
Kehamilan menjadi momen yang di tunggu-tunggu banyak wanita. Begitu juga dengan Indah. Dari pertama kali ia menyerahkan dirinya kepada sang suami, dalam hatinya selalu berharap agar anak cepat hadir sebagai pelengkap pernikahan mereka. Berharap dengan hadirnya buah hati, hati Andrian juga hadir untuknya. Berharap Andrian mencintainya melalui sang anak.
Bukan hanya Andrian dan Indah saja yang merasa bahagia dengan kabar kehamilan itu. Tapi kedua keluarga Dawson dan Renjana juga sangat bahagia. Bahkan ayah Indah sampai menitikan air mata, tidak percaya putri kecilnya akan segera menjadi seorang ibu. Ayah Gilang sangat memanjakan Indah saat menjenguknya di rumah sakit. Menyuapi anaknya dengan penuh cinta, membelikan semua yang Indah mau tanpa ada yang berani melarang.
Sejenak Andrian melupakan Olivia. Wanita yang seharusnya bisa keluar dari rumah sakit minggu lalu, tapi Andrian meminta pihak rumah sakit untuk menahan Olivia lebih lama hingga Andrian bisa menjemputnya. Menunggu kondisi istrinya benar-benar sehat dan meminta izin dari istrinya. Dia tidak ingin lagi membohongi Indah, tidak ingin membuat wanita yang sedang mengandung anaknya kecewa jika kebohongannya diketahui wanita itu.
Andrian juga harus meminta izin membawa Olivia ke Indonesia. Pria itu tidak ingin menyembunyikan keberadaan Olivia dari istrinya. Dia hanya berharap Indah bisa mengerti kondisinya dan kondisi Olivia.
"Kakak gak ke kantor lagi? ini udah dua minggu lho kak! aku juga udah sehat."
Hari sudah menjelang siang, tapi Andrian kembali mendekap istrinya di bawah selimut setelah mereka sarapan.
"Aku masih ingin main sama kamu dan anak kita." jawab Andrian masih setia memejamkan matanya, dengan bibir yang tak berhenti mencium puncak kepala istrinya.
"Tapi kan kakak punya tanggungjawab juga di kantor. Bukan hanya tanggungjawab sama aku dan anak kita! tapi tanggung jawab kakak sama ribuan karyawan kakak." bukannya tidak suka dengan suaminya yang selalu menemaninya di rumah. Bahkan kalau bisa, Indah ingin selalu seperti ini. Tidak membiarkan suaminya pergi sejengkal pun. Tapi wanita itu tidak ingin egois, suaminya punya tanggungjawab yang tak kalah besarnya di kantor.
"Aku kan masih tetep kerja di rumah sayang. Aku gak lupain tanggungjawab aku sebagai pimpinan." memang benar, meski di rumah, Andrian tetap bekerja melalui laptopnya. Bahkan meeting penting pun dia hadir melalui online. Jika ada berkas yang harus di tanda tangani, Sarah akan datang ke apartemen mereka untuk memintanya langsung.
"Tapi aku beneran udah sehat kak. Aku juga pengen kerja lagi."
Andrian melepaskan pelukannya dan menatap tajam istrinya. "Siapa yang ngijinin kamu bekerja? kamu di rumah aja, jaga anak kita baik-baik! aku gak mau kalian kenapa-kenapa!"
Indah menghela napas. "Indah bosen di rumah kak. Apa lagi kalo entar kakak udah mulai masuk kantor."
Mengecup bibir istrinya yang mengerucut menggemaskan. "Makanya aku di rumah."
"Kamu yakin udah sehat? udah gak ngerasain sakit lagi perutnya?" imbuh Andrian setelah hening beberapa saat.
"Bener kakak.. aku sama anak kita udah sehat banget." jawab Indah, mencangkup gemas kedua pipi suaminya.
__ADS_1
"Kalau gitu, aku boleh dong jengukin anak kita?" Andrian tersenyum penuh arti dengan kedua alis yang di gerakkan naik turun.
Mulai melancarkan ciuman di area-area sensitif Indah. Membuat wanita itu mendesah frustasi, hingga akhirnya memutuskan untuk menghubungi dokter kandungannya dulu untuk memastikan itu aman untuk mereka lakukan.
***
Merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya yang kelelahan setelah pergulatan panas mereka. Pergulatan yang berjalan lama hingga melewatkan makan siang. Andrian melepaskan rasa yang ia tahan tiga minggu ke belakang.
"Kamu gak papa kan? gimana anak kita?" tanya Andrian yang merasa bersalah saat melihat istrinya memejamkan mata saking lelahnya. Mengusap lembut perut istrinya, dimana anak mereka berada.
"Aku baik-baik aja kak. Bahkan luar biasa baik." Indah hanya lelah saja, wanita itu juga sama menikmati permainan suaminya.
Ada orang bilang kebanyakan ibu hamil mengalami peningkatan libido saat hamil, dan Indah merasakannya kini. Dorongan **** Indah rasanya melonjak dari pada sebelumnya.
"Kalau begitu nanti malam boleh lagi dong?"
"Kakak iiihhh..." Jerit Indah dan memukul dada suaminya, membuat lelaki itu tertawa dan kembali mendekap erat sang istri.
Indah mengernyit heran. Berusaha mendorong dada suaminya agar dapat melihat wajah Andrian, tapi suaminya itu malah semakin erat mendekapnya. Andrian tidak ingin melihat tatapan kecewa dari istrinya.
"Tentang apa?" perasaan Indah sudah tidak enak mendengar nada serius suaminya.
Andrian menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kepada istrinya. Berusaha terbuka demi kelangsungan keluarganya.
"Olivia sudah sadar." Andrian bisa merasakan tubuh istrinya menegang, tapi masih belum mengeluarkan suara apapun, seakan menunggu Andrian melanjutkan kata-katanya.
"Dia depresi dan mencoba bunuh diri ketika mengingat apa yang membuatnya berada di rumah sakit." mencium dahi istrinya, Andrian tahu Indah sedang mencoba menahan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.
"Kemarin waktu aku keluar negeri, aku menemuinya. Pihak rumah sakit memberikan kabar tentang percobaan bunuh diri Olivia kepada Sarah."
__ADS_1
Indah masih belum memberikan respon apapun. Membuat Andrian frustasi memikirkan istrinya.
"Harusnya dia keluar dari rumah sakit minggu kemarin. Tapi karena aku belum bisa menjemput, akhirnya dokter menahan kepulangannya." masih dengan nada yang lembut. Menjelaskan tanpa ada yang di tutupi lagi kepada istrinya. Mengusap punggung istrinya, mengalirkan rasa aman dan nyaman. Memberikan kecupan-kecupan di dahi istrinya, mengurangi kegundahan hatinya sendiri.
"Aku tidak memberimu kabar karena aku belum bisa jujur kepada Olivia tentang pernikahan kita. Dia depresi sayang, aku harus bisa menjaga emosinya dan tidak membuatnya takut." kini Andrian merasakan dadanya basah, istrinya menangis dalam diam. Lebih baik Indah memakinya dari pada diam seperti ini.
"Sungguh aku tidak ada niat untuk kembali padanya sayang. Kamu harus percaya itu!" seru Andrian, tidak ingin istrinya salah paham.
"Saat aku akan pulang kemarin, dia mengancam akan bunuh diri jika aku meninggalkannya. Dia memintaku untuk membawanya kemari bersamaku." Indah berusaha melepaskan pelukannya, namun Andrian tetap menahannya.
"Aku akan membawanya ke sini atas seizin darimu. Jika kamu tidak mengizinkannya, aku akan berusaha cari cara lain untuk menyembuhkan depresinya, sebelum benar-benar meninggalkannya."
Indah mengusap air matanya dan melepaskan pelukan suaminya. Menatap mata berwarna biru milik Andrian. "Kakak boleh bawa Olivia ke sini. Tapi dengan satu syarat."
Andrian menunggu syarat yang di maksud istrinya.
"Dia harus tinggal disini. Jangan pernah membelikan tempat lain dan diam-diam menemuinya!" memicingkan matanya dengan bibir mengerucut.
"Enak aja cari cara lain terus sering nemuin dia di belakang aku. Bodo amat mau di bilang egois. Kakak itu milik aku! milik anak aku!"
Andrian tersenyum, dia tahu istrinya bisa mengerti keadaannya.
"Apapun lakukan di depan mataku! jangan pernah menyembunyikan apa pun, bahkan **** sekali pun!"
Andrian mencubit hidup istrinya. "Aku tidak sebrengsek itu! cuma kamu yang pernah dan ingin aku sentuh."
"Oke! kita lihat saja nanti."
*
__ADS_1
*
*