
Hiruk pikuk jalanan didepannya tidak dapat mengambil alih perhatian Indah. Gadis yang duduk sembari memandang ke luar jendela itu entah pikirannya sedang berkelana kemana. Terlihat dari tatapan matanya yang kosong yang terpantul di kaca jendela. Mereka sedang dalam perjalanan menuju butik untuk fitting baju dan akan sekalian mengambil cincin pernikahan yang Andrian pesan siang hari sebelum lamaran.
"Mikirin apa kamu? Menyesal akan menikah dengan saya?" suara Andrian yang sedang mengemudi mengambil alih perhatian Indah.
"Gak gitu kak." Indah yang biasanya selalu cerewet, belakang ini Andrian merasa semakin banyak diam. Dan tidak pernah lagi menjawab kata-katanya dengan nada tinggi. Sebenarnya bagus juga sih calon istrinya ini jadi penurut. Tapi Andrian merasa ada yang hilang, karena Indah yang seperti ini bukanlah Indah yang sesungguhnya. Ia lebih suka Indah yang ceplas-ceplos dan membantah kata-katanya.
"Terus kenapa dari tadi kamu diam terus? Biasanya brisik. Lagi mikirin apa?" menatap sekilas gadisnya dan kembali fokus dengan jalanan di depannya.
"Indah tuh takut gak bisa jadi istri yang baik buat kakak. Aku tuh banyak banget kurangnya. Mana manja begini.. Aku takut setelah kita menikah dan kakak lihat sendiri bagaimana hidup aku, kak Rian jadi ilfil terus ninggalin aku. Aku gak mau kak jadi jandaaaa.." Andrian menarik sudut bibirnya, kenapa bisa sampai sejauh itu pikiran calon istrinya. Dan ia suka suara rengekan Indah akhirnya keluar lagi.
Berdeham sebelum menjawab. "Bukan hanya kamu yang banyak kurangnya, saya pun demikian. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Jadi untuk apa kamu takut dengan hal yang seperti itu. Kita bisa belajar bersama nanti." seulas senyum ia berikan kepada Indah. Membuat jantung gadis itu berdetak tak karuan.
"Belajar saling melengkapi dan mengerti kekurangan pasangan kita. Kita bisa belajar buat menjadi keluarga yang sempurna. Meskipun belum ada cinta di hati saya untuk kamu. Tapi saya tidak akan pernah meninggalkan kamu."
Indah yang tadinya sudah merasa tersanjung dengan kata-kata Andrian seketika menjadi cemberut ketika mendengar dua kalimat terakhir. "Kakak tuh ngerusak suasana aja! Padahal tadi aku udah mau berkaca-kaca terharu lho sama kata-kata kak Rian. Tapi malah jujur banget kalo gak ada cinta buat aku. Bikin bete aja tau gak!! Jujur banget jadi orang!! "
Andrian terkekeh mendengar serentetan gerutuan Indah. "Seperti kamu yang selalu jujur dengan apa yang kamu rasakan. Saya juga mau seperti itu kepadamu. Saya tidak mau berbohong kalau saya cinta saat nyatanya hati saya belum menjadi mikik kamu. Tapi untuk saat ini saya menyayangi kamu seperti adik kecil yang saya tidak miliki."
" Aaahhhhh gak mau jadi adik kecil!! Aku kan udah bilang. Lihat aku sebagai seorang wanita yang akan jadi istri kakak!!" teriak Indah merasa kesal.
"Iya iya. Tapi tidak usah teriak seperti itu. Sakit telinga saya!! "
"Tapi kak. Bisa gak kita ngelakuin anunya nanti nunggu kakak ada sedikiiiit aja perasaan buat aku. Atau setidaknya nunggu aku siap buat ngelakuinnya?" merubah posisi duduknya menyerong kearah Andrian dengan tatapan mata sarat permohonan.
__ADS_1
"Anu apa?" tanya Andrian berlagak polos.
"Gak usah pura-pura gak tau deeehhh... Biasanya juga kakak yang mesum!!" memukul lengan Andrian sedikit keras.
"Saya memang tidak tahu. Makanya jelasin yang benar biar saya mengerti maksud kamu. Siapa tahu saya setuju." senang rasanya bisa menggoda Indah seperti ini.
"Iihhh ngeselin. Itu lho hubungan badan!!" seru Indah.
"Ooh itu. Maaf tidak bisa kalau itu. Alvin saja sudah mencobanya dari beberapa tahun yang lalu. Ricky juga saya yakin sudah merasakannya berkali-kali dengan istrinya. Masa saya tidak."
"Kalau mau nyoba kenapa gak dulu aja sama pacarnya!! emang aku bahan percobaan apa!!" lagi-lagi bibir Indah mengerucut kesal.
"Memang kamu ikhlas kalau sebelumnya saya sudah pernah melakukan dengan wanita lain, sedangkan saya yang pertama buat kamu?" Indah memikirkan sejenak kata-kata Andrian dan menggeleng tegas.
"Maka dari itu. Ini akan sama-sama menjadi yang pertama buat kita. Jadi dijalani aja, cukup dinikmati tidak perlu dipikirkan!! "
Sebenarnya Indah juga enggan membahas masalah ini. Tapi jika tidak dibahas gadis itu takut Andrian langsung meminta haknya selepas mereka resmi menikah, padahal Indah belum siap untuk melakukannya.
"Kata siapa sakit? memang kamu sudah pernah mencobanya?"
"Kata temen-temen aku yang udah nikah lah!! Kalau aku udah pernah nyoba ngapain aku takut."
"Tidak usah dipikirkan masalah itu. Kita jalanin saja." Indah menghembuskan nafasnya mengalah.
__ADS_1
"Oh iya. Bisa gak sih kakak gaya ngomongnya gak baku gitu. Kita tuh udah mau nikah! ngomong yang santai aja biar kita bisa dekat. Kalau kakak ngomongnya aja udah nyiptain batas, gimana kita bisa dekat!!" Risi rasanya mendengar orang yang akan menikah dan hidup dengan kita berbicara formal.
"Iya nanti setelah menikah saya rubah gaya berbicara saya kepada kamu." mengacak rambut Indah yang dikuncir rapi.
"Jadi berantakan rambutnya!!" teriak Indah. Padahal sudut hatinya merasa senang dengan perlakuan Andrian yang seperti itu.
"Teman kamu sudah ada dibutik?" tanya Andrian setelah beberapa saat hanya hening.
"Udah dari sejam yang lalu kak." Indah memesan baju untuk mereka menikah kepada Nurin. Mengikuti Lidia yang juga memakai jasa sahabatnya itu.
Nurin sempat marah-marah saat Indah mendatanginya dan meminta sahabatnya itu membuatkan gaun pernikahan untuknya. Bagaimana tidak marah. Nurin hanya punya waktu kurang dari satu bulan untuk mendesain dan membuat baju tersebut. Sedangkan untuk Lidia, Nurin memang punya waktu yang panjang untuknya memikirkan model dan proses pembuatan.
"Kata mami dia marah saat kamu minta dibuatkan gaun?" Indah memang datang dengan calon mertuanya waktu itu.
"Iya kak. Dia sempat tidak percaya diri dengan waktu yang singkat itu apa bisa dia bikin gaun yang bagus dan cocok sama aku. Tapi toh nyatanya dia bisa sekarang." Walau pun bukan desainer khusus untuk pernikahan, tapi desain rancangan Nurin tidak diragukan keindahannya. Dia selalu memberikan yang terbaik untuk sahabatnya.
Mobil kembali hening menembus jalanan yang padat di akhir pekan. Indah masih saja memikirkan nasib pernikahannya nanti. Bisakah dia bahagia hidup dengan orang yang tidak mencintainya? Atau bisakah Andrian bahagia saat hatinya mencintai wanita lain tapi malah menikah dengan gadis sepertinya?
Tapi apapun yang terjadi Indah yakin ini semua sudah suratan takdir. Dan semoga takdir tidak sedang bercanda dengannya. Indah berharap takdirnya kali ini akan membawa kebahagiaan bukan hanya untuknnya tapi juga untuk Andrian yang akan menjadi suaminya.
Indah pernah membaca salah satu quotes. "Kita bisa memesan bir, tapi kita tidak bisa memesan takdir."
*
__ADS_1
*
*