
"Ayah tuh nyebelin banget sih! kalo sibuk ngapain tadi ngajakin liburan coba!" Indah tak berhenti menggerutu ketika sudah sampai di bandara dan ayah Gilang membatalkan liburan mereka begitu saja dengan alasan 'ternyata lupa masih banyak kerjaan' begitu kira-kira kilah sang ayah.
Bunda Anita mengusap lengan anaknya, sebenarnya dia juga kesal terhadap suaminya yang plin-plan itu. Tapi mau bagaimana lagi, jika suaminya berkata tidak ya berarti tidak kan?
"Ayah janji nanti setelah kamu melahirkan kita pergi jalan-jalan kemana saja kamu mau." rayu sang ayah dari kursi samping kemudi dimana ayahnya duduk.
"Ogah! kelamaan! aku bisa minta jalan-jalan sendiri sama suami aku." ucap Indah sembari melengos.
"Eehhh.. mana bisa begitu. Kamu tuh lagi hamil muda, belum lagi sempet pendarahan. Gak boleh naik pesawat tau." bela sang ayah tidak ingin anaknya justru pergi berlibur dengan menantunya.
"Itu udah tau aku gak boleh naik pesawat! terus kenapa tadi ngajakin?" cibiran telak Indah untuk ayah Gilang yang tidak bisa berkilah lagi.
"Ya.. ya tadi ayah lupa soal itu." tertawa garing.
Indah dan bunda Anita memutar bola mata bersamaan, mendengar alasan ayah Gilang yang terdengar klise.
"Udah ah. Buruan jalannya mang! udah capek pengen tidur!" gerutu Indah lagi. Memang hari sudah lebih dari jam sembilan malam. "Mending di rumah kan, tidur sambil meluk kakak!" imbuhnya dalam hati.
***
Andrian sedang uring-uringan mengikuti kemanapun papinya melangkah. Bak anak kecil yang sedang meminta di belikan mainan. Andrian selalu menempel dan merayu sang papi.
"Malu-maluin banget si kamu Rian! gak malu apa sama tunangan kamu." ucap papi Alex ketika menghempaskan dirinya duduk di ruang keluarga bersama istri dan anak angkatnya, dimana Andrian juga ikut duduk menempel pada papinya itu.
"Aku udah bilang udah mutusin pertunangan kami! dan kalau papi gak mau aku nempel terus, telfonin ayah dong pih! tanyain kemana ayah Gilang bawa istri dan calon anak Rian pergi." rengek Andrian tidak tahu malu.
"Makanya punya istri itu di jaga, jangan malah di sakiti." cibir papi Alex tak menghiraukan permohonan anaknya yang bahkan sudah dengan wajah memelas tingkat paling tinggi.
__ADS_1
"Hubungan aku sama Indah emang baik-baik aja kok. Ayah Gilang aja yang bawa kabur istri aku." bela Andrian.
"Kalo kakak kamu yang ada di posisi Indah, jangankan bawa kabur, hari itu juga surat cerai melayang di depan muka kamu tau gak!"
Heran ayah Alex dengan anaknya. Masih saja tidak mengerti. Bukan berarti Indah bisa menerima dan dia tidak merasakan sakit bukan? apa pun alasannya, Indah tetap saja tersakiti dengan keberadaan Olivia di rumah yang mereka tinggali. Dan orang tua mana yang akan membiarkan anaknya dalam posisi seperti itu. Mungkin Andrian baru akan sadar ketika nanti anaknya sudah lahir dan anaknya itu perempuan lalu di ganggu sama anak laki-laki yang nakal.
"Teganya papi.." rengek Andrian. Semenjak Indah hamil, memang Andrian menjadi lebih bertingkah kekanakan terkadang. Lebih sensitif dan manja.
"Lelaki seperti kamu emang pantas buat di tegain. Buat apa baik sama orang yang gak punya pendirian!" giliran ibu negara angkat bicara.
"Iya. Sekarang aku juga menyesal dulu sempat pernah menerima dia jadi tunangan aku! kalau tahu aslinya begini juga aku tidak mau." Olivia ikut menimpali dan menyudutkan Andrian.
"Waaah kenapa pada kompakan gini nyalahin akunya." protes Andrian menatap orang satu persatu.
"Karna kamu memang salah." seru papi Alex, mami Riana dan Olivia kompak.
"Gak gitu juga kali." mengusap kedua telinganya mendengar teriakan mereka bertiga. Kini sebagian bahasa yang Indah gunakan menular kepada Andrian yang biasanya lebih baku.
Tapi mau menyalahkan siapa, ini memang salahnya. Bukan salah ayah mertuanya yang menjauhkan mereka. Karena mungkin benar kata papi Alex. Dia juga akan melakukan hal yang sama jika putri yang ia miliki di tempatkan di posisi Indah. Tapi untuk sekarang Andrian tidak peduli akan kesalahannya, yang ia mau sekarang istrinya kembali. Ingin tahu dimana istrinya berada saat ini.
***
Sesampainya di rumah, Indah langsung turun dan berlari menuju kamarnya. Membuat kedua orang tuanya khawatir. Mengingat kandungan anaknya yang sempat bermasalah.
"Kakak.." seru Indah ketika membuka pintu kamar. Namun ia tak mendapati suaminya di dalam sana. Membuka setiap pintu yang ada di ruangan itu dan hasilnya tetap nihil.
"Kak Rian!!" panggilnya lagi dengan nada yang lebih keras. Siapa tahu suaminya bosan dan sedang keluar kamar setelah tahu di rumah tidak ada orang. Karena sebelum berangkat bunda Anita sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan malam dan menyuruh Andrian untuk makan di meja makan saja.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya ayah Gilang sepolos mungkin.
"Kak Rian gak ada.. Kak Rian ninggalin aku." ucap Indah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Rian? memangnya sejak kapan anak kurang ajar itu ada di rumah ini?" tanya ayah Gilang pura-pura marah. Membuat Indah dan bunda Anita seketika membulatkan matanya. Membongkar kesalahan mereka sendiri.
"Sejak kapan Andrian ada di sini?" tanya ayah Gilang sekali lagi. "Dan siapa yang ngizinin dia buat masuk kamar kamu?" imbuhnya menatap tajam anak serta istrinya.
"Ma-maaf ayah.. habisnya bunda kasihan tengan malam anak ayah ini ngidam pengen masakan suaminya." bunda Anita berucap dengan lirih dan menundukan kepalanya. "Mana tega bunda sama Indah. Terlebih bunda gak mau cucu pertama bunda ileran." imbuhnya lagi.
"Bunda bisa tanyakan dulu sama ayah kan? pasti ayah minta anak itu masak buat cucu ayah kok! tapi gak perlu datang ke rumah ini!" seru ayah lagi, masih dengan nada tinggi yang di buat-buat. Hanya untuk mengerjai anak dan istrinya saja. Anggaplah ini terapi syok.
"Maaf ayah.. Jangan marahin bunda. Marahin Indah aja." pinta Indah yang ikut menunduk di samping sang bunda.
"Kalian berdua memang perlu ayah kasih hukuman!"
Berpikir hukuman apa yang sekiranya pas untuk kedua wanita yang dicintainya ini. Kalau untuk istrinya, sepertinya cukup dengan menarik kartu kredit dan ATM. Tapi itu tidak akan berpengaruh untuk anaknya, karena pasti anaknya sudah mendapatkan jatah sendiri dari Andrian.
"Bunda. Kemarikan kartu bulananya sayang." pinta ayah menengadahkan tangan dan berucap dengan sangat lembut. "Buat anak ayah tersayang. Tadinya ayah cuma mau jauhin kamu sama suami kamu satu minggu. Tapi berhubung kalian nakal. Jadi ayah tambahin jadi dua minggu." imbuhnya membuat Indah berdecak dan pergi memasuki kamarnya.
Bunda Anita menghembuskan napasnya dengan bibir mengerucut. Mengambil dompet dalam tasnya dan memberikan semua kartu yang ada di dalamnya. Kecuali kartu tanda pengenal.
"Good.. Ayah sita selama satu bulan!" ucap ayah Gilang santai.
"Sita aja! tapi ayah juga jangan masuk kamar selama kartunya di sita." bunda Anita melenggang dengan santai, meninggalkan suaminya yang sedang tertegun.
*
__ADS_1
*
*