My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Foto


__ADS_3

...``Menikah bukanlah bisa hidup dengannya, menikah berarti tidak bisa hidup tanpanya.``...


Begitu juga yang di rasakan Indah saat ini. Baru juga di tinggal sehari, tapi rasanya tidak ada semangat sama sekali untuk menjalani hari.


Sudah lebih dari 24 jam. Seharusnya Andrian sudah sampai di LA yang hanya membutuhkan waktu penerbangan kurang dari 20 jam. Tapi hingga detik ini Andrian belum juga menghubunginya.


"Apa sibuk ya?" gumamnya sendiri.


"Atau lagi istirahat karena baru sampai?" mondar mandir antara dapur ke ruang tamu, menghilangkan kegundahan hatinya.


Sesekali melihat ponselnya dan mencoba menghubungi Andrian lebih dulu. Namun ponsel suaminya tidak dapat di hubungi. Hanya suara operator yang menjawab bahwa nomor itu sedang tidak aktif.


"Non Indah sudah sarapan?" pertanyaan asisten rumah tangganya mengagetkan Indah.


Bi Yani yang baru datang dan tidak mendapati piring kotor di dapur menebak jika nona-nya belum sarapan.


"Belum bi. Tapi udah makan buah tadi." tersenyum dan beranjak duduk di sofa.


"Mau bibi buatkan sarapan non?" bi Yani takut majikannya itu sakit jika tidak sarapan. Karena setahunya, kedua majikannya selalu rutin sarapan.


"Boleh bi. Bikinin nasi goreng aja ya? udah lama gak makan nasi goreng. Kak Rian kurang suka." mata Indah berbinar membayangkan nasi goreng.


"Baik non, ada lagi?" untuk pertama kalinya ia akan memasak untuk majikannya.


"Telornya di ceplok aja bi.. terus nasi gorengnya di kasih sosis sama bakso. Kayaknya di kulkas masih ada. Minumnya bikinin jeruk anget aja."


Bi sari mengangguk dan berlalu ke arah dapur kecil di apartemen itu.

__ADS_1


Sembari menunggu bi Sari memasak, Indah melihat ke arah pintu yang belum pernah ia masuki. Pintu yang kata suaminya adalah ruang kerjanya.


Indah memutar hendle pintu yang ternyata tidak di kunci. Mendorong dan memasukan tubuhnya lebih dalam. Aroma suaminya sangat kuat di dalam ruangan itu, seperti kamar Andrian yang ada di rumah mertuanya.


Dibelakang meja kerja ada foto yang cukup besar, foto wisuda Andrian yang di apit kedua orang tuanya.


Tidak terlalu banyak isi seperti biasa. Karena sebenarnya Andrian jarang tidur di sini kecuali jika banyak kerjaan hingga larut malam.


Saat akan berbalik untuk keluar karena tidak menemukan hal menarik, hatinya mencelos seketika. Di dinding sebelah pintu terdapat beberapa foto yang juga di cetak cukup besar. Foto seorang gadis berambut pirang berombak yang Indah yakin itu adalah Olivia saat masih sehat dulu.


Ada juga foto Olivia yang sedang di rangkul oleh Andrian, mereka saling tatap dan tersenyum. Di situ Indah bisa melihat jika mereka saling mencintai, dan betapa besar cinta suaminya kepada Olivia, tatapan yang tidak pernah Andrian berikan padanya.


Semakin jelaslah jika Indah bukan siapa-siapa di hati suaminya. Dia hanyalah seorang istri yang ada untuk meneruskan garis keturunan. Indah merasa menjadi orang asing dalam hubungan suaminya. Padahal dia yang istri sah. Tapi yang sah memang bukan berarti yang memiliki hati. Dan cinta juga bukan berarti akan berakhir dengan pernikahan.


Indah memukul dadanya yang terasa sesak. Lelehan air mata tak dapat lagi ia bendung. Rasanya sakit sekali saat kita mencintai orang yang tidak mencintai kita. Itu kenapa dari dulu Indah enggan untuk berpacaran. Dia takut bertemu orang yang salah, orang yang tidak bisa mencintainya dengan tulus, orang yang tidak menyayanginya seperti ayah menyayanginya selama ini.


Harus bersikap seperti apa Indah nanti jika Andrian pulang? Masihkah ia dpat menatap Andrian seperti sebelum dia tahu ini semua? Haruskah ia berpura-pura bersikap bodoh dan percaya jika Andrian menyayanginya?


Bi Yani terpekik kaget saat mendapati nonna-nya duduk di lantai dengan tangisan yang terdengar memilukan.


"Non Indah kenapa?" bi Yani yang mendekat langsung Indah peluk dengan erat.


"Kak Rian bi.. Kak Rian milik Indah kan..? atau milik wanita itu??" rancaunya dengan suara yang tidak jelas di telan tangis.


"Indah harus gimana bi.. Apa Indah harus berjuang demi pernikahan ini? atau Indah harus pergi agar kak Rian bisa hidup bahagia dengan wanita yang dia cintai?"


Bi Yani bingung harus harus menjawab apa. Dia tahu mengenai siapa foto wanita yang ada di dinding belakangnya. Karena dia bekerja di rumah keluarga Dawson dan tahu saat Andrian bertunangan dengan wanita itu.

__ADS_1


"Kak Rian gak cinta sama aku bi.. dia gak cintaaa.." jeritan histeris Indah membuat bi Yani semakin bingung. Dia harus memberi tahu tuan dan nyonya besarnya, tapi sulit untuk menghubungi mereka dalam posisi seperti ini.


"Kenapa aku begitu bodoh menerima pernikahan ini bi... kenapa aku terbuai sama sikap kak Rian yang manis belakangan ini.. kenapa aku bodoh bi.. kenapa??" melepaskan pelukannya dan mengguncang tubuh wanita paruh baya di depannya dengan suara yang melemah.


Bi Yani kembali membawa Indah dalam dekapannya. "Non Indah yang sabar. Non tidak boleh meninggalkan tuan muda begitu saja. Suami istri itu harus saling melengkapi dan selalu ada di sisi pasangannya. Kalau non meninggalkan tuan muda, sama saja non memberikan tuan muda kepada wanita itu." bi Yani dapat melihat tuannya yang mulai tersenyum lagi semenjak mereka menikah. Dan bi Yani tidak ingin kehilangan senyuman itu lagi jika nonna-nya pergi dari sisi tuannya.


"Tapi dia gak cinta bi.. sama aku.."


Nelangsa rasanya melihat Indah menangis seperti itu. Bi Yani jadi terbayang wajah anaknya yang seusia dengan Indah.


"Cinta itu bisa tumbuh seiring dengan kedekatan yang kalian bangun. Cinta tidak tumbuh begitu saja, apa lagi kalian belum lama saling kenal dan baru menikah. Masih lama non prosesnya." mengusap dengan lembut punggung Indah.


"Jika gara-gara lihat foto, non Indah sudah melemah seperti ini.. bagaimana jika badai yang lebih besar menerjang kapal rumah tangga kalian." menjauhkan tubuhnya dan menghapus air mata di wajah cantik Indah yang kini terlihat pucat.


"Namanya rumah tangga pasti ada awan cerah dan mendungnya. Kapan awan mendung itu datang, kita tidak bisa memperkirakannya. Bisa saja hari ini penuh awan cerah, tapi besok awan mendung datang dengan bala petirnya." menangkup kedua tangan Indah.


"Karena kita tidak bisa memperediksi, kita harus mempersiapkan mental kita untuk segala kemungkinannya kan non? seperti pepatah bilang, sedia payung sebelum hujan."


Indah sudah lebih tenang walau masih sesenggukan.


"Jangan biarkan tubuh non Indah basah terkena hujan lalu sakit! tamengi tubuh non Indah dengan mantel agar hujan tidak dapat menyentuh tubuh non Indah barang sedikit pun."


Kepala Indah yang terasa berat akibat menangis hebat, tidak dapat mendengar nasihat bi Yani selanjutnya. Pandangannya tiba-tiba kabur dan gelap.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2