My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Tak Ingin Di Benci Ayah


__ADS_3

Dua orang paruh baya berjalan dengan cepat sepanjang koridor apartemen. Mereka yang baru selesai sarapan, di kagetkan dengan kabar yang di sampaikan oleh asisten rumah tangga yang mengurus apartemen anak dan menantu mereka.


Setelah membunyikan bell, pintu langsung terbuka yang menampilkan bi Yani dengan raut khawatir.


"Bagaimana keadaan Indah bi?" tanya mami Riana khawatir.


"Non Indah masih belum sadar tuan, nyonya." menunjukan arah dimana Indah berada. Tadi dengan segenap tenaga yang Bi Yani punya, wanita paruh baya itu mengangkat tubuh Indah dengan susah payah ke sofa terdekat yang berada di ruang kerja Andrian.


Mami Riana mengambil minyak kayu putih yang ada di dekat Indah, yang sebelumnya sudah bi Yani balurkan ke bagian pelipis dan leher Indah. Kini mami Riana memijat bagian antara ibu jari dan jari telunjuk dengan minyak kayu putih, berharap menantunya segera sadar.


"Andrian kemana bi?" tanya papi Alex.


"Kemarin pagi, tuan muda di antar non Indah ke bandara tuan. Kata non Indah, tuan muda ada kerjaan di luar negeri. Perusahaan yang ada di sana mengalami masalah." bi Yani menjawab sesuai dengan apa yang dia tahu, menundukan pandangannya tidak berani menatap tuan besarnya.


"Perusahaan mana yang bermasalah? setahuku tidak ada masalah apa pun!" monolog papi Alex.


"Terus kenapa Indah bisa sampai pingsan?" tanya tuan besar itu lagi.


Bi Yani masih dengan menundukan pandangannya menceritakan semua, dari Indah yang meminta di buatkan nasi goreng hingga saat dirinya akan memanggil Indah namun mendapati nonna-nya itu sedang terduduk di lantai menangisi foto Andrian bersama dengan Olivia.


"Kenapa anak bodoh itu masih menyimpan foto-foto ini di sini?!" geram papi Alex yang baru sadar ada foto-foto yang tidak pantas untuk di lihat menantunya.


Bagaimana mungkin seorang suami masih menyimpan foto wanita lain di dalam rumah yang ia tempati dengan istrinya. Sungguh bodoh memang Andrian. Tidak memikirkan perasaan Indah sama sekali.


"Dan maaf tuan. Sepertinya non Indah merasa kurang percaya diri karena tuan muda tidak mencintainya dan masih mencintai wanita lain. Tadi non Indah bertanya kepada saya, apakah seharusnya nona menyerah dan membiarkan tuan muda bahagia bersama dengan wanita yang di cintainya?"


Bi Yani kembali menceritakan semua yang Indah katakan kepadanya dengan tangisan Indah yang begitu memilukan. Bahkan dia yang orang lain saja merasa tidak tega melihat Indah menangis seperti itu.

__ADS_1


"Anak kurang ajar! berani-beraninya dia menyakiti menantuku. Mau di taruh di mana mukaku saat bertemu Gilang nanti?" geram dengan tingkah anaknya, papi Alex mencoba menghubungi Sarah untuk menanyakan Andrian pergi kemana. Perusahaan mana yang bermasalah?


Di tengah rasa geram yang papi Alex rasakan, Indah mulai membuka kelopak matanya.


"Kamu sudah sadar sayang?" tanya mami Riana yang wajahnya sudah di penuhi air mata saat melihat menantunya dan mendengar bagaimana sedihnya wanita yang belum lama resmi menjadi anaknya itu.


"Mami disini? mami kok nangis?" tanya Indah saat mendapati mami mertuanya duduk di dekat kakinya, sedang menggenggam tangannya.


"Iya. Tadi bi Yani kasih tahu kalau kamu pingsan." membantu menantuanya yang akan duduk.


"Indah gak papa kok mih. Tadi kepala Indah cuma berat aja."


"Kamu gak perlu mikirin anak bodoh itu. Selamanya kamu akan menjadi anak mami. Menjadi pendamping Andrian satu-satunya." air mata Indah kembali meleleh saat mertuanya mencoba meyakinkannya. Tapi itu justru membuat apa yang baru saja Indah alami itu semakin nyata. Nyata kalau Andrian tidak mencintainya. Rasa sakit itu kembali muncul di dadanya. Membuatnya kembali terisak.


"Tapi kak Rian gak cinta sama aku mih.. Dia cintanya sama Olivia! pernikahan ini cuma akan menyakiti kami bertiga!" Indah tidak ingin merasa bersalah karena memisahkan orang yang saling mencintai. Dan Indah juga tidak ingin tersakiti karena hidup dengan pria yang mencintai wanita lain. Lebih baik sakit untu melepaskan dan melupakan, dari pada sakit untuk bertahan yang tidak akan berkesudahan.


"Kenapa aku jadi lemah gini karena cinta mih?"


Mami mertuanya juga sadar. Gadis ceria yang suka ngomong se-enaknya itu kini terlihat lemah karena mencintai anaknya. Gadis yang dulu ia kenal sebelum menikah tidak seperti ini.


"Mami yakin kamu kuat sayang." mami Riana memeluk menantunya. Ikut menangis bersama dan berbagi kesedihan.


***


Papi Alex pamit terlebih dahulu ketika melihat menantunya sudah lebih tenang. Dia akan menyelesaikan suatu urusan di kantor.


Sedangkan mami Riana menemani dan membuatkam banyak makanan untuk Indah sarapan.

__ADS_1


"Makan yang banyak. Kata bibi kamu belum makan dari pagi!" Indah mengangguk dan menghabiskan dengan lahap sarapannya yang terlambat.


"Lain kali, kalau Rian pergi keluar kota atau keluar negeri kamu jangan di rumah sendirian seperti ini! lebih baik tidur di tempat mami!" rasanya kesal kepada Andrian. Selain masih menyimpam foto-foto Olivia dan belum membuka hatinya untuk Indah, dia juga tega meninggalkan istrinya seorang diri di apartemen.


"Biasanya kan Indah ikut pergi mih. Tapi gak tau kali ini katanya Indah di rumah aja biar gak capek. Terus niatnya juga mau nginep di tempat ayah abis ini. Tapi sekarang gak mungkin kan mih? mata Indah kaya jengkol begini!" jawab Indah yang masih menyuap nasi dan kawan-kawannya ke dalam mulutnya dengan lahap.


"Ya udah. Setelah ini kita ke rumah mami aja ya." tawar mami mertuanya sembari menyodorkan air putih ke hadapan menantunya yang makannya seperti orang kelaparan tidak di beri makan tiga hari.


"Oke mih. Aku juga males tinggal disini. Males juga ketemu kakak! biarin aja tidur sendiri dia kalo udah pulang!! manusia kulkas nyebelin!!" gerutunya membuat mertuanya terkekeh.


"Emang kamu gak mau ngaduin Rian ke ayah kamu?"


"Ngadu pun gak akan ngerubah perasaan kakak jadi cinta sama aku kan mih?"


Indah tahu tidak akan semudah itu membuat suaminya berpaling padanya. Mereka sudah dekat selama berbulan-bulan, sudah menikah dan menyerahkan semuanya kepada Andrian. Tapi tetap saja hati suaminya masih belum terbuka untuknya.


Indah tersenyum miris mengingat betapa dia berusaha mengambil hati sang suami. Berubah menjadi wanita yang lebih anggun, memask tiap hari, melayani semua kebutuhan suaminya dengan baik. Tapi bahkan sikap baik suaminya masih pura-pura untuknya.


"Lagian aku gak mau berbagi kesedihan dengan ayah. Aku kan udah nikah, udah gak boleh manja kaya dulu lagi. Gak boleh apa-apa ngadu. Ini masalah rumah tangga aku sama kakak. Jadi biarkan kami yang menyelesaikannya." tersenyum getir.


"Aku juga gak mau ayah jadi benci sama kakak. Aku gak mau orang yang aku cintai di benci sama ayah." lirihnya sedih.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2