Indah yang merasa asing dan kasat mata di hadapan anak-anak diam saja didekat mobil, tidak mengikuti Andrian masuk. Bukannya Indah tidak nyaman dengan tempatnya, hanya saja ini pertama kali wanita itu datang, tapi orang yang mengajaknya malah melupakan dirinya.


"Oom.. Tante cantiknya kenapa gak di ajak?" Tante cantik ? pikir Andrian yang kemudian mengikuti arah tangan Riko menunjuk.


"Astaga Om lupa!" Andrian menurunkan Riko di depan pintu panti dan kembali ke arah mobilnya di parkir untuk menjemput Indah.


"Kenapa diam saja! ayo masuk!" menggandeng tangan Indah dan mengajaknya masuk. Tak memperdulikan gerutuan Indah atas kesalahannya yang melupakan keberadaan wanita itu.


Ini pertama kalinya Andrian mengajak orang lain ke tempat ini, bahkan supirnya pun tak pernah ia ajak. Jadi wajar saja jika dia lupa.

__ADS_1


"Sudah jangan marah-marah, nanti anak-anak takut sama kamu!"


Indah mencebik dan menarik napasnya dalam sebelum memasang senyum tercantiknya. Dan jangan lupakan jantungnya yang meronta saat Andrian menggandenganya dengan lembut.


***


"Makasih ya Nak Andri atas hadiah yang Nak Andri dan Nak Indah bawa, anak-anak senang sekali. Sudah lama tidak main ke mari." Bu Yuyun, kepala panti asuhan. Menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


"Iya bu.. Belakangan ini saya sibuk, jadi baru sempat main."


"Atau jangan-jangan Nak Indah ini istrinya Nak Andri ya? Kalian baru menikah makanya baru sempat main?" pertanyaan dari ibu panti membuat Indah tersenyum canggung.


"Bukan kok bu.. Saya bukan istrinya kak Rian. Itu mah alesannya aja bilang sibuk." Indah terkekeh saat melihat tatapan tajam Andrian.


Ibu panti ikut tertawa. "Jangan galak seperti itu Nak Andri.. Nanti Nak Indahnya takut. Kalian tuh cocok lho, yang satu ceria yang satu berkharisma seperti Nak Andrian."


"Satu dingin gitu bu! Berkharisma terlalu bagus buat kak Rian."


Andrian hanya bisa menarik napas. Indah ya Indah, dan beginilah dia.


"Oom.. Ayo main.." Riko menarik-narik tangan Andrian untuk bermain bersama anak-anak di halaman panti.


Baru kali ini Indah melihat Andrian ditarik-tarik seperti itu tapi dia tersenyum. Coba jika dirinya yang menarik-narik. Pasti tatapan Andiran yang setajam laser langsung memotong tangan Indah yang menariknya.


Dan baru kali ini juga Indah melihat Andrian bermain bersama anak kecil dengan tawa dan senyum bahagia.


"Nak Andri pria yang baik. Nak Indah tidak akan pernah menyesal jika menikah dengannya." ucapan Ibu panti memutus pandangan Indah yang sedang menatap Andrian dan anak-anak bermain bola.


"Tapi kalau sama saya banyakan nyebelinnya bu.. Baiknya kadang-kadang doang." masih tidak terima Andrian di sebut baik.


"Mungkin karena Nak Andri belum merasa nyaman dengan Nak Indah. Dia kalau sudah nyaman ya seperti dengan anak-anak itu." tunjuk ibu panti pada pemandangan Andrian beserta anak panti yang sedang bermain sambil tertawa.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2