My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Bonchap


__ADS_3

Keluarga Dawson di sibukan dengan segala persiapan untuk pernikahan. Tidak ada yang tidak sibuk pagi itu. Termasuk dengan Indah dengan perut besarnya.


Di kehamilan keduanya ini Indah tidak mengalami keluhan yang berarti. Tidak mual, tidak pusing. Justru sangat enerjik dan lebih manja.


Andrian akan dengan senang hati memanjakan istrinya. Tidak mengeluh meski lelah. Mencurahkan segenap cinta dan perhatian untuk istri dan anaknya.


Denish tidak sekalipun merasa cemburu akan adanya adik bayi. Anak kecil itu malah sangat antusias dan tidak sabar menantikan adiknya itu lahir. Menurut perkiraan, anaknya kembali berjenis kelamin laki-laki. Meski mereka menginginkan anak kedua perempuan, tapi mereka tetap menyayangi dan menantikan anak mereka dengan antusias. Apa pun jenis kelaminnya, yang terpenting sehat ibu dan anaknya.


Indah ingat saat suaminya menemani kontrol. Saat pertama kali mengetahui anak mereka laki-laki, Andrian berucap "Aku bersedia memberikanmu anak lagi sampai kita bisa mendapat anak perempuan."


Indah bersyukur karena suaminya begitu mencintainya. Masalah dengan Olivia sudah membuat mereka belajar, bahwa tanpa salah satu pasangan, hidup mereka terasa hampa. Dan perpisahan yang hanya sesaat tapi menyakitkan itu sudah cukup untuk mereka. Andrian tidak ingin lagi melakukan kesalahan yang akan membuatnya terpisah dengan istri dan anak mereka.


Pagi ini acara ijab kabul antara Olivia dan Tama di adakan di rumah. Malamnya, baru acara resepsi pernikahan di hotel.


"Sudah Indah. Kamu duduk saja. Mami ngeri lihat kamu mondar mandir bawa perut sebesar itu."


Kehamilan Indah menginjak bulan ke tujuh. Tapi karena sering kali mengidam makanan dan memang sering merasa lapar. Tubuh Indah lebih melar dari saat hamil Denish dulu.


"Aku gak papa mih. Nih lihat, anak aku malah joget-joget di dalam, aku ajak jalan begini."


Anaknya memang aktif bergerak. Dan Indah selalu suka dengan setiap pergerakan yang anaknya buat. Berbeda dengan Denish yang lebih tenang. Bahkan sampai sekarang anak itu jika di tempat umum akan berubah pendiam.


"Kalau Rian lihat. Mami bisa di marahin nanti."


Indah berdecak. "Dia aja ninggalin Indah mulu. Ngapain mami mikirin dia." suaminya sudah hampir dua minggu melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Ada masalah besar yang terjadi di salah satu cabang perusahaan milik mereka di sana. Mengharuskan Andrian untuk turun langsung menangani masalah yang ada.


"Kamu merindukanku sayang." ucap sebuah suara bersamaan dengan tangan kekar yang melingkar di perut besarnya.


Indah mendengus. "Ingat pulang rupanya." cibir wanita itu.


Andrian terkekeh dan mengecup pipi serta bibir istrinya bergantian. "Mana mungkin aku lupa pulang. Sedangkan di rumah ada istri yang begitu cantik dan menggoda dan anak-anak tampanku. Dan aku merindukan kalian."


"Tapi sayangnya kami tidak merindukanmu."

__ADS_1


Mami Riana menggeleng dan meninggalkan dua insan yang sedang saling merindu. Dia tahu perasaan anak dan menantunya. Karena dia sendiri jika di tinggal suaminya lama pasti ingin menghabiskan waktu untuk berdua.


"Masa.." Andrian sudah akan mengecup leher Indah ketika sebuah suara membuatnya membatalkan niat.


"Papa.." anak tampannya berlari. Andrian langsung menangkap Denish dan menggendongnya.


"Hai boy.."


"Papa kenapa lama? kakak kangen.." anak itu menyandarkan kepalanya di bahu Andrian.


Andrian dan Indah sudah membiasakan untuk Denish memanggil dirinya kakak semenjak Indah positif hamil. Agar anak itu bisa menyiapkan mentalnya untuk memiliki seorang adik. Siap menjadi seorang kakak.


"Papa juga kangen kakak sama mama."


***


Ijab kabul di gelar secara sederhana. Hanya di hadiri keluarga inti. Tapi kesakralan tetap terasa. Olivia sampai menitika air matanya. Akhirnya kini ia memiliki orang yang statusnya adalah miliknya yang sesungguhnya.


Terlebih papi Alex. Pria yang tetap dingin meski tak lagi menatapnya tak suka. Mami sering bilang jika papi juga menyayanginya. Hanya saja dia masih sungkan untuk menganggap Alex benar-benar ayahnya.


"Selamat sayang. Semoga pernikahan ini membawa kebahagiaan yang lebih untuk kamu." mami Riana memeluk Olivia erat. Memanjatkan doa dengan tulus. Meski mereka sempat pada titik terburuk dalam suatu hubungan. Tapi kini Olivia sudah ia anggap putrinya sendiri.


"Makasih mih.." Olivia memeluk mami Riana tak kalah erat. Dengan suara bergetar.


Kini giliran papi Alex yang berdiri di hadapan Olivia. Wanita itu mengambil tangan kanan papi Alex dan menciumnya.


"Kenapa kamu masih saja sungkan dengan papi. Papi ini papimu juga bukan?"


Olivia hanya bisa mengangguk dengan pandangan buram tertutup air mata yang siap untuk di jatuhkan.


Direngkuhnya tubuh pria paruh baya yang sudah berlapang hati menerimanya dalam keluarga dan menganggapnya anak. Padahal dulu ia sempat punya niat jahat untuk merusak rumah tangga putra kesayangannya.


"Terimakasih pih.. Terimakasih telah mau menerima aku dalam keluarga papi. Menganggap aku anak kalian sendiri. Membiayai pendidikanku hingga lulus. Bahkan sekarang mengadakan pesta pernikahan yang begitu mewah hanya untuk aku yang bukan siapa-siapa dalam keluarga kalian." tangis Olivia pecah. Rasa bahagia, haru, menyesal pernah bersikap tidak baik. Semua bercampur menjadi satu dalam benaknya kini.

__ADS_1


Suaminya mengusap punggung Olivia dari belakang. Memberi semangat juga ketenangan pada istri yang baru ia nikahi.


"Kamu tuh ngomong apa sih. Kamu keluarga Dawson. Jadi kamu berhak mendapatkan ini. Jangan lagi menganggap kamu bukan siapa-siapa di keluarga kamu sendiri ini Olive. Walau papi tidak pernah mengatakannya. Tapi papi menyayangimu seperti papi menyayangi anak papi yang lain."


Indah dan Andrian yang berdiri di belakang papi Alex untuk mengucapkan selamat ikut tersenyum dan terharu melihat anak dan ayah itu saling mengungkapkan perasaan.


"Tama. Jaga anak papi ini. Sudah terlalu banyak penderitaan yang ia rasakan. Papi harap, kamu bisa menerimanya apa adanya. Menjaga dan menyayanginya hingga maut memisahkan kalian. Bahagiakan dia nak.." ucap papi Alex yang kini memeluk Tama dan menepuk bahunya.


"Saya akan berusaha yang terbaik untuk membahagiakan Olivia pak Alex."


"Kenapa masih memanggil pak. Panggil papi sama seperti Olive."


"Baik pih.."


Tiba saatnya Indah dan Andrian serta si kecil untuk mengucapkan selamat.


"Selamat Olive. Maaf jika aku sempat menorehkan luka untukmu. Semoga ini menjadi awal untuk kebahagiaanmu." begitu Andrian saat mengucapkan selamat.


"Aku sudah memaafkan semuanya Andrian.. Aku juga sudah melupakannya. Kini aku sudah bahagia dengan suamiku. Jadi kalian tidak perlu khawatir." ucap Olivia dengan bergelayut manja di lengan sang suami.


Indah berdecih. "Gak usah pamer kemesraan deh. Gue juga bisa!" Indah ikut memeluk pinggang suaminya dan bersandar di lengan Andrian. Membuat mereka semua tertawa.


Kini tidak ada lagi dendam maupun benci. Tidak ada lagi iri dan luka hati. Semua berakhir dengan baik. Memiliki kehidupan masing-masing dan bahagia. Berharap kebahagiaan mereka akan berjalan hingga mereka tua.


Doa dan harapan Indah sampaikan kepada Olivia. Wanita yang ia rebut tunangannya dulu. Wanita yang berhak bahagia setelah banyak penderitaan juga musibah menimpanya.


Sudah cukup takdir baik menjauh dari Olivia sejak di tinggalkan di pintu sebuah panti asuhan. Kini saatnya takdir baik berpihak padanya. Membawa kebahagiaan untuk rumah tangga yang ia bangun dengan Tama mulai detik ini.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2