
Hari itu, Indah benar-benar di monopoli oleh ayah Gilang. Tidak di biarkan anaknya itu untuk masuk kamar walau hanya sebentar.
"Kayaknya ayah pengen ngajak kamu sama bunda liburan deh." seru ayah Gilang, setelah mencari cara untuk mengerjai menantunya.
Indah mengerjapkan matanya berkali-kali. "Ini ayah kenapa sih tumben banget ngajak liburan?" masih heran dengan tingkah ayahnya yang semakin tidak biasa. Jangankan liburan, biasanya jika bukan weekend ayah Gilang tidak mungkin berada di rumah dan bersantai seperti hari ini. Ayah Gilang termasuk orang yang workaholic, jarang ada waktu untuk keluarga selain hari libur.
"Ayo! bunda mau." seru bunda Anita yang langsung antusias di ajak berlibur. Jarang-jarang kan suaminya itu meluangkan waktu seperti ini. Langsung menerima ajakan tanpa berprasangka jika di balik ajakan suaminya ada niat terselubung.
"Oke! kita berangkat sekarang!" ajak ayah Gilang yang sudah berdiri.
Indah melongo, ini liburan atau pergi ngemall? bisa-bisanya ngajak liburan tanpa persiapan seperti ini.
"Ayah gak lagi sakit kan?" tanya Indah mulai curiga. Takut-takut jika ayahnya punya penyakit serius dan umurnya tidak lama lagi.
"Ayah sehat." ayah Gilang bingung dengan pertanyaan anak semata wayangnya itu.
"Terus kenapa tiba-tiba punya banyak waktu begini? pake acara ngajak liburan lagi?" siapa yang tidak berpikiran macam-macam jika perubahan yang di alami ayah Gilang begitu drastis.
"Eh?" bunda Anita ikut bingung. Baru menyadari satu hal yang di katakan anaknya.
"Ayah cuma pengen liburan sama kalian aja kok! udah lama kan, kita gak liburan bareng?" rangkul ayah Gilang pada pundak putrinya.
"Tapi liburan juga butuh persiapan kali yah! udah besok aja deh! aku udah cape!" protes Indah, yang sudah lelah seharian menemani ayahnya.
"Semua udah ayah persiapin kok!" tunjuk ayah Gilang pada dua koper yang di bawa oleh dua pelayan rumahnya.
Indah melongo melihat semua sudah siap, bahkan sampai baju ganti, tas, serta sepatu miliknya.
"Kamu ganti di kamar tamu aja! biar gak perlu kelamaan naik-naik ke atas!" perintah ayah Gilang saat pelayan memberikan baju serta tas dan sepatu untuknya.
__ADS_1
"Aku ganti di kamar aja deh yah.. Sekalian mau ambil vitamin buat kandungan aku." Indah memberikan alasan paling masuk akal agar setidaknya dia bisa menemui suaminya sebelum pergi. Andrian bahkan tidak curiga saat pelayan membawa koper dari ruang ganti istrinya.
"Gak perlu! semua yang kamu butuhin udah di bawa!" mendorong Indah menuju kamar tamu untuk berganti baju.
"Bunda juga buru ganti baju sana!" usir ayah Gilang saat istrinya masih diam mematung pada tempatnya.
"I-iya." ucap bunda dan segera berganti pakaian sebelum suaminya berubah pikiran.
Setelah anak dan istrinya sudah tidak terlihat lagi, ayah Gilang berpesan untuk seluruh pelayan serta penjaga agar jangan sampai ada yang memberitahukan kemana dia mengajak anak serta istrinya. Jika ada yang berani mengkhianatinya seperti semalam yang berani menuruti perintah istrinya, ayah Gilang tidak segan-segan untuk memecat mereka. Para perlayan dan penjaga menunduk dan berjanji tidak akan melakukan hal seperti semalam lagi.
***
Andrian semakin lama semakin merasa kesal. Matahari sudah pulang ke tempat peraduannya, tapi sang istri bahkan sama sekali tidak mendatanginya. Bahkan tadi saat makan siang di antar oleh pelayan, katanya istrinya itu sedang menonton televisi.
Apa Indah lupa dengan keberadaannya di rumah itu. Kenapa sama sekali tidak mendatanginya.
Andrian berjalan mondar-mandir di dalam kamar, segala macam hal sudah ia lakukan. Dari memeriksa beberapa pekerjaan hingga membaca buku yang tersedia di rak dalam kamar istrinya itu.
Saat turun ke lantai bawah, ternyata rumah sepi. Andrian bertanya pada pelayan yang sedang menata makanan di atas meja makan.
"Indah sama yang lain kemana ya bi?"
"Tuan besar mengajak nyonya dan non Indah pergi berlibur tuan muda." jawab perempuan paruh baya dengan tertunduk.
"Berlibur kemana?" tanya Andrian yang merasa geram dan di permainkan. Andrian yakin jika ayah mertuanya itu tahu jika ada dirinya di rumah itu.
"Untuk itu saya kurang paham tuan." jawab pelayan itu lagi.
Andrian menghembuskan napasnya kasar. Percuma dia bersembunyi dalam kamar jika pada akhirnya mertuanya itu masih saja menjauhkannya dengan sang istri.
__ADS_1
Memutuskan untuk pulang, sudah tidak ada gunanya lagi dia berada di rumah ini. Mengacuhkan pelayan yang memintanya untuk makan terlebih dahulu.
Meminta sopir mertuanya untuk mengantar dirinya pulang. Dalam perjalanan Andrian hanya diam saja. Sibuk memikirkan kemana kiranya mertuanya itu membawa istrinya kabur. Bahkan sopir yang mengantar istri dan mertuanya saja tidak mau memberi tahu.
Sampai di rumah, Andrian di kejutkan dengan keberadaan Olivia di rumah orang tuanya. Wanita yang pernah singgah di hatinya itu sedang duduk santai di ruang keluarga bersama sang mami.
"Ngapai Olivia di sini mih?" bisik Andrian yang sudah duduk di sebelah mami Riana.
"Ooh.. Dari pada mami harus ninggalin papi kamu dan bikin papi uring-uringan, mending mami bawa kesini aja!" jawab mami Riana yang fokusnya masih pada layar televisi.
Sesuai janji dengan besannya untuk tidak memberitahukan kabar mengenai pengangkatan Olivia sebagai anak untuk memberi pelajaran kepada putranya, mami Riana hanya menjawab sekenanya.
"Tapi kalo nanti Indah kesini terus lihat Olivia gimana?" rengek Andrian masih dengan berbisik.
"Mana menantu mami? kamu belum bisa bawa dia pulang juga kan?" tanya mami Riana acuh. "Setelah di pikir-pikir, kayaknya mami setuju dengan ide papi buat kamu pisah sama Indah terus nikahin Olivia." imbuhnya lagi dengan nada biasa saja. Membuat Olivia yang berada di sofa single tersenyum ke arah mami Riana. Olivia juga sudah setuju untuk ikut mengerjai mantan tunangannya itu.
"Mami apaan sih?!" seru Andrian dengan nada sedikit meninggi, membuat wanita yang sudah melahirkannya berjengit kaget dan menatapnya tajam.
"Gak usah teriak gitu bisa gak sih?!" seru mami Riana, membuat Andrian menunduk. Dari kecil memang dia sangat patuh kepada mami-nya itu. Bahkan tidak pernah sekalipun dia berkata kasar dan membentak.
"Ya abis, kamu jadi laki-laki gak ada pendiriannya! sana mau, sini mau!" cibir mami Riana.
"Siapa bilang Rian begitu! kan aku cuma mau sama Indah. Olivia cuma masa lalu." jawab Andrian mantap, tanpa meniggikan suara seperti tadi.
Mami Riana tersenyum melihat kesungguhan di wajah anaknya. "Kalau gitu buktiin dong! bawa menantu mami kembali!"
Mendengar itu bahu Andrian merosot. Bagaimana mungkin dia bisa membawa istrinya kembali, sedangkan keberadaan istrinya saja dia tidak tahu dimana.
*
__ADS_1
*
*