My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Tuluskah?


__ADS_3

Pasangan pengantin baru itu sudah tinggal di apartemen sekarang. Mencari suasana yang mendukung untuk Andrian, dan membuat Indah nyaman, tanpa perlu malu untuk bertemu mertuanya.


Mereka belum sempat bulan madu. Tiba-tiba ada satu proyek yang mengalami masalah, sehingga menahan Andrian untuk tidak pergi kemana pun.


Indah juga masih tetap kerja menjadi asisten suaminya, seperti yang mereka sepakati bersama.


Walaupun tidak jadi berbulan madu, tapi waktu yang mereka miliki selepas pulang bekerja, mereka manfaatkan untuk membangun keluarga bahagia.


Indah melayani semua kebutuhan Andrian dari makan, menyiapkan baju, hingga kebutuhan biologisnya dengan baik. Dia ingat pesan bundanya. "Layani suamimu dengan baik, kenyangkan perut dan hasratnya jika kamu tidak mau dia mencari kepuasan di luar sana". Tentu saja Indah tidak akan membiarkan suaminya mencari kepuasan dari wanita lain.


Indah bahagia, sekarang sikap Andrian semakin manis kepadanya. Walaupun suaminya belum memiliki cinta untuknya, asal Indah merasa di sayang dan di beri perhatian, itu sudah cukup baginya. Karena bagaimana pun, Andrian hanya miliknya seorang.


"Bibi belum datang?" tanya Andrian yang memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang yang sedang memasak. Mengecup pipi dan menyandarkan dagunya pada bahu istrinya.


Jantung Indah masih saja berdebar, padahal hal seperti itu sudah sering Andrian lakukan. Masih saja menimbulkan efek samping untuk jantung dan wajah Indah yang merona.


"Semalem ngirim pesan, katanya anaknya sakit, jadi hari ini gak bisa datang." apartemen Andrian biasa di bersihkan oleh Bi Yani, asisten rumah tangga yang datang pagi dan pulang sore hari untuk beberes dan menjaga kucingnya. Sekarang tugas bi Yani bertambah untuk mencuci dan berbelanja, semenjak Andrian dan istrinya tinggal disana.


"Kamu masak apa?" Andrian mengikuti istrinya yang berpindah ke meja makan untuk menyajikan masakan yang ia buat.


Masakan istrinya enak, Andrian menyukainya. Katanya, dulu Bunda Anita selalu memaksa istrinya memasak bersama, agar setelah menikah bisa menyajikan masakan yang layak untuk di makan anak dan suaminya nanti. Andrian sangat berterimakasih atas usaha mertuanya untuk mengajari Indah memasak. Karena tak sekalipun masakan istrinya yang mengecewakan.


"Aku semalem liat-liat resep sarapan Amerika di yout*be, aku coba bikin scramble egg, dicampur waffle, terus dilapisi sama mentega almond." senyum penuh binar di wajah istrinya menular juga kepada Andrian.


Pria itu menarik kursi dan duduk di tempat dimana sarapannya tersaji, berhadapan dengan istrinya yang tidak sabar menunggu komentarnya tentang sarapan pagi mereka kali ini. Setiap Indah memasak, Andrian harus selalu memberikan komentarnya. Wanita itu masih tidak percaya diri dengan masakannya, takut jika tidak cocok dengan lidah suaminya. Padahal masakan Indah tidak pernah ada yang buruk.


Andrian mulai menyendok sarapan paginya, mengunyah dengan hati-hati, menikmati setiap rasa untuk memberikan komentarnya. "Enak. Rasanya sama seperti yang koki di rumah Amerika hidangkan buat aku sarapan."


Andrian tidak pernah berbohong dengan komentarnya. Jika ada yang kurang, dia akan selalu bilang kepada istrinya, istrinya itu wanita yang semangat dalam belajar dan memperbaiki kesalahannya.

__ADS_1


Padahal awal kenal dulu, jika ada pekerjaan yang salah dan Andrian perintah untuk di perbaiki, pasti Indah akan menggerutu dengan berbagai alasan. Tapi sekarang istrinya benar-benar berubah menjadi istri yang baik.


"Benarkah.." Indah berseru senang dan langsung ikut bergabung untuk sarapan bersama.


Setiap pagi mereka, selalu di lalui seperti itu. Memgawali hari dengan kebahagiaan yang mereka miliki. Tanpa memikirkan setiap hari cerah, pasti akan datang juga awan mendung.


***


Indah menemani Andrian untuk meeting sekaligus makan siang di salah satu mall milik Dawson Company.


"Kamu mau jalan-jalan dulu? ingin beli apa gitu? kerjaan aku juga di kantor udah selesai." tawar Andrian saat meeting sudah selesai dan hanya tinggal mereka berdua di ruang VIP restoran.


"Boleh. Tapi kartuku masih di aktifin gak ya sama ayah?" Membongkar isi tasnya, mengambil dompet yang hanya berisikan kartu-kartu.


"Kenapa masih mengharapkan ayah? emang suami kamu ini gak mampu?" tanya Andrian sedikit tersinggung.


"Harusnya kamu minta dong sayang. Itu kan hak kamu! kewajiban aku!"


Indah membeku, untuk pertama kali Andrian memanggilnya sayang. Ooh rasanya Indah serasa melayang saking bahagianya. Nikmat apa lagi yang lebih Indah dari disayangi pasangan kita sendiri.


"Ini kartu buat kamu. Pakai untuk semua kebutuhan kamu. Jangan pakai lagi kartu dari ayah!" Andrian menyerahkan tiga kartu sekaligus kepada Indah.


Senyum masih menghiasai wajah Indah yang langsung memeluk suaminya erat. "Makasih kak," bukan berterimakasih atas kartu yang suaminya berikan, tapi terimakasih karena sudah memanggilnya sayang.


"Kamu kan juga punya kartu yang sama. Kenapa cuma aku kasih gitu aja kamu seneng banget?" Kernyitan di dahi Andrian yang merasa heran.


Indah masih setia dengan senyumannya dan menggeleng.


"Aku sayang kakak."

__ADS_1


cup. satu kecupan mendarat sempurna di bibir Andrian. Membuat pria itu tertegun seketika. Untuk pertama kalinya Indah menciumnya lebih dulu, untuk pertama kalinya Indah mengungkapkan perasaannya. Yang seharusnya pihak lelaki dulu lah yang menyatakan perasaan mereka.


"Kamu godain aku ya.." seringai muncul di bibir Andrian setelah dapat menguasai dirinya.


Andrian tidak akan melepaskan Indah dengan mudah, ia langsung menarik tengkuk istrinya untuk mencium bibir yang sudah menggodanya.


Indah berusaha melepaskan ciuman mereka takut ada yang melihat. Meskipun itu ruang VIP tetap saja Indah merasa tidak nyaman.


"Kakak.." rengek Indah setelah suaminya melepaskan ciuman mereka setelah sama-sama kehabisan nafas.


"Siapa suruh bibirnya bikin nagih." Indah merona malu, sedangkan Andrian terkekeh dengan tingkah istrinya.


Menarik Indah ke dalam pelukannya. "Kalau kamu imut begini, gimana aku gak suka." lirih Andrian yang tidak terdengar oleh Indah.


"Ayo kak, katanya mau nemenin aku shopping. Mau sampai kapan pelukkannya?" rengek Indah menatap suami yang masih memeluknya.


Satu kecupan kembali bibir Indah dapatkan. "Ayo. Biar kita bisa cepat pulang. Biar bisa lanjut di rumah sampe puas."


Indah meringis ngeri saat suaminya bilang "puas" berarti tidak akan melepaskan Indah nanti malam.


Kadang Indah berpikir, benarkah Andrian menyayanginya? atau perlakuan manis Andrian hanya untuk memudahkan lelaki itu mendapat kepuasa. Tapi semakin memikirkan yang tidak-tidak, hatinya merasa sakit. Hingga akhirnya Indah lebih memilih untuk menikmati kasih sayang yang Andrian berikan. Entah itu tulus dari hati suaminya atau tidak.


Karena kadang banyak orang yang terjebak dengan kepura-puraannya sendiri. Jika Andrian saat ini hanya pura-pura, Indah harap kepura-puraan itu akan membelenggu Andrian dalam perasaan yang nyata.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2