
Pemandangan Andrian yang tertawa bersama anak-anak membuat hati Indah menghangat. Begitukah nanti jika mereka menikah dan memiliki anak? Apa Andrian akan bahagia seperti itu setiap hari? Bermain bersama anak-anak mereka?
Indah menggelengkan kepalanya." Mikir apa sih gue.. Hubungan aja masih abu-abu udah mikirin anak!!" Gerutu Indah dalam hati.
"Tanteee... Mau gak main sama kami." suara anak kecil disampingnya yang menatap Indah penuh harap mengembalikan kesadaran Indah tentang masa depan hayalannya.
"Waduhhh jangan panggil tante dong. Panggil aunty aja atau kakak Indah ya." mengusap kepala gadis kecil yang sedang tersenyum kearahnya. Sedangkan tidak jauh dari gadis itu berdiri teman-teman perempuannya yang lain. Yang juga ingin bermain bersama Indah, tapi segan karena mereka baru pertama kali bertemu dengan Indah.
"Oke onty. onty mau main sama kami gak?" Indah terkekeh dan mengangguk. "Boleh. Mau main apa emang?" Indah berdiri saat anak kecil itu menariknya. Mereka menuju bawah pohon yang rindang. Duduk beralaskan rumput yang rapi.
"Onty bisa menguncir rambut tidak? teman aku disekolah suka rambutnya dikuncir atau di kepang cantik gitu onty. Tapi ibu disini gak ada yang bisa." Indah menatap sedih pada gadis kecil dihadapannya.
Disini dia merasa beruntung mempunyai orang tua yang lengkap, terutama bunda yang selalu ada waktu dan melimpahinya kasih sayang. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak-anak disini saat melihat teman mereka disekolah diantar jemput ibu mereka. Atau saat acara yang membutuhkan kehadiran orang tua. Pasti ada sebersit rasa sedih dah iri di hati kecil mereka.
"Bisa dong. Mau model seperti apa?" Indah membuka ponselnya dan mencari model rambut pada mesin pencarian untuk dia tunjukan pada anak-anak supaya memilih.
Mereka berebut dengan antusias memilih gaya rambut yang mereka inginkan. "Oke mulai dari si kecil dulu. Siapa nama kamu sayang?"
"Lila onty." Indah tersenyum dan mulai menyisir rambut Lila. Menyisir, mengepang dengan model yang lucu dan menggemaskan dengan wajah imut Lila.
Anak-anak mengantri menunggu giliran untuk menata rambut mereka. Andrian yang sedang beristirahat setelah permainan bolanya selesai dengan anak laki-laki menatap Indah dari jauhan.
Tawa wanita itu, keceriaanya, ketulusan hatinya memang membuat siapa saja merasa nyaman. Dirinya juga merasakan hal yang sama. Namun terlalu gengsi untuk mengakuinya. Tidak heran jika anak-anak mudah akrab dengan Indah walaupun mereka baru pertama bertemu.
Melihat Indah tertawa dengan anak-anak menghangatkan hatinya. Ternyata dibalik sifat menyebalkan dan ceplas-ceplos, Indah memiliki sisi keibuan yang kuat. Bagaimana dia bisa melihat wanita itu menasehati anak yang sedang bertengkar memperebutkan kuncir rambut dengan lembut hingga mereka mau mendengarkannya.
"Cieee Om Andri suka ya sama tante Indah?" goda anak laki-laki yang paling besar.
"Anak kecil tau apa kamu!" Memiting leher anak itu dan mengacak-acak rambutnya membuat anak-anak tertawa.
__ADS_1
***
Hari semakin terik, mereka memasuki panti untuk berlindung dari sengatan matahari.
Mereka sedang meminum es buah yang ibu panti buat saat sebuah box delivery membunyikan klakson.
"Maaf mengganggu.. Mau mengantarkan pesanan atas nama ibu Indah." semua mata menatap ke arah Indah termasuk Andrian. Karena Andrian tidak tahu Indah punya inisiatif membeli makan siang untuk mereka. Sedangkan dia sendiri saja lupa.
"Gue belum tua lah bang. Jangan panggil Ibu." menandatangani tanda terima sambil cemberut. Sedangkan kurir itu langsung berlalu untuk membantu temannya yang sedang menurunkan makanan yang dipesan Indah.
"Kamu yang pesan?" tanya Andrian mendekati Indah yang masih berdiri mengawasi kurir yang mengantar makanan.
"Iya. Ini kan udah waktunya makan siang. Pasti mereka lapar."
Anak-anak bersorak bahagia saat makanan datang. Ada nasi boks, puding, es krim tak lupa buah tersaji lengkap di meja makan.
"Terimakasih ya Nak Indah. Sudah memesankan makanan segini banyaknya untuk kami." ucap Ibu panti dengan senyum dan tatapan teduh.
"Ini bukan apa-apa kok bu. Indah seneng bisa makan bareng mereka. Indah di rumah anak tunggal, jadi gak pernah ngerasain punya saudara seperti ini."
"Kalu begitu sering-sering main kemari jika Nak Indah kesepian. Anak-anak pasti senang jika kalian main kemari."
"Kalau itu sih terserah Kak Rian bu. Indah kan kariawannya. Jadi mana bisa bolos kerja seenaknya." Indah menatap Andrian yang duduk disebelahnya sedang menikmati makan siangnya. Pria itu hanya mengangkat bahu acuh.
***
Indah meregangkan ototnya saat mereka sudah masuk mobil untuk pulang. "Capeknya.. Tapi seneng. Kapan-kapan kalau kakak kesini lagi ajakin aku ya kak?" menengok ke arah Andrian yang sedang mengemudi. Sedangkan pria itu hanya menjawab dengan dehaman.
"Kakak tuh sering kesini ya?" tanya Indah lagi pantang menyerah.
__ADS_1
"Sering." lagi-lagi jawaban singkat.
"Kakak beda banget sih. Kayaknya seneng banget pas main bareng anak-anak. Bisa ketawa lepas, keliatan banget bahagianya." Indah kembali duduk menghadap kedepan.
"Tapi giliran sama Indah ketus banget. Segitu bencinya kah kakak sama aku?" suara lirih Indah membuat Andrian tidak enak hati. Bukan karena dia membenci gadis itu. Atau tidak menerima kehadirannya.
Tapi Andrian hanya tidak ingin memberikan harapan yang tidak pasti kepada Indah. Dia akan memantapkan hatinya terlebih dahulu untuk melangkah menuju Indah dan meninggalkan Olivia. Karena jujur saja saat ini dirinya masih sangat mencintai wanita yang menemaninya di saat-saat sepinya dulu.
Andrian sering datang ke panti asuhan juga karena disana suasananya sama dengan tempat dimana Olivia tinggal dulu. Dimana dia sering bermain dengan anak-anak kecil yang kekurangan kasih sayang dan perhatian.
Hati Andirian masih jauh dari kata cinta untuk Indah. Tapi kedua orang tuanya terus saja mendesaknya untuk segera menikahi Indah. Dan gadis itu dengan tegas bilang, jika dia tidak akan mau menikah jika Andrian tidak mencintainya. Andrian semakin frustasi dengan orang tuanya dan Indah.
"Bagaimana jika kita menikah bulan depan?" pertanyaan Andrian yang tiba-tiba di keheningan mobil yang membelah jalanan ibu kota membuat Indah tercengang
"Kaka gak kesambet kan? tiba-tiba ngajak nikah?" bukannya menjawab malah Indah balik bertanya setelah sekian lama hanya diam tercengang. Dan tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Dawson.
"Mana ada saya kesambet. Saya serius mengajak kamu menikah." tegas Andrian lagi.
"Kenapa tiba-tiba? terus kenapa juga harus bulan depan?"" Indah menggeleng dan membuka seatbelt dan keluar dari mobil untuk memasuki kediaman Dawson.
"Saya siap menikahimu kapan pun kamu mau!" Andrian berterikak kepada gadis yang berjalan menjauhinya.
"Tapi aku yang tidak mau.. Kakak terlalu dingin untuk gadis sepertiku."
*
*
*
__ADS_1