My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Menjemput Olivia


__ADS_3

Mengizinkan bukan berarti mengikhlaskan. Mana ada perempuan yang ikhlas suaminya menjemput dan membawa pulang wanita lain yang di cintainya. Wanita yang juga mencintai suaminya, yang berharap memiliki suaminya. Wanita yang tidak tahu jika pria yang dia cintai sudah beristri dan sedang mengandung anak dari prianya.


Seperti sekarang, Indah yang mencoba tegar melepas sang suami pergi menjemput mantan tunangannya. Atau masih tunangan? karena selama ini tidak pernah ada pembatalan pertunangan bukan? entahlah. Indah tidak mau memikirkannya.


Indah meminta Andrian untuk pergi bersama dengan Sarah. Dia tidak akan membiarkan suaminya hanya berdua saja dengan Olivia. Untungnya Sarah sangat mendukung Indah, dan akan memastikan hal yang wanita hamil itu khawatirkan tidak akan pernah terjadi.


"Pokoknya gak boleh lama-lama di sana! awas aja kalau di sana malah nostalgilaan! aku santet kalian dari rumah!" acam Indah saat suaminya akan berangkat.


Andrian terkekeh melihat istrinya merajuk seperti itu. memagut sekilas bibir manyun milik istrinya.


"Aku serius kak! malah ketawa!" Indah semakin kesal melihat suaminya menertawakannya.


"Iya sayang. Aku janji gak akan lama dan gak macam-macam." Andrian memeluk istrinya lembut. Tidak berani erat-erat takut menyakiti anak mereka.


"Kamu kan udah kirim satpam buat jagain aku. Kenapa masih takut. hmm?"


"Mba Sarah tetap aja bawahan kamu. Dia lebih takut sama kakak dari pada persahabatan kita yang masih seumur jagung. Jadi bisa aja kan kakak nyuruh dia pergi pas di sana, tapi bilngnya ke aku kalian barengan terus!"


"Itu gak akan terjadi! apa kamu masih meragukan janji suci kita di hadapan Tuhan? dihadapan banyak orang?" melepaskan pelukan dan berjongkok agar setara dengan perut istrinya, mengajak anaknya berbicara.


"Kalau orang yang nikah kuat sama janjinya di hadapan Tuhan, gak akan ada yang namanya perselingkuhan, perceraian kak!"


"Tapi aku bukan salah satu dari mereka! aku pria yang akan menepati janjiku, terutama untuk istri dan anakku."


"Tetep aja kakak masih cinta sama dia!" Andrian mengajak Indah ke sofa dan mendudukan wanita itu di pangkuannya.


"Aku sendiri aja udah ragu sama perasaan aku kepada Olivia. Disaat Olivia memelukku, rasanya tidak senyaman memeluk kamu. Dan waktu satu minggu bersama Olivia, yang ada di mata dan pikiran aku cuma kamu sayang. Cuma istri aku yang suka ngambek ini!" mencolek hidung Indah, membuat wanita itu cemberut tapi tersipu malu dengan kata-kata Andrian.


"Tapi kakak gak bohong kan?"


"Aku gak bohong! tapi sayang, aku boleh minta sesuatu dari kamu?"

__ADS_1


Indah hanya mengerutkan kedua alisnya, menunggu kelanjutan kata-kata suaminya.


***


"Maaf Pak. Bapak sudah menghubungi ibu kalau kita sudah sampai?" tanya Sarah kepada Andrian.


Mereka baru saja mendarat sore hari waktu setempat. Mereka memutuskan akan bermalam di hotel yang dekat dengan rumah sakit terlebih dahulu. Besok pagi baru menjemput dan membawa Olivia pulang.


"Oh iya. Untung kamu ingatkan. Bisa marah dia kalau sampai saya tidak menghubunginya." Andrian mengambil ponselnya dan menjauh ke tempat yang tidak bising untuk menghubungi istrinya.


Sarah menggelengkan kepalanya dan menunggu di sofa loby hotel.


"Jelas aja lah marah! kalau aku jadi Indah juga gak bakalan aku kasih ijin buat jemput Olivia! biarin aja dia bunuh diri!" Sarah masih kesal sebenarnya dengan keputusan Indah ini. Untuk apa juga menolong Olivia! toh keluarga Dawson sudah menjamin hidup Olivia agar perempuan itu tidak kesusahan.


"Lho. kenapa kamu masih disini tidak ke kamar duluan?" heran mendapati Sarah yang masih menunggunya.


"Kamu sudah pesan kamar sekalian kan untuk kita?" imbuhnya lagi.


"Sudah pak. Saya sudah memesankan kamar hotel sekalian waktu pesan tiket pesawat. Saya hanya menunggu bapak saja." jawab Sarah dengan tersenyum.


***


Esok paginya setelah Andrian memakan sarapan yang di pesankan oleh Sarah, ia keluar berniat mengetuk kamar Sarah dan mengajaknya ke rumah sakit. Tapi saat baru membuka pintu kamarnya, Andrian kaget mendapati Sarah yang sudah rapi, berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyuman. Andrian menggelengkan kepalanya dan berlalu menuju lift.


Kini Andrian benar-benar seperti anak kecil yang selalu di ikutin oleh ibunya kemana pun dia pergi. Sarah tak pernah membiarkan Andrian sendiri, kecuali ketika mereka di dalam hotel.


"Kamu tuh bawahan saya atau Indah sih? kenapa mengikuti saya seperti anak kecil?" tanya Andrian yang kesal karen Sarah mengikutinya bahkan sampai ke depan toilet di rumah sakit.


"Saya bawahan bapak. Dan saya sahabat istri anda, yang tidak akan membiarkan anda mengkhianati sahabat saya." jawab Sarah biasa, seperti saat Andrian menanyakan jadwal padanya setiap pagi.


Andrian berdecak. "Kamu semenjak kenal Indah jadi menyebalkan, sama seperti dia."

__ADS_1


"Menyebalkan tapi bapak suka kan?" goda Sarah. Kapan lagi kan bisa menggoda bos dinginnya ini, jika bukan dalam misi menjaga kesetiaan bosnya pada sang istri.


"Kalau saya tidak suka, tidak mungkin ada anak saya dalam perutnya!" jawab Andrian seperti biasanya, dingin dan terdengar menyebalkan.


"Kalau begitu kenapa bapak masih peduli dengan Olivia. Kenapa bapak tidak memikirkan perasaan istri bapak di rumah."


"Saya punya hati Sarah. Melihat Olivia histeris saat saya tinggal, membuat saya tidak tega membiarkannya begitu saja!" mereka berjalan bersisian menuju ruang perawatan Olivia.


"Paling tidak, saya akan merawatnya hingga sembuh dan tidak takut lagi menghadapi dunia." Andrian mengahadap dan menatap Sarah serius, tepat di depan ruangan Olivia.


Memegang handle pintu dan memutarnya. Di dalam Olivia tersenyum sangat bahagia saat yang datang adalah Andrian.


Turun dari hospital bed dan berlari memeluk Andrian. "Aku pikir kau tidak akan datang! aku pikir, aku sudah di tinggalkan." tangis Olivia pecah dengan rasa lega yang luar biasa. Tiga minggu perempuan itu menunggu Andrian yang tidak kunjung datang, padahal kondisinya sudah sangat sehat untuk keluar dari rumah sakit. Dia pikir Andrian tidak akan pernah lagi menjemput dan menemuinya. Pihak rumah sakit hanya bilang, kalau mereka sudah menyampaikan keadaan Olivia kepada perwakilan Andrian di Indonesia.


"Ehhhmm.. ehhhmm.." Sarah berdeham, agar Andrian melepaskan pelukan Olivia. Dan mantra dehamannya berhasil. Atasannya itu langsung melepaskan pelukan Olivia dan mengenalkan mereka.


"Ini Sarah Sekretaris saya. Dia yang mengurus segala keperluanmu saat kau koma selama ini."


Olivia tersenyum dan mengulurkan tangannya yang langsung di jabat oleh Sarah.


"Terimakasih Sarah. Terimakasih sudah mengurus saya dan menjaga Andrian untuk saya."


"Eh?" Sarah yang bingung akhirnya hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Sore nanti kita akan langsung terbang ke Indonesia. Tadi saya sudah bertanya kepada dokter yang menangani kamu, dan katanya kamu sudah benar-benar sehat untuk perjalanan jauh."


Olivia sangat senang mendengar kabar yang Andrian bawa. Senang akhirnya bisa kembali bersama dengan lelaki yang di cintainya.


Andrian ridak mungkin berlama-lama di LA. Dia akan lebih dulu pulang, sebelum istrinya marah. Dan lagi baru dua hari meninggalkan Indah, rasanya pria itu sudah sangat merindukan istri dan calon anak mereka. Begitulah perasaan calon ayah baru yang sedang menikmati kebahagiaan keluarga kecil yang ia bangun. Tapi entah setelah membawa Olivia nanti.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2