
Niat hati ingin menghukum anak dan istrinya, malah ayah Gilang yang merasa terhukum. Selama seminggu ini anaknya mendiamkannya. Sekalipun di tanya, Indah dengan keras kepalanya tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Demikian juga dengan sang istri. Meski masih bisa di ajak berbicara, namun seminggu ini ayah Gilang tidur di kamar tamu.
"Kalian mau sampai kapan si kaya gini ke ayah?" tanya ayah Gilang kepada dua wanita yang amat ia cintai saat sedang sarapan.
"Sampai ayah cabut hukuman kami." jawab mereka kompak.
Ayah Gilang hanya menarik napasnya, "Kalau kalian mau hukuman kalian ayah cabut, nanti malam dandan yang cantik, temani ayah makan malam di luar sama klien." titah sang paduka raja.
"Males." jawab Indah dengan memainkan sarapannya yang tidak lagi terasa enak.
"Ya udah, gak usah ketemu aja sekalian kamu sama suami kamu." ancam sang ayah.
Melirik ayah Gilang tajam. "Bener ya.. abis nemenin ayah makan malam, ayah anterin aku pulang ke kak Rian ya."
"Iya. iya. Takut banget kehilangan suami yang hatinya bercabang model begitu." cibir ayah Gilang.
"Model begitu juga ayah yang milihin, mana udah ada benih yang lagi tumbuh kan di perut aku."
"Sudah. Sudah. Habiskan sarapan kalian." semua menurut setelah sang ratu bersuara.
***
Andrian melangkah dengan malas mengikuti orangtuanya dan juga Olivia. Malam ini yang ingin dia habiskan seperti biasa untuk tidur dan mengurung diri di dalam kamar, akhirnya menuruti permintaan sang ayah untuk menemani makan malam bersama klien jika Andrian ingin mendapatkan informasi kemana mertuanya mengajak istrinya pergi berlibur.
Pria yang terlihat kacau dan tidak mengurus wajah yang bulu-bulu halusnya mulai memanjang, tidak tercukur dan bersih seperti biasanya ini hampir setiap hari mendatangi rumah mertua hanya untuk bertanya apakah istrinya sudah pulang atau belum.
Dan hingga tadi sore sepulang dari kantor, security kediaman Renjana mengatakan tuan dan nyonyanya belum pulang.
"Kamu tuh mau nemenin papi ketemu sama klien tapi penampilan kamu kusut begitu. Bisa-bisa klien papi kabur tau gak liat kamu!"
"Udah lah pih. Yang penting dia mau ikut." ucap mami Riana, tak tega melihat anaknya yang sudah kusut masih saja dikomentari.
__ADS_1
Andrian masih saja berjalan dengan tertunduk. Digandeng mami Riana yang menuntun jalannya, hingga ia mendengar suara yang amat sangat ia kenali.
"Kakak.."
Seketika Andriam mendongak dan mendapati istri yang amat dia rindukan duduk di sebuah meja bersama kedua mertuanya.
"Indah!" Andrian mengucek kedua matanya, takut yang ia lihat hanya halusinasinya seperti kemarin-kemarin saking rindunya ia dengan sang istri.
Indah berdiri, berlari dan langsung memeluk suaminya. Pelukan hangat untuk saling mengobati rindu antara keduanya.
Andrian membalas pelukan istrinya, percaya jika yang berada di hadapannya saat ini benar-benar istrinya. Karena biasanya jika ia berhalusinansi, setiap kali akan memeluk Indah, bayangan itu selalu menghilang.
Menghirup wangi tubuh yang seminggu ini tidak ia rasakan. Mencium puncak kepala istrinya bertubu-tubi. Membayar waktu satu minggu yang ia lewati tanpa menciumnya.
Mereka hanya diam menikmati debaran yang mereka rasakan. Hanya air mata yang mewakili betapa bahagianya mereka berdua. Yang juga mengundang air mata kedua ibu yang mengandung dan membesarkan mereka.
"Gara-gara kamu anakku jadi berantakan begitu. Padahal kamu bisa lihat sendiri kalau anakmu Indah juga merindukan suaminya." omel papi Alex kepada ayah Gilang.
"Justru karena aku tidak tega melihat Indah murung terus makanya aku ajak makan malam bersama." ucap ayah Gilang yang memang merasa bersalah kepada putrinya. "Tapi untuk anakmu, sebenarnya hanya seperti itu saja masih kurang sih." imbuhnya dengan kekehan.
"Hahaha.. tidak usah khawatir. Aku tidak setega itu kepada putriku."
***
Sepanjang makan malam, Indah tidak melepaskan gelayutannya pada lengan sang suami.
Andrian sangat memanjakan istrinya malam itu. Menyuapinya dari sendok dan piring yang sama. Setiap kali suapan masuk ke dalam mulut istrinya, satu kecupan juga mendarat di bibir ranum yang ia rindukan. Tidak peduli dengan orang yang ada di sekitar mereka.
Olivia hanya memutar bola matanya setiap kali adegan itu terulang. Menurutnya mereka berdua terlalu lebay untuk orang dewasa seumuran mereka. Hal seperti itu hanya di lakukan oleh para remaja yang sedang kasmaran.
Meskipun sudah mengikhlaskan, namun tetap saja tidak semudah itu perasaannya untuk Andrian hilang serta merta. Hatinya masih saja panas melihat keintiman yang Andrian dan Indah lakukan.
__ADS_1
Tahu akan seperti ini, lebih baik saat sadar dari koma dia amnesia saja. Menghembuskan napasnya dan pamit pergi ke toilet.
"Dasar manusia tidak berperasaan! sedikit saja menjaga perasaanku kenapa!" umpat Olivia ketika sudah berada dalam kamar mandi.
Wanita itu senang dapat melihat Andrian bahagia, tapi tolong berikan waktu untuk dia menghilangkan perasaannya terhadap mantan tunangannya itu.
Saat keluar dari toilet, tidak sengaja seorang witress menabrak dan menumpahkan minuman pada gaunnya.
"Aduhh.. Hati-hati dong." ucap Olivia dengan bahasa Indonesia yang belum terlalu jelas.
"Maaf nona, biar saya bersihkan." waitress itu sudah akan membersihkan gaun Olivia dengan tissu yang ada di saku celana.
"Biar saya sendiri saja." mengambil tissu dan membersihkan sendiri. Namun, karena gaunnya berwarna pastel dan minuman itu warna biru terang, jadi tetap saja terlihat.
"Hhmm.. maaf nona. Pakai saja jas saya untuk menutupi noda minuman itu." ucap seorang pria yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
Olivia mengangkat wajahnya dan mendapati pria tinggi dan tampan dengan kulit sedikit gelap yang nampak eksotis tengah melepaskan jas yang pria itu kenakan dan memberikannya kepadanya.
"Tidak perlu tuan, biar nanti saya langsung pulang saja." tolak Olivia dengan halus, melihat jasnya saja Olivia tahu jika pria tersebut bukan orang sembarangan, dan dia tidak mau berurusan dengan orang-orang sepertinya.
"Tidak apa-apa. Jika nona merasa keberatan, anda bisa mengembalikan jas ini ke alamat ini." pria itu mengambil dompet dan memberikan kartu nama dari dalamnya.
"Apakah benar tidak apa?" tanya Olivia ragu menerima uluran jas dan kartu nama yang pria itu berikan.
"Tidak apa-apa. Saya malam ini menginap di hotel ini, dan acara saya juga sudah selesai, jadi saya tidak membutuhkan jas lagi." ucap pria yang ia ketahui bernama Tama, di lihat dari kartu nama yang pria itu berikan.
"Terimakasih tuan Tama. Saya Olivia, nanti setelah saya cuci akan saya kembalikan."
"Tidak perlu sungkan-sungkan nona Olivia. Kalau begitu saya permisi dulu." pamitnya yang di jawab anggukan kepala oleh Olivia.
*
__ADS_1
*
*