
Kabar yang disampaikan oleh Gilang melalui telepon membuat Alex dan istrinya bahagia. Andrian yang masih betah di dalam kamarnya dengan laptop di pangkuan merasa kaget dan tidak percaya jika gadis manja itu akhirnya mau menikah dengannya. Kenapa dengan gadis itu? Apakah dia salah makan hari ini? Begitu pikir Andrian.
Mami Riana keluar dari kamar Andrian setelah menyampaikan kabar diterimanya lamaran mereka dan rencananya besok malam mereka akan datang ke kediaman Renjana untuk melamar Indah secara resmi. Andrian langsung mengambil ponselnya menghubungi gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Setelah dering ke lima barulah teleponnya diangkat. "Kenapa kak?" tembak Indah langsung dengan nada yang sedikit tinggi, sampai Andrian menjauhkan ponsel untuk mengusap telinganya yang berdenging.
"Kamu bisa tidak sih salam dulu kalau mengangkat telepon! Setidaknya say hello gitu!" seru Andrian.
"Bawel deh. Kenapa kakak telepon? Tumben banget!" suara Indah sudah kembali normal.
"Kamu makan apa hari ini?"
"Kenapa emang? aku gak sempet sarapan, soalnya kesiangan bangunnya. Terus makan siang tadi makan bareng temen arisan bunda dirumah. Kenapa sih?" Indah heran Andrian yang biasanya tidak pernah menghubunginya terlebih dahulu jika bukan urusan kerjaan, hari ini menelponnya hanya untuk bertanya makan apa.
"Kamu lagi sakit?" tanya Andrian merasa belum puas dengan jawaban yang ia dapat.
"Gak kok." memeriksa dahi dan lehernya yang memang tidak terasa panas.
"Terus kenapa tiba-tiba nerima lamaran saya? " sahut Andrian kepada inti kenapa dia menelpon.
Indah menganggukkan kepalanya sekarang, mengerti keanehan orang yang sedang berbicara dengannya diseberang sana. "Ya kalau kakak gak mau nikah sama Indah ya gak papa sih, biar nanti aku bilang ayah kalau gak jadi nerima lamarannya." tersenyum, Indah ingin lihat sejauh mana Andrian serius akan menikahinya.
"Jangan! Jangan dibatalkan. Saya mau menikah dengan kamu. Besok malam saya beserta keluarga akan datang ke rumah kamu untuk melamar kamu secara resmi." jawab Andrian langsung. Tidak ingin Indah merubah pikirannya.
__ADS_1
"Iya tadi bunda udah cerita. Jadi besok aku gak ke kantor ya kak. Kata bunda aku suruh ke salon biar cantik paripurna sejagat raya." Andrian menarik sudut bibirnya. Padahal tanpa kesalonpun Indah sudah cantik. Andrian buru - buru menggelengkan kepalanya. Dia kaget dengan apa yang dipikirkannya barusan.
"Apa saya perlu menyiapka lamaran romantis untuk kamu? Bukan apa-apa, pasti kebanyakan wanita ingin dilamar secara romantis oleh pasangannya." Andrian ingin memberikan yang terbaik untuk Indah, walaupun hatinya masih milik wanita lain.
"Gak perlu kak. Cukup dengan kakak belajar menganggap kehadiran Indah, dan membuka hati kakak buat aku." jawab Indah yakin. Untuk apa lamaran romantis. Itu hanya untuk pasangan yang saling mencintai. Sedangkan dirinya dan Andrian tidak seperti itu.
"Baiklah jika begitu. Sampai bertemu besok malam. Saya ingin lihat secantik apa kamu besok." Indah tersenyum dan mengangguk walaupun tahu Andrian tidak melihatnya.
***
Hari berikutnya Indah dibawa oleh sang bunda ke salon langganannya. Meminta mereka untuk melakukan perawatan lengkap untuk Indah. Padahal ini hanya lamaran, untuk apa seheboh ini, pikir Indah. Tapi dia tidak akan mengungkapkan itu kepada bundanya. Hari ini bunda Anita terlihat sangat bahagia, dan Indah tidak akan merusak kebahagiaan orang yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkannya sampai detik ini.
Menjelang sore mereka baru pulang dengan membawa kebaya modern yang mereka beli di butik langganan keluarga. Mereka tidak sempat untuk membuat baju sendiri. Tapi untung saja ada ukuran yang pas dan bagus untuk Indah. Karena yang paling penting malam ini adalah Indah harus terlihat sempurna.
Saat baru selesai di rias masuklah semua sahabatnya. Semalam dia langsung memberi tahu kepada mereka tentang acara hari ini. Berharap mereka mau menemaninya. Dan tentu saja, tanpa dimintapun mereka akan mengesampingkan segala urusan mereka hanya untuk menemani Indah dihari pentingnya.
"Kalah start gueeee...!!" seru Nurin membuat sahabatnya tertawa semua.
"Cinta juga butuh bukti dan Tanggungjawab Rin. Percuma dong kalau Leon selalu bilang sayang tapi gak pernah punya keberanian buat milikin lo seutuhnya." ucap Shevi yang perutnya sudah membesar kepada Nurin.
"Pada akhirnya, yang bilang sayang akan kalah dengan yang berani meminang." imbuh Indah dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Aaahhh jahat lo Ndah..." seru Nurin merengek. Yang lagi-lagi membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
Tawa mereka terintrupsi oleh kehadiran Ricky yang menyuruh Indah keluar karena Andrian dan keluarganya sudah datang.
"Minum dulu Ndah.. Gue tau lo pasti tegang nanti. Dari pada lo pingsan kan berabe!" Lidia menyerahkan gelas berisi air putih kepada Indah.
"Sialan lo!!" Umpat Indah tapi mengambil dan meminum juga air yang diberikan sahabatnya itu.
Indah melangkahkan kakinya dengan gugup. Nurin dan Nay disisi kanan dan kirinya, sedangkan Shevi dan Lidia berada dibelakang mereka.
Entah keputusannya ini benar atau salah, Indah akan menghadapinya. Diiringi semua sahabatnya dia menapakkan kakinya satu persatu menuruni anak tangga. Setiap menuruni satu anak tangga, degup jantungnya semakin terasa cepat. Mengeratkan genggamannya di lengan Nay dan Nurin. Mereka berdua menoleh dan memberikan senyuman seraya mengusap tangan Indah yang terasa dingin untuk mengurangi rasa gugup yang sahabat mereka rasakan.
Sedangkan dibawah sana orang-orang yang hadir terpana melihat penampilan Indah. Wanita berusia dua puluh empat tahun itu terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya model mermaid berwarna pink yang dipercantik dengan bordiran bunga, penambahan kain tulle dikedua sisi lengannya pun membuat kebaya terlihat begitu manis, sehingga ia terlihat begitu cantik, terkesan mewah dan modern. Rambut yang di kepang fishtail braid menambah kesan elegant untuk gadis itu.
Andrian merasakan perasaan yang aneh dalam dadanya. Perasaan ingin memiliki dan tidak ingin orang lain melihat kecantikan calon istrinya itu.
Benar kata Indah kemarin. Malam hari ini Indah terlihat sempurna dimatanya. Oh iya Andrian ingat seperti apa rupa gadisnya malam ini. Paripurna. Ya, kata itu yang diucapkan Indah kemarin kepadanya. Dan Andrian akui itu. Jika Indah malam hari ini terlihat sangat cantik.
"Tidak salah mami dan papi milihin dia buat jadi istrimu. Indah begitu cantik." bisik kakak perempuan Andrian yang langsung pulang saat diberi kabar adik kesayangannya akan bertunangan. Dia sampai memesan tiket untuk keberangkatan pertama hari itu juga.
"Ya. Dan gadis yang begitu cantik itu sebentar lagi akan menjadi milikku seutuhnya." jawab Andrian yakin dengan berbisik juga.
*
*
__ADS_1
*